LOGIN"Di kehidupan pertama, suamiku bunuh diri demi adik tiriku. Di kehidupan kedua, aku kembali untuk memastikan mereka mencicipi neraka yang pernah aku lalui." Tiffany Sinclair mati dalam pengkhianatan. Saat ia berlari menuju suaminya, Christian Ashford, ia justru mendapati pria itu meregang nyawa dengan sepucuk surat cinta yang ditujukan untuk adik tirinya. Tiffany menutup mata dengan membawa luka yang tidak termaafkan. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terbangun tepat di hari perjodohan yang akan menentukan masa depannya. Tanpa ragu, Tiffany "memberikan" Christian kepada adik tirinya yang tamak. Sebagai gantinya, ia menjatuhkan pilihan pada Ethan Vance—rival bisnis terkejam yang paling dihindari semua orang. Pernikahan ini hanyalah kontrak lima tahun di atas kertas. Namun, Ethan Vance adalah predator yang tidak pernah melepaskan mangsanya. Di balik topeng dingin sang mafia, Ethan justru menjadi tembok pelindung yang tak tertembus. Saat musuh mengepung dan masa lalu mencoba merobek kebahagiaannya, Ethan membuktikan bahwa ia rela membakar dunia demi satu-satunya wanita yang ia miliki. Sementara Tiffany kini berdiri di puncak kekuasaan sebagai Nyonya Vance yang tak tersentuh, pasangan lama itu perlahan jatuh dalam kehancuran yang mereka buat sendiri. Apakah Tiffany akan membiarkan kontrak itu berakhir, atau justru membiarkan sang Tiran Mafia mengunci hatinya selamanya?
View More"Christian, hentikan semua kegilaan ini! Buka pintunya!"
Tiffany Sinclair menggedor pintu kayu ek ruang kerja suaminya dengan sisa tenaga yang ia miliki. Suara isakan tertahan dari para pelayan yang berkumpul di ujung koridor memenuhi udara yang mendadak terasa mencekik. Mereka gemetar, saling berpegangan dengan wajah sepucat mayat, seolah tahu apa yang sedang terjadi di balik pintu yang terkunci rapat itu.
Duar!
Sebuah suara letusan senjata api yang memekakkan telinga merobek kesunyian kediaman Ashford. Tiffany terkesiap, tubuhnya limbung sejenak, namun kepanikan yang luar biasa memaksanya untuk tetap berdiri tegak. Tanpa mempedulikan teriakan peringatan dari kepala pelayan, Tiffany menabrakkan bahunya sekuat tenaga ke arah pintu kayu itu. Sekali. Dua kali. Engsel pintu yang tua itu akhirnya menyerah, terlepas dengan suara retakan kayu yang keras.
Tiffany tersungkur masuk ke dalam ruangan. Asap tipis yang berbau belerang dan mesiu menyengat lubang hidungnya seketika. Matanya menyapu seisi ruangan yang remang-remang, hingga pandangannya terkunci pada sosok pria yang selama dua tahun terakhir ia anggap sebagai pelabuhan terakhirnya.
Christian Ashford duduk di kursi kerjanya yang megah, namun posisinya tampak ganjil. Kepalanya terkulai ke depan, membelakangi jendela besar yang memperlihatkan gemerlap lampu kota yang acuh tak acuh. Di atas meja kerja mahalnya yang kini berantakan oleh tumpukan berkas-berkas kebangkrutan, laptop miliknya masih menyala, menampilkan grafik merah yang menukik tajam ke dasar. Darah segar mengalir dari pelipisnya, menetes perlahan dan meresap ke dalam dokumen-dokumen yang menyatakan kehancuran finansial perusahaan mereka.
"Christian!"
Tiffany berlari mendekat, tangannya yang gemetar menyentuh bahu suaminya. Dingin. Pria itu sudah tidak bernapas. Senjata api genggam tergeletak tak jauh dari tangan kanannya yang lunglai. Tiffany mundur selangkah, napasnya tersengal, dadanya terasa sesak seperti dihimpit batu raksasa.
Kesadaran bahwa ia kini benar-benar sendiri di tengah reruntuhan hidupnya mulai merayap naik. Ia menatap wajah suaminya yang tampak begitu tenang dalam kematian, sangat kontras dengan kekacauan yang ditinggalkannya. Christian telah pergi, membawa serta seluruh janji manis dan komitmen yang selama ini ia bangun di atas pondasi yang ternyata sangat rapuh.
Tangis yang sedari tadi ditahannya akhirnya pecah. Tiffany jatuh terduduk di atas karpet beludru yang mulai ternoda merah oleh tetesan darah Christian. Tangannya meraba meja, mencari sandaran, hingga ujung jarinya menyentuh selembar kertas yang terlipat di dekat laptop. Kertas itu tampak kaku, sebagian sisinya telah terpercik cairan kental berwarna merah gelap yang berasal dari luka tembak Christian.
Tiffany mengambil kertas itu dengan jemari yang mati rasa. Penglihatannya mengabur oleh air mata, namun ia memaksa dirinya untuk memfokuskan pandangan pada tulisan tangan yang sangat ia kenali—tanda tangan yang dulu sering ia lihat di dokumen pernikahan mereka. Ia mulai membaca kata demi kata, dan setiap huruf yang tertera di sana terasa seperti sayatan pisau tumpul yang merobek jantungnya.
Itu adalah surat wasiat. Bukan wasiat tentang harta benda, melainkan wasiat tentang pengakuan yang selama ini tersimpan rapat di balik topeng Christian.
Mata Tiffany terpaku pada paragraf terakhir, di mana tinta pena Christian tampak bergetar saat menuliskan nama wanita yang selama ini ia puja dalam diam. Sebuah pengakuan pahit yang menjelaskan mengapa selama pernikahan mereka, Christian lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah daripada bersamanya.
Kebohongan yang dibangun selama bertahun-tahun kini runtuh di hadapannya, menyisakan reruntuhan harga diri yang tak lagi bisa diselamatkan. Tiffany meremas kertas wasiat itu hingga kusut, air matanya jatuh tepat di atas nama yang tertulis di sana. Kehancuran ini bukan sekadar tentang kebangkrutan bisnis, melainkan tentang pengkhianatan yang paling dalam.
Tangan Tiffany terulur perlahan, bukan untuk menyentuh tubuh suaminya, melainkan untuk meraih senjata yang tergeletak di samping meja kerja. Logikanya telah hilang, digantikan oleh kesadaran bahwa hidup di dunia tanpa kejujuran hanyalah neraka yang berkepanjangan.
Mata Tiffany Kembali tertuju pada secarik surat wasiat berdarah di meja, sebuah bukti nyata bahwa cintanya selama ini hanyalah sebuah lelucon yang menyedihkan. Ia memutar pistol itu, merasakan beratnya besi dingin di genggamannya, seolah itulah satu-satunya hal nyata yang tersisa di dunia ini.
"Kalau saja kamu tidak datang," gumam Ethan menggelengkan kepalanya menolak membayangkan kemungkinan buruk tersebut."Aku mungkin masih menjadi monster tanpa hati sampai detik ini."Tiffany tersenyum manis, memajukan wajahnya lalu mengecup singkat bibir suaminya."Tapi aku datang, Ethan," potong Tiffany menghapus semua keraguan di kepala suaminya."Kamu tidak pernah terlambat. Kamu selalu datang tepat waktu untuk menyelamatkanku dari segalanya."Wanita itu melingkarkan kedua lengannya di leher Ethan, merapatkan tubuhnya hingga ia bisa merasakan detak jantung pria itu berdetak seirama dengan jantungnya."Semua penderitaan di masa laluku ... semua air mata yang pernah aku keluarkan karena keluargaku ...."Tiffany menarik napas panjang, menatap langit senja yang perlahan mulai berubah menjadi warna ungu gelap."Semuanya sepadan. Aku rela melewati ribuan malam yang menyakitkan di masa lalu asalkan pada akhirnya aku bisa bertemu denganmu."Pengakuan tulus itu menghantam dada Ethan
Tiffany tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang datang menghampirinya.Aroma maskulin perpaduan kayu cendana dan mint segar langsung menyergap indra penciumannya, mengirimkan sengatan hangat ke seluruh aliran darahnya.Itu adalah aroma suaminya. Aroma pria yang telah mengubah seluruh jalan hidupnya.Dua lengan kekar perlahan menyusup dari arah belakang.Ethan Vance melingkarkan lengannya di pinggang Tiffany dengan gerakan yang sangat protektif dan posesif.Pria itu menarik punggung istrinya hingga menempel rapat ke dada bidangnya, menghapus jarak di antara mereka tanpa sisa sedikit pun.Suhu tubuh Ethan yang selalu terasa panas langsung menyelimuti tubuh Tiffany, mengusir hawa dingin angin sore dalam seketika.Ethan menundukkan kepalanya, menyandarkan dagunya dengan nyaman di atas bahu kanan sang istri.Hidung mancung pria itu menyusup ke sela-sela rambut Tiffany, menghirup dalam-dalam aroma tubuh wanita yang paling ia puja di dunia ini."Kamu berdiri di sini sendiri
Ethan dan Tiffany berdiri berdampingan di antara kedua boks tersebut.Mereka memandangi wajah damai anak-anak mereka dalam diam, meresapi setiap detik keajaiban hidup yang terbentang di depan mata.Rasa syukur kembali memenuhi dada Tiffany.Ia tidak pernah lelah mengucapkan terima kasih pada takdir karena telah memberikannya kesempatan kedua yang luar biasa ini.Semua penderitaan dan air mata di kehidupan pertamanya telah terbayar lunas dengan kebahagiaan yang tidak terhingga.Ethan mematikan lampu utama kamar, menyisakan lampu tidur berbentuk bulan sabit yang memancarkan cahaya redup di sudut ruangan."Ayo kita istirahat," ajak Ethan menggandeng tangan istrinya keluar dari kamar anak.Mereka masuk ke dalam kamar utama yang letaknya hanya terhalang satu pintu penghubung.Kamar itu sudah dirapikan oleh pelayan. Seprai putih bersih terpasang rapi, dan aroma minyak aromaterapi menguar dari alat pelembap udara di atas meja.Tiffany berjalan menuju meja rias, melepaskan perhiasan
Begitu mereka tiba di taman belakang, Dante langsung membuang alat peniup gelembung sabunnya ke atas rumput.Bayi gempal berjas mini itu berlari tertatih-tatih menghampiri ayahnya dengan tangan terentang lebar."Papa! Papa!" panggil Dante dengan suara cadel yang sangat menggemaskan.Ethan berjongkok menyambut putranya, menangkap tubuh kecil itu lalu mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara."Kamu mengerjai kakekmu terus, hm? Lihat, baju kakek jadi basah kena air sabunmu," tegur Ethan pura-pura memasang wajah galak.Dante sama sekali tidak takut. Bayi itu malah menarik hidung ayahnya sambil tertawa riang memamerkan gigi-gigi susunya."Tidak apa-apa, Ethan. Biarkan saja dia bermain. Kapan lagi aku bisa mandi air sabun di taman seindah ini," sahut Arthur bangkit berdiri dari kursinya.Pria tua itu memegang pinggangnya yang mulai terasa pegal, namun senyum bahagia tidak pernah luntur dari wajahnya.Eleonor menghampiri Arthur, mengusap punggung pria itu dengan penuh perhatian kasih sa
Tiffany menarik napas panjang, menata detak jantungnya agar tetap stabil sebelum melangkah keluar dari kamar. Setiap langkahnya menuruni tangga pualam terasa begitu nyata, membawa ingatan menyakitkan sekaligus harapan baru yang menyala terang. Suara tawa samar dari ruang keluarga terdengar semakin
Tiffany berdiri di depan jendela besar kamarnya, menatap hamparan lampu kota yang berpijar layaknya ribuan mata yang mengawasi. Angin malam berhembus pelan, membawa hawa dingin yang menyentuh kulitnya, namun ia tak sedikit pun merasa kedinginan. Pikirannya jauh lebih hangat, dipenuhi oleh kalkulas
"Aku setuju menikah dengan Ethan Vance," ucap Tiffany dengan nada yang sangat tenang, seolah dia baru saja membicarakan menu sarapan pagi.Kata-kata itu meluncur dengan presisi yang mengejutkan, memotong udara tegang dengan ketajaman pisau bedah. Chloe yang baru saja bersiap mengeluarkan rengekan
Beatrice meletakkan cangkir tehnya dengan denting yang halus namun tajam, lalu meraih tangan Chloe yang masih terulur manja ke arah Arthur. Tatapannya tertuju lurus pada suami yang kini tampak bimbang di bawah pengaruh kata-katanya. Dia mengusap punggung tangan Chloe dengan penuh kasih sayang yang












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews