Share

Bab 872

Author: Ayesha
"Kalau begitu, ayo makan bersama!" Brielle mengajaknya.

Lambert mengangguk. Dari sudut matanya, Brielle sempat melirik ke arah Raka, tetapi dia tidak mengatakan apa-apa lagi, lalu melangkah bersama Niro dan Lambert menuju ruang istirahat.

Sorot mata Raka tidak menunjukkan sedikit pun rasa kesal karena diabaikan. Dia hanya mengantar kepergian mereka bertiga dengan pandangan yang dipenuhi emosi yang tak seorang pun bisa menebaknya.

Faye diam-diam menggigit bibir. Brielle seolah-olah menjadi pusat
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Rahma Diana Utami
hihiii berasa kasian jg sm raka..tp raka mmg layak dpt perlakuan dingin brielle stlh dlm pernikahan mrk raka mengabaikan brielle n sll fokus prioritasnya u devina
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 971

    Devina membalas.[ Oke, kalau gitu aku tunggu kamu. ]Setelah rapat selesai, Jay bahkan makan siang di kantor demi janji kencan sore ini. Dia ingin menyelesaikan pekerjaan lebih awal supaya bisa meluangkan waktu menemani Devina menonton film.Walaupun sebelumnya mereka juga pernah janjian menonton lewat telepon, ini adalah pertama kalinya Devina yang mengajaknya. Dia sama sekali tidak boleh terlambat. Dia menelepon asisten lewat sambungan internal, "Pesankan aku satu buket mawar. Bunganya harus yang terbaik."Jay melihat waktu, sudah pukul satu lewat empat puluh lima. Dia memutuskan berangkat lebih awal. Dia ingin menemani Devina menonton film ini dengan santai.Jay mengemudi keluar. Saat mendengarkan lagu dan suasana hatinya sedang nyaman, tiba-tiba dia masuk ke jalur yang macet panjang. Suasana hatinya langsung memburuk."Ada apa ini?" Jay mengernyit, lalu melirik waktu lagi. Sepertinya dia akan terlambat. Dia menurunkan kaca jendela dan melihat motor polisi lalu lintas melaju dari t

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 970

    Keesokan paginya.Saat Brielle sedang mengikat rambut putrinya, Anya berkata dengan gembira, "Mama, hari ini Papa yang antar aku ke sekolah. Kami sudah janji semalam.""Oke," jawab Brielle. Untuk hal ini, dia tidak akan mencampuri keputusan putrinya.Setelah Anya keluar dengan tas kecil di punggungnya, Raka sudah menunggu di luar pintu."Ayo!" Dia mengulurkan tangan untuk menggandeng putrinya, lalu mengangkat kepala menatap Brielle sekilas. Dia melihat Brielle juga membawa tas, tampaknya hendak keluar.Mereka bertiga masuk ke lift. Anya menyadari ayah dan ibunya tidak berbicara. Mata besarnya melirik ke kiri dan kanan, lalu dia menunduk dengan sedih.Raka yang peka segera menangkap perasaan putrinya. Dia berjongkok dan bertanya, "Ada apa?""Papa dan mama orang lain saling sayang dan mesra, tapi kalian berdua bahkan nggak bicara lagi," kata Anya, hanya mengungkapkan isi hatinya.Apa yang dia katakan memang benar. Saat ini, mereka memang tidak punya apa-apa untuk dibicarakan. Kalaupun ad

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 969

    Brielle tertegun, lalu segera berkata, "Nggak perlu, Pak Gavin. Kamu pulang saja."Gavin menggeleng. "Ini perintah Pak Raka. Beliau bilang Nona Brielle terlalu lelah bekerja, nggak boleh menyetir dalam keadaan lelah."Brielle memang lelah. Tadi saat berdiri, dia bahkan sempat merasa kepalanya berat dan tubuhnya ringan. Setelah dipikir-pikir, memang tidak bisa memaksakan diri."Terima kasih, Pak Gavin." Brielle menerima bantuannya sebagai sopir.Saat tiba di rumah, waktu sudah lewat pukul 10 malam. Brielle mendorong pintu masuk. Lastri datang dengan wajah penuh perhatian dan mengambil tasnya. "Nyonya, kenapa pulangnya selarut ini?"Brielle tiba-tiba menyadari kalau dia tidak mendengar suara putrinya. Dia segera bertanya, "Anya mana? Belum diantar pulang?""Pak Raka lagi main sama Anya di bawah. Sepertinya sebentar lagi akan diantar ke atas," jawab Lastri.Brielle baru sadar bahkan Gaga juga tidak ada di rumah. Rupanya semuanya diajak Raka ke bawah.Dia berkata kepada Lastri, "Aku mandi

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 968

    Raline membalas.[ Oh ya? Kalau begitu, perusahaannya seharusnya sudah melewati masa sulit. ][ Seharusnya sudah baik-baik saja. Aku dengar dari Jay, kakakmu banyak membantunya. Raline, ini kabar baik. ]Devina mengirim pesan lagi, dengan nada yang mengandung isyarat.Raline memahami maksud tersiratnya. Sekilas kepahitan melintas di matanya. Siapa yang tahu, putri Keluarga Pramudita yang dulu begitu bebas dan percaya diri, kini satu-satunya harapannya adalah memiliki tubuh yang sehat?[ Entahlah, Kak Devina. Aku agak lelah, lain kali kita lanjutkan. ][ Oke, kapan-kapan kita janjian lagi. ]Devina membalas demikian.Raline mematikan layar ponselnya dan tidak berniat membalas lagi. Saat ini, bekas pengambilan darahnya masih terasa sakit. Tadi dia diambil enam tabung darah sekaligus, sekarang kepalanya terasa pusing."Bu, aku antar ke sana untuk istirahat ya. Nanti kami akan mengantarkan makanan juga," ujar perawat yang datang menghampiri."Terima kasih." Raline mengangguk. Saat ini, dia

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 967

    Brielle berdiri agak di belakang, membolak-balik map rekam medis di tangannya sambil mencatat data.Setelah Meira selesai menjawab pertanyaan Smith, pandangannya beralih pada Brielle. Di matanya bercampur dua emosi. Rasa terima kasih dan penyesalan yang mendalam.Setelah Smith memberi beberapa pesan pengingat ...."Dokter, boleh aku bicara beberapa patah kata dengan Bu Brielle?" tanya Meira.Smith mengangguk, melirik Brielle. Brielle pun berjalan mendekat dengan alami. Meira berusaha duduk lebih tegak. Raline segera menghampiri untuk membantunya."Brielle, aku ...." Suara Meira tersendat, matanya sontak memerah. "Keluarga Pramudita telah berbuat salah padamu. Seharusnya aku nggak memperlakukanmu seperti itu dulu. Aku ... minta maaf."Brielle mendengarkan tanpa banyak menunjukkan emosi. Setelah terdiam beberapa detik, dia berkata, "Istirahatlah dengan baik. Yang lain nggak penting."Nada suaranya tenang, tanpa kebencian, juga tanpa keharuan. Namun, justru reaksi seperti itu yang membuat

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 966

    Brielle akhirnya menatap Smith dan berkata, "Berdasarkan data, antibodi Devina menghasilkan mekanisme kerja ganda, penekanan dari luar dan aktivasi dari dalam.""Luar biasa, luar biasa! Brielle, kamu benar-benar genius." Smith mendorong kacamatanya dengan bersemangat. "Ini bukan sekadar pengobatan, ini menghidupkan kembali sistem pertahanan pasien sendiri. Inilah yang benar-benar mengatasi gejala sekaligus akar masalah!""Bisa dipahami seperti itu." Brielle mengangguk. "Ini adalah jalur pemikiran terapi yang benar-benar baru. Nggak lagi sepenuhnya bergantung pada donor eksternal, sel punca, dan infus jangka panjang, tapi dengan mengaktifkan potensi imun pasien sendiri untuk mencapai tujuan pengendalian bahkan penyembuhan.""Kapan bisa mulai digunakan?" Suara Raka terdengar rendah, tetapi bergetar karena terlalu antusias.Brielle terdiam sejenak. "Saat ini masih tahap penemuan awal. Perlu banyak penelitian untuk mengevaluasi stabilitas dan keamanannya. Aku hanya menemukan satu arah yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status