تسجيل الدخول"Devina, jadi manusia harus punya hati nurani. Apa yang sudah kulakukan untukmu masih kurang?" kata Freyna dengan penuh kekecewaan. "Aku sudah mengeluarkan uang, tenaga, dan waktu untuk menemanimu sampai sejauh ini. Pernahkah aku mengeluh?"Di dalam hatinya, Freyna juga merasa sangat dirugikan. Dia pun berharap bisa mendapatkan keuntungan dari Devina di kemudian hari.Namun sampai sekarang, jangankan mendapatkan keuntungan, dia sudah menghabiskan begitu banyak uang, tenaga, dan waktu untuk mendampinginya, tetapi balasan yang diterimanya justru seperti ini?Saat ini, Devina sama sekali tidak punya energi untuk memikirkan perasaan Freyna. Dia masih tenggelam dalam kemarahan dan keputusasaannya sendiri.Dengan nada penuh keluhan, dia melanjutkan, "Di mata Ignas hanya ada putrinya itu. Semua usahaku sia-sia. Aku menahan rasa jijik dan melayaninya selama itu, tapi pada akhirnya aku nggak mendapatkan apa-apa."Devina terus meluapkan kekesalannya di depan hotel di negeri asing itu. Dia tidak
Melihat anak yang wajahnya 80% mirip dengannya itu, Ignas makin puas dan makin terharu. Makin lama dia memandang, makin bersemangat pula dirinya. Rasanya, hidupnya benar-benar berarti."Bagus, bagus sekali. Putriku ternyata begitu hebat." Dia begitu bersemangat hingga kata-katanya menjadi tidak teratur.Tanpa sadar, dia kembali menggenggam tangan putrinya. Kali ini, Yola tidak menarik tangannya."Yola, ada yang kamu inginkan? Ayah akan kasih ke kamu. Mulai sekarang, semua yang Ayah miliki adalah milikmu." Ignas sudah tidak sabar menunjukkan kasih sayangnya sebagai seorang ayah."Jurusan apa yang kamu pelajari? Apa yang kamu minati? Ayah bisa berinvestasi untukmu, mendirikan perusahaan untukmu, atau membiayai pendidikanmu lebih lanjut. Ayah bisa mengirimmu ke sekolah terbaik di dunia. Ayah akan mendukungmu sepenuhnya."Pada saat ini, di hati Ignas, Devina maupun wanita-wanita lainnya sudah tidak penting lagi. Yang terpenting hanyalah putri luar biasa yang tiba-tiba muncul dalam hidupnya
Devina masih mampu menjaga ketenangannya. Dengan senyuman di wajahnya, dia memandang putri Ignas. "Halo, aku teman ayahmu."Yola menatap wanita cantik dan seksi di hadapannya itu. Kilatan rasa meremehkan melintas di matanya. Dia bukan anak kecil yang bisa dibohongi dengan dalih "teman".Yola juga bukan gadis polos yang tidak mengerti apa-apa. Sejak kecil, dia dibesarkan seorang diri oleh ibunya dan telah mengalami banyak hal.Justru karena tidak memiliki tempat bergantung sejak kecil, dia selalu bekerja keras dan berusaha untuk maju.Kali ini, dia datang bukan untuk berebut perhatian dengan wanita-wanita seperti ini. Dia datang untuk mencari keadilan bagi ibunya.Jika ayah kandung yang baru ditemuinya itu masih dikelilingi wanita-wanita seperti ini hingga membuat ibunya dipermalukan, dia lebih memilih untuk tidak mengakui sang ayah.Terlebih lagi, dirinya sendiri juga cukup berprestasi. Dia baru saja menyelesaikan program magister di Universitas Kyoza, salah satu universitas terbaik di
Yola menatap Ignas yang berdiri di hadapannya. Wajahnya memiliki kemiripan hingga 80% dengan Ignas. Bentuk wajah maupun fitur-fiturnya jelas mewarisi wajah Ignas.Namun, dia tidak langsung memanggil ayah. Dia hanya menatap Ignas dalam diam.Ignas tiba-tiba melangkah maju dan mengamatinya dari atas sampai bawah. Meskipun penampilannya tidak terlalu menonjol, dia dapat memastikan hanya dengan sekali pandang bahwa gadis ini adalah darah dagingnya sendiri.Kadang hubungan darah memang semisterius itu."Nak ...." Suara Ignas tiba-tiba tercekat karena emosi. Dia mengulurkan tangan dan menggenggam tangan Yola.Bagi pria berusia 65 tahun itu, tidak ada hal yang lebih menggembirakan daripada tiba-tiba menemukan seorang anak kandung. Semua ini seperti adalah kehendak takdir.Saat dirinya berada di masa paling putus asa dan rapuh, dia dianugerahi seorang putri yang memberinya harapan baru untuk sisa hidupnya.Pada saat yang sama, di luar vila, sebuah mobil hitam melaju masuk tanpa hambatan. Devin
Freyna memandangi Devina yang sudah mengamuk cukup lama dengan tetap tenang. Kemudian, dia menganalisis."Devina, sekarang bukan waktunya marah-marah. Wanita-wanita itu datang hanya karena mengincar uang. Kamu berbeda. Kamu masih muda, cantik, dan merupakan pacar yang diakui Ignas. Selain itu, dia pernah minta kamu lahirkan anak untuknya. Itu keunggulanmu."Devina menggigit bibirnya dan menutup perutnya dengan tangan."Keunggulan?" katanya dengan kesal. "Sekarang begitu banyak wanita mengelilinginya. Aku bahkan nggak punya kesempatan untuk menemuinya."Rencananya juga telah berantakan. Awalnya dia ingin segera hamil agar kedudukannya naik. Namun sekarang, Ignas bahkan tidak punya waktu untuk memperhatikannya. Padahal proses bayi tabung berikutnya masih membutuhkan partisipasi Ignas."Kita nggak boleh panik sendiri." Freyna melangkah maju dan menepuk bahunya. "Aku sudah cari tahu. Meskipun Ignas pernah berhubungan dengan wanita-wanita itu, di antara mereka nggak ada lagi dasar perasaan
Setelah bel pintu berbunyi, Brielle datang membukakan pintu.Dia menatap putrinya yang pulang sambil melompat-lompat dengan riang, lalu mengalihkan pandangan ke pria yang berada di belakang putrinya.Keinginan untuk mempertanyakan sesuatu kepada Raka kembali dia tekan. Dia khawatir dirinya tidak bisa mengendalikan emosi dan malah kembali bertengkar dengan Raka.Terlebih lagi, malam ini putrinya tampak sangat bahagia.Makan malam yang dimasak Lastri semuanya bercita rasa ringan dan tidak terlalu berminyak.Raka mengajak mereka ke meja makan. Begitu melihat hidangan favoritnya di atas meja, mata Anya langsung berbinar."Ada iga asam manis kesukaanku! Aku mau makan!""Ikut Papa cuci tangan dulu," kata Raka kepada putrinya.Anya langsung menggandeng tangannya dan mengikuti Raka menuju kamar mandi di lantai satu.Brielle berdiri di tempat dengan kedua tangan menyilang di depan dada. Pikirannya penuh dengan berbagai hal.Lastri yang melihatnya pun tidak bisa menahan diri untuk bertanya, "Nyo
Menjelang dini hari, studio Devina mengeluarkan sebuah pernyataan. Karena kondisi kesehatannya menurun, dia tidak bisa menyelesaikan syuting iklan kampanye Hari Perempuan Sedunia sehingga resmi mundur dari kegiatan tahun ini.Brielle kebetulan belum tidur. Dia membuka pernyataan dari studio Devina,
Lambert sudah kembali dari luar negeri, Vivian juga datang untuk ikut kelas."Bibi Brielle." Vivian melihatnya, lalu menyapa dengan ramah.Brielle membalas dengan senyuman lembut."Mama, boleh nggak aku ajak Vivian main ke rumah kita? Kita sudah lama banget nggak ketemu." Anya menarik tangan Brielle
Brielle membolak-balikkan laporan penelitian di ponselnya, tenggelam dalam bacaannya. Pukul 9.45 pagi, dari arah pintu lift, asisten Raka berjalan cepat menghampiri. "Bu Brielle, Pak Raka sudah menunggu di ruang rapat."Brielle tertegun. Sepertinya resepsionis sudah memberi tahu kantor pusat, jadi R
Di sisi lain, Jay yang melihat semuanya pun menawarkan diri, "Raka, biar aku yang mengantar Brielle pulang!"Devina menggigit bibir, lalu menatap Brielle sambil berkata, "Brielle, aku tahu kamu membenciku, juga nggak butuh perhatianku."Dalam hati Brielle mencibir, 'Kalau tahu nggak dibutuhkan, untu







