Share

Bab 872

Auteur: Ayesha
"Kalau begitu, ayo makan bersama!" Brielle mengajaknya.

Lambert mengangguk. Dari sudut matanya, Brielle sempat melirik ke arah Raka, tetapi dia tidak mengatakan apa-apa lagi, lalu melangkah bersama Niro dan Lambert menuju ruang istirahat.

Sorot mata Raka tidak menunjukkan sedikit pun rasa kesal karena diabaikan. Dia hanya mengantar kepergian mereka bertiga dengan pandangan yang dipenuhi emosi yang tak seorang pun bisa menebaknya.

Faye diam-diam menggigit bibir. Brielle seolah-olah menjadi pusat
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé
Commentaires (1)
goodnovel comment avatar
Rahma Diana Utami
hihiii berasa kasian jg sm raka..tp raka mmg layak dpt perlakuan dingin brielle stlh dlm pernikahan mrk raka mengabaikan brielle n sll fokus prioritasnya u devina
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Latest chapter

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1208

    "Apa? Kenapa dia melakukan ini? Kapan Keluarga Datau pernah menyinggungnya?" Flora juga terkejut dan tidak percaya."Aku ini bahkan menganggapnya calon menantu, tapi dia justru menusuk dari belakang seperti ini." Dada Declan naik turun dengan hebat. Mengingat bagaimana dulu dia menghormati dan menjilat Raka, kini yang tersisa hanya kebencian dan amarah.Kalau dipikir-pikir, sejak dulu Raka membantunya go public, lalu membantunya mengurus investasi luar negeri, setiap langkah seperti jebakan yang dirancang rapi. Dari awal sampai akhir, semuanya adalah bagian dari rencananya, hanya untuk membuat Grup Datau bangkrut."Bagaimana bisa Pak Raka melakukan ini? Bukankah dia dan Devina ...." Mata Flora memancarkan amarah besar. "Jangan-jangan semua ini disuruh oleh gadis sialan itu, Devina?"Baru saat itu Declan teringat pada putrinya, anak haramnya, orang yang dulu menjadi penghubung antara Keluarga Datau dan Raka.Declan langsung mengambil jaketnya dan keluar. Dia harus menanyakan semuanya de

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1207

    Di rumah Keluarga Datau.Declan duduk di sofa, dalam semalam seolah-olah menua sepuluh tahun. Rambutnya berantakan, matanya cekung, sebatang rokok terselip di mulutnya, sementara sorot matanya dipenuhi amarah dan ketidakrelaan.Flora turun dari lantai dua. Sampai sekarang dia masih belum bisa menerima kenyataan. Bagaimana mungkin perusahaan yang tadinya baik-baik saja tiba-tiba jatuh ke jurang kehancuran?Declan sedang menelepon. Begitu panggilan tersambung, dia langsung merendahkan sikapnya dan memohon, "Halo! Akhirnya kamu angkat juga. Bisa nggak kasih aku dana talangan jangka pendek? Begitu perusahaanku pulih, pasti langsung aku kembalikan.""Maaf sekali, kali ini aku benar-benar nggak bisa bantu.""Demi hubungan kita ....""Maaf ya, Pak Declan."Telepon langsung ditutup.Brak! Declan menggebrak meja dan meraung, "Dasar sekumpulan pengkhianat! Dulu sok akrab panggil saudara, sekarang satu per satu nggak angkat telepon atau bilang nggak punya uang! Sialan!"Dia masih ingat beberapa b

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1206

    Setelah keluar dari laboratorium, Brielle kembali ke kantor. Cherlina menjulurkan kepala masuk. "Kak Brielle, tadi kamu lihat Pak Raka nggak?"Gerakan Brielle yang hendak minum air sempat terhenti, "Dia sempat ke sini?""Ya, setengah jam yang lalu dia masuk ke ruang laboratorium, sekitar 20 menit baru keluar. Mungkin kalian lagi sibuk semua," kata Cherlina.Brielle sama sekali tidak menyadarinya. Namun, Raka memperhatikan perkembangan eksperimen itu sepenuhnya karena dia juga memikul tekanan, tekanan dari negara.Hari ini ada kabar baik dari perkembangan eksperimen. Brielle melirik waktu, sudah pukul 3.30 sore, sementara dia masih harus pergi ke laboratorium Derrick untuk rapat. Dia mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Raka.[ Malam ini aku ada rapat, kamu sempat jaga Anya? ][ Fokus kerja saja, Anya biar aku yang urus. ]Balasan singkat dan lugas, gaya khas Raka.Melihat pesan itu, hati Brielle sedikit lega. Terlepas dari bagaimana masa lalu mereka, dalam hal menjaga anak, Ra

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1205

    Faye kembali ke dalam mobil, pikirannya masih kosong. Mengingat keberaniannya tadi memanggil Raka "kakak ipar" di depan umum, kini semuanya berubah menjadi rasa malu yang tak tertahankan.Tatapan dingin Raka masih terbayang di benaknya, seperti kutukan yang tak bisa dihapus, membuat rasa malunya semakin menjadi-jadi.Bagaimana sebenarnya Devina menjaga hubungan dengan Raka? Bukankah saham Grup Pramudita di Grup Datau juga diberikan kepadanya? Bukankah itu juga bentuk cinta?Apalagi, 6 triliun bagi Raka sama sekali bukan angka besar.Baru sekarang Faye menyadari, hubungan Raka dan Devina benar-benar sudah sampai di ujung jalan. Artinya, mimpi Devina menjadi Nyonya Pramudita benar-benar sudah hancur.Kesadaran ini justru seperti suntikan penenang dalam dirinya, membuatnya sedikit merasa lega.Dulu, saat mengetahui hubungan Raka dan Devina, dia memang sangat iri. Memikirkan seorang anak haram justru memiliki kehidupan yang lebih baik darinya, dia sama sekali tidak rela.Baru saja tadi, si

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1204

    Faye yang masih hendak memohon tiba-tiba mendengar sekelompok orang berjalan dari arah lobi lift. Dia langsung mengangkat kepala dan menoleh.Terlihat sekelompok pria berjas mengelilingi seorang pria muda dengan aura kuat yang berjalan di tengah. Sosok pria itu tegap, rambut putihnya sangat mencolok. Kalau bukan Raka, siapa lagi?Raka sedikit menoleh mendengarkan pria di sampingnya berbicara. Tatapannya tajam, langkahnya mantap.Jantung Faye langsung berdegup kencang. Hampir tanpa berpikir, dia berlari ke arah Raka dan berteriak, "Kakak Ipar!"Panggilan itu begitu keras dan mendadak, langsung memecah suasana tertib di lobi. Semua orang berhenti dan menatap gadis yang berteriak itu dengan heran.Langkah Raka terhenti. Dia menoleh ke arah wanita yang berlari dari depan resepsionis. Tatapannya yang dalam dan dingin tertuju pada Faye, seperti pisau tajam tanpa sedikit pun kehangatan.Tubuh Faye langsung merinding karena tatapannya, tetapi dia tetap memaksakan diri berbicara, "Kak Raka, tol

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1203

    Faye menggigit bibirnya erat-erat. Dia berjalan menuju toilet untuk menenangkan diri. Baru saja masuk ke bilik, dia mendengar rekan-rekan kantor masuk."Kalian lihat berita tentang Grup Datau? Katanya Keluarga Datau sudah mau bangkrut.""Dari dulu juga sudah banyak kabar buruk tentang mereka, aku saja heran mereka bisa sampai go public.""Bukan cuma bangkrut, di berita katanya bisa terkait masalah ekonomi serius, mungkin ada yang sampai masuk penjara.""Gelar putri kaya Faye itu sudah nggak bakal bertahan lagi, lihat saja dulu dia betapa sombongnya.""Dulu posisinya tinggi sekali, tapi sekarang? Hah, asal nggak terlilit utang saja sudah bagus."Di dalam bilik, Faye menahan emosinya sekuat tenaga. Dulu orang-orang ini selalu mengagumi dan menjilatnya, sekarang justru menghinanya saat dia jatuh. Bahkan untuk keluar membantah mereka pun dia tidak punya keberanian.Setelah masuk ke mobil, Faye menelepon Devina. Meskipun membenci Devina karena mengambil saham perusahaan, sekarang perusahaan

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 544

    Rapat sore itu membawa kabar baik. Madeline mengumumkan beberapa kondisi pasien yang sudah membaik. Meskipun prosesnya butuh waktu, semua data bergerak ke arah yang positif.Faye melihat berkali-kali tatapan pujian Madeline kepada Brielle. Di permukaan dia tampak tenang, tetapi hatinya tetap merasa

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 543

    Brielle merasa agak bersalah. "Maaf, Kak Harvis. Keputusan ini agak mendadak, jadi belum sempat memberi kabar kepadamu."Harvis menghela napas. Dia juga tahu bekerja di laboratorium Raka memang sedikit mengekang bagi Brielle."Aku tahu. Aku juga mengerti perasaanmu. Hanya saja ... aku sulit melepas

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 551

    Raka mendongak menatap Brielle yang tampak tak senang. Dia mengangkat putrinya lalu berkata, "Ayo kita ke bawah untuk kepang rambut, ya?""Oke!" jawab Anya dengan suara imut. Ketika melihat ibunya, dia berseru gembira, "Mama, lihat, Papa sudah pulang."Di depan putrinya, Brielle tidak bisa berkata a

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 538

    Saat itu, terdengar ketukan dari luar pintu. Setelah Madeline mengatakan "masuk", Brielle masuk sambil membawa berkas.Faye langsung menoleh. Kilatan cemburu menyala di dalamnya.Brielle melihatnya dan jelas tertegun sesaat. "Bu Madeline, nanti aku datang lagi.""Brielle, masuk saja." Madeline berka

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status