登入Justin terdengar sangat gembira. “Akhirnya aku berhasil hubungi kamu! Aku mau tanya kamu. Apa kamu ada rencana lanjutkan studi ke jenjang magister?”Susan terdiam sejenak. Awalnya, dia mau jawab nggak. Namun, setelah dipikir-pikir, dia nggak ingin ingkari keinginan hatinya sendiri.“Iya.”Justin kembali tanya, “Kalau gitu, apa kamu tertarik untuk jadi mahasiswa doktoralku?”Susan jawab dengan ragu, “Profesor Justin, saya sangat ingin jadi muridmu, tetapi saya khawatir .…”Usianya nggak muda lagi. Dibandingkan para mahasiswa yang baru lulus, dia sama sekali nggak punya keunggulan.Justin tertawa kecil. “Bagus. Yang penting kamu punya keinginan untuk coba. Selama kamu sungguh-sungguh, kesempatan itu pasti ada. Ujian masuk pascasarjana tinggal kurang dari tiga bulan lagi. Kamu percaya diri nggak?”Teringat masa kuliahnya dulu, ketika dia berhasil lulus dengan nilai terbaik di angkatannya, Susan jawab dengan mantap, “Profesor Justin, saya percaya diri. Saya akan berusaha coba sebaik mungki
Bahkan setelah mereka sampai di luar bar, Haris masih belum lepaskan rangkulannya dari pinggang Susan. Pikiran Susan sedang kalut. Karena terlalu larut dalam pikirannya sendiri, dia sampai lupa kalau Haris masih rangkul dia. Baru ketika Haris buka pintu mobil, Susan tersadar. Dia segera mundur selangkah dan berkata, “Haris, makasih untuk malam ini.”Haris bisa lihat ada sesuatu yang mengganjal di hati Susan. Namun, dia nggak berusaha ungkit masalah itu. Dia hanya membungkuk, dekatkan wajahnya hingga sejajar dengan wajah wanita itu, lalu menatap matanya sambil tersenyum tipis.“Kamu terus bilang makasih ke aku. Apa itu nggak buat kita kedengarannya terlalu berjarak?”Susan kembali mundur. Punggungnya bentur badan mobil, buat dia refleks menatap Haris dengan waspada.“Terus .…”Belum sempat Susan selesaikan kalimatnya dan tanya apa yang sebenarnya pria itu mau, Haris sudah tegakkan tubuhnya dan berkata, “Temani aku tidur semalam. Gimana?”Ekspresinya begitu serius, sama sekali nggak keli
Lihat Haris berhasil buat mereka kesal, diam-diam Susan merasa puas. Tanpa melirik Guntur maupun Yanto sedikit pun, Susan langsung palingkan wajahnya ke arah Haris dan berkata, “Haris, ayo kita pergi.”Dengar itu, Haris langsung melangkah maju dan rangkul pinggang Susan. Pada saat yang sama, dia condongkan tubuhnya, hirup aroma sampo dari rambutnya. Wangi manis itu begitu memikat hingga buat dia terlena. Setelah pejamkan mata dan nikmati aroma itu sejenak, Haris akhirnya sunggingkan senyum nakal di sudut bibirnya.“Oke, Sayang.”Kehadiran Haris yang begitu dekat buat Susan merasa sedikit tertekan. Dia berusaha tepis tangan pria itu, tetapi nggak disangka, Haris justru rangkul dia semakin erat.“Sayang, banyak orang lagi lihatin kita. Kasih aku sedikit muka, dong, oke?”Barulah Susan turunkan tangannya dan biarkan Haris bertindak sesuka hatinya. Gimanapun, semua ini cuma untuk sandiwara saja. Lagian, Haris cuma rangkul pinggangnya, nggak ada yang perlu dibesar-besarkan. Namun, bagi Gunt
Susan dan Lukas sama-sama terdiam. Keheningan perlahan selimuti ruang privat itu, buat suasana terasa begitu canggung. Namun, begitu ingat betapa sulitnya dapatkan kesempatan untuk bicara berdua dengan Lukas, Susan akhirnya ambil inisiatif untuk buka percakapan.“Lukas, bisa nggak kita bicara?”Susan bukan sengaja rendahkan harga dirinya. Dia hanya ingin pastikan apa Lukas bersedia luangkan waktu untuk bicara dengan dia. Jika pria itu nggak mau, Susan juga nggak mau buang-buang waktu lagi.Lukas melirik Susan. Wajahnya tampak tenang, nggak ada sedikit pun gejolak emosi. Setelah merenung sejenak, barulah dia tanya, “Kamu mau bicara apa?”Susan langsung utarakan maksudnya tanpa bertele-tele, “Kesulitan yang dialami kakak dan kakak iparku di tempat kerja, semua itu ulahmu, kan?”Lukas sama sekali nggak berusaha mengelak. Dia jawab dengan lugas, “Iya, memang gara-gara aku.”Sebenarnya, Susan sudah duga jawabannya pasti demikian. Namun, ketika dengar kebenaran itu langsung dari mulut Lukas,
Haris berkata, “Jelas dong! Pria setia seperti aku ini sangat langka di Kota Jasinto.”Pelayan itu hanya tertawa canggung beberapa kali sebelum akhirnya pergi. Seolah takut Susan nggak percaya dengan dia, Haris buru-buru jelaskan, “Sayang, jangan dengerin omongan orang lain tentang aku. Kamu harus kenal aku lebih dalam, benar-benar ngertiin aku. Setelah itu, kamu pasti akan tahu kalau aku ini pria yang sangat romantis dan setia.”Susan dongakkan wajahnya untuk menatap Haris. Dia nggak tanggapi perkataannya, ekspresinya nyaris nggak berubah. Lihat reaksinya yang begitu datar, Haris menghela napas.“Sudahlah. Cepat atau lambat, sayangku pasti bakal sadar dengan semua kebaikanku.”Setelah berkata demikian, Haris rangkul bahu Susan dan bawa dia masuk lebih jauh ke dalam bar. Ketika tiba di depan sebuah ruangan privat bernomor 999, Haris langsung tendang pintunya hingga terbuka.Begitu pintu itu didobrak dengan kasar, semua orang di dalam ruangan serentak noleh ke arah mereka. Baru saat itu
Setelah tinggalkan Vila Cerisa, Susan baru saja duduk di dalam mobilnya ketika pintu penumpang depan tiba-tiba dibuka seseorang dari luar. Sesaat kemudian, seseorang langsung duduk di kursi itu. Susan yang sedang melamun langsung terkejut hingga hampir lompat dari tempat duduknya. Namun, setelah lihat siapa yang datang, barulah dia hembuskan napas lega. Jantungnya yang semula tegang perlahan kembali tenang.Haris duduk di kursi penumpang depan. Dengan sengaja, dia miringkan tubuhnya mendekat ke arah Susan, persempit jarak di antara mereka. Dia amati perubahan ekspresi Susan dari bawah ke atas. Tiba-tiba, bibirnya merekah jadi senyum menawan.“Kenapa? Apa aku semenakutkan itu sampai kamu nggak berani ngelirik aku? Atau jangan-jangan kamu nggak lihat aku karena malu?”Susan sama sekali nggak berminat dengarkan gurauan Haris. Dengan wajah muram, dia berkata, “Aku masih ada urusan. Bisa nggak kamu turun dari mobilku dulu?”Haris sama sekali nggak anggap itu serius. Dia sandarkan tubuh ke s







