Ketika Aku Berhenti Mencintaimu

Ketika Aku Berhenti Mencintaimu

last updateLast Updated : 2026-08-27
By:  callaaendulaUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
1 rating. 1 review
11Chapters
14views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Selama lima tahun menikah, Alena selalu menjadi pilihan terakhir bagi suaminya, Gavin. Di saat ia berharap mendapat kasih sayang, Gavin justru lebih mengutamakan wanita lain yang tak pernah benar-benar pergi dari hidupnya. Hingga sebuah pengkhianatan menghancurkan seluruh harapannya. Alena memilih pergi tanpa membawa apa pun selain harga diri dan rahasia yang tak pernah diketahui Gavin. Ketika Gavin akhirnya menyadari bahwa ia telah kehilangan satu-satunya wanita yang tulus mencintainya, penyesalan datang terlambat. Sebab, saat itu Alena telah berhenti mencintainya. Mampukah Gavin mendapatkan kesempatan kedua, atau kali ini ia harus belajar menerima bahwa tidak semua luka bisa disembuhkan oleh penyesalan?

View More

Chapter 1

Bab 1: Sisa Kehangatan yang Membeku

Piring kaca itu berdenting keras saat Alena meletakkannya di atas meja makan. Ia menatap jam dinding besar di ruang tengah. Pukul lima pagi. Alena sudah berkutat di dapur sejak satu jam yang lalu, memotong sayur, membumbui daging ayam, dan memastikan semuanya matang sempurna. Semuanya demi pria yang saat ini baru saja melangkah turun dari tangga.

Gavin sudah rapi dengan setelan jas abu-abu gelapnya. Wangi parfum maskulin yang mahal langsung memenuhi ruangan. Namun, langkah pria itu sama sekali tidak melambat saat melewati meja makan yang penuh dengan hidangan hangat.

"Gavin, sarapannya sudah siap. Aku buatkan ayam gulung saus tiram kesukaanmu," panggil Alena lembut, menahan rasa lelah yang menggelayuti pundaknya.

Gavin berhenti, tetapi ia bahkan tidak menoleh ke arah Alena. Ia sibuk merapikan jam tangan Rolex di pergelangan kirinya. "Saya tidak punya waktu, Alena."

"Tapi ini masih terlalu pagi untuk ke kantor, Gav. Setidaknya minumlah susu atau makan beberapa suap nasi. Semalam kamu juga pulang larut dan belum sempat makan malam." Alena melangkah mendekat, mencoba meraih tas kerja Gavin untuk membantunya membawakannya.

"Jangan menyentuh tas saya," potong Gavin dingin. Ia menarik tasnya menjauh sebelum tangan Alena sempat meraihnya. Tatapan matanya yang tajam akhirnya tertuju pada Alena. Dingin, tanpa riak emosi sedikit pun. "Sudah saya bilang berapa kali, jangan mengatur hidup saya. Awas saya ada urusan penting."

Alena memaksakan sebuah senyuman, meski hatinya terasa seperti ditusuk jarum kecil. Lima tahun. Lima tahun ia menelan sikap seperti ini setiap hari. "Urusan sepagi ini? Apa ada rapat mendadak?"

Gavin mendengus pelan, seolah pertanyaan Alena adalah hal paling konyol yang pernah ia dengar. "Serena mendarat di bandara jam enam pagi ini. Saya harus menjemputnya."

Kata-kata itu menghantam dada Alena seperti godam besar. Napasnya tercekat. "Serena? Mantan kekasihmu itu? Dia... kembali?"

"Ya. Dan dia membutuhkan saya untuk mengurus kepindahannya kembali ke kota ini," jawab Gavin santai, seolah nama wanita itu tidak pernah menjadi hantu dalam pernikahan mereka selama lima tahun terakhir.

"Tapi Gavin, aku ini istrimu," lirih Alena, suaranya mulai bergetar. "Kenapa harus kamu yang menjemputnya sepagi ini? Dia bisa naik taksi, atau menyewa asisten. Kenapa harus suamiku?"

Gavin memutar tubuhnya sepenuhnya menghadap Alena. Sepasang matanya menyipit, memancarkan kejengkelan yang nyata. "Alena, sadarlah. Kita menikah karena apa? Karena wasiat mendiang kakek, bukan? Kamu tahu persis sejak awal siapa wanita yang ada di hatiku."

"Lima tahun, Gavin! Apa lima tahun pengabdianku tidak ada artinya sama sekali di matamu?" Air mata yang sejak tadi ditahan Alena kini mulai menggenang di pelupuk matanya.

"Jangan mulai menangis dan berlagak menjadi korban," tukas Gavin ketus. Ia melirik jam tangannya dengan tidak sabar. "Saya tidak punya waktu untuk drama pagimu. Makan saja masakanan mu sendiri. Jangan mengganggu saya hari ini, saya akan sangat sibuk dengan Serena."

"Gavin, tolong... hari ini saja. Jangan pergi menemui dia," pinta Alena, melangkah maju dan nekat memegang ujung lengan jas Gavin. "Ada hal penting yang ingin kukatakan padamu nanti malam. Tolong, pulanglah cepat."

Gavin mengibaskan tangannya dengan kasar hingga pegangan Alena terlepas. "Lepas, Alena! Kamu membuat jas saya kusut. Urusan apa pun itu, bisa dibahas nanti. Serena jauh lebih membutuhkan saya sekarang. Dia tidak punya siapa-siapa lagi di kota ini."

"Lalu bagaimana denganku?" teriak Alena kecil, suaranya pecah. "Bagaimana dengan istrimu yang sendirian di rumah ini?"

"Kamu punya rumah mewah ini, kamu punya uang saya, kamu punya status sebagai Nyonya Gavin. Apa lagi yang kurang?" Gavin menatapnya dengan pandangan merendahkan. "Jangan serakah, Alena. Kamu sudah mendapatkan pernikahan ini, tapi jangan pernah bermimpi mendapatkan hati saya juga."

Setelah mengucapkan kalimat kejam itu, Gavin berbalik dan melangkah lebar menuju pintu depan. Suara pintu utama yang tertutup dengan dentuman keras menggema di seluruh penjuru rumah yang sepi.

Alena berdiri terpaku di tengah ruang makan. Perlahan, lututnya terasa lemas hingga ia terduduk di salah satu kursi. Ia menatap deretan makanan di atas meja yang mulai kehilangan uap panasnya. Semuanya mendadak terasa hambar dan sia-sia. Kesabaran yang ia agungkan selama lima tahun ini ternyata tidak lebih dari sebuah lelucon di mata Gavin.

Dengan tangan gemetar, Alena meraba perut ratanya yang masih tersembunyi di balik apron memasak. Ada rasa perih yang begitu hebat menjalar di dadanya, berbaur dengan secercah rasa takut yang amat sangat.

Alena menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang menggila. Ia tahu, mulai hari ini, segalanya tidak akan pernah sama lagi. Ia tidak bisa lagi hanya diam dan menerima.

Alena beranjak berdiri, berjalan perlahan menuju kamar mandi di lantai bawah. Di dalam sana, di atas wastafel marmer yang dingin, tergeletak sebuah benda kecil berbentuk batangan putih yang baru saja ia gunakan setengah jam lalu sebelum mulai memasak.

Dengan jari-jari yang gemetar hebat, Alena mengangkat benda tersebut. Sepasang matanya melebar saat menatap layarnya yang menunjukkan sesuatu yang sanggup menghentikan detak jantungnya seketika.

Di sana, di bawah cahaya lampu kamar mandi yang temaram, dua garis merah menyala dengan begitu jelas.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

Melati Hitam
Melati Hitam
Keren, lanjutkan, kak!
2026-08-27 19:55:46
2
0
11 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status