LOGINSelama lima tahun menikah, Alena selalu menjadi pilihan terakhir bagi suaminya, Gavin. Di saat ia berharap mendapat kasih sayang, Gavin justru lebih mengutamakan wanita lain yang tak pernah benar-benar pergi dari hidupnya. Hingga sebuah pengkhianatan menghancurkan seluruh harapannya. Alena memilih pergi tanpa membawa apa pun selain harga diri dan rahasia yang tak pernah diketahui Gavin. Ketika Gavin akhirnya menyadari bahwa ia telah kehilangan satu-satunya wanita yang tulus mencintainya, penyesalan datang terlambat. Sebab, saat itu Alena telah berhenti mencintainya. Mampukah Gavin mendapatkan kesempatan kedua, atau kali ini ia harus belajar menerima bahwa tidak semua luka bisa disembuhkan oleh penyesalan?
View MoreDi dalam kabin sedan hitam yang hening, Kael mematikan sambungan teleponnya perlahan. Nama Gavin Pratama bukan lagi nama yang asing baginya. Di dunia bisnis, Pratama Group adalah kompetitor utama Wijaya International. Namun, Kael tidak pernah menduga bahwa takdir akan mempertemukannya dengan istri dari pria arogan itu dalam kondisi yang begitu mengenaskan."Pria idiot," gumam Kael lirih, menatap jendela lantai dua hotel tempat lampu kamar Alena baru saja dipadamkan. "Membiarkan wanita hamil berjalan sendirian di tengah badai... apa yang sebenarnya kamu lakukan, Gavin?"Kael menyalakan mesin mobilnya, tetapi ia tidak langsung pergi. Ia menginstruksikan dua pengawal pribadinya yang berpakain preman untuk tetap bersiaga di sekitar hotel. Apapun konflik yang terjadi antara Alena dan Gavin, Kael tidak akan membiarkan wanita yang sedang rentan itu diseret secara paksa malam ini.Sementara itu, kepanikan luar biasa sedang melanda kediaman Pratama.Gavin berdiri di tengah ru
Kertas hasil pemeriksaan laboratorium di tangan Gavin gemetar hebat. Tulisan bercetak tebal itu seolah melompat dari kertas, menghantam dadanya hingga napasnya terasa tertahan di tenggorokan.Hasil Pemeriksaan Beta-HCG: Positif (Usia Kehamilan: 6 Minggu).Nama Pasien: Alena Pramudya."Positif... hamil?" bisik Gavin, suaranya parau dan terputus-putus di dalam kamar yang hampa.Enam minggu. Anak itu berumur enam minggu.Seketika, potongan-potongan ingatan beberapa minggu terakhir berputar liar di kepala Gavin seperti kilatan petir. Ia teringat bagaimana Alena sering terlihat pucat di pagi hari, bagaimana wanita itu beberapa kali menolak diajak makan malam di luar karena mual, dan bagaimana wajah Alena tampak begitu lelah setiap kali menyambutnya pulang kerja.Ia mengingat semuanya—kecuali fakta bahwa ia tidak pernah sekalipun bertanya mengapa Alena seperti itu. Gavin justru selalu mengabaikannya, menganggap Alena hanya mencari perhatian atau sedang berpura-pura
Darah di dalam tubuh Gavin serasa berhenti mengalir saat menatap layar ponselnya. Tanda seru merah itu menari-nari di matanya, menegaskan bahwa pesan yang baru saja ia kirimkan tidak pernah terkirim.Nomor yang Anda tuju tidak dapat dijangkau atau telah diblokir."Diblokir?" gumam Gavin ketus, dahi berkerut tajam. "Alena memblokir nomor ku?""Ada apa, Gavin?" suara Serena menginterupsi dengan intonasi serak dari balik selang oksigen. Matanya memperhatikan perubahan mimik muka Gavin yang mendadak menegang.Gavin dengan cepat mematikan layar ponselnya dan memasukkannya kembali ke saku jas. "Bukan apa-apa, Serena. Hanya urusan pekerjaan.""Kamu terlihat cemas," bisik Serena seraya mempererat genggaman tangannya. "Kalau kamu khawatir soal Alena, pulanglah dulu... Aku tidak ingin menjadi alasan kalian bertengkar hebat malam-malam begini."Gavin menatap Serena sejenak. Sorot mata wanita di hadapannya tampak serba salah dan penuh kerapuhan, sangat berbeda denga
Ponsel di saku jas Gavin bergetar hebat untuk ketiga kalinya. Suara nyaring panggilan masuk itu memecah keheningan mencekam di ruang makan, menahan langkah Gavin yang baru saja hendak menyusul Alena ke lantai atas.Gavin menggeram frustrasi, merogoh sakunya, dan menatap layar ponsel dengan kening berkerut rapat. Nomor darurat Rumah Sakit Medika."Halo?" tekan Gavin, suaranya sarat akan kekesalan yang tertahan."Selamat malam, Tuan Gavin. Kami dari pihak Rumah Sakit Medika," suara seorang perawat wanita terdengar panik dari seberang telepon. "Nona Serena mengalami serangan asma akut dan penurunan kesadaran saat berada di apartemennya. Ambulans kami baru saja membawanya ke UGD."Gavin tersentak. Rasa panik seketika menjalar di dadanya, menggantikan kekesalan yang tadi membakar. "Apa? Serena pingsan? Bagaimana kondisinya sekarang?""Kondisinya cukup kritis, Tuan. Nona Serena terus memanggil nama Anda sebelum hilang kesadaran. Dokter meminta penanggung jawab atau keluarga terdekat untuk s






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews