Mag-log inKabar bahagia kehamilan Dira berubah menjadi mimpi buruk. Reaksi tak terduga dari sang suami yang malah marah dan kecewa setelah tahu kehamilan istrinya. Tak disangka ternyata ia marah karena hal ini ....
view moreMimpi indah yang kini hancur berantakan, cinta yang dulu bahagia, kini sirna terhempas.
Bagaimana menurut kalian, jika seorang suami tak menginginkan kehamilan istrinya? Bukannya bahagia, malah amarah yang terdengar menerjang jiwa yang rapuh.
Hay, readers, selamat membaca novel terbaru aku ya. Jangan lupa bintang lima dan subscribe agar tak ketinggalan kelanjutan ceritanya.
***
Ch 1.
“Apa ini?”
Suara Mas Yudha rendah, berat, seperti guntur yang menggelegar di telingaku. Matanya membulat, terpaku pada test pack di meja kamar. Aku mendekat dengan hati berdebar, benda mungil itu terasa begitu berat di tanganku.
“Mas, ini hasil tesku, aku … hamil,” bisikku, berharap suara itu mampu menembus ketegangan yang mencekam. Harapan akan kebahagiaan melayang-layang, tetapi sirna seketika.
Ekspresi Mas Yudha berubah drastis. Wajahnya, yang biasanya memancarkan kehangatan, kini menegang, dipenuhi ketidakpercayaan. “Hamil? Gimana bisa?”
Pertanyaannya menusuk, tajam seperti belati. Bukannya sukacita yang kurasakan, melainkan ketakutan yang mencengkeram. Seharusnya ia bahagia, bukan? Seharusnya kita merayakannya? Namun, badai amarah berkecamuk di matanya, mengancam meledak kapan saja.
Kegembiraan yang sesaat tadi kini terasa seperti ejekan, kontras dengan rasa takut yang membekukan jiwaku. Pertanyaannya bukanlah pertanyaan biasa; itu adalah tuduhan, vonis yang menggantung di udara yang sesak.
“Kenapa, Mas? Kamu seperti tidak suka aku hamil,” tanyaku penuh rasa penasaran.
“Ini … ini belum waktunya, Dira,” katanya, suaranya tertahan, penuh tekanan. “Kita belum siap.” Kalimat itu bagai pukulan telak, menghancurkan harapan yang baru saja kutanam. Aku tak mengerti. Bukankah kita berdua menginginkan anak? Bukankah kita sudah merencanakan masa depan bersama?
Air mata mulai membasahi pipiku. Bukan air mata bahagia, melainkan air mata keputusasaan.
“Kamu tahu aku baru saja dipecat, dan aku sulit sekali mendapat pekerjaan,” Mas Yudha berkata, suaranya teredam oleh rasa kecewa. Ia mengusap wajahnya dengan lelah, seolah-olah beban dunia dipikulnya sendirian. “Dan kalau sekarang kamu hamil, aku harus membiayai hidupmu dan bayi itu dari mana? Aku … aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana.”
Ternyata Mas Yudha tidak marah dan bukan tidak menginginkan anak, tetapi realita ekonomi yang menimpa kami begitu mencekik. Ketakutan akan masa depan yang tak menentu lebih besar daripada kebahagiaan menyambut kehadiran sang buah hati.
Dengan lembut, aku menyentuh bahunya, berupaya menenangkannya. "Mas, tenanglah. Kehadiran bayi ini akan membawa berkahnya sendiri. Kita tidak perlu bereaksi berlebihan seperti ini," ujarku, suara sedikit gemetar, berharap kata-kataku mampu meredakan ketegangan yang mencekam. Namun, alih-alih mereda, tatapan Mas Yudha justru semakin tajam, dingin menusuk.
Keheningan mencengkeram ruangan, berat dan mencekik. Hanya terdengar detak jantungku yang berdebar kencang, beradu dengan keheningan yang menegangkan. Mas Yudha masih menatapku dengan tatapan dingin yang menusuk, seolah-olah aku bukan istrinya, melainkan seorang asing yang telah melakukan kesalahan besar.
"Berkah?" Ia akhirnya berucap, suaranya datar, tanpa sedikitpun nada emosional. "Berkah macam apa yang kau bicarakan? Aku baru saja kehilangan pekerjaanku, keuangan kita menipis, dan kau malah memberiku kabar ini. Bagaimana kita bisa membesarkan anak di tengah kesulitan seperti ini?”
Pertanyaan Mas Yudha menggantung di udara. Aku terdiam, kata-kata seakan tercekat di tenggorokan. Ketakutan yang semula hanya berupa bayangan kini menjelma menjadi kenyataan yang mengerikan.
Kehadiran buah hati kita yang seharusnya menjadi sumber kebahagiaan, justru menjadi sumber konflik yang besar. Aku melihat kilatan amarah di mata Mas Yudha, kemudian ia bangkit berdiri, meninggalkan aku sendirian dalam kesunyian yang mencekam.
Test pack yang masih tergenggam di tanganku terasa begitu berat, seperti beban yang tak mampu kupikul sendiri. Air mataku perlahan menetes, aku tak tahu harus berbuat apa saat ini?
Tubuhku terduduk lemah di lantai, seolah-olah seluruh kekuatan telah terkuras habis. Hati siapa yang tak bersedih melihat reaksi suami tak bahagia karena kehamilannya, seolah-olah aku hamil bukan dengannya?
Rasa sakit menusuk kalbu, lebih pedih daripada luka fisik. Aku merasa dikhianati, bukan hanya oleh keadaan, tetapi juga oleh orang yang seharusnya menjadi tempatku bersandar. Harapan akan kebahagiaan rumah tangga sirna seketika, digantikan oleh rasa hampa dan kesepian yang mendalam. Bayi dalam kandunganku, yang seharusnya menjadi perekat hubungan kami, justru menjadi pemicu keretakan yang semakin melebar.
Aku tergugu sendirian, aku tak berhenti menangis, tetapi tiba-tiba aku mendengar suara pintu kamar terbuka perlahan. Dengan cepat aku menyeka air mataku dan perlahan menoleh. Seketika aku melebarkan mata kala melihat kedatangan seseorang.
Bukan Mas Yudha. Seorang pria asing berdiri di ambang pintu, wajahnya tak kukenal, tetapi tatapannya tajam dan mengintimidasi. Jantungku berdebar kencang, ketakutan menguasai seluruh tubuhku. Siapa dia? Apa maksud kedatangannya?
Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi pikiranku, menambah rasa takut yang semakin menghimpit. Suasana mencekam seketika menyelimuti ruangan, menggantikan kesunyian yang sebelumnya terasa begitu berat.
“Siapa kamu?” pekikku, berusaha beranjak, tetapi rasanya sulit. “Kenapa kamu masuk kamarku tanpa permisi?” Aku bergeser menjauh, kakiku seolah tak dapat digerakkan. Tak menjawab, laki-laki itu malah melangkah semakin mendekat.
“Mas Yudha, tolong …!” Aku berteriak keras berharap Mas Yudha segera datang menolongku.
BERSAMBUNG.
Mobil melaju kencang di jalan tol. Aku menatap jalanan yang membentang di hadapanku, pikiran melayang jauh, tak henti-hentinya memikirkan Mas Yudha. Perjalanan ini terasa begitu panjang, padahal baru beberapa jam kami meninggalkan kota kecil.Sepanjang perjalanan, aku tak henti-hentinya merasa kagum pada Arga. Lelaki itu begitu baik hati, mau menemaniku mencari Mas Yudha, suamiku yang bekerja di luar kota.Ucapan wanita yang mengaku sebagai calon istri Mas Yudha masih terngiang jelas di telingaku. Perkataan wanita itu seolah menusuk hatiku, membuatku tak sabar ingin segera bertemu Mas Yudha."Dira, kita akan menuju ke mana? Yudha tinggal di mana?" Suara Arga memecah lamunanku.Aku menggeleng lemah, mataku berkaca-kaca. "Aku tidak tahu alamat kontrakannya, Ga. Tapi aku tahu perusahaan tempat Mas Yudha bekerja, Karisha Cosmetics. Apakah kamu tahu alamatnya?"Arga tampak berpikir sejenak. "Oh, aku pernah mendengarnya. Kita akan ke sana," jawabnya, senyum hangat terukir di bibirnya. Ia ke
"Maksudmu?" tanyaku, mataku tak lepas dari tatapan Arga yang intens. Genggaman tangannya semakin erat, membuatku merasa terjebak dalam sorot matanya yang dalam."Aku ... aku …," ucapnya terbata-bata, suaranya bergetar, membuatku semakin penasaran dengan apa yang hendak ia katakan. Namun, sebelum Arga bisa melanjutkan kalimatnya, sebuah rasa nyeri menusuk perutku. Aku mengerutkan dahi, menahan rasa sakit yang tiba-tiba datang.Tatapan Arga seketika berubah, kekhawatiran terpancar dari matanya. Kalimat yang hendak diucapkannya terhenti. "Dira, kamu kenapa?" tanyanya cemas, suaranya terdengar panik."Perutku ... perutku sakit!" jawabku, suara terengah-engah karena rasa sakit yang semakin menjadi.Rasa sakit itu seperti gelombang yang menghantamku, membuatku meringkuk menahan rasa nyeri. Arga tampak panik, ia melepaskan genggaman tangannya dan mengusap bahuku. "Tenang, Dira!" “Pak Arga, ada apa?" Suara Bu Wina memecah keheningan, suaranya terdengar khawatir. Ia muncul di ambang pintu, wa
Beberapa bulan telah berlalu sejak terakhir kali aku mendengar kabar dari Mas Yudha. Waktu terasa begitu cepat, tapi rasa rinduku padanya tak kunjung surut. Aku masih ingat jelas saat terakhir kali ia menelponku, dia bercerita tentang pekerjaannya sebagai sopir pribadi seorang CEO ternama di Jakarta. Sejak saat itu, Mas Yudha seakan menghilang ditelan hiruk pikuk kota besar.Hari demi hari kuluangkan untuk menunggunya menelepon. Namun, setiap kali aku menelepon, panggilan itu selalu berakhir dengan nada dering yang dingin dan hampa. Aku mencoba menghubungi Mas Yudha melalui pesan singkat, tetapi tak kunjung mendapat balasan. Rasa cemas mulai menggerogoti hatiku.“Apakah dia baik-baik saja?” bisikku lirih, mataku terpaku pada layar ponsel yang menampilkan nama Mas Yudha. Seiring waktu, kekecewaan mulai menggantikan rasa rindu. Aku bertanya-tanya dalam hati, “Apakah kesibukannya sebagai sopir pribadi seorang CEO membuatnya melupakan aku? Apakah dia sudah tak lagi mengingatkanku?”Aku m
POV YudhaMbak Nilam berlari tergopoh-gopoh, koran kusut di tangannya mengepul seperti asap, menandakan betapa tergesa-gesanya langkahnya. "Yud, lihat ini!" serunya, suara sedikit terengah-engah.Aku yang sedang terduduk di ruang tamu kontrakan baruku, mengernyit heran, "Ada apa, Mbak?""Baca ini, ada lowongan pekerjaan."Aku meraih koran itu, mataku langsung tertuju pada headline yang mencolok: "Lowongan Sopir Pribadi untuk CEO Ternama". Sebuah perusahaan kosmetik terkemuka, Karisha Cosmetics, sedang mencari sopir pribadi untuk CEO-nya, Karisha Evelyn. Aku membaca berita itu dengan seksama, jantungku berdebar kencang."Kamu bisa mendaftar di sana, Yud," ucap Mbak Nilam, matanya berbinar-binar.Aku terdiam, pikiran berputar cepat. "Tapi, Mbak, masak aku jadi sopir? Aku pergi jauh sampai Jakarta, hanya untuk jadi sopir?""Yudha, biarpun sopir, tapi kamu baca, gajinya besar!" Mbak Nilam mencoba membujukku, suaranya sedikit mendesak.Ya, gaji yang ditawarkan memang menggiurkan, jauh mele












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.