Terancam Diceraikan Karena Hamil

Terancam Diceraikan Karena Hamil

last updateLast Updated : 2026-07-23
By:  AllyaalmahiraUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
8Chapters
7views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Kabar bahagia kehamilan Dira berubah menjadi mimpi buruk. Reaksi tak terduga dari sang suami yang malah marah dan kecewa setelah tahu kehamilan istrinya. Tak disangka ternyata ia marah karena hal ini ....

View More

Chapter 1

Kehamilan Mengejutkan

Mimpi indah yang kini hancur berantakan, cinta yang dulu bahagia, kini sirna terhempas.

Bagaimana menurut kalian, jika seorang suami tak menginginkan kehamilan istrinya? Bukannya bahagia, malah amarah yang terdengar menerjang jiwa yang rapuh.

Hay, readers, selamat membaca novel terbaru aku ya. Jangan lupa bintang lima dan subscribe agar tak ketinggalan kelanjutan ceritanya. 

***

Ch 1.

“Apa ini?” 

Suara Mas Yudha rendah, berat, seperti guntur yang menggelegar di telingaku. Matanya membulat, terpaku pada test pack di meja kamar. Aku mendekat dengan hati berdebar, benda mungil itu terasa begitu berat di tanganku.

“Mas, ini hasil tesku, aku … hamil,” bisikku, berharap suara itu mampu menembus ketegangan yang mencekam. Harapan akan kebahagiaan melayang-layang, tetapi sirna seketika.

Ekspresi Mas Yudha berubah drastis. Wajahnya, yang biasanya memancarkan kehangatan, kini menegang, dipenuhi ketidakpercayaan. “Hamil? Gimana bisa?”

Pertanyaannya menusuk, tajam seperti belati. Bukannya sukacita yang kurasakan, melainkan ketakutan yang mencengkeram. Seharusnya ia bahagia, bukan? Seharusnya kita merayakannya? Namun, badai amarah berkecamuk di matanya, mengancam meledak kapan saja.

Kegembiraan yang sesaat tadi kini terasa seperti ejekan, kontras dengan rasa takut yang membekukan jiwaku. Pertanyaannya bukanlah pertanyaan biasa; itu adalah tuduhan, vonis yang menggantung di udara yang sesak.

“Kenapa, Mas? Kamu seperti tidak suka aku hamil,” tanyaku penuh rasa penasaran. 

“Ini … ini belum waktunya, Dira,” katanya, suaranya tertahan, penuh tekanan. “Kita belum siap.” Kalimat itu bagai pukulan telak, menghancurkan harapan yang baru saja kutanam. Aku tak mengerti. Bukankah kita berdua menginginkan anak? Bukankah kita sudah merencanakan masa depan bersama?

Air mata mulai membasahi pipiku. Bukan air mata bahagia, melainkan air mata keputusasaan.

“Kamu tahu aku baru saja dipecat, dan aku sulit sekali mendapat pekerjaan,” Mas Yudha berkata, suaranya teredam oleh rasa kecewa. Ia mengusap wajahnya dengan lelah, seolah-olah beban dunia dipikulnya sendirian. “Dan kalau sekarang kamu hamil, aku harus membiayai hidupmu dan bayi itu dari mana? Aku … aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana.”  

Ternyata Mas Yudha tidak marah dan bukan tidak menginginkan anak, tetapi realita ekonomi yang menimpa kami begitu mencekik. Ketakutan akan masa depan yang tak menentu lebih besar daripada kebahagiaan menyambut kehadiran sang buah hati.

Dengan lembut, aku menyentuh bahunya, berupaya menenangkannya. "Mas, tenanglah. Kehadiran bayi ini akan membawa berkahnya sendiri. Kita tidak perlu bereaksi berlebihan seperti ini," ujarku, suara sedikit gemetar, berharap kata-kataku mampu meredakan ketegangan yang mencekam. Namun, alih-alih mereda, tatapan Mas Yudha justru semakin tajam, dingin menusuk. 

Keheningan mencengkeram ruangan, berat dan mencekik. Hanya terdengar detak jantungku yang berdebar kencang, beradu dengan keheningan yang menegangkan. Mas Yudha masih menatapku dengan tatapan dingin yang menusuk, seolah-olah aku bukan istrinya, melainkan seorang asing yang telah melakukan kesalahan besar.

"Berkah?" Ia akhirnya berucap, suaranya datar, tanpa sedikitpun nada emosional. "Berkah macam apa yang kau bicarakan? Aku baru saja kehilangan pekerjaanku, keuangan kita menipis, dan kau malah memberiku kabar ini. Bagaimana kita bisa membesarkan anak di tengah kesulitan seperti ini?”

Pertanyaan Mas Yudha menggantung di udara. Aku terdiam, kata-kata seakan tercekat di tenggorokan. Ketakutan yang semula hanya berupa bayangan kini menjelma menjadi kenyataan yang mengerikan. 

Kehadiran buah hati kita yang seharusnya menjadi sumber kebahagiaan, justru menjadi sumber konflik yang besar. Aku melihat kilatan amarah di mata Mas Yudha, kemudian ia bangkit berdiri, meninggalkan aku sendirian dalam kesunyian yang mencekam. 

Test pack yang masih tergenggam di tanganku terasa begitu berat, seperti beban yang tak mampu kupikul sendiri. Air mataku perlahan menetes, aku tak tahu harus berbuat apa saat ini?

Tubuhku terduduk lemah di lantai, seolah-olah seluruh kekuatan telah terkuras habis. Hati siapa yang tak bersedih melihat reaksi suami tak bahagia karena kehamilannya, seolah-olah aku hamil bukan dengannya?

Rasa sakit menusuk kalbu, lebih pedih daripada luka fisik. Aku merasa dikhianati, bukan hanya oleh keadaan, tetapi juga oleh orang yang seharusnya menjadi tempatku bersandar. Harapan akan kebahagiaan rumah tangga sirna seketika, digantikan oleh rasa hampa dan kesepian yang mendalam. Bayi dalam kandunganku, yang seharusnya menjadi perekat hubungan kami, justru menjadi pemicu keretakan yang semakin melebar.

Aku tergugu sendirian, aku tak berhenti menangis, tetapi tiba-tiba aku mendengar suara pintu kamar terbuka perlahan. Dengan cepat aku menyeka air mataku dan perlahan menoleh. Seketika aku melebarkan mata kala melihat kedatangan seseorang.

Bukan Mas Yudha. Seorang pria asing berdiri di ambang pintu, wajahnya tak kukenal, tetapi tatapannya tajam dan mengintimidasi. Jantungku berdebar kencang, ketakutan menguasai seluruh tubuhku. Siapa dia? Apa maksud kedatangannya?

Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi pikiranku, menambah rasa takut yang semakin menghimpit. Suasana mencekam seketika menyelimuti ruangan, menggantikan kesunyian yang sebelumnya terasa begitu berat.

“Siapa kamu?” pekikku, berusaha beranjak, tetapi rasanya sulit. “Kenapa kamu masuk kamarku tanpa permisi?” Aku bergeser menjauh, kakiku seolah tak dapat digerakkan. Tak menjawab, laki-laki itu malah melangkah semakin mendekat. 

“Mas Yudha, tolong …!” Aku berteriak keras berharap Mas Yudha segera datang menolongku. 

BERSAMBUNG. 

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
8 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status