تسجيل الدخولSaat Allea kehilangan bayinya, Rangga lebih memilih menghabiskan waktunya untuk menemani wanita yang tak lain adalah sahabat istrinya sendiri di rumah sakit. Sebuah momen yang menyentak kesadaran Allea kalau selama ini ia tak pernah ada di hati Rangga. Akhirnya, Allea mengalah. Memilih diam dan menjadi seperti yang Rangga inginkan. Allea mempersiapkan perpisahannya dengan tenang dan elegan. Namun, Rangga gelisah saat Allea tak pernah lagi bercerita. Tak pernah mengeluh dan bersikap kekanak-kanakkan. Sampai akhirnya ia mengetahui Allea menyiapkan hadiah perpisahannya, Rangga pun bersimpuh agar Allea bisa kembali padanya. Tapi, masih adakah kesempatan bagi Rangga? Sementara Allea sudah mati rasa semenjak Rangga mendua.
عرض المزيد"Mas. Tolong pulang sekarang!! Aku.. aku sepertinya keguguran!" Allea menangis terisak saat menghubungi suaminya.
["Aku masih di kantor. Pergi saja sendiri."] Tut. Sambungan di matikan. Allea tersentak. Suara dingin pria itu kapan akan berubah di hadapannya? Saat ini, Allea tengah kritis. Ia benar-benar membutuhkan kehadiran suaminya. Tapi Rangga seperti menelantarkannya. Bukan! Tapi lebih tepatnya tak pernah menganggapnya ada. Akhirnya, Allea pergi sendiri ke rumah sakit. Berjalan tertatih-tatih membawa mobilnya dengan menahan darah yang mulai mengucur membasahi sela-sela pahanya. Sambil menahan rasa sakit, Allea tiba di sebuah rumah sakit dan lekas mendapatkan pertolongan. Perut wanita ini diperiksa. Darah yang membasahi kakinya dibersihkan. Hasil pemeriksaan membuat Allea menangis tersedu-sedu. Kandungannya yang baru berusia 8 minggu itu menyerah. Calon anaknya pergi meninggalkan Allea setelah tak bisa mempertahankan diri. Allea menangis hebat. Dokter dan perawat memberikan simpatiknya dengan menguatkan Allea. "Ada keluarga yang bisa dihubungi, nyonya? Biar kami bantu." Ujar perawat wanita itu. "Hubungi suami saya, sus. Tolong sayaa.." agar Rangga percaya. Jika dia benar-benar dalam kondisi kritis. Sayang sekali, panggilan yang berasal dari nomor Allea tak terangkat. Petugas pun mengakalinya dengan menghubungi menggunakan nomor rumah sakit. Tapi tetap saja.. panggilan itu selalu gagal terjawab. "Bagaimana, nyonya? Suami anda tidak mengangkat teleponnya. Sementara anda harus dikuret segera." Allea mengusap wajahnya yang basah akan air mata. Sekarang ia mengerti jika dirinya bukan prioritas. "Lakukan saja tanpa menunggu suami saya, sus. Apapun itu yang terbaik. Maka saya akan menerimanya." Tak ada persetujuan dari wali. Hanya Allea yang bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Malam ini setelah dinyatakan keguguran, Allea dikuret di ruang operasi. Setelah 6 jam beristirahat di kamar rawat, Allea memutuskan untuk pulang ke rumah saja karena tak ada yang menemaninya. Tepat pukul 10 malam, Allea tiba di rumahnya. Di dalam garasi, terdapat mobil suaminya yang telah terparkir rapi. Artinya Rangga ada di rumah. Sambil menahan rasa pilu dan kecewa. Allea ingin menumpahkan kesedihannya pada bahu Rangga. Semoga saja hati pria yang membeku itu terketuk saat mengetahui dia telah kehilangan calon anaknya. Ceklek. Pintu dibuka oleh Allea. Lampu ruang tamu dan tengah telah dimatikan. Menyisakan lampu dapur yang bercahaya lemah. Brak! Suara pintu kulkas tertutup membuat perhatian Allea teralih. Ia yang tadinya ingin melangkahkan kaki ke lantai dua lantas terhenti. Ia menuju dapur dan melihat orang yang ada di dalam sana. Di rumah ini, hanya ada dia dan Rangga saja yang meninggali. Itu artinya Rangga mungkin ada di dapur. Allea berjalan pelan menuju dapur untuk melihat siapa yang ada disana. Deg! Langkah Allea terhenti. Ia lalu tertegun saat melihat wanita yang tengah mengambil segelas air minum. Memakai pakaian tidur berwarna merah muda. Pakaian kesukaannya. Miliknya. "Riana.." Allea terkesiap. Riana menoleh. Ia ikut terkejut melihat wanita yang ada di rumahnya. Ternyata Allea. Sahabat karibnya. "Sedang apa kamu disini, Riana?" Tanya Allea menatap tajam. "Dan kenapa kamu memakai bajuku?" Sorot wajah Riana berubah panik. Ia pun terbata-bata mendengar pertanyaan Allea. "Allea.. aku... aku..." "Aku yang membawanya." Riana yang tadi panik lalu melengkungkan senyuman. Allea lantas menoleh saat mendengar suara dari belakang tubuhnya. Suara yang dingin dan tegas. Siapa lagi jika bukan suaminya, Rangga. "Riana sedang sakit. Jadi aku membawanya kemari." Sambung Rangga datar. Mata Allea langsung memerah. "Ini rumah kita, mas.." "Aku tahu. Tapi Riana juga sahabatmu, Allea. Dan dia adalah pegawaiku. Sebagai atasan yang baik aku tidak tega membiarkan Riana kesakitan. Sebab itulah aku membawanya kemari untuk beristirahat." Allea lalu menggeleng. "Kamu mengkhawatirkan wanita lain yang sakit dibanding dengan istrimu sendiri, mas? Apa kamu tahu apa yang....???" "Riana sakit perut dan harus pergi ke rumah sakit tadi, Allea." Potong Rangga cepat. "Tapi.. sekarang aku sudah lebih baik kok, mas Rangga." Riana ikut menyela. "Aku sepertinya pulang saja sekarang." "Jangan!" Cegah Rangga. "Kamu belum sehat betul. Lebih baik menginap disini. Besok pagi aku akan mengantarmu pulang." Riana terdiam. Dia bersikap canggung akan situasi yang menimpa keduanya. Dia seakan menjadi orang ketiga antara Rangga dan Allea. Walau sebenarnya memang seperti itu. Sementara rasa keterkejutan Allea semakin menjadi-jadi. Suara Rangga terdengar lembut saat berbicara pada Riana. Seperti membelai namun menusuk hati Allea dengan dalam. Pandangan Rangga yang melunak kembali teralih memandang istrinya. Wajah itu kembali bersorot datar. "Kamu juga kembali lah ke kamar, Allea." Sambungnya saat melihat wajah wanita itu pucat pasih. Allea mengerjap tangisnya. Dengan wajah memerah. Ia berjalan melewati Rangga menuju tangga yang ada di sisi pria tersebut. Saat melangkahkan kakinya pada anak tangga, Rangga kembali menegur. "Ada apa kamu meneleponku tadi, Allea?" Allea menoleh dan memandang getir. "Aku hanya ingin memberitahu, mas. Kalau aku keguguran dan harus dikuret." Jawab Allea serak. Deg! Mata Rangga membulat sempurna. Begitu juga dengan Riana yang terkejut. Tanpa menunggu tanggapan Rangga, Allea kembali naik ke tangga sembari menyeret langkahnya.Rangga menatap sisi tempat tidurnya. Kosong. Bantal dan selimut itu licin tak tersentuh. Itu artinya Allea tak tidur di sisinya semalaman.Tapi, apa perdulinya? Itu malah bagus karena Rangga tak perlu mendengarkan rengekan wanita itu lagi.Pria ini lalu turun ke bawah. Hari libur telah berganti menjadi hari kerja. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, Rangga menuju dapur untuk sarapan.Saat tudung saji itu dibuka, dahi pria ini mengernyit. Lagi-lagi kosong.Pandangan matanya lalu melesat ke meja kompor yang bersih. Begitu juga dengan washtafel yang tak terisi piring dan cangkir kotor lagi."Ternyata dia menepati janjinya untuk nggak memasak lagi. Baguslah." Ujar Rangga merengut.Pria ini mengambil ranselnya dan pergi ke kantor. Sebelum itu, ia menghubungi Riana. Kebetulan jalan menuju ke kost milik Riana satu jalan dengan kantor mereka.Rangga menawarkan diri untuk menjemput. Riana dengan senang hati menerima.
"Mungkin dengan kehadiran buah hati, hubungan kalian akan membaik lagi."Suara Sofia yang lembut dan penuh ketenangan berngiang di telinga Allea."Mama tahu rumah tangga kalian sedang mengalami krisis, Allea. Tapi pria tidak akan pernah menurunkan egonya. Mama tidak memaksamu, sayang.. tapi mama mau kamu belajar menjadi apa yang Rangga mau. Ada sesuatu dalam rumah tangga kalian yang harus diperbaiki. Dan hanya kamu yang bisa memeriksanya."Allea menarik nafas panjang. Emosinya terbakar. Hatinya menciut. Jika sudah berbicara dengan Sofia maka ia tak pernah bisa melawan.Allea tahu kalau Sofia menyayanginya. Tapi dia juga tahu kalau mertuanya itu menekan agar dirinya yang mengalah. Seperti katanya, wanita tak akan pernah menang melawan ego laki-laki. Dan sebaiknya, Allea harus mempertimbangkannya.Handle pintu itu dibuka perlahan oleh Allea. Hari menjelang sore, mobil Rangga masih terpakir di dalam garasi. Artinya ada Rangga di rumah.Allea sempat berfikir, "Apakah aku perlu memperbaiki
"Ada masalah apa lagi ini?" Desah Allea pelan.Tiba-tiba saja mobil kecilnya ini mogok di tengah jalan. Berulang kali dia menstarter. Bak kompor yang tak tersambar api, mobil ini masih tak hidup jua.Akhirnya, Allea membuka sabuk pengamannnya dan turun dari mobil. Dengan malu, ia meminta maaf pada kendaraan yang ada di belakang mobilnya."Maaf, mobil saya mogok." Allea tertunduk-tunduk ketika beberapa mobil membunyikan klakson.Pedagang kaki lima yang sedang berjualan di trotoar bergegas menolong Allea yang kesulitan. Oh, rasanya seperti mendapatkan oasis di tengah gurun. Beberapa pria itu datang dan menawarkan bantuan.Allea masuk lagi ke mobil dan menstarter mobilnya meskipun gagal. Walaupun begitu, pria-pria itu tadi membantu mendorong mobil mogok itu sampai ke pinggir jalan."Mbak. Disana ada bengkel. Kita kesana aja!" Teriak pria yang mendorong dari belakang.Allea mengangguk. Setelah mendorong cukup jauh, mobil Allea akhirnya bisa di rescue oleh tim bengkel. Mereka membuka cap m
"Sudah ku bilang kan kalo masakanku lebih enak!" Goda Rangga pada Riana.Wanita ini sampai tertawa terbahak-bahak dengan pipi yang memerah."Iya, deh. Kamu memang pintar masak. Kamu pemenangnya!" Riana memberikan dua jempol. "Beruntung banget Allea bisa makan masakanmu tiap hari."Mendengar nama istrinya disebut membuat wajah Rangga yang cerah menjadi kelabu. Dia lalu berdeham tak enak. Entah apa yang membuat nama Allea jadi tak enak di dengar."Ya, begitulah." Sahut Rangga acuh.Giliran Riana yang tersenyum kecut. Dia iri pada sahabatnya bernama Allea itu. Dari kuliah, wanita itu selalu beruntung. Allea berprestasi dan langsung mendapat pekerjaan setelah tamat kuliah.Hebatnya lagi dia bisa mendirikan bisnis sendiri ya.. walaupun ambruk juga. Tapi yang lebih penting, Allea berhasil dipinang oleh pria sesempurna Rangga. Wah.. amalan apa yang sebenarnya dilakukan Allea hingga sebegitu beruntungnya!"Sini biar aku cuci piring!""Eh!" Riana terperanjat. Dia lekas menyusul Rangga yang su


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.