Início / Fantasi / CEO Jahat untuk Gadis Tertindas / 44. Tuduhan yang Terlalu Rapi

Compartilhar

44. Tuduhan yang Terlalu Rapi

Autor: 5Lluna
last update Data de publicação: 2026-04-03 18:50:09

"Lihat itu. Liontinnya ditemukan dan itu adalah bukti yang sudah sangat jelas." Si pekerja yang menuduh langsung tersenyum lega.

"Ribut sekali," bisik Lyn, memutar bola matanya.

Lyn menurunkan Mira, kemudian tersenyum. "Mira boleh kembali ke kamar saja?"

"Kenapa?" tanya anak itu dengan bibir mencebik.

"Ada beberapa hal yang harus Miss lakukan dulu. Nanti Miss ke sana."

Kening Mira berkerut dan bibirnya makin maju. Dia melirik sang papa, seolah ingin mencari dukungan.

"Mira ke kamar dulu
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • CEO Jahat untuk Gadis Tertindas   72. Tidak Terpilih

    "Kita sudah sampai!" teriak salah satu anak dengan penuh semangat."Semua tetap duduk ya," ucap Lyn dengan suara lebih tegas dari sebelumnya. "Turun satu-satu. Tidak boleh dorong-dorongan."Namun, beberapa anak sudah mulai berdiri di kursi. Bahkan, ada beberapa wali murid yang juga sudah berdiri. Melihat situasi mulai tidak terkendali, Lyn langsung bergerak ke depan pintu bus."Pelan-pelan, satu baris," ucap Lyn sambil menahan satu anak yang hampir melangkah turun tanpa menunggu.Tidak lama kemudian, pintu bus terbuka. Beberapa wali murid ikut berdiri, sebagian membantu anaknya, sebagian lagi justru ikut terburu-buru."Anaknya duluan," ucap Lyn, berusaha menjaga alur. "Wali menyusul di belakang anaknya ya.""Tidak usah diatur seperti itu," ucap seorang wali dengan nada kurang senang. "Saya bisa pegang anak saya sendiri."Kedua alis Lyn sedikit terangkat mendengar hal barusan. Dia bahkan hanya bisa melihat wali murid yang protes tadi, berlalu begitu saja dengan bibir terbuka. S

  • CEO Jahat untuk Gadis Tertindas   71. Kedekatan yang Salah

    Lyn menatap seisi bus. Suara ocehan nyaring anak-anak memenuhi bus. Semua sudah duduk bersama wali masing-masing. Bus pun mulai berjalan, tapi Lyn masih belum bisa tenang."Miss, sini." Seorang anak memanggil. "Duduk sini."Tatapan Lyn tertuju pada kursi kosong di seberang anak itu. Kebetulan dua kursi itu tidak ada yang menduduki."Eh, kenapa panggil dia sih." Sayangnya, wali anak itu tampak kurang senang.Senyum Lyn yang sempat mengembang pun hilang seketika. Dia menatap wali murid tadi, kemudian beralih pada wali murid lain di sekitar. Beberapa di antaranya menatapnya dengan ekspresi tidak suka."Miss Lyn tidak duduk di depan saja?"Lyn menoleh. Dia bisa melihat Melissa berdiri di antara dua kursi, menatapnya dengan senyum tipis yang tidak benar-benar hangat. "Biasanya guru duduk di depan," lanjut Melissa santai. "Lebih mudah mengawasi.""Kalau untuk mengawasi, bukankah lebih baik di belakang?" Lyn menjawab dengan nada tanya. "Tidak perlu menoleh ke belakang untuk melihat

  • CEO Jahat untuk Gadis Tertindas   70. Aku Harap Kau Bertahan

    "Tuan Julian serius tidak bisa ikut?" tanya Lyn dengan kening berkerut dan ponsel tertempel di telinga."Tidak bisa." Suara Julian dari sambungan telepon. "Ada kejadian tak terduga yang harus aku urus di kantor, makanya aku mengirim Sebastian dulu."Lyn menoleh, pada pria paruh baya yang berdiri tidak jauh darinya itu. Dia membalas senyuman Sebastian, kemudian kembali berbicara lagi."Apa rapatnya tidak bisa ditunda?" tanya Lyn."Aku tidak rapat." Julian berucap tegas. "Ada yang perlu diurus dan itu penting."Lyn menatap jam tangan pintar yang dia pakai. Waktu terus berjalan, sementara anak-anak dan para wali mulai berdatangan satu per satu."Baiklah." Pada akhirnya hanya itu yang bisa Lyn ucapkan. "Tapi kalau Tuan Julian selesai lebih cepat, tolong menyusul ke kebun binatang. Nanti saya kirim lokasinya.""Aku tidak janji," balas Julian sebelum menutup sambungan telepon.Embusan napas Lyn terdengar cukup keras. Suara anak-anak yang mulai rama

  • CEO Jahat untuk Gadis Tertindas   69. Syarat Tambahan

    "Langsung ke kamar," ucap Julian Vale singkat saat mereka tiba di rumah, seolah itu hal biasa.Lyn menoleh. "Saya masih harus membereskan belanjaan.""Biarkan orang lain yang urus."Tidak ada nada tinggi. Tapi cukup untuk membuat Lyn diam.Tanpa membantah lagi, Lyn berjalan menuju kamar. Pintu tertutup di belakangnya, menyisakan ruang yang tiba-tiba terasa sempit.Dia duduk di tepi ranjang. Tangannya langsung mencari ponsel. Layar menyala, menampilkan file yang tadi dikirim.Kontrak.Lyn menatapnya cukup lama, sebelum akhirnya membuka dokumen itu. Halaman demi halaman berganti dengan cepat. Alisnya perlahan berkerut."Bukankah ini sedikit tidak masuk akal?" gumamnya pelan.Suara ketukan pintu yang terdengar membuat Lyn menoleh. Dia baru mau membuka mulut untuk menjawab, saat pintu lebih dulu terbuka. Julian pun melangkah masuk tanpa permisi."Sudah selesai dibaca semua?" Julian duduk di atas ranjang, di bawah pengawasan Lyn."

  • CEO Jahat untuk Gadis Tertindas   68. Yang Membuatnya Berhenti

    Suasana di dalam supermarket itu mendadak terasa berbeda. Beberapa orang mulai melirik, meski tidak berani terlalu terang-terangan. Lyn bahkan belum sempat sepenuhnya mencerna apa yang terjadi, saat sosok itu muncul di hadapannya."Tuan Vale," panggil Elena pelan."Sudah selesai?" Julian tidak mempedulikan panggilan barusan, dan melangkah ke arah Lyn."Belum," jawab Lyn menatap lelaki di sebelahnya dengan takjub."Cepat selesaikan dan kita pulang." Julian mengambil alih troli.Kedua mata Lyn berkedip cepat. Dia terpana melihat Julian berjalan membawa troli berisi pembalut wanita. Bahkan, Elena saja sampai tercengang."Tuan Vale." Elena memanggil. "Rasanya tidak pantas orang seperti Anda membawa troli berisi barang perempuan.""Itu urusanku," balas Julian melirik tajam ke arah Elena."Sa-saya hanya ingin yang terbaik untuk Tuan," balas Elena melangkah mundur.Julian meninggalkan troli. Dia mendekati Elena dengan kedua tangan di dalam kant

  • CEO Jahat untuk Gadis Tertindas   67. Siapa yang Kau Sebut Pacar?

    "Mau pulang sekarang?" tanya Adrian dengan sebelah alis terangkat."Pekerjaan saya hari ini sudah selesai," ucap Lyn pelan. "Dan kebetulan saya kurang enak badan, jadi ....""Tidak masalah." Adrian mengangguk. "Rapat juga sudah selesai dan tidak ada lagi yang perlu ditunggu. Yang penting, rekan-rekan yang lain tidak keberatan.""Saya juga sudah memberi tahu mereka." Senyum Lyn merekah tipis. "Kalau begitu, saya permisi."Adrian tidak menjawab. Dia hanya menatap Lyn yang melangkah pelan itu, lalu memanggil saat Lyn baru saja mau membuka pintu ruangan."Apa hubunganmu dengan Julian serius?" Lyn tidak langsung menjawab. Dia menoleh menatap sang kepala sekolah dengan canggung, kemudian tersenyum tipis."Saya rasa, kehidupan pribadi tidak ada hubungannya dengan pekerjaan," ucap Lyn pelan. "Jadi saya memilih untuk tidak menjawab."Adrian mengangguk, lalu mengibaskan tangan. "Pulang dan istirahatlah."Lyn menunduk pelan sebelum membuka pintu r

  • CEO Jahat untuk Gadis Tertindas   23. Menunggu di Ujung Tangga

    Cahaya matahari pagi baru masuk ke kamar ketika Lyn sudah selesai bersiap. Tidak banyak, tapi setidaknya lumayan untuk membuat ruangan sedikit lebih hangat. Benar-benar hanya sedikit saja. "Di sini benar-benar suram," gumam Lyn menatap seisi kamarnya. "Tapi, bukan itu yang penting," lanjutnya mem

  • CEO Jahat untuk Gadis Tertindas   22. Racun yang Dibungkus Manis

    "Hari ini kau pulang malam lagi?" Itu adalah kalimat pertama yang Lyn dengar, saat masuk ke dalam rumah. Membuatnya mengembuskan napas lelah, bahkan rasanya mau memutar bola mata. Namun, Lyn berusaha menahan diri. "Aku punya dua pekerjaan, Tante." Lyn membalas dengan tenang. "Wajar kalau pulang

  • CEO Jahat untuk Gadis Tertindas   21. Nomor Satu dan Satu Setengah

    "Tuan, nona Mira sudah bangun." Julian menoleh ketika mendengar ucapan barusan. Dia langsung meletakkan gelas kopi, juga tablet yang dipegangnya dan segera beranjak ke lantai atas. Setelah percakapan dengan Lyn kemarin siang, hal pertama yang dilakukan Julian pagi ini adalah memeriksa keadaan putr

  • CEO Jahat untuk Gadis Tertindas   20. Jejak yang Luput

    "Apa Tuan Vale yakin?" Lyn bertanya dengan kening berkerut. "Yakin." Julian mengangguk tanpa berkedip. "Tapi saya rasa, ini tidak begitu baik bagi reputasi kita berdua." Sayangnya Lyn harus menggeleng. "Reputasi?" "Anda adalah Tuan Vale, dan saya hanya guru Mira. Guru baru lebih tepatnya."

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status