ANMELDEN"Mira." Lyn langsung mendekati anak yang sedari tadi membuatnya bingung itu. Dia mengulurkan tangan, mengambil Mira dari gendongan sang ayah begitu saja. Bahkan, itu sempat membuat Julian menaikkan alis."Kau ke mana?" tanya Lyn lembut. "Kenapa tidak bilang?""Jemput Papa," jawab Mira pelan. "Mira tidak bilang karena cuma sebentar.""Lain kali jangan begitu ya. Miss panik loh."Mira tidak menjawab. Dia hanya mengangguk, kemudian memeluk pengasuhnya dengan erat.Julian pun tidak banyak bicara. Dia hanya menatap pemandangan di depannya dalam diam. Membiarkan Lyn berinteraksi dengan murid lain, sambil memeluk Mira."Tuan Julian." Suara manis Melissa terdengar lembut. "Saya tidak tahu Anda akan datang.""Benar." Seorang wali murid ikut menimpali. "Kalau tahu kami kan bisa menyambut dengan benar."Alih-alih menanggapi, Julian melepas jasnya. Dia memberikannya pada Sebastian, melepas dasi dan kancing teratas kemeja, juga menggulung lengan kemeja panjangnya. Hal yang membuat beber
"Mira," panggil Lyn sekali lagi.Tatapan Lyn menyapu ke segala arah. Tidak ada Mira dia lihat, bahkan Sebastian pun tidak terlihat."Miss kenapa?" Arga bertanya."Arga lihat Mira tidak?"Anak lelaki tambun itu tidak langsung menjawab. Dia menatap sekitar terlebih dulu, kemudian menggeleng pelan."Tadi ada di sebelah sana, tapi sekarang tidak ada lagi." Arga menunjuk ke sebelahnya."Saya tadi lihat wali Mira pergi ke arah sana." Ibu dari Arga tiba-tiba saja bersuara. "Mungkin sedang mengejar anak itu."Lyn menoleh ke arah yang ditunjuk, tapi tidak menemukan orang yang dicari. Kakinya bahkan sudah melangkah, tapi tertahan. Dia menatap kelompok kecilnya, merasa bimbang.Lyn menggigit pelan bagian dalam bibirnya. Dadanya mulai terasa tidak nyaman. Namun, dia tidak bisa langsung pergi begitu saja. Masih ada Arga dan Rafi bersamanya."Miss?" Rafi memanggil pelan. Anak itu terlihat mulai ikut cemas dan membuat Lyn menarik napas panjang."Oke." Pada akhirnya, dia jongkok di depan k
Lyn menatap ketiga anak di depannya yang berjalan ceria. Arga bahkan sudah berbalik dan menarik lengannya."Mau lihat singa!" pekik Arga kegirangan."Kita jalan pelan-pelan ya," ucap Lyn. "Tidak boleh lari."Arga mengangguk cepat, lalu tetap melangkah lebih dulu. Berbeda dengan Mira yang jalan paling belakang, masih saja terus diam sejak tadi."Arga." Lyn menegur dan anak itu langsung berhenti. "Bareng," ucapnya pelan.Arga kembali mendekat ke arah Lyn, menggenggam tangan sang guru dengan senyum cerah. Membuat ibu anak itu sedikit kebingungan, sekaligus terlihat sedikit cemas. Sudah bisa menguasai Arga, kini menoleh ke anak berkacamata. Dia menatap anak itu sedikit lebih lama, mencoba untuk mengingat anak pendiam itu."Kalau tidak salah, Rafi di kelas mawar kan?" Lyn bertanya dengan pelan."Miss Lyn ingat aku?" Anak yang dipanggil Rafi melebarkan mata, menatap gurunya dengan binar."Tentu saja Miss ingat kamu." Lyn mengulurkan tangan untuk mengelus rambut anak berkacamata i
"Kita sudah sampai!" teriak salah satu anak dengan penuh semangat."Semua tetap duduk ya," ucap Lyn dengan suara lebih tegas dari sebelumnya. "Turun satu-satu. Tidak boleh dorong-dorongan."Namun, beberapa anak sudah mulai berdiri di kursi. Bahkan, ada beberapa wali murid yang juga sudah berdiri. Melihat situasi mulai tidak terkendali, Lyn langsung bergerak ke depan pintu bus."Pelan-pelan, satu baris," ucap Lyn sambil menahan satu anak yang hampir melangkah turun tanpa menunggu.Tidak lama kemudian, pintu bus terbuka. Beberapa wali murid ikut berdiri, sebagian membantu anaknya, sebagian lagi justru ikut terburu-buru."Anaknya duluan," ucap Lyn, berusaha menjaga alur. "Wali menyusul di belakang anaknya ya.""Tidak usah diatur seperti itu," ucap seorang wali dengan nada kurang senang. "Saya bisa pegang anak saya sendiri."Kedua alis Lyn sedikit terangkat mendengar hal barusan. Dia bahkan hanya bisa melihat wali murid yang protes tadi, berlalu begitu saja dengan bibir terbuka. S
Lyn menatap seisi bus. Suara ocehan nyaring anak-anak memenuhi bus. Semua sudah duduk bersama wali masing-masing. Bus pun mulai berjalan, tapi Lyn masih belum bisa tenang."Miss, sini." Seorang anak memanggil. "Duduk sini."Tatapan Lyn tertuju pada kursi kosong di seberang anak itu. Kebetulan dua kursi itu tidak ada yang menduduki."Eh, kenapa panggil dia sih." Sayangnya, wali anak itu tampak kurang senang.Senyum Lyn yang sempat mengembang pun hilang seketika. Dia menatap wali murid tadi, kemudian beralih pada wali murid lain di sekitar. Beberapa di antaranya menatapnya dengan ekspresi tidak suka."Miss Lyn tidak duduk di depan saja?"Lyn menoleh. Dia bisa melihat Melissa berdiri di antara dua kursi, menatapnya dengan senyum tipis yang tidak benar-benar hangat. "Biasanya guru duduk di depan," lanjut Melissa santai. "Lebih mudah mengawasi.""Kalau untuk mengawasi, bukankah lebih baik di belakang?" Lyn menjawab dengan nada tanya. "Tidak perlu menoleh ke belakang untuk melihat
"Tuan Julian serius tidak bisa ikut?" tanya Lyn dengan kening berkerut dan ponsel tertempel di telinga."Tidak bisa." Suara Julian dari sambungan telepon. "Ada kejadian tak terduga yang harus aku urus di kantor, makanya aku mengirim Sebastian dulu."Lyn menoleh, pada pria paruh baya yang berdiri tidak jauh darinya itu. Dia membalas senyuman Sebastian, kemudian kembali berbicara lagi."Apa rapatnya tidak bisa ditunda?" tanya Lyn."Aku tidak rapat." Julian berucap tegas. "Ada yang perlu diurus dan itu penting."Lyn menatap jam tangan pintar yang dia pakai. Waktu terus berjalan, sementara anak-anak dan para wali mulai berdatangan satu per satu."Baiklah." Pada akhirnya hanya itu yang bisa Lyn ucapkan. "Tapi kalau Tuan Julian selesai lebih cepat, tolong menyusul ke kebun binatang. Nanti saya kirim lokasinya.""Aku tidak janji," balas Julian sebelum menutup sambungan telepon.Embusan napas Lyn terdengar cukup keras. Suara anak-anak yang mulai rama
"Langsung ke kamar," ucap Julian Vale singkat saat mereka tiba di rumah, seolah itu hal biasa.Lyn menoleh. "Saya masih harus membereskan belanjaan.""Biarkan orang lain yang urus."Tidak ada nada tinggi. Tapi cukup untuk membuat Lyn diam.Tanpa membantah lagi, Lyn berjalan m
Suasana di dalam supermarket itu mendadak terasa berbeda. Beberapa orang mulai melirik, meski tidak berani terlalu terang-terangan. Lyn bahkan belum sempat sepenuhnya mencerna apa yang terjadi, saat sosok itu muncul di hadapannya."Tuan Vale," panggil Elena pelan."Sudah selesai?" Juli
"Mau pulang sekarang?" tanya Adrian dengan sebelah alis terangkat."Pekerjaan saya hari ini sudah selesai," ucap Lyn pelan. "Dan kebetulan saya kurang enak badan, jadi ....""Tidak masalah." Adrian mengangguk. "Rapat juga sudah selesai dan tidak ada lagi yang perlu ditunggu. Yang penti
Jam sekolah sudah berakhir, tapi Lyn masih tertahan. Dia beserta rekan-rekan guru duduk di dalam ruang rapat, dan Lyn bisa merasakan hampir semua mata tertuju padanya."Kau jadi pusat perhatian lagi," bisik Amelie sepelan mungkin."Aku tahu," balas Lyn sama pelannya."Jadi, kalian







