INICIAR SESIÓNLyn adalah cewek sial yang masuk ke dalam tubuh seoraang putri tertindas dalam short drama. Sementara Julian, adalah penjahat di kisah cinta orang lain. Namun, semuanya jadi berbeda ketika anak Julian memanggil Lyn yang jauh lebih muda dengan sebutan 'Mama'.
Ver más"Ada yang jatuh ke kolam."
"Oh, tidak. Kedua nona muda Moore jatuh ke kolam." Suara riuh memenuhi kepala Lyn. Dia bisa mendengar teriakan beberapa orang dan semuanya terdengar panik. Tapi, itu semua terasa jauh dan yang lebih nyata adalah suara kecipak air di sekelilingnya. Air menelan tubuh Lyn. Dia bisa merasakan dadanya menjadi sesak, seiring dengan jumlah air yang masuk ke saluran napasnya. Membuat setiap tarikan napas terasa seperti disayat pisau. Seluruh tubuhnya pun terasa berat dan kaku karena dinginnya air. Hal yang membuat matanya yang terpejam, langsung terbuka. Saat itu pula Lyn tersadar kalau dirinya sedang tenggelam. "Tolo ...." Lyn mengangkat tangan, hendak meminta pertolongan. Sayangnya, ada suara lain yang memotong. "Kakak tolong aku." Seorang perempuan lain yang juga ada di dalam air, ikut berteriak dan melambaikan tangan dengan wajah pucatnya. "Tolong! Aku tidak bisa berenang." Terdengar suara seseorang yang terjun masuk ke dalam air, membuat Lyn yang sudah kehabisan napas berusaha untuk mengayunkan tangan. Setidaknya, ada sedikit harapan, walau tatapannya tidak begitu jelas melihat segalanya. Sayangnya lelaki yang tadi melompat ke dalam air, hanya menarik perempuan yang satunya. Lelaki itu bahkan sama sekali tidak melirik Lyn sedikit pun. "Lynette Arwyn Moore." Seseorang berteriak, pada satu-satunya perempuan yang masih tertinggal di dalam air. "Kalau kau mau mati, jangan ajak orang lain." "Tolong aku." Tentu saja perempuan yang dipanggil dengan nama lengkap itu lebih memilih untuk terus meminta tolong. "Aku tidak bisa berenang," lanjutnya sambil terus menggapai ke atas, berusaha tidak makin tenggelam. "Selamatkan Iris." Suara lain kembali terdengar, diikuti suara langkah berderap. Beberapa orang berkumpul di pinggir kolam, mengulurkan tangan pada perempuan yang diselamatkan. Pandangan Lyn yang sedikit buram, masih bisa menangkap kejadian itu. Samar, tapi dia tahu orang-orang itu lebih peduli pada perempuan yang dipanggil Iris barusan. Karena itu, otak kecil Lyn secara refleks mencari pertolongan pada orang lain. "Seseorang." Lyn berucap dalam hati, sambil terus berusaha bergerak di dalam air. "Tolong aku." Pada saat bersamaan, tiba-tiba saja Lyn mengulurkan tangan pada orang yang berdiri dekat kolam. Satu-satunya orang yang dengan tenang berdiri di pinggir kolam, sambil memegang gelas wine dan menonton. "Tolong!" Lyn membuka mulut, tapi tak ada suara yang terdengar. Justru air malah masuk lewat mulut, membuatnya terbatuk pelan dan membuat gerakannya terhenti. Kaki Lyn terasa kesemutan. Tidak mungkin lagi digunakan untuk menendang air, mencegah agar dia tidak benar-benar tenggelam. Saat itulah pandangannya jadi lebih jernih. Hanya sedikit lebih jernih, tapi dia bisa melihat lelaki berkacamata yang memegang gelas wine tadi. "Seseorang tolong dia. Dia bisa mati." Semua orang menoleh pada Lyn yang makin lama, makin menghilang dari permukaan. Tapi bukannya membantu, semua orang hanya melihat saja. "Cih, biarkan saja dia mati." Seseorang bahkan tidak segan untuk menyumpahi. Merasa tidak bisa diam, akhirnya seorang lelaki dengan seragam pelayan melompat ke dalam kolam. Dia dengan mudahnya menyelam dan segera menarik Lyn yang sudah tenggelam naik ke atas dan menariknya ke ujung kolam, tepat di sebelah lelaki berkacamata yang memegang gelas tadi. "Apa yang kau lakukan?" Seorang perempuan paruh baya langsung mendekat. "Kenapa kau malah menarik Lynette ke dekat Tuan Vale? Kau cari mati?" "Tuan Vale, mohon maaf." Perempuan paruh baya tadi langsung menatap lelaki berkacamata yang dia panggil barusan. "Sepatumu jadi basah karena ...." "Ma, jangan begitu." Iris dengan cepat mendekati ibunya. "Apa kau tidak lihat Lyn sedang menggigil, bahkan susah bernapas?" lanjutnya mengeratkan handuk tebal yang tersampir di bahu. Tatapan semua orang kembali terarah pada Lyn. Mereka semua bisa menyaksikan kalau perempuan itu gemetar, tapi tidak melakukan apa-apa. Bahkan saat tadi Lyn batuk keras demi memuntahkan air yang sudah terlanjur masuk di tubuhnya, dia masih bisa mendengar ada yang mengatakan 'menjijikkan.' Itu jelas saja membuat Lyn meringis dan merasa kasihan pada diri sendiri. "Tapi biar bagaimana, Lyn sudah mengotori sepatu Tuan Vale." Perempuan paruh baya tadi kembali bicara. "Kalau begitu, kau bisa minta maaf dengan pelan saja," ucapnya dalam bisikan, sebelum menoleh pada Tuan Vale yang tidak memberikan ekspresi berarti itu. "Tuan, aku mewakili adikku untuk ...." "Membosankan," gumam Tuan Vale, sengaja memotong kalimat perempuan muda di depannya. "Harusnya tadi aku tidak usah datang saja." Entah apa yang ada dipikirannya, tapi kalimat itu membuat Lyn yang masih sadar jadi geram. Dia sampai berusaha setengah mati untuk mengalihkan pandangan, untuk melihat dengan lebih jelas lagi si Tuan Vale ini. Saat itulah tatapan mereka bertemu. Tatapan dingin yang merendahkan itu, bertemu dengan tatapan mata Lyn untuk sesaat, tepat saat Tuan Vale akan berbalik dan pergi. Sayangnya, pandangan Lyn segera ditutupi oleh perempuan paruh baya yang menyebut dirinya seorang ibu. "Bawa anak sialan ini pergi dari tempat acara," desis sang ibu pelan.Lyn berdiri menatap pintu kayu di depannya, tanpa ekspresi. Hari masih cukup pagi, tapi dia kembali menekan bel rumah itu sekali lagi. Dia tidak peduli kalau dianggap tidak sopan."Siapa?" Suara terdengar, bertepatan dengan pintu yang terbuka. Seorang lelaki yang menggunakan seragam."Aku mau ketemu Elena. Panggil dia," balas Lyn tanpa basa-basi."Lynette?" Orang yang membuka pintu menaikkan sebelah alisnya. "Apa yang kamu lakukan pagi-pagi begini?""Panggil saja Elena," ulang Lyn lebih tegas. "Aku tidak punya waktu."Lelaki tadi tidak banyak bicara dan segera berbalik pergi. Meninggalkan Lyn di teras, menunggu dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Cukup lama, sampai Lyn mengetukkan ujung sepatunya."Ada apa kau mencariku?" Setelah lima belas menit menunggu, suara Elena akhirnya terdengar."Aku tahu kau sengaja membuatku menunggu." Lyn terlebih dulu protes. "Tapi biar aku kasih tahu," lanjutnya melangkah mendekat."Sekali lagi kau menggangguku, aku benar-benar akan memb
Julian memejamkan matanya. Dia duduk di kursi kulit dengan kaki terlipat dan kedua tangan bertumpu pada lutut. Sekilas terlihat seperti tidur, tapi sebenarnya tidak."Tuan, saya mohon." Isak tangis Celine terdengar. "Bicara," gumam Julian masih memejamkan mata. Celine tidak langsung menjawab. Dia melirik pelan pada dua orang yang berdiri di sisinya dengan tatapan takut. Tubuhnya bergetar pelan, mengingat apa yang terjadi padanya beberapa menit yang lalu."Tapi apa Tuan Vale nantinya bisa melindungi saya?" tanya Celine dengan suara bergetar.Seketika, mata Julian membuka. Tatapannya langsung tertuju pada perempuan yang berlutut di depannya. Tajam dan mengintimidasi."Kau berani negosiasi?" desis Julian, kini mencondongkan tubuh ke depan. Rahangnya sedikit mengeras."Maaf, Tuan." Celine segera menunduk. "Sa-saya hanya takut.""Kau takut pada orang itu?" Julian mendengus keras. "Tapi kau berani memfitnah orangku." Lelaki itu tertawa cukup keras. "Luar biasa sekali.""Bukan
"Selamat pagi," gumam Lyn pelan. Terlihat sangat lesu."Nona Lyn kurang tidur?" Daniel bertanya dengan nada cemas. "Saya bisa melihat kantong mata Anda.""Kira-kira begitulah," gumam Lyn menarik kursi di ruang makan."Kenapa bisa begitu?" Mira muncul dengan bibir mencebik. "Apa semalam Papa nakal?"Lyn yang baru saja mau menelan air, menyemburkannya kembali. Kalimat polos Mira, membuatnya terkejut. "Jorok." Julian yang sudah sejak tadi duduk, langsung protes."Maaf." Lyn mengatakan itu, sambil menyeka mulutnya.Daniel pun tidak segan membantu. Dia dengan cekatan mengambilkan tisu untuk Lyn dan setelahnya bergegas untuk mengelap meja makan yang basah. Semuanya Daniel lakukan di bawah tatapan tajam Julian."Apa kalian akrab?" Tidak ada angin, tiba-tiba saja Julian bertanya. Tatapannya terarah pada sang pengasuh."Siapa?" Kening Lyn berkerut."Kau dan Daniel.""Oh, tidak juga." Daniel bergegas menggeleng. "Saya hanya seorang pelayan yang dulu bekerja di rumah Nona Lyn. Salin
Mata Lyn menatap nyalang langit-langit kamar. Tangannya meremas ujung selimut dengan keras, dengan detak jantung terasa lebih cepat. Kamar itu gelap, tapi Lyn masih bisa melihat lukisan awan di atasnya. Menghitung jumlah awan itu dalam hati.Sayangnya, itu tidak membuat Lyn tertidur. Dia malah menggeram pelan, saking frustasinya."Kau belum tidur?" Tiba-tiba saja, suara Julian terdengar."Tuan Vale?" Lyn tersentak pelan, mengelus dada di balik selimut."Anda sendiri belum tidur?" Lyn kembali bersuara, tanpa mengalihkan pandangan dari lukisan awan.Lyn menunggu dalam diam. Matanya bergerak gelisah dalam gelap."Tuan Vale?" Lyn mencoba untuk memanggil, tapi tidak ada jawaban sama sekali.Penasaran, Lyn mencoba untuk membalik badan. Matanya sudah terbiasa dengan gelap, cukup untuk melihat Julian dengan jelas. Lelaki itu berbaring menghadap dirinya, dengan mata terbuka lebar dan Mira yang ada di antara mereka."Anda belum tidur?" Lyn bertanya canggung."Belum.""Lalu kenapa tad
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.