MasukShen Yaoqing meninggal setelah kelelahan lembur, lalu terbangun di dunia novel. Dinasti Liangyun, kekaisaran kuno yang ia kenal dari sebuah novel tragis. Ia kini bersemayam dalam tubuh Selir Mulia Shen, perempuan pendiam yang dibuang ke Istana Dingin setelah ayahnya, seorang jenderal perang terhormat, difitnah berkhianat. Lebih kejamnya lagi, ia diusir saat tengah mengandung putra mahkota oleh perintah Kaisar sendiri. Kaisar Zhao Yichen, penguasa Liangyun yang dingin dan kejam, memilih percaya pada bisikan licik istana daripada tatapan perempuan yang pernah ia cintai. Di balik tembok merah dan diselimuti salju Istana Dingin, Shen Yaoqing seharusnya menunggu kematian, seperti yang tertulis di novel itu. Namun, jiwa yang kini mengisi tubuhnya bukan lagi selir rapuh yang hanya tahu menunduk dan menangis. Dengan ingatan dunia modern dan pengetahuan akan alur cerita, Shen Yaoqing bangkit. Sikapnya yang dulu sunyi berubah jenaka dan cerdas, membuat istana gempar dan mata sang kaisar kembali tertuju padanya. Perlahan, ia membersihkan nama ayahnya, membongkar konspirasi para menteri, dan membalikkan takdir yang seharusnya menghancurkannya. Sayangnya, kebangkitan itu mengundang kebencian. Permaisuri mengincarnya tanpa ampun, para selir lain menanam duri di setiap langkahnya.
Lihat lebih banyakJam di sudut kanan layar laptop menunjukkan pukul sebelas malam. Shen Yaoqing menatapnya dengan tatapan kosong selama tiga detik, lalu menghela napas panjang.
“Baiklah,” gumamnya lesu sambil mengangkat gelas kopi sachet yang sudah dingin. “Kita lanjut aja, demi cicilan dan bayar listrik. Bertahan hidup di dunia kapitalisme ini memang kejam.” Kantor sudah hampir sepenuhnya gelap. Tinggal beberapa lampu neon yang masih menyala di atas meja-meja kosong, memantulkan cahaya pucat ke lantai keramik. Pendingin ruangan berdengung malas, seolah ikut lelah menemani manusia terakhir yang belum pulang. Manusia itu, tentu saja, Shen Yaoqing. Rambutnya diikat asal, kemeja kerja sudah kusut, dan matanya berkilat karena kafein yang berlebihan. Jarinya menari cepat di atas keyboard, mulutnya tak berhenti berceloteh. “Siapa juga yang bikin deadline jam dua belas malam,” gerutunya. Ia berhenti sejenak, melirik kursi kosong di sekelilingnya, lalu menyeringai kecil. Selesai mengetik satu paragraf laporan, Shen Yaoqing menyandarkan punggungnya, meraih ponsel, dan membuka aplikasi novel. Layarnya langsung menampilkan halaman terakhir yang ia baca siang tadi, novel berlatar dinasti kuno yang sedang populer. “Baca novel dulu biar ada temennya,” gumamnya sambil mengusap mata. Ia scroll sedikit, membaca ulang adegan yang membuatnya kesal sejak tadi. Selir Mulia Shen. Perempuan pendiam, patuh, selalu menunduk, dan selalu percaya bahwa kesabaran akan membawa keselamatan. “Kesabaran apaan,” cibir Shen Yaoqing mendengus kesal. “Kesabaranmu itu tiket cepat ke liang kubur.” Ia menepuk layar ponsel dengan jari telunjuk. “Ini, nih. Ini salahmu! Kalau dari awal berani ngomel dikit aja, nggak bakal dibuang ke Istana Dingin.” Matanya menyipit saat membaca dialog Kaisar Zhao Yichen yang dingin dan kejam. Ia mendecak kesal. “Kaisar apaan, sih. Tampan doang, otak dipinjemin setan,” komentarnya tanpa dosa. “Masa istri sendiri diusir pas lagi hamil?” Ia tertawa kecil, geleng-geleng kepala. “Kalau aku jadi Selir Shen, sudah kutendang semua menteri licik itu satu-satu. Biar tahu rasa.” Shen Yaoqing meletakkan ponsel kembali ke meja dengan kesal. “Oke, satu laporan lagi. Habis ini pulang!” Ia kembali mengetik. Namun entah sejak kapan, huruf-huruf di layar mulai terlihat sedikit kabur. Shen Yaoqing mengerjap, mengucek mata yang terasa pedih seraya menarik napas panjang. “Kurang tidur, nih,” gumamnya. Ia mengangkat gelas kopi, meneguk isinya, lalu meringis. Dadanya terasa agak berat. Ia menekan telapak tangan ke sana, merasa degup jantungnya naik. Tiba-tiba layar ponselnya menyala sendiri, mungkin karena notifikasi. Halaman novel yang tadi ia baca muncul kembali. Adegan Istana Dingin, serta salju turun tanpa henti yang memaparkan Selir Shen berbaring lemah dengan darah mengalir di antara kain putih. Shen Yaoqing berhenti mengetik. “Ah,” gumamnya pelan. “Bagian ini?” Tangannya gemetar sedikit, ia mengira itu karena dingin AC. “Tenang,” katanya sambil tersenyum tipis. “Aku, kan, cuma baca, nggak hidup di sana. Ngapain ikut merinding?” Jantungnya berdegup lebih cepat, berusaha menepis rasa aneh yang merayap naik. Ia ingin meraih ponsel, tapi jarinya terasa berat. Pandangannya berputar sedikit,ampu neon di atas kepalanya tampak terlalu terang. “Eh,” bisiknya. “Kok .…” Ponsel itu jatuh dari meja. Bunyi berdentum kecil terdengar di lantai. Shen Yaoqing mencoba berdiri, tapi lututnya melemas. Dunia terasa miring. Dadanya sesak, napasnya pendek. “Kayaknya ....” Ia tertawa kecil, suaranya gemetar. “Aku butuh cu—ti.” Lalu semuanya gelap. *** Dingin. Itu hal pertama yang ia rasakan. Bukan dingin AC kantor, ini dingin yang menusuk tulang, seperti salju yang merayap langsung ke dalam darah. Shen Yaoqing mengerang pelan. “Aduh, dingin banget. Rumah sakit mana ini gini banget AC-nya.” Ia membuka mata. Langit-langit di atasnya bukan putih polos dengan lampu neon. Melainkan balok kayu tua, retak di beberapa bagian. Cahaya kuning redup dari lentera bergoyang pelan, memantul di dinding kusam. Shen Yaoqing membeku. Ia menoleh perlahan, selimut yang menutupi tubuhnya terasa kasar. “Hah?!” Ia duduk tergesa, lalu langsung meringis karena pusing. Bau obat pahit menusuk hidungnya. “Tidak,” gumamnya, tertawa kecil penuh penyangkalan. “Ini pasti mimpi. Iya. Mimpi!” Ia mengangkat tangan, mencubit pipinya sendiri. Sakit. “Ah!” Shen Yaoqing menatap sekeliling lagi, kali ini dengan jantung berdegup keras. Tirai kain tebal berwarna kusam. Meja kayu rendah. Jendela tertutup rapat, tapi celah kecil memperlihatkan salju. Salju? Ia menelan saliva. “Ini di mana? Perasaan tadi terakhir baca novel, terus—” Ingatan itu menghantamnya tiba-tiba. Istana Dingin. Selir Mulia Shen, perempuan yang mati di sini. Senyumnya memudar perlahan. “Oh,” bisiknya. “Sial.” Di detik itu, Shen Yaoqing tahu satu hal dengan sangat jelas. Ia masuk dunia novel. "Nggak, nggak! Nggak mungkin aku jadi selir terbuang itu. Nama memang sama, tapi aku ... nasibku?! Nggak!" Shen Yaoqing terhuyung berdiri. Kakinya telanjang, menyentuh lantai batu yang dinginnya menusuk. Ia melangkah pelan menuju pintu kayu tua di sudut ruangan. Tangannya gemetar saat menggenggam gagang pintu yang terasa kasar dan dingin. Pintu itu berderit pelan saat didorong. Begitu terbuka, embusan udara dingin langsung menerpa wajahnya. Di hadapannya terbentang halaman luas yang diselimuti salju. Pohon-pohon tua berdiri kaku tanpa daun, rantingnya putih membeku. Bangunan-bangunan beratap melengkung berjajar rapi, ujung atapnya dihiasi ukiran naga yang tertutup es. Dinding merah kusam menjulang tinggi, warnanya pudar dimakan waktu dan cuaca. Persis seperti deskripsi dalam novel. Shen Yaoqing melangkah satu langkah ke depan. Salju itu berderak di bawah kakinya. Ia menoleh ke kiri. Koridor panjang berlapis batu membentang, lentera-lentera tergantung jarang, cahayanya redup. Di kejauhan, gerbang istana berdiri seperti mulut raksasa yang tertutup rapat. Ia menoleh ke kanan. Tembok tinggi menjulang, tanpa celah. Tak ada jalan keluar. Dadanya terasa sesak. “Ini Istana Dingin,” gumamnya lirih. “Seratus persen sama.” Bibirnya bergetar. Di novel, tempat ini adalah kuburan hidup. Tempat para selir yang tak lagi diinginkan menunggu ajal, entah karena sakit, kelaparan, atau bunuh diri. Ia mundur satu langkah. Tiba-tiba kakinya terpeleset, hampir jatuh. Shen Yaoqing tersentak dan refleks berbalik, berlari kembali ke dalam kamar, menutup pintu dengan bunyi gedebuk keras. Ia menyandarkan punggung ke pintu, napasnya terengah. Air mata akhirnya jatuh. “Gila,” isaknya pecah. “Ini gila. Aku cuma lembur sambil baca novel. Kenapa harus sejauh ini?!” Tangannya meraba wajahnya sendiri, seperti memastikan ia masih nyata. Hidungnya terasa lebih kecil, kulitnya halus dan pucat. Ia menggeleng keras. “Nggak. Aku nggak mau!” Pandangan matanya menyapu ruangan, panik, mencari sesuatu yang bisa mengembalikannya ke dunia asalnya. “Kaca,” gumamnya. “Aku butuh kaca!” Ia menemukan sebuah meja kayu kecil di sudut ruangan. Di atasnya terletak sebuah cermin perunggu buram, permukaannya menguning, memantulkan bayangan samar. Shen Yaoqing mengangkatnya dengan tangan gemetar. Alis hitam melengkung rapi. Mata besar dengan sudut lembut, tetapi kini dipenuhi kepanikan. Bibir merah muda pucat, kering, sedikit pecah karena dingin. Rambut hitam panjang tergerai hingga pinggang, tebal dan halus, terikat setengah dengan pita sederhana. Cermin itu hampir terlepas dari tangannya. “Nggak,” bisiknya parau. “Ini bukan aku.” Ia menggeleng keras, air mata mengalir deras. “Ini visual Selir Shen, persis seperti ilustrasi di novel.” Dadanya naik turun cepat. “Gimana caranya keluar dari sini?” Ia menoleh ke sekeliling, seperti berharap ada pintu darurat bertuliskan EXIT. “Halo? Admin dunia? Sistem? Tuhan? Penulis? Siapa pun tolong aku!” Tak ada jawaban. Bayangan adegan keguguran di novel terlintas jelas di kepalanya, refleks menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Nggak,” katanya tegas di sela tangis. “Aku nggak mau mati sia-sia. Aku nggak mau jadi korban plot!” Ia mengangkat kepala, matanya memerah, tapi ada kilat keras di dalamnya. “Aku nggak peduli ini dunia apa. Aku harus hidup, aku harus keluar dari alur ini.” Tiba-tiba, suara tajam dari luar membuat tubuhnya menegang. “Yang Mulia datang ....” Langkah kaki terdengar mendekat, cepat dan tergesa. “Yang Mulia Selir Shen, hamba membawa perintah!” Shen Yaoqing menelan ludah. Jantungnya berdegup keras, hampir meledak. “Datang terlalu cepat,” bisiknya panik. "Apa raja gila itu mau membunuhku sekarang?"“Selir Shen! Tunggu!”Suara salah satu selir pecah di belakangnya, gemetar antara takut dan tak percaya. “Kau … kau membunuh mereka dengan jepit rambut?”Shen Yaoqing berhenti sejenak, tapi tidak menoleh. Qinglan berdiri setengah melindunginya, wajahnya tampak pucat.“Kalau tidak begitu, yang mati mungkin kita,” jawab Shen Yaoqing tenang.Tak ada yang berani membalas.Ia melangkah meninggalkan Taman Seribu Musim. Salju tipis sudah mulai mencair, matahari sore memantul pada genangan air di sela batu. Aroma darah perlahan tergantikan wangi plum yang tertiup angin hangat.Musim memang hampir berganti.Di belakangnya, Zhao Yichen masih berdiri memandang punggung wanita itu.“Xiao An.”Seorang kasim muda berwajah pucat segera berlutut. “Hamba di sini, Yang Mulia.”“Bawa tabib kerajaan ke Paviliun Batu Giok. Periksa Selir Mulia Shen. Jangan sampai ada luka tersembunyi.”Xiao An tertegun sepersekian detik. “Segera, Yang Mulia.”Nada itu terdengar biasa saja, tetapi para pengawal pribadi Kais
Rong Guifei tersenyum manis, menatap rangkaian bunga Shen Yaoqing dengan alis terangkat tipis. “Selir Shen memang pandai menyusun kata. Namun pesta bunga bukan sekadar simbol, melainkan juga hiburan.”Beberapa selir menunduk, menyembunyikan senyum.Ibu Suri menggeser pandangannya perlahan ke arah Rong Guifei. “Menurutmu, simbol tidak penting?”Rong Guifei langsung menunduk. “Tentu penting, Ibu Suri. Hanya saja … hamba khawatir Selir Shen terlalu memaksakan diri.”Shen Yaoqing tersenyum lembut. “Terima kasih atas perhatian Selir Agung Rong Guifei. Namun hamba masih mampu berdiri tanpa dipapah.”Nada itu halus, tapi seperti sutra yang membelit leher. Kaisar Zhao Yichen tidak berkata apa-apa. Ia hanya menyesap araknya, mata gelapnya mengamati percakapan dua wanita itu tanpa ekspresi.Acara berlanjut dengan pelayan yang membawa nampan-nampan kayu berukir, di atasnya tersaji kue bunga osmanthus, bola ketan isi pasta kacang merah, daging bebek panggang berlapis madu, dan sup sarang burung d
“Niangniang, waktunya berangkat.”Qinglan berlutut di depan cermin perunggu, jemarinya merapikan lipatan terakhir jubah biru pucat yang mengalir seperti air musim semi.Shen Yaoqing menatap bayangannya.Gaun itu sederhana, tanpa emas mencolok dan tanpa bordir naga berlebihan. Hanya bunga plum putih keperakan yang dijahit halus di ujung lengan dan bagian bawah rok. Rambutnya disanggul rendah, disematkan satu jepit giok berbentuk kelopak.“Apakah terlalu sederhana?” tanya Qinglan pelan.Shen Yaoqing tersenyum samar. “Hari ini aku bukan datang untuk bersaing dalam kemewahan.”“Lalu untuk apa, Niangniang?”“Sudah, lihat saja nanti.”***Taman Seribu Musim diselimuti salju tipis pada bebatuan dan jembatan lengkung, tapi taman tetap hidup oleh ribuan bunga musim dingin seperti plum merah, krisan putih, kamelia merah tua, dan dahan cemara yang dibentuk melengkung artistik. Lentera-lentera sutra digantung di pohon, kain tipis berwarna pastel membentang di antara pilar kayu berukir.Aula terb
“Semua keluar!” seru Shen Yaoqing tajam, membuat para dayang yang baru saja menyambutnya langsung menunduk.Qinglan berkedip. “Niangniang?”“Kecuali Qinglan.”Pintu Paviliun Batu Giok ditutup perlahan. Suara gesek kayu cendana terdengar berat, lalu hening menyelimuti ruangan.Shen Yaoqing berdiri di tengah ruangan, melepas mantel bulunya dengan pelan dan berjalan menuju meja bundar dari batu giok pucat, lalu duduk perlahan.Qinglan nampak berdiri cemas. “Niangniang, apakah ada yang salah?”Shen Yaoqing mengangkat wajahnya.“Kandunganku.” Ia menyentuh perutnya pelan. “Sudah empat bulan.”Qinglan langsung tersenyum lega. “Itu kabar baik, Niangniang. Enam bulan lagi—”“Enam bulan lag aku akan melahirkan, dan setelah itu Kaisar akan membunuhku,” potong Shen Yaoqing lembut.Tungku perunggu mendesis pelan.Qinglan memucat seketika. “Niangniang! Jangan—” “Ayahku belum kembali dari perang. Tuduhan pemberontakan belum dibersihkan. Begitu aku melahirkan pewaris, aku akan menjadi beban politi
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.