เข้าสู่ระบบ1500 tahun setelah perang yang hampir memusnahkan manusia, halfwolf muncul kembali, mengancam yang lemah dan menebar ketakutan. Orin Nympahea Pemimpin dari Organisasi Eclipse Blood, pemburu berdarah dingin, berdiri untuk membantu mereka yang tak mampu membela diri dan menuntaskan dendam bagi korban yang hilang. Perjalanan ini penuh pertarungan berdarah, kehilangan, dan tragedi yang menekan hati. Namun di balik kegelapan itu, muncul momen haru, persahabatan, dan keberanian yang menyalakan harapan. Di tengah konflik, satu pertanyaan menggantung: siapa sebenarnya musuh sejati manusia dan halfwolf? Tidak semua yang tampak jelas adalah kenyataan, dan kebenaran bisa datang dari arah yang tak terduga. Pertarungan ini bukan sekadar soal menang atau kalah, tapi tentang keberanian, pengorbanan, dan menegakkan keadilan di dunia yang kejam, sambil menghadapi rahasia yang dapat mengubah segalanya.
ดูเพิ่มเติม500 tahun telah berlalu sejak Pahlawan Perak berhasil mengusir para halfwolf dari tanah manusia. Dari perjuangan itu lahirlah Kekaisaran Jakarta, sebuah wilayah yang dibentuk untuk mempersatukan manusia dan menjaga perdamaian di tengah ancaman yang selalu mengintai. Kekaisaran ini terbagi menjadi tujuh negara bagian, masing-masing dipimpin oleh keluarga-keluarga terpilih yang mewarisi darah para Pahlawan Perak. Tujuh negara bagian itu adalah Asterion, Rowanthar, Reedfall, Virelia, Sagehold, Iridia, dan Lilithene.
"Orin, kamu lagi ngapain?" teriak seorang anak perempuan dengan rambut hitamnya yang terurai sambil berlari menghampiri Orin di sebuah menara tua.
Orin menoleh sejenak, kemudian menunjuk matahari senja yang mulai meredup. "Lihat itu, Elara. Indah, kan?"
Mata Elara berbinar. "Wah, iya, indah!" katanya dengan kagum
Anak kecil itu mengerutkan kening, ekspresinya marah sambil menunjuk-nunjuk. "Oh iya, Orin..tadi mama kamu nyariin, loh! Bikin khawatir!"
Orin menghela napas panjang, kemudian tersenyum tipis. "Huff... ya sudah, ayo. Waktunya balik." Ia mulai melangkah menuruni tangga menara, diikuti oleh Elara.
Orin Nymphaea dan Elara Kencana adalah teman masa kecil. Mereka tinggal di ujung paling selatan kekaisaran, Desa Lira, yang secara administratif berada di dalam wilayah negara Sagehold.
Desa Lira kecil dan tenang, dikelilingi hutan lebat dan perbukitan rendah. Meski jauh dari pusat kekaisaran, desa ini selalu hidup dengan aktivitas penduduk yang sederhana, seperti petani yang menyiangi ladang, pedagang yang menata dagangan, anak-anak yang berlarian di jalan setapak.
Orin dan Elara sering menghabiskan waktu bersama di desa itu. Dari bermain di sungai hingga memanjat pohon tertinggi di pinggir desa, mereka mengenal setiap sudut tempat ini seperti rumah sendiri.
Suatu hari halfwolfmenyerang Desa Lira. Suara teriakan panik dimana-mana. Orin yang berumur 12 tahun menatap sekelilingnya dengan mata terbuka lebar, suara hewan ternak yang ketakutan bercampur dengan jeritan penduduk yang berlari mencari perlindungan.
"Cepat, Orin! Jangan lepaskan tanganku!" perintah ibunya sambil menariknya mengikuti ayahnya.
Ayah Orin di depan mereka, mencari jalan untuk melarikan diri. Kepanikan memecah semua orang ke arah yang berbeda, tidak ada yang sempat berpikir jernih. Di tengah perjalanan melarikan diri, di persimpangan jalan setapak yang dipenuhi warga yang berlarian, mereka melihat Elara dan ayahnya terpisah dari arah lain, terseret arus kepanikan yang berbeda dari keluarga Orin.
Orin menoleh ke belakang. Di antara pepohonan, ia melihat Elara dan ayahnya bergerak cepat, berusaha mengikuti jalannya.
"Elara!" teriak Orin sambil melangkah lebih cepat.
Elara mengangguk dan berlari bersama ayahnya di belakang. Orin menahan langkah sejenak, tapi ayahnya memberi isyarat agar dia terus maju.
Mereka menembus semak dan akar pohon, suara jeritan perlahan menjauh. Napas Orin berat, tapi matanya tetap waspada. Di sampingnya, Elara menoleh sesekali, pandangannya bertemu dengan Orin. Tanpa kata, mereka mengerti satu hal: hari ini mereka selamat, dan langkah berikutnya akan tetap menjadi ujian.
Setelah berlari sekitar 30 menit, mereka sampai di sebuah benteng. Semua terlihat lega, napas tersengal, tapi senyum mereka langsung menghilang begitu Orin menoleh ke belakang. Ribuan halfwolf berdiri di jalan setapak dan di balik pepohonan, menghalangi semua jalan pulang. Orin, Elara, dan ibu Orin saling berpandangan, ketakutan merayap di dada mereka.
"Ada halfwolf...!" teriak Orin, suaranya parau karena lari dan panik.
Satu per satu, bayangan gelap itu mulai menampakkan diri. Mata mereka menyala merah di antara pepohonan, taring mereka terlihat di cahaya senja, gerakan mereka cepat dan mengerikan. Suara gemerisik langkah mereka membuat tanah seolah bergetar.
"Tolong buka gerbangnya!!" teriak ayah Orin, keringat membasahi seluruh wajahnya, tangannya gemetar saat menunjuk ke pintu gerbang benteng.
"TIDAK BISA!" balas prajurit yang berjaga di atas gerbang. "Kalau dibuka sekarang, halfwolf akan langsung masuk! Butuh tiga menit untuk menurunkan dan menarik kembali gerbangnya!"
Orin menoleh ke belakang. Halfwolf sudah tidak lagi bersembunyi di balik pepohonan. Mereka sudah di jalan setapak, jaraknya tidak lebih dari lima puluh langkah, dan mereka tidak berlari. Mereka berjalan perlahan, seperti sesuatu yang tahu mangsanya tidak akan kemana-mana. Tiga menit terasa seperti selamanya.
Suasana menjadi semakin kacau. Ribuan halfwolf muncul dari balik pepohonan, suara geraman mereka bergema, ranting-ranting patah di bawah langkah kaki mereka. Ayah Orin dan Elara berdiri di depan, siap menghalau makhluk-makhluk itu untuk memberi waktu bagi keluarganya melarikan diri. Orin melihat ayahnya untuk terakhir kali di sana, berdiri tegak menghadang kawanan halfwolf dengan tangan kosong, sebelum kegelapan dan kepanikan menelan semuanya.
"Cepat! Lari ke arah utara, di sana ada kota!" teriak ayah Orin sambil menunjuk jauh ke hutan.
Elara menatap ayahnya, matanya berkaca-kaca. "Aku... aku nggak mau! Aku nggak mau ninggalin ayah begitu saja!" suaranya bergetar, menahan tangis.
Ayah Elara melangkah maju, menepuk bahu Elara. "Nak, Kami akan menyusl, kalian pergilah dluan."
Ibu Orin menatap Orin dan Elara, napasnya cepat tapi tegas. "Dengar... kita nggak punya pilihan lain. Kalau kita tetap di sini, semuanya bakal hilang. Kita harus pergi sekarang, biar mereka bisa beri waktu untuk kita."
Elara menepis tangan Orin sebentar, matanya takut. "Aku... aku nggak mau pergi tanpa ayahku..."
Ayah Elara menunduk, menatap putrinya dengan serius. "Nak, aku janji kita akan bertemu lagi. Tapi kalau kalian nggak lari sekarang, kalian nggak akan punya kesempatan lagi."
Orin menggenggam tangan Elara lebih erat. "Aku bakal ada di sampingmu. Kita pergi sama-sama. Kita tetap bersama."
Ibu Orin menarik napas panjang, menahan air mata. "Baik... ayo... cepat sebelum mereka mendekat!"
Akhirnya, setelah beberapa detik yang terasa lama, Elara mengangguk, tersedu-sedu tapi siap. Mereka bertiga lari secepat mungkin ke arah utara, meninggalkan benteng di belakang, sementara suara pertarungan dan teriakan mulai terdengar semakin dekat.
Orin, Elara, dan ibunya terus berlari menembus hutan. Suara halfwolf semakin dekat, napas mereka terdengar tercekat di antara teriakan makhluk itu.
Tiba-tiba, dari balik pepohonan, muncul seekor halfwolf yang jauh lebih besar daripada yang lain, berdiri di tengah jalur mereka. Mata kuningnya menyala dalam kegelapan, gigi tajam terkatup rapat, dan bulunya mengibas.
Orin terhenti sejenak, jantungnya berdegup kencang. "Halfwolf!" teriaknya, suaranya pecah oleh panik.
Ibu Orin langsung menempatkan tubuhnya di depan anaknya. "Jangan sentuh anak-anak!"
Halfwolf itu mendekat dengan geram. Dalam sekejap, ia melompat, cakarnya menghantam ibu Orin. Tubuhnya terbelah dua, darah memercik ke tanah, sambil berteriak "Matilah, manusia..."
Orin menjerit, kakinya gemetar. "Ibu... jangan tinggalin aku...!"
Elara menjerit histeris, mencoba meraih ibu Orin, namun halfwolf itu berbalik menyerangnya. Sebuah cakaran menusuk perut Elara dan ia terlempar ke pohon, tubuhnya terhuyung sebelum jatuh tak berdaya.
"ELARA!" Orin berteriak sambil berlari ke arahnya, tapi kakinya tergelincir di tanah yang basah. Air mata membasahi wajahnya. "Aku... aku harus menyelamatkan kalian..."
Elara menatapnya, tangis tersumbat di tenggorokan. "Orin... aku... aku nggak mau mati... jangan tinggalkan aku..." Suaranya lemah, tubuhnya gemetar.
Orin meraih tangan Elara, menggenggamnya erat. "Aku... aku nggak akan... aku janji... aku nggak akan membiarkanmu..." Namun halfwolf itu datang lagi, menendangnya dengan keras hingga Orin terlempar beberapa meter, tubuhnya membentur akar pohon dan tersungkur.
Ia menatap ibu dan Elara yang terbaring, darah mereka meresap ke tanah. Suasana hutan berubah sunyi, hanya suara napas berat Orin dan geraman halfwolf yang terdengar. Hatinya remuk.
"Kenapa... kenapa aku nggak bisa melindungi kalian..." bisiknya, suaranya pecah. Air mata jatuh di pipinya. "Ibu... Elara... maafkan aku... aku nggak cukup kuat..."
Halfwolf itu meninggalkan Orin dalam keputusasaan.
Orin menunduk, menatap tanah yang ternoda darah. Ia mencoba bangkit, tangan gemetar. Tubuhnya sakit, tapi rasa sakit itu kalah besar dari sesuatu yang lain yang menghimpit dadanya, sesuatu yang tidak punya nama yang tepat selain kehilangan.
Keesokan harinya, Orin berjalan sendiri menuju kota di utara. Jalanan berbatu dan udara pagi yang dingin menemaninya. Langkahnya berat, tapi ia terus melangkah. langkah demi langkah.
Mereka sampai di Rowanthar di hari ketiga.Perjalanan dari Eryndel berjalan tanpa masalah. Jalur yang mereka pilih lebih jauh dari jalur konvoi Harven, memutar sedikit ke utara, tapi lebih sepi dan lebih mudah diawasi. Tidak ada yang banyak bicara sepanjang jalan. Geminia berjalan dengan sisi tulang rusuknya yang masih sesekali berdenyut, tapi tidak mengeluh. Cukup.Rowanthar lebih besar dari Sagehold.Jalannya lebih lebar, gedung-gedungnya lebih tinggi, pasarnya lebih ramai. Tembok batu di sekelilingnya kokoh, menara penjaganya tinggi, dan di atas gerbang utama bendera kerajaan berkibar tenang diterpa angin sore.Harven menyibak tirai keretanya begitu gerbang mulai terlihat. Untuk pertama kalinya sejak mereka meninggalkan Sagehold, ketegangan di wajahnya menghilang. Ia menghela napas panjang.Orin tidak menatap gerbang. Ia menatap orang-orang yang berlalu lalang di luar tembok, pedagang kecil yang menata gerobak, anak-anak yang berlarian, perempuan tua yang menjemur kain. Semuanya be
Permintaan itu datang dua hari setelah malam yang tenang di markas. Hanya pesan pendek lewat jalur biasa. Orin membaca satu kali. "Berangkat besok pagi."Mereka tiba di Sagehold menjelang siang. Geminia berjalan dengan langkah sedikit lebih hati-hati, sisi tulang rusuknya masih sesekali mengingatkan keberadaannya.Sagehold terasa berbeda. Penjaga di gerbang memeriksa setiap kereta dua kali. Pasar mulai sepi sebelum tengah hari. Terlalu banyak prajurit bergerak dengan langkah yang terlalu tergesa untuk patroli rutin."Ada yang aneh," gumam Orin ke Leo."Aku juga ngerasa."Di belakang mereka, Geminio mencolek pundak Geminia, menunjuk ke prajurit muda yang berdiri kaku di depan gedung batu."Kasian banget. Kayak patung.""Mukanya kaku. Kayak baru makan emping sekarung."Mereka menepi di bawah kanopi warung kecil dekat alun-alun. Di seberang jalan, dua pria tua berbicara cukup keras untuk terdengar ke sini."...sudah tiga hari pasukannya keluar ke arah barat. Belum balik semua.""Katanya
Mereka tidur lama.Tidak ada yang membicarakannya, tapi semua orang melakukannya. Lampu minyak sudah padam sendiri ketika Geminio dan Geminia terlelap di kursi, belum sempat pindah ke kasur. Leo tertidur dengan punggung masih di dinding. Piscessa di lantai, senapan di sampingnya. Hanya Orin yang pindah ke kasur di sudut, meski tidak ada yang tahu kapan ia melakukannya.Siang mulai mendekat ketika Geminio akhirnya membuka mata. Ia meregangkan lengan dengan bunyi sendi yang cukup keras, lalu melirik ke samping. Geminia masih tidur, kepala miring ke sisi kursi. Di sisi tulang rusuknya ada lebam yang mulai menghitam, terlihat dari celah mantel yang terbuka sedikit.Ketika Geminia terbangun, yang pertama ia cium adalah bau kaldu."Kau masak?" suaranya masih serak."Bukan masak," jawab Geminio dari sudut dapur tanpa menoleh. "Cuma rebus air dan lempar apapun yang ada ke dalamnya.""Itu definisi masak.""Kalau kau bilang begitu, terima kasih."Geminia duduk tegak perlahan, tangannya otomatis
Menjelang dini hari, suara roda kayu terdengar memecah keheningan.Orin mendengarnya lebih dulu. Satu gerakan kecil tangannya sudah cukup membuat semua orang berubah dari waspada pasif ke waspada aktif.Konvoi kecil. Dua kereta, empat kuda, beberapa orang yang bergerak dengan cara orang yang sudah berjalan terlalu lama dan terlalu tegang. Leo maju ke tepi jalur dan berbicara pelan dengan kusir. Beberapa menit kemudian ia kembali."Kuda mereka berulah sejak tadi malam. Terus menarik ke arah yang sama tapi kusirnya tidak tahu kenapa. Ada rasa diawasi, kata mereka.""Suruh mereka pergi. Cepat. Jalur utara lebih aman malam ini."Konvoi itu bergerak lagi ke arah yang berbeda. Roda berderak di atas batu, suaranya pelan-pelan menghilang di balik tikungan.Sepi kembali. Terlalu sepi, bahkan untuk hutan yang memang sunyi.Baru beberapa menit setelah suara roda lenyap, jeritan pecah dari arah jalur yang baru saja ditinggalkan konvoi itu.Mereka bergerak ke arah suara tanpa berlari, langkah cepa
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.