LOGINShe thought he was just the principal. Strict. Cold. Dangerous in ways no man should be. He never smiled. Never softened. He ruled Hollow Creek College like a god behind glass walls. And yet he watched her. Every time she passed. Every move she made. She was only trying to survive her first year. No friends. No family nearby. But when she stepped into his office for the first time, everything changed. He smelled her innocence. She felt his hunger. What she didn't know what no one knew was that Kael Draven wasn't human. He was an alpha. A wolf bred for dominance, bound by instinct. And she had just awakened the part of him that was never meant to surface. Now she's seated beneath his gaze, caught between fear and desire. She doesn't know why her body burns. She doesn't know why he's looking at her like that. All she knows is that something inside her has changed. And Kael? He's done fighting it. This isn't a love story. It's a claiming.
View MoreVenesia, sebuah mansion megah Ignacio.
"Dimana Levi, Noa?" Seorang wanita cantik, dan sexy berdiri di depan seorang maid bernama Noa. Noa menunduk hormat, dan menjawab. "Tuan Levi belum pulang, Nona Megan." Megan Victoria Lewis. 24 tahun, tubuhnya yang jenjang dan ramping tampak sempurna dalam balutan dress berwarna hitam. Rambut panjangnya yang berkilau tergerai indah hingga pinggang, menambah pesona pada kulitnya yang halus dan bercahaya. Mata coklatnya yang tajam, kontras dengan bulu matanya yang lentik. Wajahnya, yang memadukan kelembutan dan ketegasan, diperindah dengan makeup tipis yang menonjolkan fitur alaminya. Megan bekerja sebagai model internasional yang menikah dengan Levi Ignacio, seorang CEO perusahaan bergerak di bidang industri film. Pernikahan ini terjadi akibat perjodohan konyol dari kedua orang tua mereka. Selama dua tahun pernikahan mereka, Megan tidak pernah di sentuh oleh Levi. Bahkan hubungan keduanya terkesan dingin, tidak jarang Levi bersikap kasar kepada Megan. Tidak hanya itu, Megan juga tahu jika Levi berselingkuh di belakangnya. Megan membuang napasnya kasar. "Apa Levi tidak mengatakan apapun?" "Tidak, Nona," Megan berdecak, ia merasa kesal dengan Levi yang selalu begini. "Hubungi aku jika Levi sudah pulang, dan minta dia menyusul ke mansion Mommynya." Noa mengangguk. "Baik, Nona." Megan melangkahkan kedua kakinya keluar dari mansion, ia masuk ke dalam mobilnya, dan mengendarainya menuju mansion orang tua Levi. Hari ini seharusnya Levi ingat, jika kedua orang tuanya meminta untuk mereka berdua berkunjung. Setibanya di mansion megah milik keluarga besar Ignacio, Megan turun dari mobilnya. Melangkah masuk, dan di sambut oleh wanita paruh baya yang tak lain ialah Mommy Levi. Wanita paruh baya itu memeluk Megan. "Kau sendirian lagi, Sayang? Dimana, Levi?" Megan membalas pelukan mertuanya sebentar. "Levi ada meeting di luar kota, Mom. Mungkin nanti akan menyusul." "Baiklah, kita masuk dulu." Wanita itu membawa Megan menuju ruang keluarga. Setibanya di ruang keluarga, Megan duduk di depan kedua orang tua Levi. Abraham, dan Emma. "Daddy, dan Mommy tidak ingin berbasa-basi. Megan, jadi mau sampai kapan kalian akan menunda untuk memiliki seorang anak?" Suara seorang pria paruh baya yang tak lain ialah Abraham menyapa telinga Megan, sebuah pertanyaan penuh dengan intimidasi itu membuat Megan mendongak. Rasanya ia ingin sekali mengatakan jika Levi tidak pernah menyentuhnya. "Kami berenc—" "Atau jangan-jangan kau tidak bisa memiliki anak, dan memberikan keturunan untuk Levi. Megan?" Pria itu menyela ucapan Megan, mengatakan sebuah ucapan yang menyakiti hati Megan. Abraham menatap Megan serius. "Sudah dua tahun kalian menikah, sudah seharusnya kalian memiliki anak. Daddy malu ketika rekan-rekan Daddy bertanya mengenai cucu, seharusnya kau memahami itu. Megan." Megan menunduk, tangannya terkepal erat. Hatinya terasa tercabik-cabik mendengar ucapan mertuanya, jika dia tidak menghormati Abraham. Mungkin Megan sudah mengamuk detik ini juga. "Daddy mau kalian secepatnya memberikan keturunan, jika memang kau bermasalah. Daddy akan segera mencarikan Levi istri baru," Megan terkejut, wanita itu mendongak. Ia menatap Abraham dengan tidak percaya, bagaimana bisa pria itu berbicara seperti itu. Mencoba mengatur emosinya, Megan tersenyum, dan menjawab, "Aku akan membicarakan hal ini bersama, Levi. Dad, kami juga sedang berusaha," Emma mendecih. "Jika kau berusaha, tidak mungkin akan selama ini. Sayang." "Maafkan Megan, Mom, Dad. Nanti Megan akan bicarakan lagi dengan Levi," Abraham mengangguk. "Jangan hanya di bicarakan, jika bisa langsung menghasilkan. Kalian sudah menikah dua tahun, sudah seharusnya sadar." "Baik, Dad." Megan membuang napasnya kasar, ia berdiri. "Kalau begitu Megan kembali dulu, hari ini ada pemotretan." Abraham, dan Emma berdiri. Jika Abraham hanya berdiam diri di tempat, berbeda dengan Emma yang mengantarkan Megan sampai ke depan mansion. Setibanya di depan mansion, Emma menahan Megan yang akan masuk ke dalam mobil. "Kurangi aktivitasmu, Megan. Seorang suami tidak akan suka jika istrinya sangat sibuk, apalagi kalian sedang program hamil. Bagaimana kau bisa hamil jika terus sibuk?" Lagi, kata-kata yang menyakitkan tertuju padanya. Mengiris hatinya, di sini seakan-akan hanya Megan yang bersalah. "Aku akan mengurangi aktivitasku, Mom. Kalau begitu Megan permisi." Megan ingin memeluk Emma, namun Emma terlebih dahulu menyingkir. Tidak ingin lama-lama di sana, Megan segera masuk ke dalam mobil. Wanita itu melampiaskan rasa sakit hatinya dengan mengemudikan mobilnya secepat mungkin, dan membiarkan air matanya luruh membasahi pipi. Sementara itu di tempat lain, di sebuah club malam. Seorang pria paling berpengaruh tengah memasuki ruangan dengan langkah mantap yang mencerminkan kekuasaan dan kepercayaan diri yang ia miliki. Tingginya yang menjulang dengan postur tubuh yang atletis menambah aura intimidasi yang alami. Zachary Alexander, pria berusia 28 tahun yang tidak hanya dikenal sebagai billionaire tetapi juga sebagai mafia nomor satu di Italia, kulitnya yang eksotis berwarna kecoklatan berpadu sempurna dengan mata yang tajam, seolah mampu menembus batas apa pun yang berani menghalanginya. Rambut hitam pekatnya tertata rapi, mengkilat di bawah sorotan lampu ruangan, semakin menegaskan kemapanan dan ketegasan karakternya. Setiap tatapan yang dilemparkan bukan hanya sekedar melihat, tetapi seperti sedang mengukir kesan yang mendalam bagi siapa pun yang menjadi sasaran pandangannya. "Dimana dia?" Suara bariton itu terdengar menyapa telinga seorang pria yang tak lain ialah saudaranya, Edgar. "Dia ada di dalam, mau langsung kau eksekusi?" Zachary menyeringai, ia melirik Edgar sejenak. "Bukankah bermain-main sejenak lebih bagus?" Edgar tertawa, Zachary memang selalu begitu. Ia tidak akan langsung menumbangkan musuhnya, melainkan bermain-main terlebih dahulu. Hingga musuhnya sendiri yang akan memohon kematian pada Zachary. Setibanya di ruangan privat, Zachary melihat seorang pria sedang duduk terikat di kursi. Mulutnya tertutup lakban, pria itu terlihat menggeliat ketakutan. Zachary mendekat, ia mengeluarkan belati kecil miliknya. Dengan gerakan cepat, Zachary. mengukir wajah pria itu. Hingga darah bercucuran dari wajahnya. Pria itu ingin berteriak, tapi tidak bisa. Sebab, mulutnya di bungkam dengan lakban. Tubuhnya bergetar hebat, sementara Zachary terus mengukir wajah pria itu sampai kulitnya benar-benar terkelupas. Lama Zachary menyiksa pria itu, setelahnya. Zachary menjauh, ia menatap pria di depannya dengan puas. "Bawa dia ke markas, aku akan bermain-main lagi dengannya nanti." Zachary menjauh, begitu juga dengan Edgar. "Kau tidak ingin bersenang-senang?" Edgar melirik ke arah ruangan atas, tempat dimana mereka biasanya bersenang-senang dengan wanita. Zachary menatapnya datar. "Kau tahu aku tidak menyukainya bukan? Jadi untuk apa kau bertanya?" Edgar terkekeh, ia menepuk lengan adik sepupunya itu. "Yasudah, kalau begitu aku pergi dulu. Kau bisa menungguku di luar." Zachary tidak menjawab, ia hanya mengacungkan jempol ke arah Edgar. Lalu melangkah pergi meninggalkan Edgar. Pria itu duduk di kursi, dan menikmati wine. Sembari melihat beberapa orang yang sedang berdansa di lantai dansa. Sedangkan Megan, ia menapaki lantai club malam yang redup di Venesia, dengan hati yang serasa remuk. Sebelumnya, air mata telah mengalir deras saat mertuanya menghina bahwa dia mandul dan tidak mampu memberikan keturunan. Keadaan semakin buruk ketika dia memikirkan suaminya, yang seharusnya menjadi penopang hatinya, justru terlibat asmara terlarang dengan wanita lain. Megan duduk di kursi, ia meneguk wine sebanyak-banyaknya. Melampiaskan rasa sakitnya, melampiaskan rasa sesak yang menghantam di benaknya. Hingga, matanya menatap sosok pria yang duduk di ujung depannya. Dengan segala rasa frustasi, dan sakit hatinya. Megan mendekati pria tampan itu, membuat pria tampan yang tak lain ialah Zachary mendongak. "Apa kau membutuhkan sesuatu?" Zachary menatap Megan dengan datar. Megan menghela napasnya, ia mengeluarkan black card di atas meja Zachary. "Aku akan membayar berapapun yang kau mau—asalkan kau bisa membuatku puas, dan hamil!" Zachary menaikkan sebelah alisnya, pria itu menatap Megan dengan tatapan datar. "Apa kau sudah gila?" "Aku mohon, aku akan membayar berapapun yang kau mau." Megan semakin mendekati Zachary. Wanita itu menatap memohon pada Zachary. "Aku mohon, kau bekerja sebagai gigolo bukan? Jadi tidak ada alasan untukmu menolakku." Megan merasa ia sudah gila, rasa frustasi yang ia rasakan membawanya pada keputusan seperti ini. Megan ingin menyerahkan dirinya pada Zachary, mencari pelarian dari kenyataan pahit yang menerpa hidupnya. Dalam hal ini, Megan berharap bisa menemukan sedikit kelegaan, bahkan mungkin, secercah harapan untuk masa depan yang lebih bahagia. 'Fuck!' batin Zachary. Zachary terdiam sejenak, dan nampak tergoda. "Kau mengira aku gigolo bukan?" Megan mengangguk pelan. Diiringi dentuman musik yang keras, Zachary berdiri. "Baiklah, aku akan memuaskanmu, dan membuatmu hamil." Zachary menarik Megan, ia membawa Megan meninggalkan club dan ntah menuju kemana. Sebab, Zachary adalah sosok pria misterius.Rafe’s POVThe forest wrapped around him like a second skin. The night was cold but the earth beneath his feet still held the heat of the day, the soil breathing out soft warmth with every step. He moved in silence, his form shifting through shadow and branch until he reached the ridge overlooking the academy grounds.There it was again. The scent that had been clinging to the wind for days. Wolf. Pack. Authority. Rage wrapped in restraint.Kael.Rafe smiled to himself, slow and amused. The man thought he could stalk him, hunt him, root him out before he made a move. But Kael was already too late. The game had begun long before he ever scented danger. Long before Eden ever felt watched. Long before whispers of missing livestock near the outskirts of town had made Kael sharpen his focus.Rafe crouched at the tree line, his knuckles brushing the damp leaves. He had circled the academy three times that night, memorizing the patrol routes of Kael’s pack members. They were skilled but pred
Eden’s POVThe first lecture of the term was already underway, yet my focus was nowhere near the board or the professor’s droning voice. I sat near the middle row of the lecture hall, my notebook open and blank, pen tapping idly against the page. Around me, students whispered to one another, some already restless, some half-asleep, but I could not tune into their rhythm.My gaze kept drifting to the windows.They lined the far wall, tall panes of glass that stretched toward the sky and overlooked the courtyard and the edge of the forest beyond. The sun streamed through them, bright and golden, but it only made the shadows seem darker. Every time I let my eyes rest there, I felt it. A pressure. A weight. As though something lingered just out of sight, standing still, waiting.I pressed my pen harder into the paper, willing myself to write even a word, but the letters blurred before I could form them. My hand trembled, and I quickly tucked it under the desk before anyone could notice.L
The first morning back at the academy was supposed to feel normal. That was what I told myself as I stood in front of the mirror, tugging my sweater into place and tying my hair with slow, distracted movements. The light filtering in through the tall windows carried the pale gold of early morning, and outside, I could hear the chatter of students hurrying across the grounds. The air buzzed with the restless energy of return, of routines resuming, of a thousand footsteps filling the hallways again.Normal. That was the word Layla had used last night. She had laughed as she unpacked her things, throwing her shoes into a corner and complaining about how fast the break had gone by. “Back to normal,” she had said, her voice cheerful, her eyes full of plans.But for me, the word settled differently. Heavy. Bitter.I buttoned my coat slowly, listening to the sounds outside. Laughter drifted through the open window, the kind that belonged to people who had not spent their nights haunted by sh
Kael’s POVThe forest was alive in ways most mortals would never understand. Every branch creaked like a warning, every gust of wind carried the trace of something hidden, and every shadow stretched longer than it should have under the pale light of the moon. Kael moved with a predator’s stillness, each step silent even when the earth beneath him threatened to crackle. His senses were wide open, straining to catch the faintest hint of what he sought.The shapeshifter had been near. He could feel it as clearly as he felt the thrum of his own pulse. The scent was faint, a distortion in the natural rhythm of the forest, an oil slick running through water. It made his skin crawl. And beneath it all, threaded in the sharp tang of earth and night, was something that twisted his focus in ways he did not want to admit. Eden. Her scent lingered even here, though she was nowhere near the forest. It had soaked into his instincts, refusing to release him.Kael pressed a hand against the bark of a
Eden’s POVThe mall lights blurred in my vision as Claire chattered beside me, her hands full of bags, her voice spilling excitement over which outfits she would wear first. I nodded when she looked at me, murmured back the right words, but none of it sank in. My pulse was still racing from the kis
Eden’s POVClaire was already buzzing again, tugging me into another boutique with racks of dresses that glittered under the soft lights. She was in her element, brushing fabrics between her fingers, holding dresses against her body in the mirror, spinning small jokes about what would look good on
Eden’s POVI stood frozen at the top of the escalator, the hum of the mall around me dimming beneath the weight of his stare. People brushed past me in waves, their laughter and chatter spilling like water over stones, but none of it reached me. All I felt was the tether that stretched across the d
Rafe’s POV The fire burned lower as the night deepened, shadows stretching long and ragged across the forest floor. The rogues settled into their positions around the clearing, sharpening blades, cleaning claws, and whispering about the blood that would one day be spilled. But Rafe did not linger.






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews