LOGINImani, a girl who had been abused from a young age gets kidnapped one night in the outer states. All Imani ever wanted was to be afloat, to be non-existent but after she escapes from her captor the second time, being free becomes a luxury that she can not afford. Convicted of two murders, how was it possible to be non-existent? This story is based in the inner states, outer states and higher states. Let your imagination lead.
View More“Wow.”
Tanpa sadar BJ melontar kekaguman. Ia kini berada di depan gerbang sebuah mall. Mungkin bukan mall terbesar ibukota namun bagi seorang bocah kampung, bagi BJ itu adalah mall terbesar yang pernah dimasuki. Dengan sedikit ragu, ia melangkah masuk.
Dan lagi-lagi sebagai seorang bocah kampung, ia ternganga. Begitu berjibun orang yang ada di dalamnya. Di pelataran lobby, di tangga-tangga eskalator, di depan aneka counter, di dalam banyak restoran, showroom mobil, semuanya. Seisi kota kecamatan Bayung di Sumatera Selatan yang ia pernah tinggali pun warganya tidak sebanyak ini. Keadaan di dalam mall secara sekilas menurutnya mirip keadaan di dalam sarang semut di Simpang Pauh. Sama-sama padat dengan makhluk hidup dengan labirin mengular kesana-kemari.
BJ terus berkeliling. Berpindah dari satu lantai ke lantai lain. Sampai ia tiba di lantai teratas mall yang dipenuhi ratusan kios ponsel.
Matanya tiba-tiba terpaku pada seseorang. Ia memicingkan mata. BJ tidak percaya dengan pemandangan di depannya. Tanpa ragu ia menyapa orang yang tengah duduk di depan sebuah kios ponsel.
“Bayu?”
Orang itu menoleh. Seketika matanya membelalak.
“Nathan?”
"Haloooo wong kito," kata BJ. Keduanya nampak terkejut dengan pertemuan yang tak terduga. Laiknya saat Tinky Winky dan Dipsy melakukan pertemuan, keduanya serta-merta langsung berpelukan.
“Ya ampun, apa kabarnyo? Wah, kurus nian kau, Bay.”
Rekan BJ itu tersenyum kecil. “Atletis maksudmu, Nathan?”
BJ mencibir. “Di sini gue dipanggil BJ.”
Bayu sedikit tersedak. “Wow, mentang-mentang di Jakarta sekarang ngomong lu-gue.”
“Masih suka salah-salah, Bay. Kadang terpeleset, campur-campur logat Melayu juga.”
“Kalo gitu langsung ngomong lu-gue aja,” Bayu mengedip mata. “Jadi sekarang ini, di Jakarta, Benny Jonathan maunya dipanggil BJ?”
“Begitulah.”
BJ kemudian duduk di sebuah kursi kosong. Berdampingan dengan Bayu yang sepertinya sudah mau melakukan transaksi pembayaran di kios ponsel itu.
Jakarta adalah kota asing bagi BJ. Kota yang ia dan keluarganya baru saja tinggali sejak akhir 2019 ini memiliki banyak hal dimana ia perlu beradaptasi. Perbedaan bahasa, budaya, gaya hidup, lingkungan, teknologi kadang membuatnya sedikit tergagap. Ada yang cepat teratasi, ada yang sedikit butuh waktu. Hingga satu bulan keberadaannya di Jakarta rasanya hanya masalah bahasa dan benturan budaya yang terkadang menjadi sandungan. Dibandingkan dengan Palembang yang sebelumnya ia tinggali selama setahun pun ibukota tetap menampilkan wajah dingin dan angkuh. Perbedaan itu melebar jika dibandingkan dengan kehidupannya di kota kecamatan yang belasan tahun ia tinggali.
“Gimana kabar temen-temen di SMP?” tanya Bayu setelah keduanya bicara banyak hal.
“Temen-temen kita pada berubah, Bay. Apalagi Trio Kwek-kwek.”
“Emang gimana kabar Dedi, Nunung, sama Jumali?”
“Si Dedi berubah gara-gara dapet warisan. Si Nunung juga berubah gara-gara salah operasi mulut. Apalagi Jumali, dia berubah gara-gara salah pergaulan.”
“Coba cerita satu-satu. Dedi kenapa?”
“Dia berubah jadi sombong.”
“Nunung?”
“Dia berubah jadi monyong.”
“Jumali?”
“Dia berubah jadi bencong.”
*
Di dalam sebuah rumah yang sebagian disulap menjadi sebuah toko, kesibukan malam terjadi.
Ada banyak orang yang menghuni tempat itu. Ada sepasang suami isteri yang biasa dipanggil Abah dan Emak. Ada Minel anggota termuda yang berusia tiga tahun. Ada Nyai, ibunda Emak yang baru minggu lalu merayakan hari jadi ke-68. Ada pula seorang asisten rumah tangga bernama Mbok Min yang sudah hampir tiga tahun melayani keluarga itu.
Malam itu di meja makan sudah ada Abah dan Nyai. Abah terlihat bahagia betul. Kebahagiaan itu karena keberhasilan mendapat kontrak bisnis kayu dengan salah seorang pelanggan Abah. Bagi dirinya yang mejadi tulang punggung keluarga, mendapat kontrak itu benar-benar merupakan berkah karena hasilnya bisa menghidupi keluarga untuk tiga bulan ke depan. Mungkin malah bisa empat bulan jika mereka rajin berhemat. Mereka adalah keluarga dengan ekonomi menengah sehingga penggunaan keuangan mutlak dibatasi ketat.
“BJ kok ndak keliatan. Dia di mana, Abah?“
“Jalan-jalan ke mall.“
Emak terlihat agak kaget. “Jalan-jalan? Abah yang kasih ijin?“
“Iya, sekalian minta dia tolong cari-cari ponsel. Siapa tau bisa dapet ponsel tiga ratus ribuan. Lagian biarin BJ santai dulu. Besok hari Senin kan dia mulai masuk ke sekolahnya yang baru.“
“Abah, jangan sering-sering kasih kerjaan ke BJ,” Emak menyatakan keberatannya. “Kasihan dia. Angkat kayu, minta tolong BJ. Angkat cat, minta tolong BJ. Antar barang, minta tolong BJ. Bersihin kamar mandi, minta tolong BJ. Mentang-mentang rajin, Abah teruuus minta tolong dia.”
Nyai yang duduk di samping Abah langsung menimbrung. “Kenapo?”
“Si Abah, apa-apaminta tolong BJ,” Emak mengadu. “Bantu pindahan barang, angkat kayu, angkat cat, beli ini-itu, angkat ini-itu.”
“Kalo gitu kenapo ndak minta tolong ke Nyai? Pasti Nyai bantú angkat-angkat,” kata Nyai lagi. Mulutnya mengunyah-ngunyah daging rendang dari semenjak dua menit lalu. Dagingnya alot. Bisa jadi karena diambil dari sapi yang sama uzur dengan Nyai.
“Terima kasih, Nyai. Tapi ndak sekarang. Lain kali saja.”
“Iya. Nyai memang rajin. Kemarin, sewaktu ada jemuran ketiup angin, Nyai yang angkatin,” Abah memuji-muji mertuanya. Kegembiraannya bisa jadi karena terpengarauh kebahagiaan akibat mendapat kontrak,
Nyai melepeh daging alot ke pinggir piring. Menyerah akan kealotan tetelan daging. “Biar pun wong tuo, Nyai mau rajin terus. Ndak mau malas.”
“Bagus.”
“Ado barang yang jatuh pasti Nyai angkatin. Nyai ndak mau rumah berantakan.”
“Bagus.”
“Ada pensil jatuh, Nyai angkat. Begitu juga buku, tisyu, pembalut,”
“Hebat.”
“Waktu itu sikat gigi Abah, Nyai jugo yang angkat.”
“Sikat gigi Abah yang warna merah-biru?” tanya Emak yang hafal bahwa sikat gigi Abah memang berbeda sendiri.
“Iya,” kata Nyai. “Nyai angkat lagi.”
Abah yang baru menyelesaikan makanannya, mendadak terdiam.
“Lagi? Maksudnya ‘Nyai angkat lagi’ itu apa?”
“Tadi siang sikat itu Nyai ndak sengajo jatuhin ke lantai. Maaf ya.”
“Ohhh. Ndak apo-apo, Nyai. Waktu barusan Abah pake kondisi masih bagus, gagangnya ndak patah. Cuma jatuh ke lantai toh?”
“Jatuhnya itu mental,” kata Nyai innocent. “Mental, terus… plung! Jatuh.”
“Jatuh?”
“Ke lobang kloset.”
*
SIXTEEN‘’ Don’t move,’’ he says.Hearing that voice makes me automatically move and turn around. ‘’What the fuck!’’He lowers his eyes and puts his knife back in his boots. I also return mine to my belt holder and veil it with my shirt then pick my food from the ground.‘’ Dwayne, why are you following me?’’Now, he readjusts his stance. ‘’This is not the way back to the house.’’‘’ What?’’ I ask, blinking rapidly. ‘’ I am not allowed to have a personal business?’’Dwayne scoffs. "I really don't understand the game you are playing, Imani. If that's even your name, but whatever you do, do not touch Zuri."I roll my eyes with my head. " You have said that be
FIFTEENToday, Zuri sold two lanterns. I was not there when she sold them but I can spot that something has been removed. She sold one from the "Memory" and another from the non VIP group." Where did you go?" Zuri throws to me as she writes.I shrug and look around. She pauses her writing as if that was the attention she thought I needed. When she stared that way, it made her look like her brother though she is a darker shade."Do you think you can manage this place?" She asks, already closing the ledger before her. " I need to do something.""Yes I can."I'm wearing my Spartan sandals and it slides easily against concrete so I slide over to the counter.Zuri arranges her bag while I take her seat. She hands me some money. "You can buy something to eat."I nod."Don't mess it up," s
FOURTEENI slowly turn and let out a laugh when I fully face him. "How long have you been there?"He begins to move in. " Long enough to see a different part of you."Suddenly lacking words, I walk to the chips and pick it from the floor then I return to the window and begin to chew carelessly with my eyes in his direction.Dwayne keeps his palms on the back of the long Sofa, facing the television - facing me."Where is your family?" he asks.I say nothing."Were you married, Imani?"That question makes me smile and then I exhale. Some of the weight dissolves and spreads again inside me returning to their crooks."Well, did you have a child?"I do not understand the pamphlet his questions are coming from. The absurdity is pushing me to laugh out loud. He seems to be randomly t
THIRTEENThere is a thing they do every weekend. I do not why no one told me that earlier. But I am sitting at my usual spot beside the stool in the parlor when Zuri skips in."They are here!" She says like we talked about "they" coming.I get up and stand beside the television and wait. She fumbles with the chain that links the door to the wall then moves the bolt.Once the door opens, there are shouts and plenty of heads. I walk away to my room. I stand close to the window and look down. There is nothing much to see but a laundry line.The door bursts open and I know it is Zuri. She stands there for a while then begins to walk closer to the window. I turn around."I hope you understand what happened last night was for you," she says.I raise an eyebrow and frown. " What was for me?"She sig
TWELVEZuri leads the way. She seems to know the bouncers at the door. Just a wink at them and we are in. I have been to a club before and this place, if it is a club. It is a different kind of club; it seems like a sex club.At a corner by the bar was
ELEVENI am in my new room when Zuri's door opens. She walks down to my room, slightly opens the door and throws in her head. "Hey."I wave in return and she goes out. Her footsteps move to the sitting room. I know she is about to watch that silly military mo
NINEThe lantern shop now has a different look. I stand outside and admire the best models displayed at the window. Anyone would want to stop and check out a piece or two here. I am wearing joggers and a round neck t-shirt Zuri gave me with an ugly sandals she bought around the
EIGHTSomeone is touching my leg. I first felt it from my sleep. I slowly open my eyes and note where I slept close to the television. I note that I slept. My spirit lifts even as I watch the boots that crossed over my leg. The person puts off the television and walks towards t
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews