共有

BAB 221

作者: Langit Parama
last update 公開日: 2026-02-07 06:57:02

“Kenapa tiba-tiba?” tatapan Radja mengeras, menggelap perlahan. “Apa terjadi sesuatu? Kaisar mengancam kamu?”

Djiwa menunduk, menarik napas panjang seolah mengumpulkan sisa keberanian.

“Sejak awal, yang ingin Djiwa bercerai dari Mas Kai itu … Mas Radja,” ucapnya lirih.

Ia mengangkat kepala, menatap Radja dengan sorot mata yang jujur. “Bukan Djiwa.”

Radja terdiam.

“Mas yang menyusun semua rencana itu,” lanjut Djiwa, suaranya mulai bergetar. “Tanpa pernah benar-benar menanyakan apa Djiwa set
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (8)
goodnovel comment avatar
Dawi Royani
bgmn seh blokir iklan terutama iklan shoope BKN gregetan ...
goodnovel comment avatar
Sri Agus s
iklanya buat emosi
goodnovel comment avatar
Sri Agus s
kasihan nasib jiwa
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 546

    “Kamu bener-bener mau pergi, Mas?” suara Djiwa terdengar tertahan pagi itu, saat melihat Radja sudah berdiri rapi dengan setelan kerjanya, satu koper berukuran sedang berada di samping kaki pria itu. Radja hanya mengangguk singkat. “Iya, sayang. Ada hal penting yang harus saya urus di sana.” Djiwa menggeleng pelan, langkahnya mendekat. “Aku udah bilang semalem, jangan pergi,” ucapnya pelan, namun sarat penekanan. Satu alis Radja terangkat tipis. “Kamu tidak paham arti ‘penting’, hm?” Kalimat itu membuat dada Djiwa terasa semakin sesak. “Berapa lama?” tanyanya lagi, kali ini suaranya bergetar. “Saya belum tahu. Tidak bisa dipastikan.” “Sepuluh hari kayak biasanya?” Djiwa mencoba menebak, meski hatinya menolak jawaban itu. Radja menggeleng pelan. “Bisa lebih.” Hening sejenak. Djiwa menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan, berusaha menenangkan diri yang mulai runtuh. “Aku ikut,” ucapnya tiba-tiba. “Aku harus pastiin kamu baik-baik aja di sana.” “Djiwa ….” sua

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 545

    “Akhir-akhir ini kamu kelihatan, menyimpan sesuatu,” ucap Kaisar pelan malam itu. Suaranya tenang, tapi cukup tajam untuk menembus diam yang dibangun Karin. “Kamu takut?” Karin yang sejak tadi duduk termenung di tepi ranjang hanya menggeleng pelan, meski jemarinya saling menggenggam gelisah di atas pangkuan. “Jangan seperti itu,” lanjut Kaisar, kini menoleh sepenuhnya ke arahnya. “Kalau ada apa-apa, kamu harus cerita sama saya.” Hening sejenak. Karin akhirnya menoleh, menatap suaminya dengan sorot mata yang sulit ditebak—campuran antara ragu dan sesuatu yang lebih dalam. “Kalau aku takut …,” suaranya lirih, hampir seperti berbisik, “Kamu mau lindungin aku?” Kaisar tak ragu. Tangannya terulur, menyentuh perut istrinya dengan lembut, seolah memberi rasa aman. “Tentu saja,” jawabnya tegas. Tatapan Karin melembut, namun ada kegelisahan yang tak sepenuhnya hilang. “Kamu harus janji, ya,” lanjutnya, menatap Kaisar lekat-lekat. “Lindungin aku dari apa pun itu.” Kaisar mengangguk ta

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 544

    “Ngomongin apa aja, sih, Mas, sama Mas Sultan?” tanya Djiwa pelan setelah Sultan benar-benar meninggalkan rumah. Radja yang sedang bersandar di kepala ranjang hanya menggeleng ringan. “Bukan apa-apa.” Djiwa menatapnya lekat, ada jeda sebelum kembali bertanya. “Kamu gak mau kasih tahu aku? Ini privasi?” “Hm,” sahut Radja singkat. Djiwa menelan ludahnya, suaranya melembut namun sarat kekhawatiran. “Apa ini soal kesehatan kamu? Dokter bilang waktu kamu—” “Bukan,” potong Radja cepat, nada suaranya tetap tenang. “Jangan khawatir berlebihan.” “Terus apa, Mas?” desak Djiwa, kali ini sedikit lebih pelan, namun terasa menekan. “Kamu bener-bener gak mau kasih tahu aku?” Radja menatapnya sejenak, lalu berkata rendah, “Ini bukan untuk diketahui orang luar, sayang.” Kalimat itu membuat dada Djiwa terasa sesak. “Aku bukan orang luar, Mas,” balasnya lirih. “Aku istri kamu.” Radja menghela napas tipis. “Maksud saya kamu orang luar untuk kehidupan pribadi Sultan.” Djiwa akhirnya hanya menga

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 543

    “Daddy akhirnya pulang …!” seru Ratu riang saat melihat ayahnya tiba di rumah siang itu, berjalan perlahan dengan bantuan sang ibu. Radja tersenyum tipis. Tatapannya melembut melihat putri kecilnya yang begitu antusias menyambut kepulangannya. Tanpa menunggu lama, Ratu berlari kecil menghampiri. “Biar Ratu bantu Daddy masuk ke rumah,” ucapnya polos, kedua tangan mungilnya langsung meraih lengan sang ayah, seolah benar-benar menjadi penopang tambahan. Radja terkekeh pelan. “Terima kasih, putri Daddy yang paling baik.” Ratu tersenyum bangga. Sementara itu, Regan dan Naren berdiri di ambang pintu, menunggu dengan tenang. Tatapan mereka tertuju pada sang ayah, memastikan pria itu benar-benar baik-baik saja. “Pelan-pelan, Dad,” ucap Regan, suaranya lebih dewasa dari usianya. Radja mengangguk kecil. “Iya.” Mereka akhirnya masuk ke dalam mansion. Langkah Radja masih terlihat hati-hati, namun lebih stabil dibanding sebelumnya. Begitu sampai di dalam, Djiwa langsung mengarahkan langk

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 542

    “Pagi sekali kamu datang ke sini, Tan?” tanya Sekar saat melihat Sultan melangkah masuk ke mansion, tak lama setelah mereka selesai sarapan. Sultan tersenyum tipis. Tatapannya sempat singgah pada Kaisar, lalu bergeser pada Karin yang berdiri di sisi pria itu. Ada sesuatu yang berkilat di matanya, sebelum akhirnya ia kembali menatap sang ibu. “Ada yang perlu saya urus di sini, Mi,” ucapnya tenang. “Urus apa?” alis Sekar terangkat, nada suaranya mulai curiga. “Saya mau cek CCTV mansion. Aplikasi rekamannya di mana? Laptop atau iPad?” tanya Sultan tanpa bertele-tele. Sekar langsung mengernyit. “Untuk apa kamu cek CCTV rumah? Ada yang kamu cari? Barang Fairish tertinggal di sini?” Sultan menghela napas pendek, menahan kesabaran. “Berikan saja, Mi. Saya bukan orang luar.” Sekar mendengus pelan, masih dengan ekspresi tak suka. “Di kamar Mami. Ambil sendiri.” Tanpa menunggu lama, Sultan langsung berbalik dan melangkah menuju kamar ibunya. Beberapa menit kemudian, ia sudah duduk di t

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 541

    “Mas … kamu gak bermaksud menuduh Mami, kan?” tanya Sultan, matanya menyipit, penuh selidik. Radja menyunggingkan senyum miring. “Menuduh apa maksud kamu?” “Kalau kecelakaan ini ulah Mami.” Hening sesaat. Radja menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan, seolah sedang menahan sesuatu yang lebih besar dari sekadar jawaban. “Biar saya urus sendiri masalah ini. Nanti kamu juga akan tahu siapa pelakunya.” Tatapannya beralih ke arah lain, menghindari sorot mata adiknya. Sultan mengernyit, langkahnya maju setengah. “Jadi kamu sudah tahu?” Tak ada jawaban. Hanya diam yang menggantung, menegaskan lebih dari sekadar kata-kata. “Kalau kamu tahu, jawab saya, Mas,” desak Sultan, suaranya mulai menekan. “Biar saya bisa bantu. Ini bukan masalah kecil.” Radja tetap diam, rahangnya mengeras. “Walaupun kamu tahu,” ucapnya akhirnya, pelan, tanpa menoleh, “Saya yakin kamu justru bingung harus berbuat apa.” Sultan menatap kakaknya lekat-lekat, mencoba membaca sesuatu yang disembunyi

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 67

    “Jahat ya kamu, Kai,” desis Fairish tajam. “Sengaja kamu belain Djiwa tadi? Mau buat aku marah, huh?” bola matanya membesar karena kesal. Kaisar menghela napas panjang. “Aku bukan sengaja mau buat kamu marah, tapi itu emang hal yang harus aku lakuin kan ke dia? Djiwa istri aku mau gimanapun.” “Ta

    last update最終更新日 : 2026-03-20
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 63

    Ruang tunggu klinik fertilitas itu sunyi, hanya bunyi jam dinding yang terdengar pelan. Fairish duduk merapat pada Sultan, kedua tangannya dingin dan saling menggenggam erat di pangkuannya. Pintu ruangan dokter Hans terbuka. “Nyonya Fairish, Dokter Sultan. Maaf membuat kalian menunggu lama.” “Ti

    last update最終更新日 : 2026-03-20
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 65

    “Kamu serius?” desis Kaisar. Ia langsung bangkit dari duduknya, dan berdiri di hadapan sang istri. Tatapannya dingin dan menusuk. “Iya, Djiwa serius. Djiwa emang lihat Mas sama perempuan itu kemarin malam,” balas Djiwa tenang. Dan sebelum Kaisar sempat membalas—Djiwa menambahkan dengan suara yan

    last update最終更新日 : 2026-03-20
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 61

    “Sultan, kamu di mana?” tanya Radja pada sang adik melalui telepon. Saat ini dia masih berada di depan ruangan rawat inap kakek Djiwa yang tiba-tiba menghilang dari ruangan. Sementara Djiwa di hadapannya tampak cemas dan gelisah. “Saya baru saja keluar dari ruangan radiologi, kenapa?” suara Sulta

    last update最終更新日 : 2026-03-20
続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status