Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa

Pernikahan Dadakanku yang Luar Biasa

last updateLast Updated : 2026-09-18
By:  PiemarUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
10
25 ratings. 25 reviews
129Chapters
2.6Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Demi menyelamatkan nyawa sang ibu dan melunasi utang judi ayah tirinya, Jingga menerima pernikahan kontrak satu tahun bersama Arjuna–CEO dingin yang membenci wanita matre. Jingga mengira ia bisa kembali ke pelukan Abimana, kekasihnya yang mencintainya dengan tulus usai kontrak berakhir. Namun, Arjuna justru memberi perintah yang menghancurkan rencananya. “Putuskan pacarmu. Sekarang.” Terdesak, Jingga terpaksa menurut. Ia hanya perlu bertahan satu tahun. Namun di hari terakhir saat Jingga menyerahkan berkas perceraian, Arjuna justru merobeknya. Ia berbisik di telinga Jingga. “Masa berlaku kontrak sudah habis, Gia. Tapi pernikahan ini tidak akan berakhir.”

View More

Chapter 1

Bab 1

“Seratus lima puluh juta, Mbak Jingga. Operasi darurat Ibu Diana harus segera dilakukan hari ini. Jika tidak, maaf... kami tidak bisa menjamin keselamatan beliau.”

Suara perawat rumah sakit di seberang telepon masih menggema tajam di telinga Jingga. Kabar buruk itu menghantam dadanya begitu keras hingga tubuhnya gemetar hebat dengan lututnya membeku lemas.

Clang!

Kuas dan palet kayu di genggamannya terlepas begitu saja, jatuh menghantam lantai. Kaleng-kaleng cat di atas steger ikut tersenggol, tumpah dan menciptakan kekacauan warna-warni di sekitarnya.

Belum sempat napasnya teratur dan detak jantungnya mereda, ponsel di genggamannya kembali bergetar dan berdering nyaring. Satu nomor asing tertera di layar. Dengan jemari gemetar, Jingga menggeser tombol icon hijau.

[Selamat siang, apakah betul ini dengan Saudari Jingga Nareswari, putri dari Ibu Diana?]

[I-iya... benar. Saya sendiri. Ada apa, Pak?] suara Jingga tercekat di tenggorokan.

[Kami dari Bagian Eksekusi Agunan Bank Artha. Kami menginformasikan bahwa batas akhir Surat Peringatan Ketiga (SP3) terkait kredit macet Saudara Arman dengan jaminan sertifikat atas nama Ibu Diana telah jatuh tempo hari ini.]

Dada Jingga serasa dihantam palu. 

[M-maksudnya bagaimana, Pak? Bukankah kemarin masih ada tenggat waktu?]

[Tidak ada lagi, Mbak Jingga. Karena tidak ada pembayaran tunggakan, sore ini tim kami akan memasang plang penyegelan di lokasi. Jika tidak ada pelunasan penuh sebelum pukul lima sore, aset akan langsung kami daftarkan ke balai lelang.]

Tut... tut... tut...

Panggilan terputus. Tubuh Jingga seketika menegang kaku. Ponsel di tangannya serasa bertambah berat berkali lipat.

Kurang dari lima menit, dua bencana besar menghantam hidupnya sekaligus tanpa ampun. Yang satu mengincar nyawa ibunya di ruang ICU, dan yang satu lagi siap menjadikannya tunawisma sebelum matahari terbenam.

Jingga menatap layar ponselnya dengan dada yang terasa sesak. Ia tidak tahu bagaimana caranya mendapatkan uang senilai ratusan juta rupiah sementara penghasilannya sebagai muralis bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya untuk beberapa bulan ke depan. 

Tak ingin membuang waktu dengan meratap, Jingga membuka daftar kontak di ponselnya. Satu nama muncul di kepalanya. Mungkin, kekasihnya, Abimana bisa membantunya kali ini. 

Jemarinya yang gemetar mencoba memutar panggilan ke nomor Abimana. Namun, naasnya, justru suara operator kaku yang menyapa: Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.

“Argh, gak aktif. Di saat aku butuh banget, kamu ke mana, Bi?” gumamnya dengan perasaan kalang kabut. 

“Jingga?”

Suara bariton mengusik lamunannya. 

Jingga berjengit kaget, lalu buru-buru mengusap sudut matanya yang basah.

Seorang pria paruh baya dengan penampilan perlente berjalan mendekatinya. Dia adalah Senopati, pemilik galeri WK Art Space, tempat Jingga sedang mengerjakan proyek mural.

Jingga sempat melirik lantai yang ternoda cat akrilik. Ia sudah membayangkan omelan yang akan diterimanya.

Namun, Senopati sama sekali tidak memedulikan noda cat tersebut. Tatapannya justru tertuju pada wajah Jingga yang sembab.

“Kamu menangis?” tanya pria itu, tanpa basa-basi. 

“Maafkan saya, Pak Seno,” bisik Jingga serak, berusaha bangkit berdiri meski kakinya gemetaran. “Saya tidak sengaja mengotori lantainya. Tapi tenang saja, saya akan membersihkannya sekarang.” 

“Lupakan soal lantai,” sela Senopati dingin tetapi tegas. Pria itu bersedekap tangan di dada. Ia menatap Jingga lurus. “Katakan, berapa ratus juta uang yang kamu butuhkan untuk menyelesaikan masalahmu?”

Jingga membeku. Rahangnya mengeras kaku. Sebuah pertanyaan mencuat di dalam kepalanya. Bagaimana pria itu bisa tahu?

“Bapak... mendengar telepon saya?” tanya Jingga pelan, dilanda penasaran. 

Menangkap raut kebingungan di mata Jingga, Senopati menarik napas pendek kemudian berkata dengan tenang. “Saya tidak sengaja lewat saat kamu menerima panggilan dari rumah sakit,” jawab Senopati lurus. “Saya bisa melunasi seluruh biaya operasi ibumu siang ini. Saya juga bisa menebus sertifikat rumahmu dari bank detik ini juga.”

Mendengar tawaran yang menggiurkan dari bosnya, jantung Jingga mendadak berdetak lebih keras. Ada setitik harapan yang singgah di tengah keputusasaannya. Namun, sisi lain, logikanya menolak percaya begitu saja. Di dunia ini, tidak ada hal gratis. Apalagi, pria di depannya adalah seorang pebisnis kelas atas. Setiap kalimat yang disampaikannya pasti mengandung kepentingan terselubung. 

“Tapi gaji saya dari proyek mural ini tidak akan cukup untuk menyicil uang sebanyak itu, Pak,” tutur Jingga menatap lurus manik mata pria di hadapannya. “Saya harus menyicilnya sampai kapan?” Helaan napas berat lolos dari bibir Jingga. 

Senopati menyunggingkan senyum tipis. Sebuah senyuman misterius yang dipenuhi rencana besar. “Kamu tidak perlu membayarnya sepeserpun.”

Pria itu menggantung kalimatnya, membiarkan keheningan galeri mengambil alih. Ia berjalan mendekat, maju satu langkah, menatap Jingga dengan sorot mata yang sukar dibaca. “Asalkan...”

Dada Jingga berdesir kencang. Ia menahan napas, menunggu syarat di balik tawaran gila itu.

“...kamu mau menikah sama keponakan Saya.”

DEG.

Jingga membeku di tempat. 

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Ratings

10
100%(25)
9
0%(0)
8
0%(0)
7
0%(0)
6
0%(0)
5
0%(0)
4
0%(0)
3
0%(0)
2
0%(0)
1
0%(0)
10 / 10.0
25 ratings · 25 reviews
Write a review

reviewsMore

Cahaya
Cahaya
abimana ngeselin
2026-09-16 11:41:32
2
0
Cheonsa Putri
Cheonsa Putri
semoga bagus ya
2026-09-14 18:41:33
2
1
Cahaya
Cahaya
lanjut kak Thor
2026-09-02 20:59:59
2
0
Piemar
Piemar
Dear my lovely Goodreaders, terima kasih yang sudah singgah menikmati kisah Jingga. Update setiap sore.
2026-09-01 08:18:34
2
0
Cahaya
Cahaya
baru satu bab lanjut kak
2026-08-30 20:57:07
2
0
129 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status