LOGINDemi menyelamatkan nyawa sang ibu dan melunasi utang judi ayah tirinya, Jingga menerima pernikahan kontrak satu tahun bersama Arjuna–CEO dingin yang membenci wanita matre. Jingga mengira ia bisa kembali ke pelukan Abimana, kekasihnya yang mencintainya dengan tulus usai kontrak berakhir. Namun, Arjuna justru memberi perintah yang menghancurkan rencananya. “Putuskan pacarmu. Sekarang.” Terdesak, Jingga terpaksa menurut. Ia hanya perlu bertahan satu tahun. Namun di hari terakhir saat Jingga menyerahkan berkas perceraian, Arjuna justru merobeknya. Ia berbisik di telinga Jingga. “Masa berlaku kontrak sudah habis, Gia. Tapi pernikahan ini tidak akan berakhir.”
View More“Seratus lima puluh juta, Mbak Jingga. Operasi darurat Ibu Diana harus segera dilakukan hari ini. Jika tidak, maaf... kami tidak bisa menjamin keselamatan beliau.”
Suara perawat rumah sakit di seberang telepon masih menggema tajam di telinga Jingga. Kabar buruk itu menghantam dadanya begitu keras hingga tubuhnya gemetar hebat dengan lututnya membeku lemas.
Clang!
Kuas dan palet kayu di genggamannya terlepas begitu saja, jatuh menghantam lantai. Kaleng-kaleng cat di atas steger ikut tersenggol, tumpah dan menciptakan kekacauan warna-warni di sekitarnya.
Belum sempat napasnya teratur dan detak jantungnya mereda, ponsel di genggamannya kembali bergetar dan berdering nyaring. Satu nomor asing tertera di layar. Dengan jemari gemetar, Jingga menggeser tombol icon hijau.
[Selamat siang, apakah betul ini dengan Saudari Jingga Nareswari, putri dari Ibu Diana?]
[I-iya... benar. Saya sendiri. Ada apa, Pak?] suara Jingga tercekat di tenggorokan.
[Kami dari Bagian Eksekusi Agunan Bank Artha. Kami menginformasikan bahwa batas akhir Surat Peringatan Ketiga (SP3) terkait kredit macet Saudara Arman dengan jaminan sertifikat atas nama Ibu Diana telah jatuh tempo hari ini.]
Dada Jingga serasa dihantam palu.
[M-maksudnya bagaimana, Pak? Bukankah kemarin masih ada tenggat waktu?]
[Tidak ada lagi, Mbak Jingga. Karena tidak ada pembayaran tunggakan, sore ini tim kami akan memasang plang penyegelan di lokasi. Jika tidak ada pelunasan penuh sebelum pukul lima sore, aset akan langsung kami daftarkan ke balai lelang.]
Tut... tut... tut...
Panggilan terputus. Tubuh Jingga seketika menegang kaku. Ponsel di tangannya serasa bertambah berat berkali lipat.
Kurang dari lima menit, dua bencana besar menghantam hidupnya sekaligus tanpa ampun. Yang satu mengincar nyawa ibunya di ruang ICU, dan yang satu lagi siap menjadikannya tunawisma sebelum matahari terbenam.
Jingga menatap layar ponselnya dengan dada yang terasa sesak. Ia tidak tahu bagaimana caranya mendapatkan uang senilai ratusan juta rupiah sementara penghasilannya sebagai muralis bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya untuk beberapa bulan ke depan.
Tak ingin membuang waktu dengan meratap, Jingga membuka daftar kontak di ponselnya. Satu nama muncul di kepalanya. Mungkin, kekasihnya, Abimana bisa membantunya kali ini.
Jemarinya yang gemetar mencoba memutar panggilan ke nomor Abimana. Namun, naasnya, justru suara operator kaku yang menyapa: Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.
“Argh, gak aktif. Di saat aku butuh banget, kamu ke mana, Bi?” gumamnya dengan perasaan kalang kabut.
“Jingga?”
Suara bariton mengusik lamunannya.
Jingga berjengit kaget, lalu buru-buru mengusap sudut matanya yang basah.
Seorang pria paruh baya dengan penampilan perlente berjalan mendekatinya. Dia adalah Senopati, pemilik galeri WK Art Space, tempat Jingga sedang mengerjakan proyek mural.
Jingga sempat melirik lantai yang ternoda cat akrilik. Ia sudah membayangkan omelan yang akan diterimanya.
Namun, Senopati sama sekali tidak memedulikan noda cat tersebut. Tatapannya justru tertuju pada wajah Jingga yang sembab.
“Kamu menangis?” tanya pria itu, tanpa basa-basi.
“Maafkan saya, Pak Seno,” bisik Jingga serak, berusaha bangkit berdiri meski kakinya gemetaran. “Saya tidak sengaja mengotori lantainya. Tapi tenang saja, saya akan membersihkannya sekarang.”
“Lupakan soal lantai,” sela Senopati dingin tetapi tegas. Pria itu bersedekap tangan di dada. Ia menatap Jingga lurus. “Katakan, berapa ratus juta uang yang kamu butuhkan untuk menyelesaikan masalahmu?”
Jingga membeku. Rahangnya mengeras kaku. Sebuah pertanyaan mencuat di dalam kepalanya. Bagaimana pria itu bisa tahu?
“Bapak... mendengar telepon saya?” tanya Jingga pelan, dilanda penasaran.
Menangkap raut kebingungan di mata Jingga, Senopati menarik napas pendek kemudian berkata dengan tenang. “Saya tidak sengaja lewat saat kamu menerima panggilan dari rumah sakit,” jawab Senopati lurus. “Saya bisa melunasi seluruh biaya operasi ibumu siang ini. Saya juga bisa menebus sertifikat rumahmu dari bank detik ini juga.”
Mendengar tawaran yang menggiurkan dari bosnya, jantung Jingga mendadak berdetak lebih keras. Ada setitik harapan yang singgah di tengah keputusasaannya. Namun, sisi lain, logikanya menolak percaya begitu saja. Di dunia ini, tidak ada hal gratis. Apalagi, pria di depannya adalah seorang pebisnis kelas atas. Setiap kalimat yang disampaikannya pasti mengandung kepentingan terselubung.
“Tapi gaji saya dari proyek mural ini tidak akan cukup untuk menyicil uang sebanyak itu, Pak,” tutur Jingga menatap lurus manik mata pria di hadapannya. “Saya harus menyicilnya sampai kapan?” Helaan napas berat lolos dari bibir Jingga.
Senopati menyunggingkan senyum tipis. Sebuah senyuman misterius yang dipenuhi rencana besar. “Kamu tidak perlu membayarnya sepeserpun.”
Pria itu menggantung kalimatnya, membiarkan keheningan galeri mengambil alih. Ia berjalan mendekat, maju satu langkah, menatap Jingga dengan sorot mata yang sukar dibaca. “Asalkan...”
Dada Jingga berdesir kencang. Ia menahan napas, menunggu syarat di balik tawaran gila itu.
“...kamu mau menikah sama keponakan Saya.”
DEG.
Jingga membeku di tempat.
“Manda, kenalin, Jingga, istriku.” Suara Arjuna terdengar tenang dan santai, seolah tidak ada beban sama sekali. Deg,Senyum di wajah Amanda memudar. Matanya yang jernih melebar mendengar pengakuan Arjuna. Namun, karena Amanda seorang CEO yang memiliki emosi yang cukup stabil, dalam hitungan sepersekian detik, wanita ini pandai mengendalikan emosinya. Ia menarik napas pelan kemudian bersuara kembali. “Istri?” nada suaranya sedikit bergetar. “Kamu udah nikah, Jun? Kenapa Papa dan Om Seno sama sekali gak cerita ke aku?”“Pernikahan kami diadakan secara tertutup.”Jawab Arjuna singkat. Tangannya yang kokoh melingkari tubuh Jingga, mengelus pinggangnya dengan lembut. Tatapan mereka sempat bersibrobok dalam sekejap. Jingga mengerjap. Ia berpikir kalau Arjuna tidak akan memperkenalkan dirinya sebagai istrinya. Namun, jauh panggang dari api. Arjuna tidak segan memperkenalkannya. Tatapan Amanda langsung tertuju pada Jingga. Ia juga telah salah mengira kalau Jingga adalah salah satu sepupu
Tubuh Jingga mematung kaku tatkala melihat pemandangan di dekat rak bunga. Arjuna tengah berpelukan dengan seorang wanita cantik nan mempesona. Meski dari jarak jauh, ia bisa melihat siluet tubuh indah dan penampilan paripurna wanita itu.Setelan modis yang mencerminkan kelas sosial tinggi dan tampak sepadan dengan seorang CEO seperti Arjuna. “Mas,” gumam Jingga tanpa sadar. Entah kenapa, melihat pemandangan itu, ada gelenyar aneh yang mencubit dadanya. Ia buru-buru menunduk. Sementara itu Arjuna tengah mengobrol hangat dengan wanita itu. “Juna, aku kangen banget sama kamu.” Bisik wanita bernama Amanda lembut. Pelukannya yang tiba-tiba semakin erat secara spontan. Dia memang sangat merindukan Arjuna. Sewaktu kecil mereka sangat dekat. Mereka tumbuh di lingkaran keluarga yang sama. Mendapat pelukan itu, Arjuna sempat terdiam dengan wajah menegang. Ia tidak menepis pelukan itu sama sekali karena terkejut. Namun detik berikutnya, pria itu segera sadar dan mengurai pelukan itu dengan
Chandra menangkap kamera kecil yang dilemparkan Arjuna dengan gerakan refleks. Ia menatap benda mungil itu dengan senyum sinis. Namun, tak lama kemudian, ia melemparkan kamera itu ke lantai dengan sangat kasar lalu menginjaknya hingga serpihannya tak tersisa. “Kamu pikir Eyang akan percaya dengan rekaman ini?” Suaranya terdengar tenang, sama sekali tidak merasa terintimidasi. “Siapapun bisa melakukannya, Arjuna. Jangan terlalu percaya diri!”Arjuna terdiam, wajahnya menegang. Namun, ia tetap berdiri tegak di depan pamannya. “Lakukan apapun yang kamu.” Jeda sesaat. “Tapi kali ini manipulasi murahanmu! Tapi ingat satu hal, saya tidak akan diam jika kamu mengusik istri saya!” ucapnya bernada tegas dan dingin. Chandra hanya mengisap cerutunya dalam. Tidak menyangka, permainan istrinya ini begitu mudah ditemukan oleh Arjuna. …Kini Jingga dan Arjuna sudah kembali pulang ke rumah. Arjuna tidak mau tinggal lama di rumah eyangnya sebab dia merasa tidak nyaman. Apalagi insiden kamera pengin
“Mbak Fani,” pekik Rina sembari menutup bibirnya dengan satu telapak tangannya. “Aku gak nyangka, pria kulkas itu beneran gilak soal ranjang.” Wajah Fani menegang seketika. Harapannya untuk membongkar pernikahan palsu itu kandas sudah. Alih-alih mendapatkan sandiwara palsu pernikahan, ia justru mendapatkan tontonan pernikahan sesungguhnya. “Aku masih belum percaya,” gerutu Fani dengan wajah yang memerah karena menahan amarah. “Percaya matamu, Mbak? Itu jelas-jelas mereka lagi melakukan itu.” Mata Rina sampai melebar tatkala melihat adegan ketika Arjuna bergerak di atas tubuh Jingga di balik selimut. “Melakukan apa?” suara wanita lain menginterupsi mereka. Seketika Fani dan Rina menoleh ke sumber suara dengan wajah panik seperti maling yang tertangkap basah. Alih-alih merasa terintimidasi atas kedatanganya, Fani justru membalikan pertanyaan untuk menutupi rasa malunya. “Saras? Ngapain kamu di sini?”“Seharusnya saya yang tanya ngapain kamu di sini? Malam-malam lagi?” Wanita canti
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore