Mag-log inDemi menyelamatkan ibunya yang kritis dan mempertahankan rumah peninggalan almarhum ayahnya yang nyaris disita bank akibat utang judi sang ayah tiri, Jingga nekat mengambil keputusan gila. Ia menerima tawaran pernikahan kontrak dari keponakan bos tempatnya bekerja paruh waktu bernama Arjuna. Bagi Jingga, pernikahan itu murni bentuk utang budi. Kontrak selesai, mereka bercerai. Lalu ia bisa kembali kepada kekasihnya, Abimana. Namun, semakin keras Jingga berusaha menjauh, semakin Arjuna menolak melepaskannya. Hingga hari pernikahan kontraknya berakhir, Jingga menyerahkan surat perceraian. “Siapa bilang aku akan menceraikanmu?” bisik Arjuna di dekat telinga Jingga hingga membuatnya meremang tak karuan. “Kontraknya memang selesai.” bisiknya pelan. “Tapi bukan pernikahan kita.”
view more[Halo, ini dengan Mbak Jingga, putri dari Bu Diana?]
Jingga menjepit ponsel di antara telinga dan bahunya, sedangkan ke dua tangannya sibuk memegang palet dan kuas. Dia sedang bertengger di atas steger besi, menyelesaikan proyek mural sebuah kafe estetis yang menyatu dengan galeri seni WK Art Space.
[Betul, Sus. Ada apa ya?]
Wajah Jingga sontak menegang.
[Kondisi Ibu Diana kembali menurun drastis pasca terapi tadi pagi. Beliau harus segera dioperasi. Sekarang Mbak harus ke rumah sakit, urus biaya administrasi dan biaya operasi.]
Tangan Jingga yang memegang kuas seketika membeku di udara. Cat akrilik berwarna hijau zaitun menetes jatuh, mengotori lantai tanpa sadar.
[Berapa biayanya, Sus?]
[Biayanya Seratus lima puluh juta, Mbak. Itu sudah termasuk prosedur pembersihan sumsum tulang, tindakan pembedahan dan stok imunosupresan khusus yang harus tersedia sebelum operasi dimulai.]
Wajah Jingga berubah pucat pasi. Ia berkedip dua kali.
Seratus lima puluh juta? Yang benar saja! Uang di dompetnya saja hanya cukup untuk sekedar bayar ojek. Pun, proyek mural yang tengah dikerjakannya saat ini hanya bernilai di bawah sepuluh juta.
[Sus, apakah bisa kurang? Atau apakah bisa dicicil? Ibu saya tidak bisa menunggu lama, kan?]
Ia mencoba bernegosiasi kendati ia tahu jawabannya. Setidaknya, ia berusaha.
[Maaf, Mbak Jingga, untuk urusan administrasi silahkan langsung ke bagian kasir. Masalahnya, kebijakan rumah sakit mutlak. Tindakan medis akan dimulai sebelum deposit cair. Saya hanya menyampaikan instruksi dokter.]
Lutut Jingga mendadak kehilangan tenaga. Ia bergegas turun dari steger sebelum tubuhnya benar-benar ambruk, lalu terduduk lemas sambil memegangi dadanya. Kuas dan palet yang tadi digenggamnya jatuh berserakan di lantai.
Napasnya belum juga teratur ketika ponselnya kembali bergetar tetapi berasal dari nomor lain.
Jingga menelan salivanya yang terasa kecut. Dengan tangan yang masih bergetar, ia mengangkat panggilan itu.
[Halo, selamat siang! Ini panggilan terakhir dari pihak kurir Bank Artha. Surat Peringatan Ketiga atau SP3 untuk kredit rumah atas nama almarhum Aldi Heriawan telah diterbitkan. Jika tidak ada pelunasan sebagian sore ini, prosedur penyitaan aset akan dimulai besok pagi.]
Klik.
Sambungan telepon terputus sepihak. Jingga menatap layar ponselnya dengan tatapan nanar.
Dua kabar buruk menghantamnya sekaligus bagaikan badai tornado. Yang satu, mengancam nyawa ibunya di ruang ICU dan satu lagi bersiap menjadikannya tunawisma. Semua ini berkat mahakarya Arman—ayah tiri bajingan yang menimbun utang akibat usahanya yang terus gagal dan kegemarannya berjudi online.
Cairan bening sudah menggenangi kedua sudut matanya lalu perlahan jatuh menetes tanpa bisa dicegah. Bayangan ibunya yang tengah berjuang di ambang hidup dan mati terus menghantui pikirannya. Belum lagi, ancaman SP3 dari pihak bank. Rasanya, ia seperti jatuh lalu tertiban tangga. Dunia benar-benar sedang menghimpitnya tanpa menyisakan sedikitpun jalan keluar.
“Aku harus segera mencari pinjaman. Bagaimanapun, biaya operasi dan pengobatan Ibu tidak sedikit.” Helaan napas berat lolos dari bibirnya.
Gadis itu menyeka air matanya dengan punggung tangannya cepat. Ia menggulir nama di ponselnya. Ia akan menelepon kekasihnya. Barangkali dia bisa membantunya kali ini.
Jingga menepikan segala egonya asalkan bisa mendapatkan pinjaman untuk membiayai ibunya dan melunasi utang ke bank. Naasnya, ponsel Abimana, sang kekasih tidak aktif.
“Kenapa gak aktif sih Bi? Padahal aku lagi butuh kamu,” monolog Jingga dengan dengusan kasar.
Jingga tercenung sesaat, berusaha menenangkan diri. Ia mengatur ritme napasnya yang terasa kian sesak.
Ketika ia menegakkan tubuhnya yang agak limbung, barulah ia sadar, kekacauan yang telah ia buat. Pandangannya menyapu sekeliling ruangan. Palet sudah terbalik, kaleng cat tergeletak miring, sementara cat yang tumpah telah mengotori lantai.
Jingga menatap lantai agak lama. Tubuhnya mendadak kehilangan tenaga, sampai sebuah suara bariton membuyarkan lamunannya.
“Jingga, kamu baik-baik saja?”
“Pak Seno,” sahut Jingga sembari bergegas menyeka air mata yang membasahi pipinya dengan punggung tangannya.
Jingga langsung meringis. Baru juga mendapat proyek mural pertamanya di WK Art Space tersebut, ia sudah berhasil menciptakan ‘karya’ lain berupa lantai yang penuh tumpahan cat. Dan yang membuatnya ingin menghilang saat itu juga, orang pertama yang memergoki kekacauan tersebut adalah bosnya sendiri, Senopati.
“Maafkan saya, Pak. Saya tidak sengaja menumpahkan cat. Saya akan langsung membersihkannya sekarang.” Seru Jingga dengan perasaan bersalah. Semoga saja, bosnya itu tidak langsung menendangnya dari sana.
Alih-alih marah melihat kekacauan yang dibuat oleh Jingga, tatapan pria bernama Senopati justru tertuju pada wajah Jingga yang sembab. Ia melangkah maju, mendekat. “Kamu sakit Jingga?” tanyanya bernada khawatir.
Jingga mengerjap pelan. Ia sedikit terkejut melihat respons bos yang baru dua kali ditemuinya itu. Sejak pertemuan pertama, Senopati memang selalu bersikap hangat kepadanya.
Bahkan, di antara deretan seniman dan muralis profesional yang jauh lebih berpengalaman, pria itu justru memilih dirinya, seorang mahasiswi seni rupa yang masih merintis untuk mengerjakan mural di gedung galeri miliknya. Hingga kini, Jingga masih belum benar-benar mengerti apa yang membuat Senopati begitu yakin pada kemampuannya.
“Aku baik, Pak,” jawab Jingga berusaha menormalkan perasaan yang sebetulnya tak karuan.
“Jingga, sebaiknya kamu istirahat. Sepertinya kamu sedang kurang sehat. Kamu bisa lanjutkan besok lagi.” Nasehat Senopati seperti seorang bapak yang menasehati anaknya.
Jingga tercenung sesaat. Jemarinya meremas ujung apron berwarna madu yang sudah kotor sebab terkena noda cat.
Haruskah ia meminta ijin pada pria itu untuk pulang sekarang? Ibunya sedang kritis saat ini dan pihak bank sudah siap menyita rumahnya esok pagi. Kepalanya rasanya mau meledak, memikirkan dari mana ia bisa mendapatkan uang ratusan juta dalam hitungan jam.
“Jingga,” panggil Senopati kedua kalinya, membuyarkan lamunan yang berat. “Kalau kamu punya masalah, Bapak siap mendengarmu. Barangkali … Bapak bisa membantumu,” lanjut Senopati dengan tenang.
Jingga mendongak hingga tatapan mereka bertemu. Ia merasa canggung luar biasa jika harus menceritakan masalah yang dihadapinya sekarang. Namun, di sisi lain, Jingga tahu ia sudah tidak punya pilihan ataupun waktu.
Kini, mereka berdua duduk di salah satu bangku kafe yang sepi. Kafe estetik ini terletak di lantai satu gedung pertama WK Art Space, tepat berhadapan dengan dinding tempat Jingga menggambar mural tadi.
Senopati memesankan secangkir chamomile tea hangat untuk Jingga. Untuk beberapa saat, pria itu terdiam cukup lama menatap wajah gadis yang terlihat frustrasi itu.
Jingga menarik napas dalam, mengumpulkan sejumput keberanian. “Ibu saya masuk ICU, kondisinya kritis dan butuh operasi sore ini. Dan, saat yang sama, rumah peninggalan almarhum ayah terancam disita bank.” Jingga menunduk dalam. “Saya butuh setidaknya ratusan juta sore ini juga, Pak. Tapi .. isi rekening saya sekarang bahkan tidak cukup untuk membeli semangkuk mie ayam di depan galeri.”
Pria paruh baya itu tidak menunjukan reaksi yang berlebihan. Dia mengangguk paham, seolah beban berat Jingga adalah sesuatu yang seharusnya ia pikul bersama.
“Kalau masalah uang,” Ia menjeda kalimatnya, membuat Jingga mendongak reflek. “Bapak bisa melunasi biaya rumah sakit dan membatalkan penyitaan rumahmu sekarang.”
Deg,
Jingga menahan napas. Jantungnya berdegup kencang. “Bapak serius? Tapi, saya harus mencicilnya sampai kapan, Pak? Gaji paruh waktu saya tidaklah besar,”
Senopati tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius yang dipenuhi rencana besar. “Kamu tidak perlu membayarnya sepeserpun. Asalkan—” Ia menjeda kalimatnya sesaat.
Jingga terdiam menunggu kalimat berikutnya.
Senopati meneguk tehnya perlahan kemudian melanjutkan. “Asalkan, kamu bersedia menikah dengan keponakan saya,”
“Apa?”
Rahang Jingga jatuh.
Suasana mendadak hening. Arjuna menatap syal berwarna gelap di tangannya. Tatapannya lantas beralih dari syal tersebut merambat naik ke wajah Jingga yang sudah memucat seperti maling yang tertangkap basah. “Kamu bawa barang lelaki lain ke apartemen ini?”Suara Arjuna terdengar datar, tidak ada emosi sama sekali. Namun, entah kenapa bagi Jingga yang mendengarnya, rasanya seperti ditegur oleh dosen killer yang bersungut-sungut. Gadis berwajah mungil itu dilanda bingung. Haruskah ia mengatakan dengan jujur kalau syal itu milik kekasihnya ataukah mencari alasan lain agar menghindari perdebatan di awal pernikahan mereka. Jika ia berterus terang, pasti pria kharismatik di depannya akan marah padanya. Ia juga tidak tahu bagaimana pria itu melampiaskan kemarahannya dalam bentuk apa. Jingga meneguk salivanya yang tiba-tiba terasa pahit. Ke dua bibir tipisnya hendak bergerak dan bersuara, tetapi suara deheman Arjuna membuatnya mengatupkan kembali bibirnya. Masih menggenggam syal gelap ters
Setelah makan malam yang cukup menegangkan di restoran Thamrin, Abimana buru-buru pamit karena harus mengantar ibunya pergi ke rumah kerabat mereka di kawasan Pulo Mas. Ia mendekati Jingga dengan perasaan bersalah. “Sayang, maaf banget ya. Aku gak bisa anterin kamu balik ke rumah sakit lagi. Tapi tenang aja, aku pesankan taxi ya.”Jingga tertegun mendengar ucapan kekasihnya. Sebentar... masa iya Tante Wida akan pulang naik motor besar seperti itu?Tatapannya tanpa sadar beralih ke rok yang dikenakan Wida. Naik motor sport dengan pakaian seperti itu jelas tidak akan mudah. Berbeda dengannya yang mengenakan celana jeans, sehingga bisa duduk dengan lebih leluasa.Melihat Jingga yang terdiam cukup lama, membuat Abimana merasa bersalah. Ia berpikir kalau Jingga pasti sedih karena ia tidak mengantarnya kembali. “Jingga, my sweety, kamu marah ya?”Jingga memaksakan senyum tipis. “Enggak, Bi. Tenang saja. Ibumu memang mau naik motor gitu—” “Enggak, aku cuman ngawal Mama aja. Mama naik taxi
“Jingga, kamu tidak apa-apa, kan?” Suara Abimana memecah lamunan Jingga. Ia mendongak, mendapati pria tampan itu tengah menatapnya dengan raut khawatir. “Eh, tidak apa-apa, Abi.” Sahut Jingga dengan cengiran tipis khasnya, berusaha menormalkan perasaan yang tengah kalang kabut. Ingatannya masih tertinggal di ruang perawatan pasca operasi. Teringat percakapan singkat dengan ibunya yang membahas soal pinjaman jangka panjang yang merupakan hasil karangan bebas miliknya. Sungguh, ia merasa bersalah karena telah berbohong pada ibunya. Demi menjaga rahasia pernikahan kontraknya dengan Arjuna, ia mengatakan pada ibunya bahwa biaya pengobatan ibunya termasuk bayar utang di Bank itu merupakan pinjaman jangka panjang. Jingga akan mencicilnya dengan penghasilannya sebagai seniman mural yang terlibat dalam proyek spesial di WK Art Space.“Kenapa malah melamun? Pakai helmmu!” seru Abimana sembari mengambil helm yang tergantung di kaca spion dan memasangkannya ke kepala kekasihnya. Namun, Abim
Wajah Jingga memucat tatkala melihat buku kecil bersampul hijau dengan korps garuda emas jatuh tepat menimpa punggung kaki Abimana. Jantungnya nyaris copot. Namun, dengan gerakan kilat, ia berhasil membungkukkan badannya, menyambar buku tersebut lalu menyurukannya kembali ke dalam tas selempang miliknya.Srett!Resleting berhasil tertutup rapat. Aman! “Jingga,” ucap Abimana yang tak kalah panik melihat pergerakan Jingga. Ia mengira kalau Jingga memang sedang kurang fokus, hingga ia kurang berhati-hati dan bertindak ceroboh. Naasnya, saat yang sama, kesialan masih belum beranjak pergi. Bertepatan Jingga menyambar buku nikah tadi, cincin pernikahannya yang sempat tersangkut di buku jarinya jatuh. Benda berkilau itu menggelinding dan berhenti tepat dua puluh centimeter di belakang tumit Abimana. “Kau baik-baik saja? Wajahmu pucat sekali, Sayang,” ucap Abimana bernada lembut dan perhatian. Napas Jingga masih terengah. Matanya bergerak liar, ingin segera melangkah maju demi mengambil c






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.