LOGINDjiwa melirik jam dinding di kamarnya, jarumnya sudah menunjukkan pukul enam sore. Di balik jendela, langit pun telah gelap, menandakan malam benar-benar turun. Ia lalu menunduk, menatap sosok suaminya yang masih membenamkan wajah di dadanya tanpa berniat beranjak, memeluk pinggangnya erat seolah enggan melepas. “Kamu kayak anak kecil,” goda Djiwa sambil terkekeh pelan. Tak ada jawaban. Radja justru memeluknya semakin erat di bawah selimut, tanpa keduanya mengenakan sehelai benang pun. “Mas …,” Djiwa tertawa kecil, mengusap rambut pria itu lembut. “Udah malem. Kita harus mandi lagi, lengket semua.” Masih tak ada respons. “Anak-anak pasti bingung Daddy sama Mommy ke mana,” lanjutnya. “Sebentar lagi juga waktunya makan malem.” Radja hanya menggeleng pelan tanpa mengangkat wajah. Djiwa menghela napas pasrah, senyumnya tak hilang. “Kamu juga harus jelasin ke aku,” ucapnya sambil mencubit pelan telinga suaminya, “Gimana bisa kamu berdiri normal kayak gini.” Baru kali ini Radja me
Djiwa baru saja hendak membilas tubuhnya yang dipenuhi busa sabun di bawah shower, namun urung saat mendengar pintu kamar mandi terbuka. Belum sempat ia menoleh, sepasang lengan kekar tiba-tiba melingkar di pinggangnya dari belakang. “Akh—!” Djiwa menjerit refleks, tubuhnya meronta. “Tolong—!” “Sayang, ini aku … suami kamu.” Suara berat itu membuat tubuhnya membeku. “Mas …?” lirihnya, buru-buru mengusap busa di wajah. Radja tak langsung menjawab. Ia justru mengulurkan tangan, menyalakan shower lebih besar hingga air hangat mengguyur tubuh mereka berdua. Djiwa segera membilas wajahnya—dan saat matanya terbuka sempurna, napasnya tercekat. Radja. Berdiri tegak di hadapannya. Tanpa kursi roda. Tanpa bantuan apa pun. Normal. “M-Mas …,” suaranya bergetar. “Kamu—” Namun kalimat itu tak selesai. Radja langsung menarik tengkuknya lembut lalu membungkam bibirnya dengan ciuman dalam. Awalnya pelan, lembut. Seolah benar-benar menikmati kenyataan bahwa ia akhirnya bisa kembali memelu
“Mas …?” napas Karin tercekat di tenggorokan. Tubuhnya menegang, matanya membulat menatap Radja yang kini berdiri tegak di hadapannya. Sudut bibir pria itu terangkat tipis. “Saya tidak sama seperti mendiang Adrian. Mantan suami kamu.” Kalimat itu menghantam Karin begitu keras. Rahang kecilnya mengeras. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuh. “Saya masih bisa berjalan seperti manusia normal,” lanjut Radja tenang, penuh penekanan. “Dan hidup saya juga masih panjang.” Ia melangkah mendekat. “Tidak ada tenggat waktu untuk kematian saya.” Karin mundur satu langkah. “B-Bagaimana bisa?” gumamnya lirih, hampir tak terdengar. Radja menatapnya tajam. “Karena Tuhan masih baik pada saya.” Tatapan itu menusuk lurus ke dalam dirinya. “Dia tahu mana manusia yang layak diselamatkan …,” suara Radja merendah, dingin, “Dan mana yang pantas dihukum.” Wajah Karin berubah. Topeng tenangnya mulai retak. “Jangan sok suci,” desisnya pelan. Radja tersenyum tipis. “Kenapa?” tanyanya datar. “Tersingg
“Ini ujian untuk kamu, sayang. Antara percaya sahabat kamu, atau suamimu sendiri.” Ucapan Radja semalam terus terngiang di kepala Djiwa. Bahkan hingga pagi itu, saat tangannya sibuk menata sarapan di meja makan, pikirannya tetap dipenuhi kalimat tersebut. “Tapi rasanya gak mungkin ….” gumamnya lirih pada diri sendiri. “Apanya yang gak mungkin, Mom?” Djiwa tersentak. Ia menoleh cepat dan mendapati Regan berdiri di belakangnya, sudah rapi dengan seragam sekolah lengkap. Djiwa buru-buru menggeleng. “Gak ada, sayang.” Regan mengernyit tipis, jelas tidak sepenuhnya percaya, namun memilih tak bertanya lagi. “Ayo, duduk dulu,” ucap Djiwa sambil tersenyum kecil. “Adik-adik kamu mana?” Belum sempat Regan menjawab, Naren dan Ratu sudah muncul berlari kecil menuju meja makan. Di belakang mereka Radja menyusul dengan kursi rodanya. Tatapan Djiwa otomatis bertemu dengan mata suaminya. Dan seketika ucapan semalam kembali menghantam benaknya. Antara percaya sahabatmu, atau suamimu sendir
Jantung Djiwa seperti berhenti berdetak. “A-Apa maksud kamu …?” bisiknya. Tatapan Radja menajam. “Yang menyebabkan kecelakaan saya,” ucapnya pelan, nyaris seperti bisikan, “Memang Karin.” Seketika darah Djiwa serasa surut dari wajahnya. Matanya membulat. Bibirnya terbuka, tapi tak ada suara keluar. Radja menatap istrinya lurus tanpa sedikit pun keraguan. “Sekarang pertanyaannya …,” ia menyipitkan mata tipis, “Kamu siap dengar bagaimana saya bisa tahu itu?” Napas Djiwa tercekat di tenggorokan. Refleks, kepalanya menggeleng pelan. “Mas …,” suaranya lirih, nyaris berbisik. “Itu gak mungkin.” Radja hanya menatapnya diam. “Aku kenal Karin,” lanjut Djiwa, kini lebih tegas meski matanya masih dipenuhi kebingungan. “Dia gak mungkin ngelakuin itu. Dan kalaupun iya …,” tenggorokannya terasa kering, “Alasannya apa?” Ada jeda panjang. Radja menatap istrinya lama, seolah membaca setiap keyakinan yang masih bertahan di wajah perempuan itu. “Kamu langsung menyimpulkan Karin tidak mungkin
Malam itu, Djiwa baru kembali setelah menidurkan ketiga anak mereka. Dulu, rutinitas itu selalu dilakukan Radja. Namun kini, sejak kondisi suaminya berubah, Djiwa memilih mengambil alih semuanya sendiri. Ia naik ke atas ranjang sambil tersenyum jahil. “Sekarang,” godanya pelan, merangkak mendekat, “Giliran aku nidurin Daddy-nya anak-anak.” Radja mengangkat satu alis. “Tapi sebelum itu …,” lanjut Djiwa, melirik ke bawah selimut, “Kamu mau ke kamar mandi dulu, gak?” “Untuk apa?” tanya Radja datar. “Mungkin mau pipis sebelum tidur?” Radja hanya tersenyum tipis, lalu menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang. Tangannya terulur, menarik tubuh Djiwa hingga wanita itu jatuh bersandar di dada bidangnya. Tanpa protes, Djiwa langsung memeluk pinggang suaminya, menikmati hangat tubuh yang begitu ia rindukan setelah hari-hari penuh ketakutan. “Selama saya di Jerman,” ujar Radja pelan sambil mengusap puncak kepala istrinya, “Apa saja yang terjadi di sini?” Djiwa terdiam sejenak. “Ban
“Non Djiwa, istirahat, ya?” Mbok Inem segera membantu Djiwa berbaring di atas ranjang. “Non pasti kaget,” ucapnya lirih, mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca. Djiwa menyandarkan punggung ke sandaran ranjang, memejamkan mata sejenak sambil berusaha menstabilkan napasnya yang masih memburu. Mbok
“Aku sebenernya hamil apa gak sih, Kai?” tanya Fairish pada Kaisar yang tengah mengemudi mobilnya, meninggalkan restoran yang beberapa saat lalu mereka singgahi untuk makan siang. Kaisar meliriknya dari kaca spion tengah, sebelum kembali fokus pada jalan raya. “Kamu sendiri kan yang dateng ke d
Kaisar menghela napas panjang begitu mobilnya masuk gerbang kantor. Langit siang yang terik tak mampu menghangatkan dinginnya pikiran yang menggulung di kepalanya sejak sesi konsultasi tadi. Jemarinya mengetuk-ngetuk setir, iramanya tak beraturan—tanda jelas bahwa hatinya sedang kacau karena renc
Inggrit baru saja tiba di mansion. Langkah kakinya menghentak keras, cepat, dan penuh amarah—seolah dia sengaja ingin seluruh penjuru rumah tahu bahwa saat ini dia sedang berada di titik paling emosional. Di belakangnya, Anggita menyusul dalam keadaan terisak halus. Arga mengantar bocah itu pu







