Dijebak Mantan, Nona Pewaris Kirim Balasan

Dijebak Mantan, Nona Pewaris Kirim Balasan

last updateLast Updated : 2026-09-07
By:  Cahaya AsaUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
10
2 ratings. 2 reviews
86Chapters
616views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Baru saja pulang ke rumah, Dina harus mendapati bahwa paman yang selama ini ia percaya untuk menjaga rumah warisan orang tuanya justru menjual rumah tersebut. Tidak setengah-setengah, rumah itu dijual pada mantan kekasih yang ingin membuatnya sengsara! Kini, Dina harus rela menjadi pembantu pria itu sambil mencari cara untuk mendapatkan warisannya kembali–sekaligus menyembunyikan fakta bahwa sebenarnya Dina adalah seorang nona pewaris sebuah perusahaan besar tempat si mantan bekerja.

View More

Chapter 1

Satu

"Loh kok dikunci?" Dina menatap pintu gerbang di hadapannya.

"Paman! Bibi! Aku pulang! " teriak Dina karena rumahnya tampak sepi.

"Mau cari siapa, Mbak? Sori, kalau cari lowongan pembantu, pendaftarannya sudah tutup dari kemarin."

Dina Prameswari mematung di depan pagar besi hitam yang menjulang tinggi. Kerutan di dahinya semakin dalam saat menatap pria bertubuh tegap dengan seragam sekuriti baru yang berdiri menghalanginya. Koper besar di tangan kanan Dina terasa semakin berat setelah perjalanan belasan jam dari Singapura.

"Pendaftaran pembantu?" Dina terkekeh hambar, mengira kupingnya salah dengar akibat jetlag. "Pak, saya ini Dina. Pemilik rumah ini. Tolong buka pagarnya, saya mau masuk. Capek banget."

Dina menatap pria di hadapannya. Wajahnya terasa asing. Namun ia tak banyak berpikir, ia pikir pamannya telah mengganti satpam yang lama. Pria berseragam itu justru menatap Dina dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan meremehkan.

"Mbak jangan ngigo. Ini rumah Pak Fikri Alvaro. Saya baru kerja di sini seminggu, dan nama pemiliknya jelas bukan Dina."

Jantung Dina mencelos. Nama itu seketika memicu dentum keras di dadanya. Fikri Alvaro?

Dina merogoh tas selempangnya dengan tangan gemetar, mengeluarkan ponsel, lalu menekan nomor Om menyebalkannya—satu-satunya kerabat yang ia percaya untuk menjaga rumah ini selama ia melakukan riset tugas akhir di luar negeri.

“Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi…”

"Nggak mungkin," gumam Dina. Ia menatap nomor rumah, pohon mangga di halaman, hingga ukiran pintu kayu jati di dalam sana. Semuanya benar. Ini rumah peninggalan almarhum papanya.

Tiba-tiba, gerbang otomatis itu bergeser terbuka. Suara deru mesin mobil mewah terdengar dari arah garasi. Sebuah sedan hitam mengkilap bergerak pelan dan berhenti tepat di depan

Dina. Kaca mobil bagian belakang perlahan turun. Dina menahan napas saat sosok pria berjas abu-abu gelap perlahan terlihat dari balik kaca film yang gelap. Pria itu memakai kacamata hitam, namun rahang tegas dan belahan rambutnya sangat Dina kenali. Pria yang dua tahun lalu menghilang tanpa kabar setelah berjanji akan menikahinya.

"Ada apa, Pak Joko? Kenapa gerbangnya belum ditutup?" Suara bariton itu terdengar dingin, mengiris udara sore yang mulai mendingin.

"Ini, Pak. Ada perempuan aneh ngaku-ngaku kalau ini rumahnya," lapor sekuriti itu sambil menunjuk Dina.

Pria di dalam mobil itu perlahan melepas kacamata hitamnya. Sepasang mata elang itu langsung mengunci tatapan Dina. Tidak ada riak terkejut di sana. Hanya ada tatapan datar, seolah-olah Dina hanyalah debu yang mengotori pekarangannya.

"Fikri?" Suara Dina tercekat di tenggorokan. "Kenapa... kenapa kamu bisa ada di rumah saya?"

Fikri tidak langsung menjawab. Ia membuka pintu mobil, melangkah keluar dengan gerakan elegan yang membuat Dina merasa sangat kecil dengan jaket rajutnya yang mulai lusuh. Fikri berdiri di hadapan Dina, melipat kedua tangan di dada.

"Rumah kamu?" Fikri menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman sinis. "Kamu baru bangun tidur, Din? Rumah ini sudah sah jadi milik saya sejak dua minggu lalu."

"Jangan bercanda!" Dina meninggikan suaranya, memancing perhatian satu dua orang yang lewat di trotoar. "Ini rumah Papa saya! Hak warisnya jatuh ke tangan saya! Kamu jangan lancang masuk dan ngaku-ngaku!"

Fikri menghela napas pendek, lalu merogoh kantong jasnya. Ia mengeluarkan sebuah gawai dan mengetik beberapa hal sebelum menyodorkannya ke depan wajah Dina.

Di layar itu, terpampang foto sertifikat tanah dan rumah berstempel resmi notaris. Di kolom pemilik baru, nama Fikri Alvaro tercetak jelas dengan huruf kapital. Dan di kolom penjual, tertera nama: Heri Prameswari. Pamannya sendiri.

Dina mundur selangkah. Lututnya mendadak lemas hingga ia harus bertumpu pada pegangan kopernya agar tidak ambruk. "Enggak... Om Heri gak mungkin tega..."

"Om kesayanganmu itu butuh uang cepat untuk bayar utang judinya yang menumpuk," potong Fikri tanpa belas kasihan. "Dia menjual rumah ini di bawah harga pasar kepada perusahaan saya. Sekarang, dia dan keluarganya sudah pindah ke luar kota—atau mungkin luar negeri. Mereka hilang tanpa jejak."

Air mata yang sejak tadi ditahan Dina akhirnya luruh juga. Dadanya terasa sesak luar biasa. Bagaimana bisa pamannya yang selalu tersenyum manis saat melepasnya ke bandara tega menjual satu-satunya tempat tinggalnya?

Dan dari sekian banyak orang di dunia, kenapa harus Fikri yang membelinya? "Kenapa harus kamu, Fik? Kenapa kamu beli rumah ini?!" isak Dina, menatap mantan kekasihnya itu dengan pandangan benci sekaligus terluka. "Kamu sengaja, kan? Kamu mau balas dendam sama aku?"

Fikri menatap air mata Dina tanpa ekspresi. "Jangan terlalu percaya diri, Dina Prameswari," ucap Fikri dingin. "Saya beli rumah ini murni karena urusan bisnis. Lokasinya cuma sepuluh menit dari kantor pusat perusahaan saya. Kebetulan saja pemilik lamanya adalah pamanmu yang bodoh itu."

Fikri berbalik, bersiap kembali masuk ke dalam mobilnya.

"Fikri, tunggu!" Dina menahan pintu mobil pria itu. "Aku gak punya tempat tinggal lagi. Semua barang-barangku, memoriku sama Papa-Mama ada di dalam rumah ini. Tolong... batalkan jual belinya. Aku akan cari uang untuk ganti!"

Fikri menghentikan gerakannya, lalu menatap tangan Dina yang memegangi pintu mobilnya dengan tatapan jijik.

"Ganti pakai apa? Uang saku kuliahmu? Rumah ini nilainya miliaran, Dina. Kamu bahkan gak punya uang buat bayar kosan malam ini."

Kenyataan itu menghantam Dina telak. Uang di rekeningnya hanya tersisa beberapa ratus ribu rupiah. Aset perusahaan papanya yang bernilai ratusan miliar masih dikunci rapat oleh pengacara kepercayaan papanya sampai ia menikah. Saat ini, Dina benar-benar miskin dan sebatang kara.

Fikri menatap Dina yang menunduk dengan bahu bergetar hebat. Pria itu diam selama beberapa detik, mengamati jemari Dina yang memutih karena mencengkeram koper.

"Sebenarnya..." Fikri menjeda kalimatnya, membuat Dina mendongak cepat dengan binar harapan yang rapuh. "...ada satu cara kalau kamu memang bersikeras mau tetap tinggal di rumah ini."

"Apa?" tanya Dina cepat, menghapus air matanya dengan kasar. "Apa syaratnya? Aku bakal lakuin apa aja asal bisa tetap di sini."

Fikri tersenyum tipis, jenis senyuman yang membuat bulu kuduk Dina meremang. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Dina, berbisik dengan nada yang sangat rendah namun terdengar begitu merendahkan.

"Kebetulan pembantu di rumah ini baru saja saya pecat karena kerjanya gak becus. Kamu

bisa tinggal di paviliun belakang, bersihkan rumah ini setiap hari, dan siapkan keperluan saya." Fikri kembali menegakkan tubuhnya, menatap Dina dengan tatapan mengintimidasi.

"Kamu... mau jadi pembantu di rumahku sendiri?"

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

Rindu Rahayu
Rindu Rahayu
ceritanya bagus. suka...
2026-08-31 23:18:27
0
0
wd_shinoda
wd_shinoda
Dear thor.. Izin baca kalau tar udah tamat ya thor.. biar gak penasaran..
2026-08-21 21:23:22
1
0
86 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status