Dijebak Mantan, Nona Pewaris Kirim Balasan

Dijebak Mantan, Nona Pewaris Kirim Balasan

last updateآخر تحديث : 2026-07-25
بواسطة:  Cahaya Asaتم تحديثه الآن
لغة: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
لا يكفي التصنيفات
7فصول
26وجهات النظر
قراءة
أضف إلى المكتبة

مشاركة:  

تقرير
ملخص
كتالوج
امسح الكود للقراءة على التطبيق

Baru saja pulang ke rumah, Dina harus mendapati bahwa paman yang selama ini ia percaya untuk menjaga rumah warisan orang tuanya justru menjual rumah tersebut. Tidak setengah-setengah, rumah itu dijual pada mantan kekasih yang ingin membuatnya sengsara! Kini, Dina harus rela menjadi pembantu pria itu sambil mencari cara untuk mendapatkan warisannya kembali–sekaligus menyembunyikan fakta bahwa sebenarnya Dina adalah seorang nona pewaris sebuah perusahaan besar tempat si mantan bekerja.

عرض المزيد

الفصل الأول

Satu

"Loh kok dikunci?" Dina menatap pintu gerbang di hadapannya.

"Paman! Bibi! Aku pulang! " teriak Dina karena rumahnya tampak sepi.

"Mau cari siapa, Mbak? Sori, kalau cari lowongan pembantu, pendaftarannya sudah tutup

dari kemarin."

Dina Prameswari mematung di depan pagar besi hitam yang menjulang tinggi. Kerutan di

dahinya semakin dalam saat menatap pria bertubuh tegap dengan seragam sekuriti baru

yang berdiri menghalanginya. Koper besar di tangan kanan Dina terasa semakin berat

setelah perjalanan belasan jam dari Singapura.

"Pendaftaran pembantu?" Dina terkekeh hambar, mengira kupingnya salah dengar akibat

jetlag. "Pak, saya ini Dina. Pemilik rumah ini. Tolong buka pagarnya, saya mau masuk.

Capek banget."

Dina menatap pria di hadapannya. Wajahnya terasa asing. Namun ia tak banyak berpikir, ia

pikir pamannya telah mengganti satpam yang lama.

Pria berseragam itu justru menatap Dina dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan

pandangan meremehkan.

"Mbak jangan ngigo. Ini rumah Pak Fikri Alvaro. Saya baru kerja di sini seminggu, dan nama

pemiliknya jelas bukan Dina."

Jantung Dina mencelos. Nama itu seketika memicu dentum keras di dadanya.

Fikri Alvaro?

Dina merogoh tas selempangnya dengan tangan gemetar, mengeluarkan ponsel, lalu

menekan nomor Om menyebalkannya—satu-satunya kerabat yang ia percaya untuk

menjaga rumah ini selama ia melakukan riset tugas akhir di luar negeri.

“Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi…”

"Nggak mungkin," gumam Dina. Ia menatap nomor rumah, pohon mangga di halaman,

hingga ukiran pintu kayu jati di dalam sana. Semuanya benar. Ini rumah peninggalan

almarhum papanya.

Tiba-tiba, gerbang otomatis itu bergeser terbuka. Suara deru mesin mobil mewah terdengar

dari arah garasi. Sebuah sedan hitam mengkilap bergerak pelan dan berhenti tepat di depan

Dina. Kaca mobil bagian belakang perlahan turun. Dina menahan napas saat sosok pria berjas

abu-abu gelap perlahan terlihat dari balik kaca film yang gelap. Pria itu memakai kacamata

hitam, namun rahang tegas dan belahan rambutnya sangat Dina kenali. Pria yang dua tahun

lalu menghilang tanpa kabar setelah berjanji akan menikahinya.

"Ada apa, Pak Joko? Kenapa gerbangnya belum ditutup?" Suara bariton itu terdengar

dingin, mengiris udara sore yang mulai mendingin.

"Ini, Pak. Ada perempuan aneh ngaku-ngaku kalau ini rumahnya," lapor sekuriti itu sambil

menunjuk Dina.

Pria di dalam mobil itu perlahan melepas kacamata hitamnya. Sepasang mata elang itu

langsung mengunci tatapan Dina. Tidak ada riak terkejut di sana. Hanya ada tatapan datar,

seolah-olah Dina hanyalah debu yang mengotori pekarangannya.

"Fikri?" Suara Dina tercekat di tenggorokan. "Kenapa... kenapa kamu bisa ada di rumah

saya?"

Fikri tidak langsung menjawab. Ia membuka pintu mobil, melangkah keluar dengan gerakan

elegan yang membuat Dina merasa sangat kecil dengan jaket rajutnya yang mulai lusuh.

Fikri berdiri di hadapan Dina, melipat kedua tangan di dada.

"Rumah kamu?" Fikri menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman sinis. "Kamu baru

bangun tidur, Din? Rumah ini sudah sah jadi milik saya sejak dua minggu lalu."

"Jangan bercanda!" Dina meninggikan suaranya, memancing perhatian satu dua orang yang

lewat di trotoar. "Ini rumah Papa saya! Hak warisnya jatuh ke tangan saya! Kamu jangan

lancang masuk dan ngaku-ngaku!"

Fikri menghela napas pendek, lalu merogoh kantong jasnya. Ia mengeluarkan sebuah gawai

dan mengetik beberapa hal sebelum menyodorkannya ke depan wajah Dina.

Di layar itu, terpampang foto sertifikat tanah dan rumah berstempel resmi notaris. Di kolom

pemilik baru, nama *Fikri Alvaro* tercetak jelas dengan huruf kapital.

Dan di kolom penjual, tertera nama: *Heri Prameswari*. Pamannya sendiri.

Dina mundur selangkah. Lututnya mendadak lemas hingga ia harus bertumpu pada

pegangan kopernya agar tidak ambruk. "Enggak... Om Heri gak mungkin tega..."

"Om kesayanganmu itu butuh uang cepat untuk bayar utang judinya yang menumpuk,"

potong Fikri tanpa belas kasihan. "Dia menjual rumah ini di bawah harga pasar kepada

perusahaan saya. Sekarang, dia dan keluarganya sudah pindah ke luar kota—atau mungkin

luar negeri. Mereka hilang tanpa jejak."

Air mata yang sejak tadi ditahan Dina akhirnya luruh juga. Dadanya terasa sesak luar biasa.

Bagaimana bisa pamannya yang selalu tersenyum manis saat melepasnya ke bandara tega

menjual satu-satunya tempat tinggalnya?

Dan dari sekian banyak orang di dunia, kenapa harus Fikri yang membelinya? "Kenapa harus kamu, Fik? Kenapa kamu beli rumah ini?!" isak Dina, menatap mantan

kekasihnya itu dengan pandangan benci sekaligus terluka. "Kamu sengaja, kan? Kamu mau

balas dendam sama aku?"

Fikri menatap air mata Dina tanpa ekspresi.

"Jangan terlalu percaya diri, Dina Prameswari," ucap Fikri dingin. "Saya beli rumah ini murni

karena urusan bisnis. Lokasinya cuma sepuluh menit dari kantor pusat perusahaan saya.

Kebetulan saja pemilik lamanya adalah pamanmu yang bodoh itu."

Fikri berbalik, bersiap kembali masuk ke dalam mobilnya.

"Fikri, tunggu!" Dina menahan pintu mobil pria itu. "Aku gak punya tempat tinggal lagi.

Semua barang-barangku, memoriku sama Papa-Mama ada di dalam rumah ini. Tolong...

batalkan jual belinya. Aku akan cari uang untuk ganti!"

Fikri menghentikan gerakannya, lalu menatap tangan Dina yang memegangi pintu mobilnya

dengan tatapan jijik.

"Ganti pakai apa? Uang saku kuliahmu? Rumah ini nilainya miliaran, Dina. Kamu bahkan

gak punya uang buat bayar kosan malam ini."

Kenyataan itu menghantam Dina telak. Uang di rekeningnya hanya tersisa beberapa ratus

ribu rupiah. Aset perusahaan papanya yang bernilai ratusan miliar masih dikunci rapat oleh

pengacara kepercayaan papanya sampai ia menikah. Saat ini, Dina benar-benar miskin dan

sebatang kara.

Fikri menatap Dina yang menunduk dengan bahu bergetar hebat. Pria itu diam selama

beberapa detik, mengamati jemari Dina yang memutih karena mencengkeram koper.

"Sebenarnya..." Fikri menjeda kalimatnya, membuat Dina mendongak cepat dengan binar

harapan yang rapuh. "...ada satu cara kalau kamu memang bersikeras mau tetap tinggal di

rumah ini."

"Apa?" tanya Dina cepat, menghapus air matanya dengan kasar. "Apa syaratnya? Aku bakal

lakuin apa aja asal bisa tetap di sini."

Fikri tersenyum tipis, jenis senyuman yang membuat bulu kuduk Dina meremang. Ia

mendekatkan wajahnya ke telinga Dina, berbisik dengan nada yang sangat rendah namun

terdengar begitu merendahkan.

"Kebetulan pembantu di rumah ini baru saja saya pecat karena kerjanya gak becus. Kamu

bisa tinggal di paviliun belakang, bersihkan rumah ini setiap hari, dan siapkan keperluan

saya." Fikri kembali menegakkan tubuhnya, menatap Dina dengan tatapan mengintimidasi.

"Kamu... mau jadi pembantu di rumahmu sendiri?"

توسيع
الفصل التالي
تحميل

أحدث فصل

فصول أخرى

للقراء

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

لا توجد تعليقات
7 فصول
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status