تسجيل الدخولBaru saja pulang ke rumah, Dina harus mendapati bahwa paman yang selama ini ia percaya untuk menjaga rumah warisan orang tuanya justru menjual rumah tersebut. Tidak setengah-setengah, rumah itu dijual pada mantan kekasih yang ingin membuatnya sengsara! Kini, Dina harus rela menjadi pembantu pria itu sambil mencari cara untuk mendapatkan warisannya kembali–sekaligus menyembunyikan fakta bahwa sebenarnya Dina adalah seorang nona pewaris sebuah perusahaan besar tempat si mantan bekerja.
عرض المزيد"Loh kok dikunci?" Dina menatap pintu gerbang di hadapannya.
"Paman! Bibi! Aku pulang! " teriak Dina karena rumahnya tampak sepi. "Mau cari siapa, Mbak? Sori, kalau cari lowongan pembantu, pendaftarannya sudah tutup dari kemarin." Dina Prameswari mematung di depan pagar besi hitam yang menjulang tinggi. Kerutan di dahinya semakin dalam saat menatap pria bertubuh tegap dengan seragam sekuriti baru yang berdiri menghalanginya. Koper besar di tangan kanan Dina terasa semakin berat setelah perjalanan belasan jam dari Singapura. "Pendaftaran pembantu?" Dina terkekeh hambar, mengira kupingnya salah dengar akibat jetlag. "Pak, saya ini Dina. Pemilik rumah ini. Tolong buka pagarnya, saya mau masuk. Capek banget." Dina menatap pria di hadapannya. Wajahnya terasa asing. Namun ia tak banyak berpikir, ia pikir pamannya telah mengganti satpam yang lama. Pria berseragam itu justru menatap Dina dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan meremehkan. "Mbak jangan ngigo. Ini rumah Pak Fikri Alvaro. Saya baru kerja di sini seminggu, dan nama pemiliknya jelas bukan Dina." Jantung Dina mencelos. Nama itu seketika memicu dentum keras di dadanya. Fikri Alvaro? Dina merogoh tas selempangnya dengan tangan gemetar, mengeluarkan ponsel, lalu menekan nomor Om menyebalkannya—satu-satunya kerabat yang ia percaya untuk menjaga rumah ini selama ia melakukan riset tugas akhir di luar negeri. “Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi…” "Nggak mungkin," gumam Dina. Ia menatap nomor rumah, pohon mangga di halaman, hingga ukiran pintu kayu jati di dalam sana. Semuanya benar. Ini rumah peninggalan almarhum papanya. Tiba-tiba, gerbang otomatis itu bergeser terbuka. Suara deru mesin mobil mewah terdengar dari arah garasi. Sebuah sedan hitam mengkilap bergerak pelan dan berhenti tepat di depan Dina. Kaca mobil bagian belakang perlahan turun. Dina menahan napas saat sosok pria berjas abu-abu gelap perlahan terlihat dari balik kaca film yang gelap. Pria itu memakai kacamata hitam, namun rahang tegas dan belahan rambutnya sangat Dina kenali. Pria yang dua tahun lalu menghilang tanpa kabar setelah berjanji akan menikahinya. "Ada apa, Pak Joko? Kenapa gerbangnya belum ditutup?" Suara bariton itu terdengar dingin, mengiris udara sore yang mulai mendingin. "Ini, Pak. Ada perempuan aneh ngaku-ngaku kalau ini rumahnya," lapor sekuriti itu sambil menunjuk Dina. Pria di dalam mobil itu perlahan melepas kacamata hitamnya. Sepasang mata elang itu langsung mengunci tatapan Dina. Tidak ada riak terkejut di sana. Hanya ada tatapan datar, seolah-olah Dina hanyalah debu yang mengotori pekarangannya. "Fikri?" Suara Dina tercekat di tenggorokan. "Kenapa... kenapa kamu bisa ada di rumah saya?" Fikri tidak langsung menjawab. Ia membuka pintu mobil, melangkah keluar dengan gerakan elegan yang membuat Dina merasa sangat kecil dengan jaket rajutnya yang mulai lusuh. Fikri berdiri di hadapan Dina, melipat kedua tangan di dada. "Rumah kamu?" Fikri menarik sudut bibirnya, membentuk senyuman sinis. "Kamu baru bangun tidur, Din? Rumah ini sudah sah jadi milik saya sejak dua minggu lalu." "Jangan bercanda!" Dina meninggikan suaranya, memancing perhatian satu dua orang yang lewat di trotoar. "Ini rumah Papa saya! Hak warisnya jatuh ke tangan saya! Kamu jangan lancang masuk dan ngaku-ngaku!" Fikri menghela napas pendek, lalu merogoh kantong jasnya. Ia mengeluarkan sebuah gawai dan mengetik beberapa hal sebelum menyodorkannya ke depan wajah Dina. Di layar itu, terpampang foto sertifikat tanah dan rumah berstempel resmi notaris. Di kolom pemilik baru, nama *Fikri Alvaro* tercetak jelas dengan huruf kapital. Dan di kolom penjual, tertera nama: *Heri Prameswari*. Pamannya sendiri. Dina mundur selangkah. Lututnya mendadak lemas hingga ia harus bertumpu pada pegangan kopernya agar tidak ambruk. "Enggak... Om Heri gak mungkin tega..." "Om kesayanganmu itu butuh uang cepat untuk bayar utang judinya yang menumpuk," potong Fikri tanpa belas kasihan. "Dia menjual rumah ini di bawah harga pasar kepada perusahaan saya. Sekarang, dia dan keluarganya sudah pindah ke luar kota—atau mungkin luar negeri. Mereka hilang tanpa jejak." Air mata yang sejak tadi ditahan Dina akhirnya luruh juga. Dadanya terasa sesak luar biasa. Bagaimana bisa pamannya yang selalu tersenyum manis saat melepasnya ke bandara tega menjual satu-satunya tempat tinggalnya? Dan dari sekian banyak orang di dunia, kenapa harus Fikri yang membelinya? "Kenapa harus kamu, Fik? Kenapa kamu beli rumah ini?!" isak Dina, menatap mantan kekasihnya itu dengan pandangan benci sekaligus terluka. "Kamu sengaja, kan? Kamu mau balas dendam sama aku?" Fikri menatap air mata Dina tanpa ekspresi. "Jangan terlalu percaya diri, Dina Prameswari," ucap Fikri dingin. "Saya beli rumah ini murni karena urusan bisnis. Lokasinya cuma sepuluh menit dari kantor pusat perusahaan saya. Kebetulan saja pemilik lamanya adalah pamanmu yang bodoh itu." Fikri berbalik, bersiap kembali masuk ke dalam mobilnya. "Fikri, tunggu!" Dina menahan pintu mobil pria itu. "Aku gak punya tempat tinggal lagi. Semua barang-barangku, memoriku sama Papa-Mama ada di dalam rumah ini. Tolong... batalkan jual belinya. Aku akan cari uang untuk ganti!" Fikri menghentikan gerakannya, lalu menatap tangan Dina yang memegangi pintu mobilnya dengan tatapan jijik. "Ganti pakai apa? Uang saku kuliahmu? Rumah ini nilainya miliaran, Dina. Kamu bahkan gak punya uang buat bayar kosan malam ini." Kenyataan itu menghantam Dina telak. Uang di rekeningnya hanya tersisa beberapa ratus ribu rupiah. Aset perusahaan papanya yang bernilai ratusan miliar masih dikunci rapat oleh pengacara kepercayaan papanya sampai ia menikah. Saat ini, Dina benar-benar miskin dan sebatang kara. Fikri menatap Dina yang menunduk dengan bahu bergetar hebat. Pria itu diam selama beberapa detik, mengamati jemari Dina yang memutih karena mencengkeram koper. "Sebenarnya..." Fikri menjeda kalimatnya, membuat Dina mendongak cepat dengan binar harapan yang rapuh. "...ada satu cara kalau kamu memang bersikeras mau tetap tinggal di rumah ini." "Apa?" tanya Dina cepat, menghapus air matanya dengan kasar. "Apa syaratnya? Aku bakal lakuin apa aja asal bisa tetap di sini." Fikri tersenyum tipis, jenis senyuman yang membuat bulu kuduk Dina meremang. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Dina, berbisik dengan nada yang sangat rendah namun terdengar begitu merendahkan. "Kebetulan pembantu di rumah ini baru saja saya pecat karena kerjanya gak becus. Kamu bisa tinggal di paviliun belakang, bersihkan rumah ini setiap hari, dan siapkan keperluan saya." Fikri kembali menegakkan tubuhnya, menatap Dina dengan tatapan mengintimidasi. "Kamu... mau jadi pembantu di rumahmu sendiri?""Aduh gimana sih, Pak. Saya sudah menunggu dari tadi loh. Kenapa dibatalkan begitu saja?" Dina menutup ponselnya dengan raut wajah jengkel."Bagaimana aku pulang kalau dari tadi pesanan taksi dibatalkan sepihak. Mana hujannya deras banget lagi."Raka yang berdiri di posisi paling dekat mendengar semua ucapan Dina. Dia tahu gadis di sebelahnya ini adalah gadis yang sama yang ada di ruang Adrian barusan.Raka menoleh ke kanan dan kiri. Kantor sudah mulai sepi. Hujan juga makin lebat. Entah mengapa ada rasa kasihan pada Dina. Setelah tadi dimarahi atasannya, lalu sekarang dia tidak bisa pulang karena hujan dan tidak dapat kendaraan.Pria berjas rapi itu berdehem. "Kemana arah pulangmu?"Dina menoleh, lalu celingak-celinguk mencari seseorang selain dirinya. Namun tidak ada satu orang pun selain *security*."Maaf, Bapak berbicara dengan saya?""Ya. Emangnya ada orang lain di sini selain kamu?"Dina tersenyum profesional. "Tidak, Pak. Em... saya tinggal di perumahan Graha Indah."Raka sedik
Dina makan dengan cepat, tapi pikirannya sedang bekerja keras menyusun rencana. "Dina, waktumu sudah habis! Selesaikan pekerjaanmu sekarang!" Suara bariton Fikri membuyarkan semua imajinasi Dina. Tanpa membuang waktu, Dina segera menyelesaikan pekerjaannya. Setidaknya dia sudah memiliki tenaga sekarang. Jam kerjanya tinggal dia jam lagi. "Tuan, pekerjaan saya sudah selesai!" lapor Dina. Fikri melempar berkas ke hadapan Dina. "Antar berkas itu ke ruang Direksi! Jangan kembali sebelum mendapat tanda tangan dari Pak Adrian."Dina mengangguk. Lalu keluar dengan langkah pasti. Di ujung lorong menuju lift, dia membuka ponselnya mencari kontak Pengacara keluarga. Setelah sering ke tiga, seorang pria menjawab panggilannya. "Pak, bisa tolong kirim nama-nama karyawan yang berpihak pada Papa dan parasit yang menumpang hidup di perusahaan saya?""Itu tugasmu, Nak. Kamu bisa mengamati secara langsung siapa yang bisa kamu pertahankan setelah kamu mengambil alih perusahaan itu nanti dan siapa y
"Baiklab, sebagai tugas pertamamu serahkan semua file fisik perusahaan sepuluh tahun terakhir ke meja saya sebelum jam empat sore!"Dina yang baru saja bernapas lega langsung tersentak. "Sepuluh tahun terakhir, Tuan?"Fikri menyandarkan punggungnya ke kursi kulit mewahnya, menyilangkan tangan di dada dengan sudut bibir yang terangkat sinis. "Kenapa? Katanya lulusan terbaik dan mau melakukan apa saja? Di ruangan sebelah ada lima lemari arsip. Susun semuanya berdasarkan tahun dan pilah rapi sesuai jenis kerja samanya."Dina menelan ludah, menatap pintu ruangan arsip yang sedikit terbuka. Di dalam sana, tumpukan map tebal berwarna cokelat dan putih menggunung hingga hampir menyentuh langit-langit rak."Tapi, Tuan... ini sudah jam sebelas," cicit Dina, sengaja memelankan suaranya agar terlihat gentar. "Waktu istirahat makan siang sebentar lagi. Saya... saya belum makan apapun dari pagi.""Tidak ada istirahat untuk karyawan magang yang kinerjanya belum teruji," potong Fikri dingin, mengetu
Dina merapikan kemeja putihnya yang sedikit kusut, lalu melangkah masuk ke dalam lobiyang mewah dengan lantai marmer mengkilap."Selamat siang, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang resepsionis dengansenyum ramah yang profesional.Dina menarik napas dalam-dalam. "Selamat siang. Saya mau menyerahkan berkas lamaranuntuk posisi staf magang atau asisten administrasi. Kemarin saya lihat lowongannya di situs resmi perusahaan."Resepsionis itu menerima map cokelat dari tangan Dina. "Baik, kebetulan hari ini memangada jadwal interview gelombang terakhir untuk divisi operasional di lantai lima. Mbak bisalangsung naik ke sana.""Terima kasih banyak, Mbak."Saat melangkah menuju lift, jantung Dina berdegup kencang. Ini adalah langkahpertamanya. Dia sengaja menggunakan nama samaran 'Dina Prames' tanpa embel-embelnama belakang ayahnya di berkas lamaran, dan sengaja mengosongkan kolom datakeluarga.Dia ingin masuk ke perusahaan ini dari bawah, murni untuk mengamati siapa saja


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.