ログインDiabaikan istri karena dianggap tak memuaskan membuat Johan (35 tahun) didera kesepian akut di rumahnya sendiri. Hingga sebuah ketidaksengajaan mempertemukannya dengan kehangatan Nadya (23 tahun), pelayan muda yang tak kuasa menepis pesona sang majikan. Kini, gairah dan desahan menjadi simfoni terlarang yang mengikat keduanya dalam candu berbahaya.
もっと見る"Udahlah, Johan. Kalau lagi capek nggak usah minta-mintas jatah ke aku. Langsung keluar padahal baru dua menit main!"
Nadya tersentak kaget dan refleks merapatkan punggungnya ke dinding saat melihat majikannya ternyata sedang bercinta!
Dan sialnya, aktivitas intim itu baru saja selesai dengan akhir yang tidak mengenakkan. Wajah Lyra yang memerah karena marah dan kesal terpampang jelas di mata wanita cantik berusia 23 tahun itu.
"Kamu pikir aku robot? Kamu sendiri yang dari tadi minta buru-buru karena mau pergi!" ucap Johan kesal.
"Ya tapi nggak dua menit juga, Jo! Egois banget sih jadi suami," balas Lyra tak mau disalahkan begitu saja oleh sang suami.
"Aku kerja seharian, Lyra. Fisikku capek. Kalau kamu bisa lebih kooperatif dan nggak cuma diam kayak patung, mungkin hasilnya nggak akan begini."
"Oh, jadi sekarang kamu nyalahin aku?" ucap Lyra makin kesal karena Johan menyalahkannya.
Mendengarkan Lyra yang sedang marah-marah membuat Nadya menelan ludah dengan susah payah. Ini bukan pertama kalinya dia menyadari keretakan rumah tangga majikannya.
Meski Nadya baru tiga bulan bekerja di sini, namun dia tahu tentang kebiasaan Lyra yang tidak pernah benar-benar menjadi istri yang baik untuk Johan.
Wanita itu lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah, berbelanja, dan berkumpul dengan teman-teman sosialitanya daripada mengurus sang suami.
Rasa penasaran yang bodoh membuat Nadya sedikit mengintip dari celah sekat. Detik itu juga, napasnya seolah berhenti.
Johan sedang duduk di tepi sofa panjang tanpa mengenakan celananya sama sekali.
Bentuk tubuh pria itu begitu proporsional, pundak yang lebar, dada bidang yang naik turun karena emosi, serta perut berotot yang tercetak jelas.
Namun, pandangan Nadya tak sengaja turun lebih jauh. Bagian privasi Johan yang berukuran besar dan masih setengah tegang terpampang begitu nyata di matanya.
Nadya buru-buru memejamkan mata erat-erat, wajahnya seketika memanas hingga ke telinga.
‘Bodoh, bodoh! Kenapa malah dilihat?’ rutuk Nadya dalam hati.
Kemudian meremas ujung daster kerjanya yang longgar. Perasaan bersalah dan malu bercampur aduk, membuatnya merasa menjadi pelayan yang paling tidak tahu diri di dunia.
Di ruang tengah, perdebatan itu tampaknya telah mencapai titik buntu. Tidak ada satu pun dari mereka yang mau mengalah.
"Terserahlah. Mood-ku sudah hancur," kata Lyra ketus.
Terdengar suara kain yang bergesek, menandakan wanita itu sedang merapikan pakaiannya dengan kasar.
"Lagian aku harus siap-siap sekarang. Aku mau pergi ke luar kota, ikut teman-teman arisan ke Lombok selama seminggu."
"Ke Lombok lagi? Kamu baru pulang dari Bali tiga hari yang lalu, Lyra." Johan mengembuskan napas panjang, terdengar sangat lelah menghadapi tabiat istrinya.
"Uang kamu nggak akan habis cuma buat aku ke Lombok, Johan. Sudahlah, jangan mengaturku."
Langkah kaki Lyra terdengar menjauh, menaiki anak tangga menuju lantai dua tanpa memedulikan suaminya yang masih terduduk di sofa.
Nadya menarik napas lega. Dia berpikir situasi sudah aman dan dia bisa melanjutkan langkahnya ke dapur untuk mengambil air minum.
Tenggorokannya benar-benar kering setelah menyaksikan drama barusan. Dengan langkah super pelan dan kepala tertunduk, Nadya melangkah keluar dari koridor penyekat.
Namun, dugaannya keliru.
Johan lantas beranjak dari duduknya. Pria itu berjalan menuju dapur, sama sekali tidak berniat memakai celana panjangnya terlebih dahulu.
Dia berjalan dengan angkuh dan santai, hanya mengenakan celana dalam hitam yang ketat, menonjolkan segala bentuk maskulinitasnya yang intimidatif. T
ubuhnya yang tinggi besar tegap seolah mendominasi seluruh ruangan.
Deg!
Nadya sontak hampir berteriak. Langkahnya terhenti tepat di ambang pintu dapur, berhadapan langsung dengan dada bidang Johan yang hanya berjarak dua jengkal dari wajahnya.
Nadya memundurkan langkahnya dengan gemetar. Kemudian menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap lantai marmer di bawah mereka karena tidak berani menatap tubuh bagian bawah pria itu yang begitu mencolok di depan matanya.
Postur tubuh Nadya yang mungil dan agak membungkuk membuatnya terlihat sangat ringkih di hadapan Johan yang bertubuh raksasa.
Dia tampak seperti kelinci kecil yang terpojok di depan seekor predator.
Johan menghentikan langkahnya. Pria itu tidak terkejut, melainkan menatap pelayannya dengan pandangan menilai yang tajam.
Dominasi dan aura kekuasaan mutlak terpancar dari cara Johan berdiri tegak tanpa rasa malu sedikit pun meski hanya berpakaian dalam.
Johan menaikkan sebelah alisnya lalu menunduk menatap puncak kepala Nadya yang bergetar halus.
"Lagi ngapain kamu di sini? Ngintip?" tanya Johan dengan nada datarnya.
"Akh!"Nadya memekik tertahan, dengan air matanya seketika meleleh membasahi sudut mata begitu rasa nyeri yang luar biasa menghantam pusat kesadarannya.Rasa sakit yang tajam dan menghentak itu terasa begitu nyata saat milik Johan yang berukuran besar memaksa masuk, menembus batasan paling suci yang selama ini dia jaga dengan taruhan harga diri.Tubuh mungil Nadya spontan menegang hebat, kakinya gemetar di bawah kungkungan tubuh kekar sang majikan.Johan menghentikan gerakannya seketika. Sepasang mata elangnya melebar, menatap Nadya dengan kilat keterkejutan yang mendalam sebelum akhirnya berubah menjadi binar kepuasan yang luar biasa maskulin.Betapa beruntungnya pria itu malam ini; di balik daster batik murah dan kepolosan pelayannya, ternyata Nadya masih seorang gadis.Dia adalah orang pertama yang menancapkan bendera kekuasaan di atas tubuh suci tersebut."Sshh... tenang, Nadya. Buka mata kamu," bisik Johan sembari mengusap lembut sisa air mata di pipi pelayannya dengan ibu jari,
Tanpa menunggu jawaban atau persetujuan dari bibir Nadya yang sudah mengunci rapat, Johan mencekal pergelangan tangan wanita itu dengan cengkeraman yang mutlak.Dia menarik tangan Nadya, menuntun langkah pelayan mudanya yang ringkih itu masuk kembali ke dalam rumah, melewati koridor terang, dan membawanya langsung ke dalam kamar tamu lantai bawah yang sunyi.Cklek.Pintu kamar ditutup dan dikunci dari dalam, menyegel takdir Nadya di bawah kuasa penuh sang majikan. Kamar tamu itu mendadak terasa begitu sempit begitu tubuh tinggi besar Johan mendominasi ruangan.Nadya mundur hingga punggungnya membentur tepian ranjang berukuran king size, menatap Johan dengan sepasang mata yang dipenuhi kepanikan murni.Johan maju selangkah dan menatap Nadya yang napasnya memburu tidak teratur. "Tenang, Nadya. Jangan gemetar seperti itu," ucap Johan."Malam ini, aku akan membuktikan kepada kamu... bahwa aku bukan pria lemah. Aku bukan pria yang menyerah dalam dua menit seperti yang kamu dengar sore tadi
Cengkeraman tangan Johan di belakang tengkuk Nadya semakin mengerat, menarik perlahan namun pasti wajah wanita muda itu agar semakin mendekat.Nadya bisa merasakan embusan napas Johan yang memburu, hangat dan sarat akan tuntutan yang mutlak.Jantung Nadya berdentum begitu keras hingga terasa menyakitkan di dadanya. Dia memejamkan mata rapat-rapat, memasrahkan diri pada nasib yang sebentar lagi akan merenggut batasan terakhir di antara mereka.Namun, tepat saat bibir Johan baru saja hendak menyentuh ranum bibir Nadya, seluruh ruangan mendadak gulita.Klik!Suara saklar otomatis yang memutus aliran listrik terdengar bersamaan dengan padamnya seluruh lampu di rumah mewah tersebut. Ruang kerja yang semula temaram seketika tenggelam dalam kegelapan total yang pekat."Ah!" Nadya memekik kaget, tubuh mungilnya tersentak ke belakang akibat keterkejutan yang instan."Sialan!" Johan mengumpat sejadi-jadinya.Suaranya yang biasa tenang kini menggelegar dipenuhi amarah dan frustrasi yang memuncak
Pukul sembilan lewat lima puluh menit.Nadya berdiri di kamar mandi paviliunnya sedang menatap pantulan dirinya di cermin yang buram. Jantungnya bertalu begitu keras hingga menciptakan rasa ngilu di dadanya.Dia telah mengganti dasternya yang kotor dengan daster batik lain yang lebih bersih, namun tetap longgar dan sederhana.Dia sengaja menguncir rambut hitamnya ke atas, menyisakan beberapa anak rambut yang membingkai wajah pucatnya. Semburat ketakutan yang murni masih tercetak jelas di matanya.Nadya merasa seperti domba yang sedang berjalan sukarela menuju kandang serigala.Dengan langkah kaki yang berat dan gemetar, Nadya keluar dari paviliun belakang.Nadya berhenti tepat di depan pintu kayu jati berukir besar di ujung lorong lantai dua.Di atas pintu itu, semburat cahaya keemasan mengintip dari celah bawah, menandakan sang pemilik ruangan memang sedang berada di dalam.Nadya menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya yang sudah tercecer di lantai.To












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.