共有

BAB 89

作者: Langit Parama
last update 公開日: 2025-12-27 08:02:29

“Aku sebenernya hamil apa gak sih, Kai?” tanya Fairish pada Kaisar yang tengah mengemudi mobilnya, meninggalkan restoran yang beberapa saat lalu mereka singgahi untuk makan siang.

Kaisar meliriknya dari kaca spion tengah, sebelum kembali fokus pada jalan raya.

“Kamu sendiri kan yang dateng ke dokter Hans. Dan hasil testpack juga dua garis merah. Apalagi yang kamu raguin, sayang?” ucap Kaisar dengan nada rendah.

“Karena aku gak mual kayak kebanyakan ibu hamil, Kai.” Fairish menatap penuh K
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (3)
goodnovel comment avatar
Sri Agus s
ada apa lagi y kira kira
goodnovel comment avatar
Marsinta Hutabarat
Ada apa ya yang mau disampaikan raja sama sultan
goodnovel comment avatar
Kristin Manullang
Radja mau ngomong apa y kepada sultan?
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 444

    Djiwa tersenyum kecil ketika melihat sang suami kembali memasuki kamar, setelah sebelumnya menidurkan putri bungsu mereka. Radja melangkah pelan, namun tetap memancarkan wibawa yang kuat, mendekati ranjang tempat Djiwa duduk bersandar di kepala ranjang dengan sikap tenang. “Anak-anak, hmph—” Ucapan Djiwa terpotong ketika Radja tiba-tiba mencondongkan tubuhnya dan mengecup bibir sang istri. Ciuman itu hangat, penuh rindu yang tertahan selama hampir dua minggu. Djiwa membalasnya tanpa ragu. Kedua tangannya terangkat, melingkar di leher Radja, menarik pria itu semakin dekat. Radja kemudian naik ke atas ranjang dengan hati-hati, mengurung tubuh mungil sang istri di bawahnya tanpa melepaskan ciuman itu. Satu tangannya bergerak pelan, menarik tali piyama Djiwa yang terikat longgar. “Mas ….” Djiwa akhirnya memutus ciuman itu. Ia tersenyum kecil sambil menatap wajah suaminya yang begitu dekat. “Kenapa, sayang?” tanya Radja pelan. “Jangan sekarang.” “Kapan?” kedua alis Radja terangk

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 443

    Ratu bangkit dari kursinya tanpa berpikir panjang dan berlari secepat mungkin. “Daddy!” Radja yang mendengar panggilan itu langsung menoleh. Begitu melihat putri kecilnya berlari ke arahnya, wajah tegas pria itu seketika melunak. Ratu langsung memeluk tubuh ayahnya dengan erat. “Daddy …!” suaranya bergetar. Air matanya langsung luruh. Radja sedikit terkejut merasakan bahu kecil itu bergetar di pelukannya. Ia segera membungkuk dan mengangkat tubuh putrinya ke dalam gendongan. “Hey … hey …!” gumamnya lembut sambil mengusap punggung Ratu. “Kenapa nangis begitu?” “Ratu kangen Daddy,” isak gadis kecil itu sambil memeluk leher ayahnya erat. Melihat itu, Regan dan Naren yang masih duduk di meja langsung menoleh. Mata mereka membulat. “Daddy!” seru mereka hampir bersamaan. Keduanya langsung berlari menghampiri. Radja yang masih menggendong Ratu langsung merentangkan satu lengannya, menarik kedua putranya agar mendekat. Regan memeluk pinggang ayahnya dari samping. Sementara Naren l

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 442

    “Kamu siapa?” tanya Radja dengan suara berat dan tegas. Tatapannya lurus tertuju pada pria muda di hadapannya, nyaris tanpa berkedip. Bagas menelan ludahnya susah payah. Ia sempat melirik wajah Radja, lalu tanpa sadar menoleh ke arah foto keluarga di dinding, sebelum akhirnya kembali menatap pria di hadapannya itu. “A-anda …?” gumamnya gugup. “Saya pemilik rumah ini,” jawab Radja singkat dan tegas. Bagas langsung menundukkan kepalanya. “Halo, Tuan. Saya Bagas, guru les anak kembar,” ujarnya sopan. “Senang bertemu dengan Anda.” Ia sedikit membungkuk. Radja masih menatapnya. Tatapannya menelusuri Bagas dari ujung kepala hingga kaki, seolah sedang menilai sosok pria muda itu. “Jadi kamu yang mengajar anak-anak saya,” gumam Radja pelan. Bagas segera mengangguk. “Iya, Tuan.” Pandangan Radja kemudian beralih ke ruang tengah. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat ketiga anaknya duduk di meja belajar, tampak serius mengerjakan soal hingga tidak menyadari kehadirannya. Sudut bibi

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 441

    “Selamat sore, Bu,” sapa Bagas sopan ketika melihat Djiwa sedang berjalan santai di halaman mansion. Wanita itu tampak menikmati sore hari sambil memperhatikan tanaman yang berjajar rapi di sepanjang jalan setapak. “Sore,” balas Djiwa dengan senyum kecil. “Saya sebaiknya memanggil Anda apa, ya? Pak Bagas? Tapi sepertinya Anda masih cukup muda.” Bagas tersenyum tipis. “Ibu bisa langsung memanggil saya Bagas saja.” Djiwa mengangguk pelan. “Kalau boleh tahu, usia Anda berapa?” “Saya … baru dua puluh tujuh tahun,” jawab Bagas dengan nada sopan. Djiwa tampak sedikit terkejut. “Kalau begitu saya panggil Bagas aja, ya. Soalnya kamu lebih muda tiga tahun dari saya.” Bagas spontan membulatkan matanya. “Ibu sekarang tiga puluh tahun?” “Iya,” jawab Djiwa singkat. Bagas tersenyum kecil. “Jujur saja, saya kira usia Ibu sekitar dua puluh lima.” Djiwa langsung membelalakkan matanya. “Ya Tuhan, lima tahun lebih muda?” Bagas terkekeh pelan. “Memang tidak terlihat seperti usia tiga puluh. Ta

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 440

    Kafe – 10.00 Jam sepuluh tepat, Djiwa sudah tiba lebih dulu di kafe tempat ia membuat janji dengan Karin. Ia memilih meja di dekat jendela, tempat cahaya pagi masuk lembut melalui kaca besar. Cangkir kopi di depannya masih utuh, hampir tidak tersentuh. Sesekali Djiwa menatap jam di pergelangan tangannya. Setelah dari sini, ia berencana langsung menjemput anak-anaknya pulang sekolah. Tak lama kemudian Karin datang. Wanita itu berjalan cepat menuju mejanya, lalu duduk di kursi seberang dengan napas sedikit terengah. “Maaf nunggu lama, Wa,” ucapnya sambil tersenyum kecil. Djiwa menggeleng pelan. “Gak lama, kok.” Namun begitu percakapan dimulai, senyum itu perlahan menghilang dari wajah Djiwa. Dengan suara pelan, ia mulai menceritakan semuanya—tentang kondisi kehamilannya yang berisiko, tentang penjelasan dokter kandungan, dan tentang bagaimana hatinya terasa hancur ketika mendengar semua itu, terlebih lagi dari suaminya sendiri. “Aku gak tahu harus gimana, Rin,” bisik Djiwa liri

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 439

    Fairish berdiri diam di depan cermin wastafel kamar mandi rumahnya setelah tamu mereka pulang. Pantulan wajahnya di cermin tampak pucat, jauh dari tenang. Baru saja beberapa menit yang lalu ia bertemu dengan seseorang dari masa lalunya. Kaisar. Mantan kekasihnya, sekaligus pria yang dulu pernah menjadi kesalahannya. Kini pria itu datang dengan seorang istri baru di sisinya. Dan yang paling menyakitkan, Fairish bisa melihatnya dengan jelas—cara Kaisar menatap wanita itu tidak lagi sama seperti dulu. Ada sesuatu yang tulus di sana. Seolah-olah kali ini, Kaisar benar-benar mencintai istrinya. Fairish memejamkan matanya pelan. “Aku udah punya suami, dan aku juga udah punya anak,” bisiknya lirih pada dirinya sendiri. Tangannya perlahan mencengkeram pinggiran wastafel. “Jin dasim, tolong … berhenti ganggu hidup aku.” Napasnya terasa berat. “Aku udah bahagia sama Mas Sultan,” lanjutnya pelan. “Dia segalanya buat aku sekarang.” Kelopak matanya kembali terpejam kuat. “Tapi kenapa kamu

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 127

    “Terima kasih banyak ya, dok?” ucap Fairish sembari mengulas senyum manis yang dipaksakan. Ia merapikan pakaiannya sebelum turun dari ranjang pasien. “Sama-sama, Bu. Kalau begitu, tunggu sebentar, ya. Saya cetak dulu foto hasil USG-nya,” ucap dokter obgyn tersebut sambil melangkah ke meja kerjanya

    last update最終更新日 : 2026-03-23
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 123

    “Non Djiwa, istirahat, ya?” Mbok Inem segera membantu Djiwa berbaring di atas ranjang. “Non pasti kaget,” ucapnya lirih, mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca. Djiwa menyandarkan punggung ke sandaran ranjang, memejamkan mata sejenak sambil berusaha menstabilkan napasnya yang masih memburu. Mbok

    last update最終更新日 : 2026-03-23
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 112

    Mbok Iyam ikut terhenti. Alisnya berkerut saat menyadari apa yang baru saja mereka dengar. “Non ….” suaranya lirih, penuh iba. Djiwa tak sanggup melangkah maju. Tak juga sanggup mundur. Dadanya sesak, perutnya terasa mengencang halus—seolah janin kecil di dalam sana ikut merasakan sakit yang sama

    last update最終更新日 : 2026-03-23
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 95

    “Om, awas Anggi mau lewat,” keluh bocah itu pada sosok bertubuh tinggi yang menghadang jalannya. Kepalanya mendongak, sampai lehernya terasa pegal. Dante menyeringai miring. Tatapannya beralih pada Inggrit yang masih di dalam mobil. Wanita itu jelas melayangkan tatapan tajam dan dingin padanya.

    last update最終更新日 : 2026-03-22
続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status