Share

BAB 89

Penulis: Langit Parama
last update Tanggal publikasi: 2025-12-27 08:02:29

“Aku sebenernya hamil apa gak sih, Kai?” tanya Fairish pada Kaisar yang tengah mengemudi mobilnya, meninggalkan restoran yang beberapa saat lalu mereka singgahi untuk makan siang.

Kaisar meliriknya dari kaca spion tengah, sebelum kembali fokus pada jalan raya.

“Kamu sendiri kan yang dateng ke dokter Hans. Dan hasil testpack juga dua garis merah. Apalagi yang kamu raguin, sayang?” ucap Kaisar dengan nada rendah.

“Karena aku gak mual kayak kebanyakan ibu hamil, Kai.” Fairish menatap penuh K
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (4)
goodnovel comment avatar
Bacakan Bang Yudi
iklan oh iklan
goodnovel comment avatar
Sri Agus s
ada apa lagi y kira kira
goodnovel comment avatar
Marsinta Hutabarat
Ada apa ya yang mau disampaikan raja sama sultan
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 581

    “Kamu temani Fairish di sini. Saya akan menjemput anak-anak, sekalian Binar juga,” ucap Radja pelan, menatap Djiwa yang sejak tadi tak berhenti mondar-mandir di depan ruang persalinan. Djiwa langsung menoleh, keningnya berkerut. “Gak usah, Mas. Biar Pak Aslan aja yang jemput mereka. Kamu di sini saja, sama aku.” “Tidak apa-apa,” balas Radja tenang. “Saya masih bisa melakukan itu. Sudah lama saya tidak menjalani rutinitas seperti ini.” Tangannya bergerak menekan tombol di kursi rodanya, berniat melaju pergi. “Mas.” Djiwa sigap menahan kursi itu sebelum bergerak lebih jauh. Tatapannya tegas, tapi penuh khawatir. “Jangan keras kepala. Kamu bisa lakuin semua itu nanti, setelah benar-benar pulih.” Hening sejenak. Radja menatap istrinya cukup lama, seolah menimbang antara keinginan dan kenyataan. Lalu perlahan, ia mengangguk. “Baiklah,” ucapnya singkat. “Kali ini saya turuti.” Djiwa tersenyum kecil, napasnya sedikit lega. Ia mendorong kursi roda itu mendekat ke deretan kursi tunggu

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 580

    “Saya bukan bayi. Kenapa kamu bawa saya berjemur di bawah terik matahari seperti ini?” tanya Radja, matanya menyipit setiap kali cahaya menyentuh wajahnya. Djiwa tersenyum tipis, tetap berdiri di belakang kursi roda itu. “Biar kamu cepet sehat, Mas. Gak cuma bayi yang butuh matahari, orang dewasa juga.” Ia menghentikan langkahnya, lalu berjalan memutar dan berjongkok di hadapan suaminya. “Pernah denger ini?” tanyanya lembut. “Manusia itu lahir seperti bayi, dan suatu saat akan kembali seperti bayi lagi.” Radja menatapnya tanpa banyak ekspresi. “Bedanya,” lanjut Djiwa pelan, “Yang satu disambut dengan cinta, yang satu lagi dijaga dengan cinta.” Angin pagi berhembus pelan, membawa aroma rumput yang masih basah oleh embun. Djiwa menunduk, tangannya perlahan meraih kaki Radja yang terbungkus celana panjang. Ia mulai memijatnya dengan lembut, penuh kehati-hatian. Gerakannya pelan. Terlatih. Seolah setiap sentuhan mengandung harapan. “Djiwa ….” gumam Radja rendah. “Kalau sakit bil

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 579

    “Daddy,” panggil Ratu pagi itu. Dengan seragam sekolah yang sudah rapi, gadis kecil itu langsung berlari kecil menuju kamar orang tuanya. Di dalam, ia menemukan Radja duduk di kursi roda, menghadap jendela. Tatapannya kosong sejenak, menikmati pemandangan taman samping yang basah oleh embun pagi. Suara langkah kecil itu membuatnya menoleh. “Iya, Nak?” sahutnya lembut. Senyum Ratu langsung mengembang lebar. “Daddy udah mau ngomong sama Ratu lagi?” Sudut bibir Radja terangkat tipis. “Kapan Daddy gak mau ngomong sama Ratu, hm?” tanyanya pelan, sambil memutar kursi rodanya mendekat. Ratu menunduk malu-malu. “Dari kemarin, pas Daddy sampe di bandara, gak ngomong sama Ratu.” Radja terkekeh pelan. “Daddy cuma capek, bukan gak mau ngomong sama Ratu.” Tangannya terulur. “Sini.” Ratu mendekat tanpa ragu. Namun matanya membulat kaget saat Radja dengan mudah mengangkat tubuh kecilnya dan mendudukkannya di atas pangkuannya. “Daddy …,” Ratu meringis kecil. “Ratu gak mau.” Radja mengerny

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 578

    Kaisar berdiri di balkon kamarnya siang itu. Di sela jemarinya, sebatang rokok menyala pelan. Sesekali ia mengisapnya, lalu menghembuskan asap ke udara, menguap, hilang, seperti pikirannya yang tak kunjung menemukan ujung. Fokusnya hanya satu, kondisi sang kakak. Dan sosok sang istri yang sampai sekarang disebut-sebut sebagai pelaku utama kecelakaan tersebut. “Bukan …,” gumamnya pelan. “Bukan karin pelakunya. Akan kupastikan kalau istriku tidak bersalah.” Suara pintu terbuka pelan dari dalam kamar. Langkah ringan mendekat. Karin muncul di ambang balkon, membawa nampan kecil berisi minuman dingin dan beberapa camilan. Ia melangkah pelan, lalu meletakkan nampan itu di meja kecil di samping kursi. “Kamu masih di sini,” ucapnya lembut. Kaisar tak langsung menoleh. Karin berdiri di sampingnya, menatap ke arah yang sama, hamparan halaman mansion yang sunyi. “Masih mikirin Mas Radja, ya?” tanyanya pelan. Kaisar menghela napas panjang, lalu mematikan rokoknya di asbak. “Bukan cuma

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 577

    “Kamu sakit lagi, Mas?” Kaisar mendekat, berdiri di sisi ranjang sang kakak. Radja tak menjawab. Tatapannya jatuh pada kedua kakinya yang tertutup selimut, seolah ada sesuatu yang terus ia pikirkan. “Iya,” sahut Sultan tenang. “Mas Radja sakit sejak di Jerman.” Ia melirik Kaisar dalam. “Sampai Djiwa harus menyusul ke sana untuk menjemputnya.” Kaisar terhenyak. “Sejak kapan? Terus anak-anak gimana?” “Sudah lebih dari seminggu Djiwa di sana,” jawab Sultan. “Anak-anak sama saya di rumah.” Ucapan itu membuat dada Sekar semakin sesak. Tangannya terangkat perlahan, gemetar mengarah pada Radja. Djiwa yang peka langsung mendorong kursi roda itu mendekat ke sisi ranjang. “Ra … d … ja ….” lirih Sekar, suaranya pecah. Air matanya jatuh satu per satu. “I … ni … Ma … mi ….” ia berusaha bicara, namun kata-katanya tersendat. Tangannya meraih tangan Radja dengan susah payah. Tatapannya penuh penyesalan. Seolah ingin mengatakan maaf. Seolah ingin menarik semua yang sudah terjadi. “Ma … a …

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 576

    “Mi,” panggil Kaisar saat memasuki kamar ibunya. Sekar yang tengah menjalani terapi bersama dokter langsung menoleh. Di sisi lain, Karin duduk setia menemani. “Ada apa, Mas?” Karin segera bangkit, menghampiri suaminya. Kaisar menatapnya sejenak. Kali ini, raut wajahnya berbeda—ada kelegaan yang tak bisa disembunyikan. “Mas Radja udah pulang dari Jerman.” Seketika mata Sekar berbinar. Bibirnya bergetar, berusaha merangkai kata. “Ra … d … ja …?” “Iya, Mi,” jawab Kaisar lembut. Wanita itu berusaha bangkit dari duduknya, tubuhnya masih belum sepenuhnya kuat. “Ke … sa … na … ki … ta … ke … sa … na ….” “Tidak perlu, Mi. Biar aku telefon Mas Radja, suruh dia dateng ke sini,” ucap Kaisar. Namun Sekar menggeleng dengan tegas. “Ke ... sa ... na ...!” Kaisar menghela napas ringan. “Lihat kondisi Mami. Daripada kita yang ke sana, lebih baik Mas Radja yang datang ke sini.” “Ke ... sa ... na ....” rengek Sekar pada putra bungsunya itu. Ada jeda panjang. Kaisar langsung sigap menopang t

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 46

    “Mbak, seriusan Djiwa sampe pagi ini belum keluar juga?” bisik Fairish pada Inggrit pagi itu di ruang tengah saat semuanya berkumpul. Hanya para lelaki yang akan pergi bekerja hari ini. Radja, Sultan dan juga Kaisar. Inggrit dan Fairish akan mengambil cuti lagi, merasa lelah karena acara kemarin.

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-19
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 301

    “Ke mana Daddy, Mas?” tanya Narendra malam itu pada saudara kembarnya, Regantara. Keduanya masih terjaga meski jarum jam sudah mendekati pukul sebelas. Mereka berbaring di kamar ayahnya, berharap pintu terbuka dan sosok Radja muncul seperti biasanya. Namun sampai lampu-lampu mansion mulai dired

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-03
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 193

    “Mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya. Menyatakan perkawinan antara Rajendra Afnand Reinard sebagai Penggugat dan Inggrit Anindya Satya sebagai Tergugat yang dilangsungkan pada tanggal hari ini dinyatakan putus karena perceraian.” Palu hakim diketuk satu kali. Sunyi memenuhi ruang sidang

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-27
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 131

    “Djiwa nggak mau, Mas.” Suara Djiwa terdengar pelan, namun tegas. Tatapannya lurus ke depan, menolak menoleh. Radja melirik singkat ke arahnya, lalu kembali fokus ke jalan. “Maksudnya?” “Djiwa gak mau ke dokter obgyn. Apalagi USG untuk tahu jenis kelamin anak ini.” Sudut bibir Radja terangka

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-24
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status