LOGINElena Vance tahu betul posisinya. Di mata keluarga Harrington yang terhormat, dia adalah menantu kesayangan yang sempurna. Namun bagi Liam, sang suami, Elena tidak lebih dari sekadar pajangan yang membosankan-diam, kaku, dan gemuk. Tubuh tambunnya hanyalah tameng untuk menutupi gaya hidup Liam yang liar. Elena dianggap sebagai kertas kosong yang bisa dibuang kapan saja, tepat setelah seorang ahli waris lahir dari rahim Chloe-wanita simpanan Liam yang seksi dan flamboyan. Namun, Liam tidak pernah menyangka bahwa di balik wajah tenang dan tubuh yang selalu dihina itu, Elena menyimpan strategi besar yang siap menjatuhkan mereka semua. Saat boneka kaku mulai mengendalikan permainan, siapakah yang akan hancur terlebih dahulu?
View More“Kenapa aku harus membiarkanmu menikahi si jalang kaku yang badannya seperti drum minyak itu, Sayang?”
Chloe mendesis tajam di dalam keheningan penthouse suite The Connaught, Mayfair. Ujung jemarinya yang dihiasi kuteks merah menyala bergerak lambat, mengelus dada bidang Liam yang basah di dalam bak mandi marmer Carrara. “Biar kamu bisa masuk dengan mulus ke keluarga Harrington, Sayang,” jawab Liam serak. Ia menangkap pergelangan tangan wanita itu, menghentikan gerakannya tepat di atas jantungnya. “Terdengar seperti lelucon yang menjijikkan!” sahut Chloe kesal. “Itu bukan lelucon. Itu taktik yang sempurna.” “Taktik?” Chloe memekik pelan. “Kau akan menikahinya! Kau akan hidup serumah dengannya! dan Aku harus merelakanmu tidur di ranjang yang sama dengan bongkahan daging berjalan itu. Membayangkannya saja membuatku mual, Liam! Aku tidak sudi membayangkan kulitmu yang mulus bersentuhan dengan tubuh gempalnya!” Chloe menarik tangannya dengan kasar, membuat air hangat di dalam bak mandi besar itu beriak. Dia membalikkan tubuh, membelakangi Liam, memperlihatkan punggung mulusnya yang basah. “Perempuan itu terlihat seperti seekor babi peliharaan,” lanjut Chloe. “Bodoh, tidak punya gairah, jalannya lambat karena kelebihan lemak di tubuhnya, pakaiannya selalu tertutup seperti biarawati abad kedelapan belas untuk menutupi lipatan-lipatan kulit tebal menggelikan di tubuhnya! Dan ibumu? Ibumu memujanya seolah-olah dia adalah seorang santa, padahal dia Cuma gadis obesitas yang tidak laku!” Liam terkekeh rendah. Ia mendekap pinggang Chloe dari belakang, mengecup pundaknya yang wangi. “Justru karena itu, aku yakin rencana kita akan berhasil, Sayang,” bisik Liam tepat di telinga Chloe, membuat wanita itu bergidik pelan. “Bagaimana bisa kau seyakin itu? Kau akan menikahinya dan semua orang akan tau dia istrimu!” “Dia seperti boneka peliharaan untukku dan ibuku,” sahut Liam, nadanya begitu dingin dan manipulatif. “Dia terlalu bodoh hingga tak pernah membantah, tidak pernah berpacaran, dan diam seperti patung lilin raksasa. Jika aku menikahinya, ibuku akan berhenti cerewet dan berhenti mengawasiku.” Chloe berbalik dengan cepat, mengalungkan kedua lengannya di leher Liam. “Lalu bagaimana denganku? Berapa lama aku harus bersembunyi di bawah bayang-bayang si gajah bengkak itu?” “Tidak lama, aku berjanji,” bisik Liam, matanya menggelap oleh gairah yang mulai menyulut. “Isi kontraknya sudah siap.” “Isi kontrak?” tanya Chloe penasaran. “Ya. Kita akan memiliki anak, Chloe. Aku akan menghamilimu, dan perempuan gemuk itu yang akan berpura-pura mengandung anak kita di depan publik.” Chloe terbelalak, setengah tidak percaya namun terangsang oleh ide gila itu. “Berpura-pura mengandung? Bagaimana caranya?” “Gaun-gaunnya yang longgar dan tubuhnya yang sudah bengkak dari awal akan membuat semua orang percaya tanpa curiga kalau dia sedang hamil. Lalu kita akan mengirimnya ke luar negeri, menjauhkannya dari mata-mata London. Begitu bayi kita lahir, dia akan diceraikan, dan kamu akan masuk sebagai penyelamat yang merawat anakku. Keluargaku tidak akan punya pilihan selain menerimamu.” “Kau yakin semua akan berjalan lancar?” “Tentu saja!” jawab Liam penuh percaya diri. “Bagaimana kalau ibumu ingin melihat atau mengelus perut si gajah bengkak itu hanya karna dia berpikir benar-benar sedang hamil?” “Aku sudah memikirkannya. Aku akan membeli perut karet hamil untuk mengelabui mereka semuanya.” “Ide yang brilian, Liam!” puji Chloe. “Dan yang paling penting, setelah anak kita lahir, anak kita akan menerima semua harta warisan Harrington.” Mata Chloe membelalak saat mendengar anaknya nanti akan jadi pewaris dari harta keluarga Harrington. Sungguh itu harta yang sangat fantastis yang dia kejar selama ini. “Tapi kamu berjanji tidak akan menyentuhnya kan?” tanya Chloe, bibirnya hanya berjarak beberapa milimeter dari bibir Liam. Napasnya memburu. “Ya. Aku berjanji padamu!” “Satu kali pun, Liam. Jika aku tahu kamu menyentuh tumpukan lemak itu, aku akan membencimu seumur hidupku!” “Aku bahkan tidak sudi melihat tubuhnya yang mengerikan di bawah lampu kamar, Chloe,” potong Liam dengan nada meremehkan. “Bagiku, dia tidak lebih dari selembar kertas kosong yang kotor, yang bisa kubuang ke tempat sampah kapan saja. Membayangkan harus menyentuhnya saja sudah membuat gairahku mati.” “Kau bersumpah?” “Aku bersumpah demi cintaku padamu.” Senyum kemenangan terukir di bibirnya yang sensual. Dia menarik tengkuk Liam, menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang panas dan liar. Liam mengangkat tubuh Chloe yang ramping keluar dari bak mandi marmer, mengabaikan air yang membasahi lantai kayu ek yang mahal, dan membawanya langsung menuju ranjang berukuran besar berbalut seprai sutra Mesir di kamar utama. Di sana, mereka tenggelam dalam permainan fisik yang membara, sebuah perayaan atas rencana licik yang mereka buat. Beberapa jam kemudian, di depan rumah bergaya Georgian yang megah di kawasan elit Belgravia. Liam turun dari Rolls-Royce dengan raut wajah dingin dan datar. Ia melangkah masuk ke ruang perpustakaan pribadi keluarga Vance dengan setelan jas Tom Ford yang kembali rapi, meskipun sisa aroma parfum Chloe yang menyengat masih samar-samar menempel di kerah kemejanya. Di balik meja kayu mahoni yang indah, duduk seorang wanita muda bertubuh besar. Elena Vance. Tubuhnya yang gemuk dibalut gaun terusan berlengan panjang berwarna biru tua yang longgar dan tertutup rapat hingga ke leher. Brakk! Liam melemparkan sebuah map kulit berwarna hitam tepat di atas buku hukum bisnis yang sedang dibaca Elena. “Apa ini, Liam?” suara Elena terdengar datar dan tenang. “Surat kontrak pernikahan kita,” jawab Liam seraya melipat kedua tangannya di dada. “Ibuku menginginkanmu menjadi menantunya, dan aku terpaksa mengabulkannya. Tapi jangan harap ini menjadi pernikahan dongeng yang kamu impikan, Elena. Perempuan dengan penampilan sepertimu harusnya tahu diri.” Elena melirik map di depannya, lalu kembali menatap Liam tanpa riak emosi sedikit pun. “Aku tidak pernah mengagumi dongeng, Liam. Aku tahu persis kenapa pernikahan ini terjadi.” “Bagus kalau kamu tahu dan sadar diri,” cibir Liam. “Buka dan baca isinya.” Elena membuka map itu dengan gerakan jari-jemari yang tenang namun kaku. “Di sana tertulis dengan jelas,” lanjut Liam, suaranya sengaja ditekan untuk mengintimidasi. “Pernikahan ini hanya akan berlangsung sampai aku mendapatkan ahli waris. Kamu akan mendapatkan status, uang tunjangan yang melimpah, dan nama baik keluarga Harrington. Tapi selama pernikahan ini berjalan, kamu harus mengikuti semua aturan yang kubuat. Termasuk berpura-pura hamil saat waktunya tiba, dan membiarkanku hidup dengan caraku sendiri.” Elena tetap bergeming. Matanya membaca baris demi baris perjanjian dan peraturan yang merendahkan harga dirinya sebagai seorang wanita, aturan yang mengaturnya untuk menjadi tameng bagi wanita lain yang dicintai Liam. Liam memperhatikan Elena, mencari tanda-tanda kemarahan atau tangisan. Namun, wajah Elena tetap sedingin es. Tidak ada air mata yang jatuh di pipinya yang pucat. “Kenapa diam? Apa kamu ingin protes?” tanya Liam terlihat tidak mau di bantah. Elena tidak menjawab, dia meraih pena bulu mahal di dekatnya, lalu menatap Liam dengan pandangan yang sulit diartikan. “Jika aku menandatangani ini, apakah kamu berjanji akan mempercepat prosesnya agar pernikahan ini cepat berakhir?” Liam tertegun sejenak sebelum menjawab. “Tentu saja. Semakin cepat kamu dan tubuh besarmu itu pergi dari hidupku, semakin baik.” “Tapi aku punya pengecualian, Liam.” Elena menjawab santai, dia bahkan mengabaikan hinaan Liam. “Aku tidak suka di bantah!” “Kau bahkan belum mengetahui apa yang hendak aku katakan.” “Katakan cepat, apa itu?!” sahut Liam tak sabar. “Jika wanita simpananmu itu tidak bisa hamil dalam waktu satu tahun, maka seluruh perjanjian kontrak ini batal, dan aku akan menjadi Nyonya Liam Harrington seumur hidupmu.” Liam kaget dengan permintaan Elena. Lalu tertawa sinis. “Sebegitu inginnya kau jadi istriku selamanya?” Liam berujar remeh. “Jangan pernah bermimpi tinggi Elena! Bahkan di pernikahan ini aku tidak akan menyentuhmu sedikitpun, kecuali untuk formalitas!” “Kalau kau tidak suka dengan penawaranku, aku akan membeberkan semua permintaan konyolmu ini pada Elizabeth! Agar ibumu tau kalau dia punya anak segoblok kamu!” ucap Elena santai, meletakkan pulpennya di atas kertas perjanjian itu. “Apa kau bilang? Aku goblok?” Liam meradang. “Hu um,” Elena mengangguk mantap. “Kau mulai berani mengancamku?” “Aku hanya memberi tawaran yang sama-sama menguntungkan Liam. Tawaran yang kamu berikan terlihat biasa saja. Aku tidak butuh hartamu atau kehormatanmu! Keluarga Vance tidak pernah kekurangan itu semua!” Elena balas meremehkan Liam. Liam mendengus kesal karna diremehkan. Dia tidak menyangka ternyata Elena bisa banyak bicara juga. Ucapan Elena ada benarnya menurut Liam, Liam tidak punya hal lain yang bisa dia tawarkan untuk Elena selain harta. “Ya sudah. Iya!” jawab Liam dengan kasar. “Lagian aku yakin, Chloeku yang cantik dan seksi pasti akan segera punya anak!” Elena hanya mencebik. “Baiklah. Ini baru penawaran yang adil menurutku,” sahut Elena pelan. Dia menurunkan pandangannya, menempelkan ujung pena pada kertas kontrak tersebut, lalu menorehkan tanda tangannya tanpa ragu sedikit pun. Dia kemudian menutup map itu dan menggesernya kembali ke arah Liam. “Sudah selesai,” ucap Elena, tatapannya menghujam lurus ke dalam manik mata Liam. “Pernikahan terkutukmu ... resmi dimulai!” lanjut Elena lagi.Ketegangan menyelimuti ballroom hotel bintang lima tersebut. Di atas panggung utama, Liam masih berdiri mematung. “Sepertinya itu tempat khusus milik kekasihmu, Liam,” ucap Elena setengah berbisik. “Ibu hamil harusnya di rumah saja. ini malah keluyuran ikut acara yang bukan miliknya,” lanjut Elena sarkas.Liam tak membalas sentilan Elena, ia melihat kekacauan yang kian memancing perhatian tamu, Liam bergerak cepat mengambil tindakan, ia memberi isyarat tangan secara tegas dan rahasia kepada dua pengawal khusus yang sebelumnya memang sudah ia perintahkan untuk menjaga Chloe selama acara."Bawa dia pergi dari sana sekarang juga. Lewat pintu belakang khusus, cepat dan jangan sampai memancing perhatian!" panggil Liam setengah berbisik melalui interkom kecil yang terpasang di kerah kemejanya.Para pengawal yang sangat sigap itu langsung membelah kerumunan orang, membopong tubuh Chloe, lalu menyelinap keluar meninggalkan ruangan sebelum perhatian khalayak ramai tertuju sepenuhnya ke sana.
Sebelum acara dimulai, Elena sedang berada di ruangan rias VIP untuk merapikan gaun malamnya. Pintu ruangan tiba-tiba terbuka perlahan tanpa ada ketukan sama sekali. Chloe melangkah masuk secara diam-diam, lalu dengan cepat memutar kunci pintu dari dalam.Elena yang sedang memoles lipstik hanya melirik dingin dari pantulan cermin tanpa mengubah posisinya. "Apa yang kamu lakukan di sini? Di sini ada kamera cctv," ucap Elena.Chloe menyilangkan kedua tangannya di dada, melangkah mendekat dengan senyuman miring yang penuh keangkuhan. "Masih sempat-sempatnya kamu berdandan seindah ini? Untuk apa? Agar orang-orang mengira kamu ratunya malam ini?""Ini acaraku dan Liam," sahut Elena tenang seraya meletakkan lipstiknya. "Bukannya Liam sudah menyiapkannya area khusus yang nyaman untukmu di luar?""Aku datang ke sini bukan untuk beramah-tamah denganmu, Elena," cetus Chloe, memangkas jarak di antara mereka hingga berdiri tepat di samping kursi Elena. "Aku hanya ingin menegaskan satu hal padamu
Keputusan telah diambil oleh orang tua mereka secara sepihak, baik Liam maupun Elena tidak lagi memiliki celah sedikit pun untuk menghindar. Di hadapan orang tua mereka yang tampak sangat bersemangat, Liam dan Elena hanya bisa mengangguk pasrah dan menyatakan persetujuan atas aturan mereka."Baiklah, Yah. Jika memang itu yang terbaik, kami ikut saja," ujar Liam saat itu dengan nada terpaksa yang berusaha ditutup-tutupi."Bagus. Minggu depan acara besar ini akan menjadi berita utama di seluruh negeri," sahut Thomson puas.Sore harinya, di dalam unit apartemen mewah milik Chloe, suasana terasa jauh berbeda. Chloe melingkarkan kedua tangannya dengan sangat manja di lengan Liam, menyandarkan kepalanya di bahu lebar pria itu seraya tersenyum penuh kemenangan."Ini testpack terbaru dan foto USG terbaru bayi kita, Sayang," ucap Chloe dengan nada suara yang sengaja dimanja-manjakan. Tangannya yang lentik menyerahkan sebuah amplop cokelat berisi bukti kehamilannya. "Kan si gajah bengkak itu ti
Keheningan malam berganti pagi. Seperti biasa, Liam selalu keluar di tengah malam tanpa pernah ketahuan jam berapa ia kembali. Namun, setiap kali Elena membuka matanya saat fajar menyingsing, pria itu selalu sudah berada di dalam kamar mereka.Elena mengusap matanya perlahan, membetulkan posisinya dan duduk bersandar di kepala ranjang. Di dekat lemari pakaian, Liam sedang berdiri merapikan kemejanya."Turunlah ke bawah, ada Thomson Vance di bawah," ucap Liam datar tanpa sedikit pun menoleh ke arah Elena. Tangannya sibuk melingkarkan jam tangan mewah di pergelangan tangan kirinya.Elena membelalakkan matanya seketika, kantuknya menguap habis. "Ayah di bawah? Mau apa Ayah ke sini sepagi ini?""Mana aku tahu. Makanya kamu turun temui ayahmu sana!" cetus Liam dingin dengan nada penuh ketidaksukaan."Aku harus mandi dulu," sahut Elena pelan, berusaha mengabaikan nada ketus suaminya."Jangan bikin ayahmu menunggu lama, aku tidak suka basa-basi tidak penting dengan orang tua!" balas Liam sed






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.