Se connecterDikejar penagih utang dan akan dijadikan budak nafsu para hidung belang di club malam, Freya melarikan diri dan masuk dengan asal ke dalam kamar VIP yang mana di dalamnya terdapat pria tampan bernama Axel sedang bermalam di sana. Bagai keluar kandang buaya masuk ke kandang singa, Axel memang menyelamatkannya, namun dengan syarat: menikah dengannya!
Voir plus"Cari perempuan itu! Dia tidak bisa lari jauh dengan gaun seperti itu!"
Suara serak itu milik salah satu lintah darat suruhan rentenir yang mengejarnya. Freya menoleh sekilas, melihat bayangan dua pria berbadan besar berbelok di ujung koridor. Sudut koridor ini buntu, kecuali beberapa pintu kamar VIP di sisi kiri.
Freya tahu ia sudah di ujung tanduk. Di usianya yang menginjak 28 tahun, ia harus menanggung badai terbesar dalam hidupnya. Ayahnya kabur entah ke mana, meninggalkan utang judi fantastis yang kini dibebankan ke pundaknya.
Sebagai seorang waiters yang bekerja di sebuah restoran hotel, Freya tidak punya apa-apa untuk membayar. Dan di malam ini, ia dijebak dan diseret ke klub ini untuk "dijual" sebagai pelunas utang.
Di ambang keputusasaan, Freya tidak memiliki pilihan. Ia pun mencengkeram kenop pintu kayu jati berwarna gelap yang paling dekat dengannya, memutarnya dengan tangan gemetar, lalu menyelinap masuk sembari langsung merapatkan punggungnya ke daun pintu.
Klik.
Di tengah ruangan, seorang pria sedang duduk sendiri di sofa kulit panjang. Di tangannya ada sebuah gelas kristal berisi cairan amber.
Pria itu menatap Freya. Sepasang matanya setajam elang, berkilau dingin di kegelapan. Penampilannya sangat matang dan berwibawa, mencerminkan pesona pria berusia 35 tahun yang berada di puncak kekuasaan dan kemapanan.
Pria itu adalah Axel Leonardo.
Freya langsung terpaku menatap pria tampan itu. Sinyal bahaya di otaknya langsung berteriak sekeras mungkin. Pria di depannya ini memancarkan aura dominasi yang pekat.
Ia berbahaya. Namun, saat suara benturan sepatu bot di luar pintu kembali terdengar, Freya tahu ada "neraka" yang lebih konkret menantinya di luar sana jika ia keluar dari ruangan ini.
"Siapa kau?" tanya Axel dengan suara rendah dan tanpa emosi.
"Tolong," bisik Freya dengan suara seraknya sambil melangkah maju dan menjatuhkan harga dirinya ke lantai. "Tolong aku. Sembunyikan aku dari orang-orang di luar yang sedang mengejarku.”
Namun, Axel tidak bereaksi sedikit pun. Ia hanya menyesap minumannya lambat-lambat. "Ini area privat. Keluar."
"Aku mohon!" Freya nekat mendekat lalu menatap Axel dengan mata yang berkaca-kaca namun penuh ketegasan yang rapuh. "Jangan biarkan mereka membawaku. Aku akan melakukan apa saja. Apa saja, Tuan! Asalkan kau mau menolongku malam ini dan membebaskanku dari mereka."
Axel menaikkan sebelah alisnya dan menatap Freya dengan minat yang tersembunyi. "Apa saja?"
"Ya, apa saja," tegas Freya, napasnya masih tersengal.
“Siapa namamu?” tanya Axel dingin.
Freya menelan ludahnya, namun suara langkah kaki dan teriakan orang yang mengejarnya itu semakin mendekat. “Freya. Namaku Freya, Tuan—”
Brak!
Dua pria berbadan besar yang mengejarnya merangsek masuk dengan napas terengah-engah. Pemimpin mereka, seorang pria berkepala botak dengan tato ular di leher, langsung menyeringai saat melihat Freya.
"Oh, jadi kau bersembunyi di sini, Jalang Kecil," geram si pria botak, kemudian melangkah maju hendak mencengkeram lengan Freya. "Kau pikir kau bisa lari dari utang judi ayahmu, hah? Pulang dan bayar utangmu dengan tubuhmu, sialan! Pelanggan sudan menunggu!"
Freya spontan mundur dan berlindung di balik sisi sofa tempat Axel duduk. Tubuhnya bergetar hebat.
"Hei, Tuan," si pria botak beralih menatap Axel. "Kami hanya ingin mengambil milik kami. Jangan ikut campur jika tidak mau urusanmu jadi panjang."
Axel masih tidak berpaling dari posisinya. Ia hanya memberikan satu isyarat tangan yang dingin kepada dua pengawalnya yang mendadak muncul dari balik bayangan sudut kamar.
"Singkirkan mereka," perintah Axel dengan pelan namun mutlak.
"Hei! Apa-apaan—"
Sebelum si pria botak menyelesaikan kalimatnya, dua pengawal Axel sudah bergerak dengan presisi yang menakutkan. Satu pukulan telak ke ulu hati dan satu puntiran lengan yang efisien membuat kedua lintah darat itu berlutut di lantai dalam hitungan detik.
Tanpa suara, kedua pengejar Freya itu diseret keluar dari kamar, dan pintu kembali ditutup rapat.
Sunyi kembali menguasai ruangan.
Freya mengembuskan napas panjang yang tertahan di dadanya. Lututnya terasa lemas, hampir membuatnya jatuh ke lantai jika ia tidak berpegangan pada sandaran sofa. Ia lalu memandang pria yang duduk di depannya dengan rasa ingin tahu yang besar sekaligus takut.
"Siapa... siapa namamu, Tuan?" tanya Freya ragu-ragu.
Pria itu berdiri, tubuh tingginya yang tegap seketika mengintimidasi Freya. "Panggil saja Axel."
"Terima kasih sudah menolongku, Tuan Axel. Aku benar-benar—"
"Berapa utang yang dimiliki ayahmu?" potong Axel sembari meletakkan gelasnya, lalu menopang dagu menatap Freya dengan tatapan datarnya.
"Dua puluh miliar," jawab Freya lirih saat menyebutkan nominal yang selama ini mencekik lehernya.
Axel tidak tampak terkejut mendengar nominal tersebut. Pria berusia 35 tahun itu justru merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah ponsel pintar berdesain elegan.
Jarinya bergerak cepat di atas layar, mengetikkan sesuatu seolah sedang mengirim pesan singkat kepada seseorang. Setelah beberapa detik, ia memasukkan kembali ponselnya tanpa penjelasan.
“Kalau begitu aku permisi—"
"Aku tidak menolongmu secara cuma-cuma, Freya," potong Axel cepat dengan nada yang dingin memotong kalimat Freya.
Pria itu kemudian melangkah mendekat, mengunci tatapan mata Freya yang langsung membeku saat namanya disebut oleh pria yang baru ia kenal itu.
Axel merogoh ponselnya kembali dan memperlihatkan sebuah notifikasi transaksi berhasil di layarnya. "Utang dua puluh miliar milik ayahmu sudah lunas detik ini juga. Aku yang membayarnya."
Jantung Freya seakan berhenti berdetak. Ia menatap Axel dengan tatapan tidak percaya. "Kau... melunasinya? Ta-tapi… kenapa?”
Axel menarik dagu Freya dengan jemarinya yang dingin, memaksa perempuan berusia 28 tahun itu menghadapnya secara mutlak. Tatapannya tajam tanpa emosi saat ia menuntut janji Freya.
"Kau bilang kau akan melakukan apa saja, bukan? Sekarang, bayar utang itu dengan menjadi istriku!"
Di tengah keheningan ruang tengah yang mencekam, konfrontasi antara Axel dan ibunya mencapai titik terpanas.Melanjutkan deklarasinya yang membekukan darah seluruh anggota keluarga, Axel menjatuhkan larangan keras dan mutlak kepada Manda.Pria itu memasang benteng tak kasatmata yang memagari kehidupan istrinya dari jangkauan siapa pun."Mulai detik ini, aku melarang keras Ibu untuk pernah membawa, menemui, atau bahkan mengajak Freya pergi ke mana pun tanpa izin tertulis dan persetujuan langsung dari mulutku sendiri," tegas Axel, suaranya bergaung menembus setiap sudut ruangan yang sunyi.Axel menetapkan barikade pelindung yang tak menoleransi celah sekecil apa pun di masa depan.Sorot matanya yang tajam menancap lurus pada Manda, menegaskan bahwa hak dan otoritas atas keberadaan, pergerakan, serta napas Freya sepenuhnya berada di tangannya, bukan lagi pada aturan atau tradisi klan Leonardo."Jangan pernah berani mengetuk pintu kamarnya, memanggilnya ke ruang makan tanpa seijinku, apal
Axel menghubungi seluruh anggota inti keluarga besar Leonardo—Manda, Juan, Evelyn, dan Helena—satu per satu."Batalkan semua janji temu kalian," pangkas Axel dingin sewaktu tersambung dengan ayahnya, Juan."Siang ini, pukul satu tepat, seluruh anggota keluarga harus sudah berkumpul di ruang tengah kediaman utama.""Ada apa, Axel? Ayah sedang ada pertemuan direksi—""Aku tidak menerima alasan," potong Axel tanpa ampun, menyela ucapan Juan dengan nada suara yang sarat akan ancaman dan kemurkaan terselubung."Datang, atau aku sendiri yang akan mencabut seluruh wewenang bisnis kalian hari ini juga."Nada bicara Axel yang begitu tajam dan berbahaya membuat seluruh anggota keluarga menyadari bahwa telah terjadi krisis besar yang tak bisa dihindari.Beberapa jam kemudian, atmosfer di ruang tengah kediaman utama berubah menjadi sangat tegang dan membisu.Juan duduk di sofa utama dengan raut wajah berat dan kening berkerut dalam, menyadari potensi bahaya dari kemurkaan putranya.Manda tampak g
Aroma antiseptik yang tajam dan dengung halus peralatan medis menyambut Axel yang berdiri mematung di depan ruang perawatan intensif VVIP.Pria tegap itu menolak untuk duduk, memilih menyandarkan punggungnya pada dinding marmer koridor rumah sakit yang dingin.Bayangan wajah pucat Freya yang terkulai tak berdaya terus membayangi benaknya, menyiksa setiap detik penantiannya dengan rasa cemas yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.Tak lama kemudian, pintu ruang perawatan terbuka. Seorang dokter spesialis senior keluar menyapu pandangan, lalu melangkah mantap menghampiri Axel untuk menyampaikan hasil diagnosis resmi."Bagaimana keadaan istriku, Dokter?" potong Axel cepat sebelum dokter itu sempat menyapa, suaranya serak dan sarat akan penekanan yang menuntut.Dokter spesialis itu menghela napas panjang, menatap Axel dengan raut wajah yang sangat serius dan menyudutkan."Kami telah berhasil menstabilkan suhu tubuh dan tekanan darah Nyonya Freya, Tuan Leonardo," buka dokter itu dengan in
Pagi-pagi sekali, ketika fajar masih membiaskan warna keabuan yang dingin di langit kota, mobil mewah Axel bergerak pelan memasuki area carport kediaman utama.Axel duduk terdiam di balik kemudi dengan raut wajah yang teramat lelah, kusam, dan dibayangi penyesalan terselubung setelah melewatkan seluruh malam di luar rumah demi meredakan amarahnya yang memuncak.Pria itu menyandarkan kepalanya di sandaran jok kulit, mengusap wajahnya kasar seraya menatap bayangan dirinya di kaca spion.Namun, sebelum ia sempat mematikan mesin kendaraan, ponsel bisnisnya mendadak berdering kencang.Sambungan telepon dari asisten pribadinya memecah keheningan kabin mobil yang pekat."Ada apa?" sapa Axel dingin, menekan tombol penerima dengan suara yang serak dan berat."Selamat pagi, Tuan Axel. Maaf mengganggu pagi-pagi sekali," ujar suara asisten pribadinya dari ujung saluran dengan intonasi tergesa-gesa."Terjadi krisis akuisisi pada proyek strategis kita di Singapura. Pihak kompetitor mencoba membloki






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
commentaires