MasukPerempuan di samping Ares memperhatikan Aurora seakan bertanya, Ares yang paham dengan itu langsung berkata. "Ini Aurora adek gue yang imut."
Aurora diam saja. Dia masih menatap perempuan di samping Ares dengan penuh tanda tanya. Seingat Aurora ini merupakan pertama kalinya Ares membawa teman ke rumah- maksudnya teman perempuan, biasanya lelaki itu memang membawa banyak teman tapi semuanya laki-laki. Nah ini perempuan! Cewek oi! Perdana! Aurora sangsi kalau dia cuma teman biasa.Belum sempat menjawab tiba-tiba Aurora merasakan rangkulan melingkar di bahunya."Itu temennya Ares," ujar Maria sembari merangkul Aurora. "Katanya mau kenalan, gih kenalan jangan malu."Aurora mengedip lagi, dia kemudian tersenyum lebar hingga matanya menyipit. Mengulurkan tangan pada perempuan cantik di samping Ares."Hai kakak cantik, aku Aurora Jasmeen, calon istrinya Bang Ares di masa depan," ujar Aurora dengan binar matanya yang positif.Mengundang keterkejutan. Baik dari Maria, perempuan yang sedang Aurora ajak kenalan dan juga dari Ares sendiri. Seakan tak menyangka dengan apa yang Aurora katakan.Kenapa di dunia ini isinya hanya orang-orang serius? Tidak bisakah ambil napas untuk melemaskan pikiran?"Isabella," jawab perempuan itu ragu sembari meraih tangan Aurora.Setelah perkenalan singkat itu dilakukan Aurora pun langsung beralih menghadap Ares."Bang Ares! Rora kangen banget tau!" rengek Aurora dengan nada tinggi, ia pun mengangkat tangan, melangkah maju dan berjinjit memeluk Ares, saking seriusnya melepaskan rindu, tanpa sadar Aurora menyenggol tangan Isabella yang semula masih memegang lengan Ares, membuatnya terlepas.Ares sangat tampan, dia bahkan memanjangkan rambut sekarang, wangi parfumnya juga Aurora suka, pelukannya hangat kendati Aurora harus berjinjit tinggi-tinggi.Saat sudah puas, Aurora melepas pelukan itu, dia mengecup cepat pipi kanan Ares sembari terus berceloteh tentang betapa ia rindu pemuda itu."Waktu Natal kemarin janjinya mau pulang tapi cuma omdo doang! Emang jauh banget Australia sampe pulang aja nggak bisa? Tau nggak sih--""Rora-" Maria menarik Aurora mundur saat menyadari atmosfer di lingkaran itu kian tak nyaman."Iya, Onty?"Maria belum menjawab, Ares lebih dulu meraih pergelangan tangan Aurora dan membawa gadis itu menjauh.Aurora tentu bingung, ia ingin bertanya, namun saat melihat raut wajah Ares yang terlihat marah Aurora memilih untuk diam saja.Ares menghempaskan tangan Aurora saat mereka sudah agak jauh dari pintu utama. Laki-laki itu membuang napas dalam-dalam sebelum kemudian menatap Aurora dengan pandangan tak percaya."Udah berapa kali gue bilang," ujar Ares dengan nada suara yang datar. "Gak usah bertindak berlebihan. Apalagi waktu gue ada tamu."Aurora berbuat suatu kesalahan?Tapi kesalahan apa?Dan kapan?Apa waktu bercanda tadi?"Tadi kan cuma kenalan," jawab Aurora kemudian. "Emang aku ngapain?"Ares menghela napas frustasi. "Lo nggak boleh main peluk kayak tadi, Rora. Ada cewek gua!"Aurora menyirit kecil."Cewek? Kata Onty Maria cuma temen, kalo emang pacar harusnya bilang yang tegas pacar," jawabnya. Namun melihat Ares lagi, raut wajahnya tidak main-main, tidak mungkin Aurora membiarkan kalimat kekanak-kanakan yang ia punya memperkeruh suasana. "Ya udah maaf, nggak akan lagi, kali ini doang biar Kak Bella tau aja kalo dia punya saingan kuat. Nggak fair misalnya lawanku nggak tau kalo ternyata dia punya lawan.""Lawan? Lo harus cepat-cepat keluar dari otak bocah Lo itu!" selak Ares kemudian. "Gue udah pernah bilang, kan? Orang dewasa sama orang dewasa, bocah SMA ya sama bocah SMA. Cari cowok yang seumuran sama lo, cari cowok yang bisa jadi temen buat lo. Dan itu bukan gue."Mendengar kalimat panjang itu keluar dari mulut Ares, Aurora pun berhasil dibuat terdiam. Dia tidak mengatakan apapun.Cepat-cepat keluar dari otak bocah?"Jujur ya. Gue pengen banget liburan kali ini nggak ada gangguan dari Lo," kata Ares lagi. "Biarin hidup gue tenang sebentar aja, please!"Gangguan dari Aurora?Bukannya dulu Ares tidak pernah keberatan dengan apapun yang Aurora lakukan? Kenapa tiba-tiba jadi berubah seperti ini? Aurora tidak merasa kalau perbedaan usia sebagai masalahnya. Ia dan Ares hanya berbeda empat tahun jadi agak tidak masuk akan dia mendorong Aurora menjauh menggunakan alasan itu."Aku udah tujuh belas tahun," kata Aurora setelah beberapa detik diam. "Emang masih suka main dan kadang bikin ulah, tapi seiring berjalannya waktu juga akan jadi dewasa. Aku bisa belajar bersikap dewasa kalo emang perlu.""Lo nggak dewasa, masih anak-anak banget.""Dua tahun lagi, remajaku bakal habis setelah dua tahun. Jadi aku nggak mau nyia-nyian ini begitu aja," sahut Aurora lagi. "Dan setelah itu, aku pasti bisa jadi dewasa kayak--""Kalo gue suruh Lo ngangkang? Apa bisa?"Saat itu. Aurora merasa jantungnya berhenti berdetak. Matanya melebar terkejut.Dewasa yang dimaksud adalah soal itu?"Mau seberapa keras Lo usaha. Gue nggak akan berakhir sama lo," kata Ares lagi. "Karena gue nggak mau."Saat itu Ares menarik napas dalam-dalam, seakan sedang menenangkan diri. Sebelum kemudian dia mendaratkan jemarinya pada puncak kepala Aurora. "Maaf ya.""Lo udah kayak adek gue sendiri, Lo berada di level yang sama kayak Alda. Jadi stop ganggu gue, Rora. Sampai sini aja. Stop keterlaluan."Dan setelah itu, dia pergi meninggalkan Aurora sendirian.Ironi sekali.Bukannya dulu, Ares yang dengan sengaja menarik Aurora mendekat saat para gadis di sekolah berlomba-lomba mencari perhatiannya?Bukannya Ares yang menjadikan Aurora tameng agar tidak ada cewek yang mengajaknya berpacaran? Sampai-sampai Aurora harus dimusuhi para senior dan beberapa teman seangkatannya waktu masih SMP, dilabrak berkali-kali dan masuk BK berkali-kali juga karena Ares?
Dan saat Aurora merasa nyaman, menjadikannya istimewa, dia bilang Aurora mengganggunya?Apa memang dia harus bertindak sejauh ini?Aurora juga tidak ingin masa remajanya berakhir pahit. Kalau memang keberatan menerima usaha pendekatan yang Aurora lakukan harusnya bilang dari awal. Karena kalau mereka hanya diam, Aurora juga tidak akan tau.Tidak harus Ares yang mengatakannya, Aurora pikir Alda atau siapapun itu bisa menyadarkan Aurora. Tetapi sebenarnya... Aurora tidak butuh siapapun, dia hanya butuh dirinya sendiri untuk sadar.Hari masuk sekolah pun tiba.Aurora melangkah keluar dari kamar sembari bersenandung, menggunakan seragam putih abu-abu yang licin sementara tangannya bermain ponsel. Kakinya menuruni tangga dengan lincah, menuju meja makan di mana kakaknya sedang menyantap sarapan sambil mengerjakan sesuatu di laptopnya.Mama dan papa masih berlibur berdua, jadi di rumah hanya ada Samuel saja. Hari ini pun Aurora akan diantar ke sekolah oleh Samuel.Aurora mengecup pipi Samuel sebelum duduk di kursi sebelahnya. Saat bibi mengantarkan segelas susu Aurora pun tersenyum sambil mengucapkan terima kasih.“Bibi, bh aku ilang satu,” ujar Aurora kemudian, baru teringat masalah ini. Ia ingat membeli pakaian dalam baru tidak banyak, hanya 6 pcs, tapi sampai rumah setelah dihitung lagi ternyata kurang satu.Bibi tampak mengernyit. “Bh? Bh yang mana?”“Yang baru beli, kan ada 6 tuh, di lemari tinggal 5.”“Bibi enggak tahu,” jawab bibi kemudian. “Tapi nanti coba cari lagi siapa tahu nyasar ke lemari Ibu.”“Okay,
Setelah melihat sunrise, mereka sarapan bersama, Aurora kembali ke dalam tenda paling akhir, tadi Dante membawa sebentar untuk bicara ‘empat mata’ dan setelah itu Aurora kembali sembari menutupi wajahnya dengan dua tangan.Dia mengambil bantal, lalu memukul-mukulnya. “Dari semalem kayak orang gila,” celetuk Alda, tangannya yang sedang merapikan kabel charger dan membereskan barang pun berhenti bergerak. Matanya memicing menatap Aurora yang bertingkah aneh sejak kembali tanpa menyapa.Setelah ini sopir yang ditugaskan akan menjemput, 3 cewek di tenda itu akan mampir ke rumah nenek Alda dan menginap semalam. Sementara Samuel dan Dante tidak ikut dan akan langsung kembali ke rumah.Cassy sedang ngemil, dia cuma melirik sekilas dan kembali memainkan memainkan ponselnya. “Baru dicipok, wajar aja.”Alda melotot. “Hah?”Bantal di muka Aurora tersingkir begitu saja, dia duduk dengan mulut menganga. “Kok elo bisa tahu?”Cassy mendengus, menepuk tangannya membersihkan sisa-sisa makanan ringan
Sudah lewat tengah malam- hampir pagi.Berbekal dua bungkus hotpack dan duduk dekat di sisa-sisa api unggun untuk menghangatkan tubuh, bisa dibilang Dante tidak begitu menderita saat ia tidak bisa tidur seperti malam ini.Nyala api sudah redup, yang tersisa cuma beberapa bara yang masih merah dan sebuah panci gosong tergantung di atasnya.Angin di ketinggian membuatnya merinding, suara mereka bersiul melewati pohon pinus yang tinggi, tapi daripada masuk ke dalam tenda yang hangat dan mencoba tidur, dia justru memilih tetap duduk di sana. Dante hanya diam menatap langit. Sebatang rokok menyala tersemat di antara jari tengah dan jari telunjuknya, sementara satu tangan lain mengambil sekaleng bir yang sudah dihangatkan.Biasanya saat kota sudah memasuki musim hujan, Dante lebih memilih untuk tidak pergi ke mana pun, tetap di rumah berteman, tidak sudi kebasahan atau kedinginan, apalagi jika harus berakhir sakit.Sementara puncak dan camping ada di dalam list keinginan Aurora, setelah Da
Di tempat tinggi yang dingin itu satu perempuan dan dua laki-laki tampak berjongkok di balik semak-semak, menajamkan mata untuk melihat sepasang kekasih muda yang duduk di tengah cahaya minim.Membuka telinga lebar-lebar berharap bisa mencuri dengar apa yang pasangan muda itu bicarakan.Setelah perjalanan panjang dari kota menuju puncak, kelelahan di perjalanan, mereka masih harus berjalan cukup lama dan memasang tenda. Pada akhirnya setelah senja berlalu rombongan remaja yang sedang liburan sekolah itu memiliki sedikit waktu santai beristirahat.Menyalakan api unggun bukan hanya untuk menolong tubuh dari suhu rendah, tetapi menari memutari api sambil bernyanyi setelah makan malam agaknya memang kegiatan wajib kalau berkemah. Di lain sisi, melalui gerak-gerik dan lirikan mata, tanpa berpamitan Dante dan Aurora diam-diam menghilang.Bergandengan tangan, manja, dan duduk berdua di bawah taburan bintang.Untungnya adalah insting saudara seperti laron yang melacak letak api menyala, tanp
“Dia cowok gak bener, Ra. Percaya sama gue!” Please deh, sudah berapa hari berlalu tapi Cassy masih saja gencar menguliahi Aurora tentang ‘teori negatif’ yang dia pikirkan tentang Dante. “Ceweknya galau, nangis darah, sampe mogok makan berhari-hari gara-gara dia tapi bukannya ngerasa bersalah atau paling enggak minta maaf tulus, dia justru datang pake muka lempeng!” Setelah Aurora dipaksa untuk bercerita secara detail apa saja yang terjadi hari itu saat Dante datang ke rumahnya, Cassy tidak juga berhenti mengumpat pada Dante dan kekeh mengatakan kalau ada yang salah dengan cowok itu. Aurora tahu betul lelaki macam apa yang digemari Cassy, dan Dante adalah segala kebalikannya, maka wajar saja jika dia tidak menyukai Dante dan punya praduga pada cowok itu. “Apaan sih, Cassy, udah deh. Dante emang gitu sifatnya, bukan berarti dia aneh atau gimana,” balas Aurora ringan. “Jatuh cinta emang bikin goblok ya,” celetuk Cassy dengan hela napas berat. “Tadi Lo sendiri loh yang bilan
“Jelek.” Cewek berkaos hitam yang semula cemberut menatap pot bunga sembari bersidakep tanpa berniat menggubris cowok tinggi yang ada di depannya itu langsung mendongak. Dia memicing dan membuat kelopak matanya yang bengkak terasa sakit, tetapi dia tidak peduli. Satu-satunya yang dia pedulikan adalah fakta bahwa cowok ini dengan tidak tahu dirinya mengomentari penampilannya yang sedang tidak baik-baik saja saat ini. Memangnya salah siapa Aurora jadi berantakan begini? Salah Dante lah! Siapa pun orang di dunia ini, hanya Dante seorang yang tidak boleh mengomentari Aurora tentang penampilannya. “Mau ke mana?” tanya Dante sembari mencekal pergelangan tangan Aurora saat cewek itu berniat masuk kembali ke dalam rumah dengan langkah yang sengaja dihentakkan. Lekas-lekas Aurora melepaskan cekalan tangan Dante darinya, mendesis risih. “Ya ngapain Lo mau ngomong sama cewek jelek! Pergi sana yang jauh gak usah balik, sialan!” umpatnya kesal. “Ra,” panggil Dante lembut. “Bercand







