LOGINAurora tidak jadi melabrak Cassy.
Bocah sialan itu pura-pura tuli saat Aurora memanggilnya dari luar kelas, padahal jelas-jelas Cassy melihat Aurora, ia juga tidak bisa sembarangan masuk berhubung kelas Cassy sudah ada guru yang mengajar, Aurora jadi tidak biasa berbuat banyak. Ia akan menyimpan dendam ini dalam hati dan akan membalaskannya esok hari.
Sekarang. Eksekusi rencana ke dua.
Minggat.
Kalian tau, akan selalu ada pertama untuk semua hal.
Begitu juga dengan kenakalan. Ini merupakan kali pertama Aurora melakukan rencana bolos, biasanya cuma di bibir saja karena terlalu takut ketahuan dan takut terkena karma.
Tapi sekarang?
Apa pentingnya karma. Saat menghindar dari Mama Janela merupakan prioritas utama. Aurora sampai rela menyerah pada Cassy hanya untuk rencana minggatnya kali ini. Jantung Aurora sampai berdebar, ia suka dengan hal yang menantang begini.
Sehabis dari kelas Cassy, Aurora tak menunda langkah untuk pergi ke belakang sekolah. Dengan langkah yang dibuat senatural mungkin, meski matanya masih awas menatap keadaan sekitar, takut-takut ada guru atau staf sekolah yang melihat tingkah Aurora dan berujung curiga.
Harusnya ia pakai tas putih hari ini. Tas hitam terlalu mencolok dibanding dengan seragam putih yang ia gunakan.
Saat ada di ujung koridor, hampir sampai ke jalan rahasia tempat siswa-siswi kabur dari jam sekolah Aurora berhenti sejenak, ia mengambil napas, lalu memeriksa sekeliling, setelah dirasa aman, dia mulai melangkah pelan.
Satu langkah kaki kanan, satu lagi kaki kiri—
"Aduh! Aw!"
Kenapa tiba-tiba ada tembok di sini? Keras sekali.
Reflek Aurora meringis sembari memegangi dahi, ia memejamkan mata sebelum kemudian membukanya, melihat tubuh besar sesosok manusia berseragam tengah berdiri di depan mata.
Pandangan Aurora sedikit lebih naik. Berpindah dari satu dan celana abu-abu menuju dada bidang berkemeja putih ini.
"Dada?" beo Aurora tanpa sadar.
"Hm?" gumam suara sialnya terdengar berat itu.
Tak perlu waktu lama untuk sadar. Suara yang dalam, serak dan super duper seksi milik cowok di depannya ini berhasil membuat Aurora kembali menginjak bumi dalam waktu kurang dari satu detik.
Cepat-cepat Aurora menggeleng, dia mendongak. Lalu lebih terkejut lagi. Mata rubahnya tidak bisa untuk tidak membola.
Dari semua siswa yang ada di sekolah ini, kenapa harus dia sih!
Iya. Ini Dante! Dante yang itu! Yang anjing.
"Ngomong apa tadi?" tanyanya lagi dengan nada suara yang sama.
Oh my God, sebut Aurora dalam batin.
Tidak bisa dipercaya. Kenapa suara anak SMA bisa seseduktif ini! Atau Aurora yang sedang error? Sumpah? Ini bukan efek negatif karena terlalu sering nonton film dewasa, kan?
Aurora menelan ludah, ia mengedip lambat, matanya tak bisa berpindah ke tempat lain, sedari tadi ia terjebak pada netra jelaga milik Dante yang dengan intens menatapnya.
Jika dilihat sedekat ini, ternyata laki-laki Nerd ini mempunyai mata yang cukup berbahaya. Dari balik kacamata yang digunakannya, Aurora dapat melihat kilatan tajam yang tidak masuk akal.
"H-hah?" cicit Aurora gugup. "E-eh, bukan dada deng, maksudnya itu eh Da-dante, gitu."
Ingat Aurora. Ini bukan saat yang tepat untuk menganggumi suara seksi itu. Ingat! Dia ini sekutunya Bu Lasmi, musuh terbesarmu di sekolah ini!
Aurora mengangguk tanpa sadar. Seakan suara dari Dewi batin yang terakhir amat mempengaruhi dirinya. Benar, sekarang ini Aurora berada di ujung tanduk, ketua OSIS memergokinya yang hendak minggat, Aurora harus pasang muka setenang mungkin agar Dante tidak curiga dengan tindakannya.
Aurora pun segera mengambil langkah mundur. Dia membenarkan pakaian dan mengibas rambut ke belakang. Setelah itu, senyum maut dikeluarkan.
"Maaf ya tadi agak meleng," kata Aurora manis lengkap dengan senyum gusinya, pipi tembam gadis itu membuat taraf imut yang diberikan melesat pada level yang tidak masuk akal. "Gak liat kalo ada manusia di depan jadi nambrak deh, Lo nggak apa-apa kan?"
Dante tidak menjawab. Cowok itu setia memasang ekspresi datar, dia hanya melengos dan menaikan frame kacamata yang digunakannya.
"Gue juga nggak apa-apa, kok, Lo bisa terusin perjalanan, kayaknya pelajaran udah di mulai," lanjut Aurora lagi, dia kemudian mengangkat tangan melambai manja. "Kalo begitu, gue duluan ya, bye-bye!"
Sudah. Cukup.
Harusnya.
Aurora tau ia terlalu charming untuk dilewatkan. Dan harusnya Dante tak akan mempersulit Aurora setelah diberi pelet alami sedemikian rupa.
Dengan langkah santai Aurora pun berjalan melewati Dante.
Dan sialnya, saat baru hendak menghembuskan napas lega Aurora merasa seseorang menarik ransel yang ia gunakan.
Aurora terkesiap. Ia menolehkan kepala.
Melihat Dante dengan santainya menaikan alis, menggerakan ransel dua kali sebelum membuat Aurora membalikan badan.
Pelet my ass!
Ini orang imannya kuat amat. Nggak mempan sama pelet Orora Kiyowo!
"Mau ngapain?" tanya Dante kemudian.
Aurora mendengkus kesal. Ia tidak lagi pada mode gadis manis.
"Kenapa tanya-tanya?" balas Aurora sebal. "Udah selesai ya, gue udah minta maaf, Lo nggak kenapa-kenapa, gue juga nggak lecet sama sekali meski dada Lo kerasnya minta ampun. Jadi udah, jangan ganggu hidup gue."
"Lo tau kalo gue masih ketua OSIS di sekolah ini, kan?" tanya Dante lagi dengan nada suara kelewat santai. Cowok itu menghela napas dan memasukan tangan ke kantong celana, menunjuk tas di punggung Aurora dengan dagunya sebelum bertanya lagi. "Mau pergi?"
Aurora diam saja. Tiba-tiba tak bisa mengatakan apapun.
Dia curang.
Bawa-bawa pangkat.
"Mau ke mana? Hm?"
Elah!
Gak usah ham hem ham hem bisa nggak sih! teriak Aurora dalam hati.
Tentu saja, Aurora tak bisa berteriak selantang itu di dunia nyata. Ia masih sayang nyawa. Tidak mau diseret ke ruang BK lagi, padahal baru beberapa menit ia pergi.
Aurora menelan ludah. Dia mengalihkan pandangan ke berbagai arah, menarik napas, menemukan sebuah bilik di ujung sana dan memutuskan untuk berkata.
"Gue mau... em, gue mau, anu, itu, iya, mau pipis."
Cowok tinggi ini menaikan alis. "Bawa tas?"
"Iya," jawab Aurora terlalu cepat.
Dante menganggukkan kepala tenang. Dia kemudian mengulurkan tangan dan mencoba meraih tas Aurora.
"Sini tasnya," ujar Dante.
Aurora dengan sigap memundurkan diri, dia tidak boleh gagal minggat. Tidak boleh sama sekali.
"Kok jadi begal sih mas Ketos!" selak Aurora. "Jangan gitu dong, ini kan tas gue, terserah mau gue bawa ke mana aja."
Tak mendengarkan.
Dante masih mencoba untuk mengambil tas Aurora. Dia menggunakan tangan panjangnya untuk memutari tubuh gadis berponi depan ini.
Tidak mau kalah Aurora pun terus mundur, dia mengatakan berbagai hal agar Dante menyerah, hingga akhirnya, punggung Aurora sampai pada batas paling akhir, dia bertemu dengan tembok dan Dante berada di depan tubuhnya persis.
Jika dilihat dari kejauhan. Posisi mereka saat ini sungguh ambigu. Apalagi dengan pergerakan yang terus dilakukan.
"Gue mau ganti pembalut," kata Aurora akhirnya.
Saat itu barulah Dante berhenti. Tak bergerak lagi.
Aurora mengedip. Mereka saling bertatapan beberapa saat. Hingga kemudian Dante memundurkan langkah. Terlihat percaya dengan apa yang Aurora katakan.
Oke. Ternyata kekuatan pembalut masih berhasil juga, batin Aurora.
Gadis itu membuang napas lega.
"Hari pertama, pembalut gue yang ukuran paling gede, yang segini," Aurora merentangkan tangan, membuat ukuran tak masuk akal untuk sebuah pembalut wanita. "... nggak muat di saku, jadi gue bawa sama tasnya."
Dante masih diam. Menunggu kata apa lagi yang akan Aurora katakan.
"Gak percaya? Mau gue tunjukin?"
Dan sialnya Dante terlihat menunggu.
"Mana?" tanya cowok berkacamata itu.
Aurora sungguh tidak percaya. Ada laki-laki semacam ini di dunia. Dia ini seriusan?
Aurora mendengkus. "Ya ada di dalem sini, gue malu nunjukin. Lagian Lo nggak malu apa? Rikuh kek ada cewek ngomongin hal kewanitaan di depan muka! Mungkin Lo nggak tau, tapi mas ketos sebagai laki-laki— eh ngapain deket-deket!"
Tanpa diduga, Dante melangkah maju kembali, dia menunduk hingga Aurora harus mencondongkan badan.
Mata hitam lelaki itu fokus pada bibir Aurora.
Aurora rasanya mau mati. Bernapas pun sulit baginya.
Apalagi saat Dante mengangkat tangan dan menyapu ibu jari ke permukaan bibir Aurora, menekannya pelan.
Mata Aurora bergetar.
Ia berdebar.
"Kalo mau minggat usahain jangan sampe keliatan di mata gue, biar nggak jadi beban," ujar Dante sebelum menurunkan tangan.
Sesaat sekali. Aurora mencium aroma mint dan sedikit bau asap dari tubuh Dante.
Rokok?
Aurora mengedip.
Dante... merokok? Di sekolah?
Lalu tanpa aba-aba. Ketua OSIS yang sepertinya perlu pendidikan sopan santun ini mengambil liptint yang ada di saku seragam Aurora. Seorang murid laki-laki harusnya tidak seberani itu, dia mengambil benda di saku dada murid perempuan.
Aurora mendelik.
"Itu--"
Dan entah kapan juga, tas Aurora sudah berada di tangan Dante. Aurora tidak menyadarinya.
"Masuk cepet, gue tunggu," ujar Dante santai. Dia berpindah, berdiri bersandar pada tembok sembari memegang tas milik Aurora.
Aurora hilang kata-kata.
Dia tidak bisa melakukan apapun lagi. Menentang hanya akan membuat keributan yang lebih besar. Dan Aurora tidak menginginkannya.
Maka tidak ada pilihan lain. Aurora berjalan menuju pintu toilet di ujung sana.
Saat jaraknya sudah lumayan jauh, Aurora menoleh ke belakang, Dante masih mengawasinya.
Dan Aurora pun tersenyum, dia mengibaskan rambutnya ke belakang bahu.
Kemudian Aurora mengangkat tangan. Mengacungkan jari tengah sembari menjulurkan lidah.
Dante terlihat menegakkan punggung, sedikit terkejut namun tidak terlalu bereaksi banyak. Dia menyirit. Apalagi setelah Aurora berlari, melewati toilet dan menuju halaman belakang sekolah.
Melaksanakan niat minggat yang sudah matang.
Jadi?
Mendengkus tak percaya Dante pun membuat lengkungan bibir tanpa sadar. Dia menunduk, melihat tas hitam dengan gantungan boneka anjing di tangannya.
Sepertinya. Dante Andromeda adalah manusia pertama yang tersenyum setelah mendapat salam jari tengah dari gadis paling kiyowo di sekolah.
Beberapa bulan kemudian. Aula pesta pernikahan sudah ditinggalkan. Di kamar hotel yang tampak berantakan dan memiliki jendela kaca berpemandangan Burj Khalifa itu, pria dan wanita terlelap nyenyak berbalut selimut. Sudah hampir subuh. Setelah semalaman Dante membuat Aurora sibuk. Aurora hanya berharap ia bisa tidur nyenyak, namun mimpinya terlalu tinggi. Saat ia merasakan tangan Dante kembali merayap di perutnya, dengan suara yang serak dan lemah ia berkata. “Orang gila, udah, please, aku ngantuk banget!” Hari pertama pertama pernikahan sungguh menyiksa. Aurora benar-benar tidak tahu bahwa menjadi seorang istri harus sesulit ini. Ia bahkan tidak ingat lagi berapa kali bercinta semalaman, yang Aurora tahu hanyalah ia sudah jadi zombi dan nyawanya hampir hilang. Ia sungguh butuh tidur, benar-benar hanya tidur. Dante tidak menjawab dan hanya terus mencium leher serta pundak Aurora. “Mandi dulu baru tidur,” katanya, licik seperti buaya modus. Aurora sudah tidak peduli lag
Di depan kaca besar kamar mandi hotel Aurora berdiri, melepas handuk kecil yang membalut rambutnya, ponselnya bersandar ke sebuah botol, di layar terlihat dering panggilan video manunggu tersambung. Dan saat panggilan grup itu sudah terjalin stabil, Aurora menunduk, memperlihatkan cincin berlian yang menghiasi jari manisnya, satu tangan lainnya menutupi wajah karena malu. Dua orang yang menjadi lawan bicaranya pun berteriak antusias, makin tak karuan ketika Alda dan Cassy bicara bebarengan membuat Aurora tidak bisa mendengar apa pun yang mereka katakan. Ia segera meng’hust’ dan membuat situasi menjadi kondusif kembali. Bagaimana pun, di antara mereka bertiga seperti tebakan Aurora lah yang pertama akan dilamar dan menikah. Cassy terlalu suka bermain-main, cowok baginya hanya hiburan- kalau bosan maka ganti yang lain, ia belum berpikir untuk menikah sama sekali, sementara Alda juga sedang sibuk-sibuknya dengan studi juga karier, tidak punya gebetan sama sekali. Aurora satu-satunya
Aurora tertawa, tidak berniat menjelaskan. “Tunggu sebentar, aku pamit dulu.” Dengan begitu, Aurora kembali ke TK, berpamit pergi pada salah satu guru yang bertugas- lalu menyapa ibu-ibu yang menunggu anak-anak mereka selesai bersekolah. Tanpa perlu menjelaskan banyak hal pun mereka tahu kalau pria tampan yang mengendarai mobil mahal di sana adalah kekasih si guru muda. Selama tinggal di Jogja, Aurora menempati rumah nenek buyutnya, ia tinggal bersama beberapa sepupu jauh dan seorang bibi. Secara alami, peraturan di sini lebih banyak daripada saat Aurora tinggal bersama orang tuanya. Ketika Dante datang, mereka memiliki batas waktu untuk berkencan- meskipun usia mereka sudah dewasa dan aturan seperti itu seharusnya sudah tidak berlaku, namun Aurora tetap pulang sebelum jam 9. Dante mengenal baik kerabat Aurora di Jogja, dia pun tidak banyak protes, yang bisa dia usahakan hanya bangun lebih pagi agar tidak rugi dan bisa menghabiskan waktu lebih banyak bersama. Dante menyetir de
4 tahun kemudian. - Tidak ada kesalahpahaman yang tidak bisa diluruskan, pertemuan dan pembicaraan yang baik bisa menyembuhkan segalanya. Aurora belajar mengenai pemahaman itu bertahun-tahun yang lalu. Masa muda yang bodoh mengajarkannya banyak hal, perpisahan tidak menyedihkan, orang hanya perlu terbiasa- meski tidak mudah tapi selama kepercayaan masih ada maka hubungan baik akan tetap terjalin. Menjalani long distance relationship selama 4 tahun lamanya tentu tidak mudah, Aurora tidak akan begitu sombong dengan mengatakan ‘LDR itu gampang’, dari awal pun ini tidak mudah baginya, tetapi sebagai gadis yang selalu diperjuangkan rasanya Aurora tidak punya complain sama sekali. Aurora lulus dengan nilai yang cukup baik. Setelah memikirkannya dengan matang, ia mengambil jurusan ilmu komunikasi dan berkuliah di salah satu universitas unggulan Yogjakarta. Dante menyelesaikan studinya dalam 3 tahun, dan selama waktu itu dia selalu menyempatkan pulang menemui Aurora satu atau dua
Rasa malu Aurora mengalahkan rasa takutnya. Ia langsung berdiri dengan tegang, kedua tangannya menyatu, kepalanya menunduk tak berani diangkat, separuh hatinya mengumpat pada Dante dan separuh lainnya mengumpat diri sendiri— jika saja mereka bisa menunda ciuman itu, maka tidak akan membuat situasi jadi begitu canggung begini. Karena terlalu deg-degan, jemari Aurora menjadi dingin, tak terasa air matanya turun. Saat itu Dante masih belum sepenuhnya sadar dengan apa yang terjadi, dia hanya menganggap kalau kehadiran orang tuanya mengganggu. Sementara Wilona dan Juni juga belum mengatakan apa-apa, tetapi Aurora sudah menangis- membuat semua orang seketika terbebas dari kecanggungan. Juni lebih dulu mendekati anak laki-lakinya lalu memukul lengan atasnya cukup keras. Bagaimana pun, selama membesarkan Dante, ia tidak pernah memakai kekerasan, Dante anak yang baik tidak banyak tingkah jadi membesarkannya bukan hal sulit, tetapi kali ini- agaknya Juni sudah tidak gagal mengajari anakny
Rusa tidak tahu bahwa Singa menginginkan tubuh dan nyawanya. Bidadari tidak tahu bahwa selendangnya dicuri dan ia terkurung dalam surga palsu bernama cinta di bumi. Aurora si gadis lugu juga tidak tahu, bahwa pria yang baru dewasa, dengan hormonnya yang seperti bendungan hampir jebol, diam-diam sengaja menahan diri- tidak menciumnya lebih dulu, dia kelaparan namun dia menginginkan buah manis itu yang datang menghampirinya. Aurora mendekatkan wajah, memberikan kecup bibir manis yang Dante inginkan. Hanya satu kali, tidak lama. Tiba-tiba saja dia terkikik. “Kayak apa banget,” celetuk Aurora merasa lucu. “Dicium terus dapet iphone gitu?” Dante diam saja. Dia memutar bola mata ketika Aurora mencubit dagunya dan berkata gemar. “Sugar daddyku brondong ganteng.” Sugar daddy katanya. Saat tiba-tiba Dante menekan pinggang Aurora lebih rapat padanya, hingga sama sekali tidak ada jarak di antara mereka, Aurora tidak lagi mampu tertawa. Kikik lucu yang tadi ia leluasa keluarkan berub
- Dante akui, Samuel berlebihan kali ini. Oke, kita fair-fairan saja. Dulu sekali Dante ingat ketika pertama kali Samuel mengajaknya berteman, alasan Samuel mau berteman dengan Dante adalah karena Tantenya. Tante Dante memiliki wajah yang begitu cantik hingga mampu membuat siapa pun menyukainya,
4 tahun yang lalu.-“Mau lanjut di mana?”Dua remaja laki-laki bertubuh tinggi yang memakai baju identitas berwarna biru itu mengobrol santai, jam istirahat baru dimulai, cowok berambut hitam yang menggunakan kaca mata bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari buku yang dia genggam.Membiarkan angin
--“Lagian abang ngapain sih gitu-gitu ke Dante! Mau pukul ya? Ish! Jangan anarkis dong jadi orang, coba liat sini, sakit nggak? Abang ke sini sama siapa? Nggak sama bang Ares kan? Ih, nggak mungkin sama mama, kan? Abang jawab dong—“Sejatinya kepekaan seseorang bisa dilihat dan dinilai dari jauh mela
-- Aurora balas dendam kencan membabi buta. Sepertinya Aurora benar-benar serius ketika dia bilang bahwa dia tidak ingin pulang dan ingin pacaran, Dante tidak menolaknya, cowok itu cuma tersenyum kecil dan mengangguk menyetujui permintaan pacarnya itu. Tidak heran, mereka berada di sekolah yang sa







