Home / Romansa / Chemistry Chapter / BAB 218 : KEBEBASAN HASAN

Share

BAB 218 : KEBEBASAN HASAN

Author: Yoongina
last update publish date: 2026-09-27 13:23:43

Dua hari setelah persidangan yang menggemparkan itu, sebuah konferensi pers besar-besaran digelar di aula utama lantai dasar Mahesa Tower. Ratusan jurnalis dari berbagai media cetak, elektronik, dan online memadati ruangan, menanti pernyataan resmi dari perusahaan besar yang tengah terguncang badai skandal tersebut.

​Di atas podium, Sagara Mahesa berdiri dengan setelan jas hitam formal. Kilatan cahaya dari puluhan kamera menyambar wajahnya tanpa henti. Rahang pewaris Mahesa Group itu terkatup
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Yoshi Dwi Ramadani
◖⁠⚆⁠ᴥ⁠⚆⁠◗(⁠◠⁠ᴥ⁠◕⁠ʋ⁠)
goodnovel comment avatar
Yoongina
(*^▽^)/★*☆♪(*^▽^)/★*☆♪
goodnovel comment avatar
Yoshi Dwi Ramadani
yeaayyy menanti biji wijen lahir ke dunia...congrats babe n kak dewa...bahagia selalu kalian semuaaaa
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Chemistry Chapter   BAB 220 : MAHASISWI BIMBINGAN

    Dewa baru ingat kalau dia telah membuka blokir nomor Tiara saat gadis itu memintanya datang ke apartemen."Sialan! Ngapain lagi sih dia?!" gerutu Dewa kesal. "Kenapa, Kak? kok mengumpat begitu?" suara Zea dari belakang punggungnya membuat Dewa memutar tubuh seratus delapan puluh derajat dengan cepat kearah Zea."Ng—nggak ada apa-apa, sayang. Kamu sudah selesai merapihkan baju bayi?""Sudah. Punggungku pegal sekali, mau tiduran dulu sebentar." Sahut Zea tidak bertanya lagi tentang gerutuan Dewa. Ia berjalan pelan menuju tempat tidur dan merebahkan tubuhnya, menyangga punggung dengan bantal dan menghela nafas lega.Dewa berjalan mendekati sang istri. Ia membantu mengangkat kedua kaki Zea naik ke tempat tidur dan menarik selimut sampai sebatas pinggang."Istirahatlah, aku ke bawah sebentar." Bisik Dewa mengecup lembut kening Zea.Gadis itu hanya mengangguk pelan dengan mata terpejam karena lelah. Sejenak, Dewa mengusap lembut pipi Zea dengan ibu jarinya, lalu menegakkan tubuhnya berjala

  • Chemistry Chapter   BAB 219 : Nesting Phase "Menyambut Buah Hati"

    Dua minggu telah berlalu sejak ketukan palu keadilan membebaskan Hasan dari segala jerat hukum. Seiring dengan rontoknya dedaunan kering yang menyambut datangnya bulan Desember, badai yang sempat memporak-porandakan kehidupan keluarga Adiraja dan Sastrowardoyo kini benar-benar telah reda.​Griya Zadewa kembali dipenuhi oleh kehangatan dan gelak tawa. Udara pagi terasa jauh lebih segar, tak lagi dibayangi oleh kepanikan atau ketegangan ruang sidang. Di taman belakang yang menghadap ke kolam renang, sebuah pemandangan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya kini menjadi rutinitas harian yang menyejukkan hati.​Baskara, pendiri firma hukum besar yang makin diakui publik itu karena kehebatan sang putra memenangkan persidangan, tampak duduk bersantai mengenakan kemeja polo putih, berhadapan dengan Hasan di depan sebuah papan catur kayu jati. Secangkir kopi hitam dan teh chamomile menemani pertarungan sengit antar dua orang calon kakek yang tengah menunggu kelahiran cucu pertama mereka.​"S

  • Chemistry Chapter   BAB 218 : KEBEBASAN HASAN

    Dua hari setelah persidangan yang menggemparkan itu, sebuah konferensi pers besar-besaran digelar di aula utama lantai dasar Mahesa Tower. Ratusan jurnalis dari berbagai media cetak, elektronik, dan online memadati ruangan, menanti pernyataan resmi dari perusahaan besar yang tengah terguncang badai skandal tersebut. ​Di atas podium, Sagara Mahesa berdiri dengan setelan jas hitam formal. Kilatan cahaya dari puluhan kamera menyambar wajahnya tanpa henti. Rahang pewaris Mahesa Group itu terkatup rapat. Di balik ketenangannya yang elegan, ego dan harga dirinya sedang dicabik-cabik. Meminta maaf secara terbuka kepada Sadewa Adiraja adalah hal terakhir yang ingin ia lakukan di dunia ini, namun desakan ayahnya dan anjloknya nilai saham perusahaan memaksanya menelan ludah pahit sebuah kekalahan. ​Sagara mendekat ke mikrofon, menarik napas panjang. ​"Selamat pagi, rekan-rekan media," suara Sagara menggema di seluruh penjuru aula, terdengar berat dan lugas. "Hari ini, mewakili Dewan Direk

  • Chemistry Chapter   BAB 217 : KEKALAHAN SAGARA DAN TIARA

    Sore itu, langit Jakarta yang semula mendung kelabu perlahan mulai menampakkan semburat jingga di ufuk barat. Sisa-sisa hujan meninggalkan aroma tanah yang menguar dari jalanan, membawa hawa sejuk yang menyapu kepenatan ibukota. ​Mobil Alphard hitam milik Sadewa Adiraja meluncur mulus memasuki pekarangan depan Griya Zadewa. Sebelum roda mobil itu benar-benar berhenti sempurna di pelataran depan, pintu utama rumah megah itu sudah terbuka lebar. ​Zea berdiri di ambang pintu, mengabaikan perutnya yang sudah sangat besar. Dress hamilnya berkibar tertiup angin sore. Wajahnya sembab oleh air mata, namun kali ini bukan air mata keputusasaan, melainkan tangis kebahagiaan yang meluap-luap setelah menyaksikan siaran langsung persidangan di televisi. Di belakang Zea, Lenny, Baskara dan Oma Dyah berdiri mendampingi dengan senyum penuh haru. ​Pintu penumpang terbuka. Dewa turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Hasan Kurniawan melangkah keluar. Pria paruh baya itu masih m

  • Chemistry Chapter   BAB 216 : AIR MATA HASAN

    Keriuhan di Ruang Sidang Utama Prof. Oemar Seno Adji mengalahkan gemuruh orang-orang yang berada di luar gedung. Suara jepretan kamera dari bangku wartawan bersahut-sahutan bagai senapan mesin, mengabadikan detik-detik runtuhnya kredibilitas sang Direktur Utama Mahesa Group. Para pengunjung sidang berdiri, berbisik keras, dan menunjuk-nunjuk ke arah layar proyektor raksasa yang menampilkan deretan kode digital sebagai fakta yang sebenarnya. ​TOK! TOK! TOK! TOK! ​"Pengunjung harap tenang! Petugas keamanan, tertibkan barisan belakang atau saya perintahkan sidang ini dinyatakan tertutup!" bentak Hakim Ketua dengan wajah memerah, memukulkan palu berkali-kali hingga suaranya serak. ​Beberapa petugas kepolisian dan keamanan pengadilan segera bergerak, memaksa para wartawan dan pengunjung untuk kembali duduk. Butuh waktu hampir dua menit penuh ketegangan sebelum ruangan itu kembali bisa dikendalikan. ​Di tengah keheningan yang menegangkan itu, Sadewa Adiraja tetap berdiri tak bergemi

  • Chemistry Chapter   BAB 215 : MEMBALIK KEADAAN

    Langkah kaki Sadewa Adiraja berhenti tepat satu setengah meter dari kursi saksi, menciptakan jarak diantara mereka. Sorot matanya sedingin es, menembus langsung ke dalam kedua bola mata Hendra Sadikin yang duduk berhadapan dengannya. ​Di kursi pengunjung, Sagara Mahesa mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya menyipit, berusaha membaca apa yang sedang direncanakan oleh musuh bebuyutannya itu. Sementara di rumah, Zea duduk terpaku di depan layar televisi, meremas bantal sofa dengan jantung berdebar kencang menantikan eksekusi dari sang suami. ​"Saudara Saksi, Bapak Hendra Sadikin," Dewa memulai, suaranya mengalun tenang tanpa emosi, namun mengikat perhatian seluruh hadirin. "Tadi Anda menyatakan bahwa klien saya, Bapak Hasan Kurniawan, menyusupkan dokumen transaksi fiktif tersebut ke dalam tumpukan draf pencairan bonus karyawan. Apakah saya mengutip kesaksian Anda dengan benar?" ​Hendra berdeham pelan, memperbaiki posisi duduknya. "Benar, Pak Pengacara. Ia memanfaatkan kelengah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status