ログインDewa tak sanggup bersuara. Pria yang biasanya berdiri tegak itu kini mendadak bergetar hebat. Jemari tangannya yang menggenggam alat tes urine bergaris dua itu tampak gemetar tipis. Matanya yang tajam dipenuhi tatapan antara kaget, tidak percaya, takut akan kondisi fisik Zea yang ringkih, serta rasa haru yang amat dalam. Ia mengalihkan pandangannya dari strip testpack itu menuju wajah pucat istrinya. Zea masih terbaring lemah di atas brankar IGD, menatap Dewa dengan sudut mata berair, ia kebingungan sekaligus merasakan kebahagiaan yang tak terlukiskan. Dewa menyimpannya dengan hati-hati ke dalam saku kemejanya, seolah benda plastik kecil itu adalah dokumen berharga bernilai triliunan rupiah. Ia lalu melangkah lebih dekat, menundukkan tubuh tegapnya, dan memeluk kepala serta bahu Zea yang masih terkulai lemas. Dibenamkannya wajahnya di ceruk leher istrinya, menghirup dalam-dalam aroma tubuh Zea yang bercampur minyak kayu putih dan keringat dingin. "Iya, Sayang... Kamu hamil,"
"Sayang, kamu mual lagi?" tanya Dewa, nada panik terdengar di balik suara baritonnya. Tanpa membuang waktu, ia menepuk kursi depan dan menginstruksikan pengemudi. "Pak, cari minimarket atau toilet terdekat sekarang juga! Istri saya mau muntah." "Baik, Pak Sadewa! Di depan ada SPBU, dua ratus meter lagi!" sahut pengemudi sigap, menginjak pedal gas lebih dalam agar mobil Alphard hitam itu meluncur membelah remang malam kota Yogyakarta. Dewa menangkup kedua pipi Zea yang terasa dingin dan basah oleh keringat. Jemari tegapnya mengusap lembut tengkuk istrinya, mencoba menyalurkan rasa hangat di tengah guncangan perut Zea yang kian meremas hebat. "Tahan sebentar ya, Sayang... Kita berhenti di depan," bisik Dewa, cemas. Suaranya yang biasa tegas kini bergetar, merasa tidak tega melihat kondisu istrinya. "Tadi kita sudah makan di pesawat. Apa kamu masih masuk angin? atau mau makan dulu?" tanya Dewa sambil memijat halus puncak kepala Zea. Zea menggeleng kuat-kuat. "Aku cuma mau tid
Dewa dan Zea melangkahkan kaki ke dalam kabin kelas bisnis pesawat A320, helaan napas lega akhirnya keluar dari sela bibir Dewa. Setelah serangkaian drama hari ini—mulai dari pertengkaran Zea dengan Jenny di dalam kelas, mual masuk angin, koper yang tertinggal, hingga dikerumuni rombongan ibu-ibu sosialita di area check-in—suasana tenang di area depan kabin pesawat ini menjadi tempat yang sangat ia butuhkan. Seorang pramugari berseragam rapi menyambut mereka dengan senyum hangat. "Selamat sore, Bapak dan Ibu. Mari, saya antar ke kursi Anda." Dewa menuntun Zea menuju dua kursi berdampingan di barisan depan. Sebelum Zea duduk, Dewa dengan sigap mengambil bantal kecil dan selimut lembut yang telah disediakan, lalu menatanya di kursi Zea. "Duduk pelan-pelan," gumam Dewa lembut, menyanggah siku Zea sampai gadis itu mendarat sempurna di kursinya yang empuk. Zea menyandarkan punggungnya, memejamkan mata sejenak sambil menikmati kenyamanan fasilitas bisnis class pesawat itu. Tubuh
Suasana Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta siang itu terbilang cukup ramai. Dewa menuntun Zea agar tidak tertinggal seperti koper mereka saat dirumah tadi. Sebelah tangannya merangkul bahu istrinya rapat-rapat, sementara tangan lainnya menarik koper besar mereka. Zea yang sudah agak segar namun masih sedikit lemas, hanya diam mengimbangi langkah panjang Dewa. Dengan mengenakan Knit Polo Shirt rajut halus berwarna charcoal keluaran Brunello Cucinelli serta pleated trousers berbahan wol breathable dari Zegna, penampilan Dewa memancarkan aura yang sangat memikat. Dipadukan dengan jam tangan Patek Philippe di pergelangan tangannya, ketampanan sang pengacara tampak begitu mencolok di tengah kerumunan bandara. Wajahnya yang tegas dan aura dingin berwibawa membuat beberapa orang yang berlalu-lalang menyempatkan diri melirik ke arah mereka. Tepat saat mereka sedang menunggu antrean di depan konter check-in bisnis class, tiba-tiba sebuah suara melengking dengan nada heboh memecah ketena
"Ssshh... tenang, pelan-pelan," bisik Dewa yang sudah berada di belakang Zea. Dengan sigap, Dewa menyibakkan helaian rambut Zea ke belakang agar tidak terkena bilasan air, lalu sebelah tangannya memijat tengkuk istrinya dengan usapan lembut untuk meredakan gejolak di dada Zea. "Masih mual, hm?" tanya Dewa, suaranya terdengar khawatir. Wajah istrinya kini benar-benar pucat pasi, peluh dingin mulai membasahi pelipis dan kening Zea. Zea menggeleng lemah, tubuhnya mendadak lemas sampai harus menyandarkan seluruh bobot tubuhnya ke dada bidang Dewa. Keningnya bersandar di dada suaminya, meraup napas pendek-pendek yang masih terasa sesak dan berat. "Kepalaku... pusing banget, Kak..." bisik Zea lirih. "Perutku mual banget... " Dewa mematikan kran air, lalu memeluk tubuh mungil Zea ke dalam dekapannya. Jemari tangannya yang hangat mengusap kening Zea yang dipenuhi keringat dingin. Kening Dewa berkerut dalam. Mengingat tenggat waktu penerbangan mereka yang tinggal menyisakan ti
"Kamu ke Yogyakarta lebih dulu, Papa dan Mama akan menyusul penerbangan besok," ucap Baskara dari balik telepon, suaranya tenang dan tegas sewaktu Dewa menyampaikan kabar mengenai kondisi Oma Garnis. "Iya, Pa. Aku sudah meminta Siska untuk menyiapkan penerbangan hari ini," sahut Dewa menggenggam tangan Zea yang terasa dingin ketika mereka sudah berada di halaman parkir Griya Zadewa. Dewa membiarkan Zea beristirahat sejenak di kursi penumpang depan dalam usapan hawa sejuk pendingin udara. Baskara menghela napas panjang di seberang sana. "Kondisi kesehatan Oma Garnis memang sudah menurun sejak beberapa bulan lalu, Dewa. Tapi Papa tidak menyangka pihak keluarga Sastrowardoyo tega memakai cara-cara sembrono seperti ini hanya demi memicu amarahnya." Dewa menyandarkan tubuhnya pada jok mobil, matanya menatap kewajah Zea yang masih menunggu suaminya berbicara dengan sang ayah. "Aku sudah menugaskan Dika dan tim pertanahan untuk menyisir seluruh warkah tanah di BPN Jogja. Dari informa







