Beranda / Urban / Cinta Di Ujung Senja / Awal Pertemuan Yang Mengesankan

Share

Cinta Di Ujung Senja
Cinta Di Ujung Senja
Penulis: Icha Mawik

Awal Pertemuan Yang Mengesankan

Penulis: Icha Mawik
last update Tanggal publikasi: 2021-05-04 15:27:45

Terdengar desahan dan lenguhan panjang dari sebuah kamar hotel. Dua anak manusia yang sedang bercumbu dan berpacu untuk mencapai puncaknya. Hingga akhirnya terdengar erangan panjang yang keluar dari mulut mereka. Keduanya pun lunglai tidak berdaya. Sang pria segera beranjak dan meraih pakaian dan segera memakainya.

Allaric Wiguna, pria tampan dan mapan berusia tiga puluh tahun. Ia seorang pengusaha muda yang sukses diantara teman sejawatnya. Ia telah berhasil menguasai p***r bisnis di Eropa dan Asia. Ia idaman bagi para wanita. Pria sempurna di mata wanita peminat harta. Tapi, tidak banyak yang tahu dibalik kesuksesan dan kesempurnaannya. Dia seorang pria yang angkuh, dingin dan sombong. Bahkan sebagian ada yang mengatakan dirinya adalah srigala yang berwujud manusia. Ia seorang yang kejam pada siapa saja yang tidak mau menuruti keinginannya.

Setelah selesai berpakaian, ia duduk dan menyalakan rokoknya. Asap mengepul di udara. Ia merogoh saku jasnya dan mengambil cek. Lalu mendatanganinya kemudian memberikannya pada wanita yang masih menggeliat di tempat tidur.

"Ini bayaran, atas jasamu," ucapnya melempar cek itu diatas tubuh wanita itu.

"Ric, jadikan Aku wanitamu. Aku akan memanaskan ranjangmu," pinta wanita itu setengah menggoda.

Allaric hanya tersenyum sinis.

"Kau ingin jadi wanitaku?"

Wanita itu mengangguk.

"Kau harus terlihat istimewah baru Kau bisa menjadi wanitaku," jawab Allaric

"Apa Aku tidak istimewah di matamu?" tanya wanita yang di ketahui bernama Lisa.

"Bercerminlah, agar Kau tau siapa dirimu. Setelah itu, baru Kau datang padaku," kata Allaric setengah mengejek.

"Allaric, Aku mohon," pinta Lisa.

"Cukup! Tinggalkan tempat ini, atau Aku akan meminta orangku untuk menyeretmu keluar," ancam Allaric.

Wanita itu pun beranjak dan segera memakai pakaiannya. Sebelum pergi, ia sempat kembali menawarkan dirinya pada Allaric. Namun, pemuda itu memberikan kata-kata yang menohok untuk wanita itu. Setelahnya, Allaric pun tersenyum puas. Selepas kepergian wanita itu, seseorang masuk ke dalam kamar. Dia adalah Alan, asisten sekaligus tangan kanan dan orang kepercayaannya.

"Tuan, sudah waktunya pulang," ucap Alan.

"Baiklah, Kau yang selalu mengingatkan Aku untuk pulang," sahutnya.

Alan menundukkan kepalanya dan segera menyiapkan semua barang-barang Allaric yang berada di kamar hotel. Setelahya, mereka pun meninggalkan hotel dan kembali ke rumah. Tiba di rumah, Alan mengantarkan Allaric ke kamarnya.

"Selamat malam, Alan," ucap Allaric di tengah mabuknya.

"Selamat malam Tuan," sahut Alan.

Alan pun turun dan berpamitan pada kepala pelayan.

Keesokkan harinya di kantor saat jam makan siang. Alan baru saja menemani tuannya meeting di luar dan baru kembali ke kantor. Allaric berjalan ke arah lift khusus yang terhubung langsung ke ruangannya. Tidak sengaja mata Allaric melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Mata Allaric menatap dengan seksama. Hingga suara Alan membuyarkan konsentrasi Allaric.

"Tuan, liftnya sudah terbuka," ucap Alan.

Allaric memejamkan matanya, menahan kesal. Allaric pun masuk ke dalam lift dan lift pun berjalan naik menuju ruangannya.

Ting ... Allaric keluar dari sana dan masuk ke ruangannya.

"Apa perusahaan, ada menerima karyawan baru?" tanya Allaric.

"Ada, Tuan," jawab Alan.

"Seberapa banyak?" 

"Sekitar enam puluh orang," jawab Alan.

Allaric berjalan menuju jendela di ujung ruangannya. Jendela yang di lapisi kaca itu terhubung langsung ke bawah. Tempat di mana para staff biasa bekerja. Sekali lagi mata Allaric menangkap sosok yang dilihatnya tadi.

"Kau tau siapa dia?" tanya sembari menunjuk.

Alan menautkan kedua alisnya.

"Siapa Tuan?" Alan terlihat bingung.

"Kemari dan lihatlah," panggil Allaric.

Alan pun mendekat dan mengarahkan pandangan matanya ke arah pandangan Allaric.

"Siapa dia?" tanya Allaric.

"Namanya Kirana, salah satu karyawan baru di perusahaan ini," jelas Alan.

"Aku ingin civinya," pinta Allaric.

"Baik, Tuan." Alan segera membuka tab nya dan mulai mencari civi yang di minta oleh bos nya. Tidak lama kemudian, Alan memberikan tab nya pada Allaric.

Senyum Allaric terukir di wajahnya.

"Kirana Prameswari, dua puluh lima tahun. Lulusan terbaik?"

"Ya, Tuan," jawab Alan.

"Sekarang dia di tempatkan di bagian apa?" tanya Allaric.

Alan pun menjelaskan dimana posisi Kirana dan apa saja yang ia kerjakan. Allaric menautkan kedua alisnya.

"Apa tidak ada posisi lain?" tanya Allaric.

"Lowongan yang di buka saat itu hanya itu, Tuan," jawab Alan.

"Baiklah, apa saja jadwalku hari ini," tanya Allaric dengan tatapan yang masih ke arah jendela.

Alan kembali membacakan jadwal Tuannya, untuk hari ini. Seolah tidak peduli, Allaric masih memperhatikan sosok Kirana dari ke jauhan.

****

"Kirana tolong kamu photo copy kan berkas ini, semuanya," perintah Maya atasan Kirana.

"Baik." Kirana beranjak ke mesin photo copy dan mulai mengerjakan tugasnya.

Setelah selesai, Kirana mengantarkannya kepada Maya.

"Oh ya, tolong kamu selesaikan ini. Setelahnya kamu berikan pada saya. Hari ini juga harus selesai. Soalnya akan di pakai meeting besok," papar Maya panjang lebar.

"Baik, Bu." Kirana kembali ke mejanya dan mulai mengerjakan pekerjaannya.

Sore menjelang. Semua karyawan telah menyelesaikan tugasnya dan pulang. Hanya tersisa Kirana yang masih saja bergelut dengan komputer dan berkas di atas mejanya. Hingga malam tiba. Kirana belum juga menyelesaikan tugasnya. Akhirnya, ia memutuskan untuk membawanya pulang dan melanjutkannya di rumah.

Allaric baru saja keluar dari dalam lift. Tanpa sengaja ia melihat Kirana yang baru saja naik taxi.

"Apa itu dia?" tanya Allaric.

"Dia siapa, Tuan?" sahut Alan.

Allaric memutar matanya kesal.

"Maksudku Kirana," jawab Allaric kesal pada asistennya.

"Iya Tuan,"

"Kenapa dia pulang selarut ini ? Apa yang dia kerjakan?"

"Maya memintanya mengerjakan berkas yang akan kita pakai meeting besok," ungkap Alan.

Allaric hanya mengangguk kemudian masuk ke dalam mobil di susul oleh Alan. Mobil mereka pun meninggalkan kantor dan menuju ke tempat hiburan malam. Tempat di mana biasanya Allaric menghabiskan malam dan uangnya?

****

Kirana tiba di rumahnya. Rumah sederhana yang hanya di huni oleh dirinya dan sang Ibu.

"Baru pulang, Nak? Kenapa larut sekali?" tanya Ayu, Ibunya Kirana.

"Nana banyak pekerjaan, Ma. Ini juga di bawa pulang sebagian. Nana akan selesaikan malam ini. Sebab, besok mau di pakai meeting," jawab Kirana menjelaskan.

"Jangan terlalu memaksakan diri, Na. Ingat kamu juga butuh istirahat," ucap sang Mama.

"Iya Mama, Nana tau," sahut Kirana tersenyum dan segera masuk ke kamarnya.

Setelah selesai membersihkan diri dan makan malam. Kirana kembali ke kamarnya dan mulai menyelesaikan pekerjaannya.

Pagi harinya Kirana tergesa-gesa berangkat ke kantornya. Ia pun melewatkan sarapan bersama Mamanya. Ia memilih membawanya dan akan memakannya di sana.

"Ma, Nana berangkat dulu," pamit Kirana.

"Hati-hati, Nak. Ingat, jangan lupa sarapan," pesannya.

"Beres Ma," sahut Kirana dari teras rumahnya. Kirana sengaja menggunakan jasa ojek o****e langganannya dari pada taxi. Ia ingin cepat sampai di kantornya dan melanjutkan pekerjaannya, yang tinggal sedikit lagi.

Jalanan macet parah, ojek yang ia gunakan pun tidak bisa bergerak. Kirana terus saja melirik jam di tangannya. Ia pun memutuskan untuk turun dan melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki. Ia berjalan, berlari dan menyelit diantara kendaraan. Ia tidak menyadari, jika seseorang memperhatikan tingkahnya dari dalam mobil.

"Kau lihat!" cetus Allaric.

Alan segera menoleh kearah telunjuk bos nya. Alan menaikkan kedua alisnya, ia terkejut dengan tingkah Kirana yang berjalan kaki menuju kantornya.

"Cerdas," puji Allaric.

Alan hanya tersenyum mendengar ucapan bos nya.

bersambung.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cinta Di Ujung Senja   Bab. Keputusan Terbesar Kirana

    Keheningan merayap perlahan mengisi sudut ruang tamu sederhana berukuran empat kali empat meter tersebut. Kirana memalingkan wajahnya dari Allaric yang kini terpejam lemas di atas sofa kain, dengan desis halus tabung oksigen yang setia menemaninya. Setiap hembusan napas pria itu terdengar begitu berat, seolah dada ringkihnya terus dipaksa bekerja menembus batas kemampuan fisik yang kian mengikis."Alan," panggil Kirana dengan suara sangat pelan, hampir menyerupai bisikan agar tidak mengusik Allaric yang tampak begitu kelelahan. "Bisa kita bicara sebentar di teras luar?"Alan mengangguk cepat. Ia membetulkan posisi selimut tipis yang menutupi bagian pinggang Allaric, memastikan bosnya berada dalam posisi aman, sebelum melangkah mengekor di belakang Kirana menuju teras rumah.Udara malam yang merayap dingin langsung menyapa kulit, saat Kirana menyandarkan punggungnya pada tiang teras rumah. Ia memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua lengan bersedakap, berusaha meredam gejolak emosi dan ra

  • Cinta Di Ujung Senja   Bab. Pertahanan Yang Mulai Goyah

    Pertahanan Kirana yang mulai goyah, karena mendengar cerita sekaligus melihat kondisi Allaric. Ia kini semakin berada di ujung tanduk, ketika bunyi decitan pintu kamar anak-anak mendadak terdengar menyibak ketegangan. Keheningan yang tegang di teras rumah, pecah seketika saat dua pasang langkah kaki kecil berlarian mendekat ke arah pintu depan."Ibu, ada siapa?" celetuk Carmen seraya mengintip dari balik pinggang Kirana.Kirana tersentak panik, berniat menyuruh kedua anak kembarnya kembali masuk ke kamar. Namun, sebelum sepatah kata pun lolos dari bibirnya, mata bulat Carmen menangkap sosok pria yang duduk di atas kursi roda. Seulas senyum lebar mendadak terbit di wajah mungil gadis kecil itu, meruntuhkan raut curiga yang biasanya selalu ia tunjukkan pada orang baru. Carmen, yang selama ini dikenal sangat dingin dan penuh jarak jika berhadapan dengan orang asing, justru melangkah maju tanpa ragu sedikit pun."Paman tampan yang di taman!" seru Carmen girang, menunjuk ke arah Allaric de

  • Cinta Di Ujung Senja   Tamu di Pagi Hari

    Layar ponsel di atas meja rias kembali berpendar terang, memotong keheningan malam yang menyelimuti kamar Kirana. Getar halus perangkat kecil itu, seolah membawa gelombang kegelisahan baru. Kirana melangkah perlahan dari samping ranjang tingkat tempat Carlo dan Carmen tertidur pulas. Dengan jemari agak gemetar, perempuan itu meraih ponselnya lalu membuka pesan susulan yang dikirimkan oleh Alan.Isi pesan tersebut begitu lugas, meminta kepastian waktu agar Alan bisa menjemputnya besok pagi demi mempertemukannya dengan Allaric. Nama itu, sebuah nama yang sekian lama ia coba tenggelamkan di dasar ingatan paling dalam, kini kembali menyembur ke permukaan bagai belati yang siap menggores luka lama. Allaric Wiguna, pria arogan yang dulu memberikan pengalaman paling pahit dalam hidupnya, sekaligus sosok yang tanpa disadari telah memberinya dua malaikat kecil yang kini menjadi pusat semesta bagi Kirana.Kirana menarik napas panjang, meresapi rasa sesak yang mendadak menjejali dadanya. Ia mema

  • Cinta Di Ujung Senja   Penyesalan Seorang Ayah

    Satu jam setelah keputusan impulsif Allaric di ruang tengah, deru mesin mobil mewah yang berhenti kasar di halaman depan mansion Wiguna, langsung memecah ketenangan malam. Satpam penjaga gerbang utama bahkan tidak sempat menanyakan maksud kedatangan, ketika sosok pria paruh baya bertubuh tegap melangkah keluar dari kursi belakang. Alvaro Wiguna, sang taipan bisnis yang disegani di seantero negeri, berjalan melintasi koridor utama dengan langkah-langkah lebar yang sarat akan dominasi.Alan yang baru saja hendak melangkah keluar menuju lantai bawah, langsung menghentikan geraknya tepat di depan pintu ruang tengah. Matanya membelalak tak percaya mendapati kehadiran sosok yang paling dihindari oleh penghuni mansion ini selama bertahun-tahun."Tuan Alvaro?" celetuk Alan dengan nada suara yang tertahan di tenggorokan.Alvaro tidak menghentikan langkahnya sedikit pun. Pandangannya yang tajam terkunci pada pintu kayu jati yang masih terbuka separuh. "Singkirkan tanganmu dari pusingan gagang p

  • Cinta Di Ujung Senja   Bayangan Masa Lalu

    Suara detak jarum jam dinding berdentang lambat di ruang tengah mansion keluarga Wiguna. Bertha merapikan lipatan jas dokternya, menatap Allaric dengan raut wajah penuh keseriusan yang jarang ia perlihatkan. Alan berdiri tegap di sisi sofa, menyimak percakapan yang mendadak berubah menjadi sangat tegang."All, ada satu hal lagi yang sebenarnya harus aku katakan sejak dulu," buka Bertha. Pandangannya tidak lepas dari raut wajah pria di kursi roda itu. "Soal riwayat hasil pemeriksaan Kirana, sebelum dia menghilang."Allaric mengalihkan pandangannya dari jendela. "Soal apa lagi? Bukankah sudah kukatakan, kalau masa lalu itu tidak perlu diungkit?""Ini bukan sekadar masa lalu," potong Bertha tegas. "Hari, saat kau memintaku memeriksa Kirana karena dia sering mengeluh mual dan pusing. Aku melakukan tes darah lengkap. Hasilnya keluarbsehari, setelah Kirana dikabarkan menghilang."Ruangan itu seketika hening. Alan menahan napasnya, merasakan ada sinyal penting yang akan mengubah segalanya."

  • Cinta Di Ujung Senja   Bab 69. Ketegasan Kirana

    Dr. Bertha menghentikan usapan pada cangkir teh hangat di pangkuannya. Tatapannya tertahan pada susunan foto dalam bingkai kayu, di atas meja tamu rumah Allaric. Matanya membulat sempurna, memancarkan keterkejutan yang tak lagi bisa ia sembunyikan setelah mendengar penuturan jujur dari Alan."Maksudmu, Nyonya Wiguna pergi begitu saja, tanpa meninggalkan jejak sedikit pun?" tanya Bertha. Suaranya terdengar tertahan, seolah mencoba mencerna setiap kalimat yang baru saja keluar dari mulut asisten pribadi di hadapannya.Alan mengangguk perlahan. "Benar Dokter. Tidak ada seorang pun yang tahu alasan pasti, kenapa Nyonya Wiguna memilih kabur saat itu. Malam setelah kejadian itu, Tuan Allaric seperti kehilangan akal sehatnya.""Dia memobilisasi seluruh jaringannya, mengerahkan puluhan anak buah hanya untuk menyisir setiap sudut kota, hingga area perbatasan," lanjut Alan sembari melirik Allaric yang sejak tadi memilih menatap kosong ke arah jendela kaca besar. "Tapi, Kirana seperti hilang dit

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status