MasukDani hanyalah pemuda desa yang hidup sederhana bersama neneknya setelah sang ibu meninggal. Ayahnya tinggal di kota dan sudah menikah lagi dengan janda anak 2. Ketika ayahnya yang tinggal di kota itu jatuh sakit, Dani diminta datang ke rumah mewah sang ayah dan bertemu dengan ibu tiri serta dua adik tirinya. Awalnya, Dani mengira mereka akan memperlakukannya dengan buruk. Namun, ia justru terkejut ketika ketiganya menunjukkan perhatian yang tak biasa dan selalu berusaha mendekatinya setiap malam. Bagaimana Dani menghadapi situasi tak terduga tersebut?
Lihat lebih banyakBab 1
“Kak, puasin aku dong!”
Seorang gadis bertubuh tinggi semampai berdiri dengan pose sensual di hadapan Dani. Jemari lentiknya perlahan melepaskan tali lingerie yang ia kenakan.
Pakaian tidur tipis itu terbuka perlahan. Kainnya yang licin pun terlepas dari bahu, lalu jatuh begitu saja di lantai. Kini tubuh gadis itu hanya berbalut sepasang underwear berwarna hitam, memperlihatkan dadanya yang lumayan besar meskipun tubuhnya langsing.
“Rara, apa yang kamu lakukan?"
Dani membelalak, tubuhnya mematung di tempat. Bahkan matanya nyaris tak berkedip melihat adik tirinya yang kini sudah setengah telanjang di hadapannya.
"Memangnya kenapa? Apa Kak Dani nggak mau puasin aku? Kak Dani nggak tergoda sama tubuh aku?” Tiba-tiba tangan Rara melepaskan pengait bra yang ada di bagian depan.
Begitu benda berbentuk kacamata itu terbuka, ia lemparkan begitu saja ke lantai. Dengan langkah gemulai dan menggoda, ia berjalan meliuk-liuk menghampiri Dani yang kini sudah panas dingin.
“Jangan malu-malu, Kak Dani. Aku tau kalau Kak Dani juga menginginkannya. Ayo, sentuh ini, Kak,” goda Rara seraya memegang tangan Dani dan mengarahkan ke dadanya yang kini sudah tanpa penutup.
Tangan Dani rasanya gemetar dan berkeringat dingin ketika telapak tangannya menyentuh benda bulat kenyal itu.
Ia tak menyangka, baru beberapa hari tinggal di rumah ayahnya, Dani sudah mendapatkan tantangan kenikmatan seperti ini.
Beberapa hari sebelumnya ....
Dani, pemuda berusia 25 tahun itu baru saja pulang dari kebun belakang rumah ketika tiba-tiba ponsel usangnya berdering. Ada nomor tak dikenal muncul di layar.
“Siapa ini?”
Awalnya dia malas mengangkat, tapi karena panggilannya terus masuk, akhirnya dia terpaksa tekan tombol hijau itu.
"Halo,” sahut Dani malas.
“Halo, Dani. Ini Tante Rina.”
Dani langsung diam. Dia tau nama itu. Ibu tirinya, Tante Rina.
Ia ingat, bahwa Surya, ayahnya pernah memperkenalkan wanita itu ke kampung, tetapi Dani hanya acuh dan meninggalkan mereka waktu itu.
“Ada apa menelfon?" tanya Dani dengan suara datar, nadanya sama sekali tidak ramah.
“Ayah kamu sakit, Dan,” lanjut wanita itu dengan suara pelan. “Kondisinya parah. Kalau bisa, kamu datanglah ke kota. Ini permintaan terakhir dari ayahmu.”
Dani tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras. Telinganya terasa panas mendengar kata-kata yang baginya adalah perintah itu.
Sudah bertahun-tahun dia hidup tanpa sosok ayah. Setelah menceraikan ibunya, ayahnya seperti melupakan mereka begitu saja. Dani masih ingat bagaimana ibunya sering menangis diam-diam di malam hari, sampai akhirnya mereka memilih pindah ke desa dan tinggal bersama nenek.
Sementara ayahnya membeli rumah baru di kota, yang katanya rumah itu sangat mewah dan besar. Dani sendiri tak pernah tau bagaimana wujud rumah itu.
Tak lama, ia mendengar ayahnya menikah lagi dengan seorang janda anak 2. Ibunya shock dan larut dalam kesedihan sampai akhirnya meninggal dunia.
Setelah ibunya meninggal, hidup Dani semakin terpuruk. Dia hanya tinggal berdua dengan neneknya di rumah sederhana peninggalan kakeknya. Ayahnya sempat datang bersama ibu tirinya itu karena ingin menjemput Dani, tetapi dia menolak keras.
Kini saat mendengar kabar bahwa ayahnya sakit, yang muncul di hati Dani bukan rasa sedih, melainkan rasa kesal dan kebencian.
“Buat apa aku datang? Dia juga tidak pernah peduli sama aku dan ibu,” jawab Dani datar.
“Terserah kamu, Dani. Tante cuma menyampaikan.” Di seberang sana terdengar helaan napas panjang, sepertinya ia kesal.
Telepon itu pun akhirnya terputus. Dani melemparkan ponselnya begitu saja ke atas meja.
“Memangnya dia pikir dia siapa, bisa menyuruh-nyuruh aku seperti itu?"
Malam harinya, Dani duduk di teras rumah sambil melamun. Neneknya yang sedang membersihkan daun singkong pun menoleh pelan. Tak biasanya Dani banyak diam seperti itu.
Ia sering murung setelah kepergian ibunya. Namun, perlahan Dani kembali bangkit dan menjadi pemuda desa yang ceria dan senang bersosialisasi dengan tetangga.
“Kamu kenapa dari tadi diam saja, Dan?”
Dani menoleh pada neneknya. Ia pun akhirnya menceritakan semuanya, tentang telepon dari ibu tirinya yang mengabarkan kalau ayahnya sakit keras.
"Sampai mati pun, aku nggak akan pernah mau pergi kesana, Nek,” sungut Dani kesal.
Namun neneknya justru menghela napas pelan seraya mengusap bahunya dengan lembut.
“Pergilah, Nak."
“Hah?" Dani mengernyit. “Buat apa, Nek?”
“Jangan begitu, Dani. Nanti kamu menyesal kalau ayahmu sampai meninggal sebelum kamu sempat ketemu.”
“Tapi dia sudah meninggalkan aku dan ibu ….”
“Bagaimanapun juga, dia tetap ayah kamu," potong neneknya lembut.
Dani terdiam. Angin malam berhembus pelan melewati halaman rumah mereka yang sederhana. Suara jangkrik terdengar bersahutan, tapi pikiran Dani justru makin berisik dan kalut.
“Kamu tidak harus memaafkan semuanya sekarang, tapi setidaknya datanglah. Kalau memang ini akhir dari hidup ayahmu, berikan pengabdian terakhir sebagai seorang anak.”
Ucapan itu terus terngiang di kepala Dani semalaman. Ia nyaris tak bisa tidur karena memikirkan kata-kata sang nenek.
Keesokan paginya, Dani akhirnya memasukkan beberapa baju ke dalam tas ransel lusuh miliknya. Ia sudah memutuskan untuk pergi ke kota.
Neneknya juga membantu menyiapkan bekal seadanya untuk perjalanan ke kota.
“Anggap saja ini pengabdian terakhirku sebagai seorang anak.”
*
Akhirnya Dani tiba di kota dengan menaiki sebuah travel. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di rumah besar milik ayahnya itu, ia sudah merasa suasananya aneh.
Ibu tirinya menyambut dengan senyum tipis, tapi tatapannya terasa sulit dijelaskan. Begitu juga dengan kedua anak gadis ibu tirinya. Mereka berdiri di dekat tangga sambil memperhatikan Dani tanpa berkedip.
Tatapan mereka membuat Dani tidak nyaman. Apalagi rumah itu terasa asing baginya.
“Ayahmu ada di kamar,” ujar ibu tirinya pelan.
Dani tak menjawab, dan hanya berjalan malas menuju kamar di lantai atas.
Saat pintu dibuka, dia melihat ayahnya terbaring lemah di atas ranjang. Tubuh pria itu terlihat jauh lebih kurus dibanding terakhir kali Dani mengingatnya.
Untuk beberapa saat, suasana menjadi canggung. Tidak ada pelukan haru ataupun air mata. Dani hanya berdiri di dekat ranjang sambil menatap pria yang selama ini terasa seperti orang asing baginya sendiri.
“Dani, akhirnya kamu datang juga. Duduklah dekat ayah!" Surya meminta putranya itu duduk lebih dekat.
Tanpa menjawab, Dani hanya duduk begitu saja. Dengan suara lemah, pria itu mulai bicara pelan mengenai banyak hal, termasuk soal warisan jika suatu saat nanti dirinya meninggal.
“Semua sudah Ayah atur, dan kamu punya hak paling utama," ujar pria tua itu dengan terbata-bata.
Namun Dani tampak cuek mendengarnya. Baginya, uang dan harta bukan alasan dia datang ke kota. Bahkan sebenarnya dia hanya terpaksa datang ke rumah ini.
“Aku tidak memikirkan itu,” jawab Dani singkat.
Ayahnya terlihat diam beberapa saat sebelum menghela napas panjang. Ia sadar, bahwa luka di hati putranya ternyata belum sembuh.
Setelah percakapan itu selesai, Dani keluar dari kamar dengan pikiran yang masih bercampur aduk. Namun baru beberapa langkah di lorong, dia langsung berhenti.
Kedua adik tirinya sudah berdiri di sana seolah sengaja menunggunya.
Mereka mengenakan pakaian rumah yang sangat terbuka dan minim. Salah satu mengenakan lingerie transparan, hingga memperlihatkan bra dan celana dalamnya.
Sedangkan yang satunya mengenakan kaos crop top ketat, yang dipadukan dengan hot pants. Lekuk tubuhnya yang seksi itu terlihat kemana-mana.
Dani refleks memalingkan pandangan sesaat. Tiba-tiba keduanya mendekat hingga Dani terkejut. Ia melangkah mundur, tetapi tubuhnya terantuk dinding.
“Wah, Kak Dani ternyata ganteng juga ya,” goda salah satunya, sambil terus memepet tubuh Dani ke dinding.
“Kalian mau apa, hah? Menjauh dariku!" sentak Dani sambil terus membuang muka, tetapi kedua adik tirinya itu malah semakin menghimpit tubuh Dani.
Mereka menyentuh dada, lengan, dan bahu Dani dengan sentuhan yang sensual.
“Ssstt! Kak Dani jangan galak-galak dong! Apa kak Dani mau lihat sesuatu?" tanya salah satunya, yang tiba-tiba menarik tali lingerie nya di hadapan Dani.
“Ssst! Jangan keras-keras!” bisik Dani panik. Matanya kembali melirik ke arah Surya. “Ayah bisa bangun.”“Kalau begitu Kak Dani harus bikin aku diam.”Tatapan mereka bertemu. Di mata Rara, ada tantangan yang tak bisa Dani abaikan. Dan entah karena letih, penasaran, atau nafsu yang sudah terlalu lama ia tahan, tiba-tiba sesuatu di dalam dirinya runtuh.“Sial,” desis Dani.Ia meraih tubuh Rara dan mengangkatnya, lalu mendudukkannya di tepi sofa panjang dekat jendela, tepat di seberang ranjang Surya. Rara terkikik tertahan sambil melingkarkan lengannya di leher Dani.Dani menunduk. Lidahnya menyentuh puncak dada Rara yang sudah mengeras, memutarinya perlahan, lalu mengulum dan menyesapnya dengan lembut.“Ahh! Kak Dani …!” Rara menggigit punggung tangannya sendiri agar suaranya tidak keluar. Tubuhnya melengkung, dadanya terdorong semakin dalam ke mulut Dani.“Hmm … mmh …” Dani menyedot kuat-kuat, lalu menggigit pelan dengan ujung giginya. Satu tangannya meremas dada Rara yang satunya, men
Dani buru-buru mengeringkan tubuh dan mengenakan pakaian ganti, lalu keluar dari kamar mandi dengan langkah tergesa. Rambutnya masih basah, tapi pikirannya hanya tertuju pada satu hal.Tas kecil milik Tante Rina seperti yang diceritakan oleh Rara.Matanya menyapu seisi kamar rawat. Meja di samping ranjang, kursi, laci kecil, sofa di dekat jendela. Tidak ada apa pun yang mirip tas itu. Dani membuka laci satu per satu, mengintip ke bawah ranjang, bahkan memeriksa sela-sela sofa.Kosong.“Sial,” desisnya pelan. “Sepertinya sudah dibawa sama Tante Rina.”Ia menghela napas dan menoleh ke arah Surya. Ayahnya masih terlelap dengan napas teratur, selang oksigen terpasang di hidung, dan infus menetes pelan dari kantong di sampingnya. Wajah pria itu tampak tenang, terlalu tenang untuk orang yang beberapa jam lalu kolaps.“Obat apa yang sebenarnya dikasih ke Ayah?” gumam Dani lirih.“Kak Dani cari apa sih?”Dani tersentak. Rara sudah berdiri di belakangnya. Gadis itu sudah keluar dari kamar mand
19“Rara?”Dani terbelalak. Air pancuran masih mengalir deras di atas kepalanya, tapi tubuhnya langsung kaku saat melihat siapa yang berdiri di belakangnya.Di sana, Rara tampak tersenyum jahil. Rambut panjangnya sedikit basah terkena percikan air, dan gaun tipis yang ia kenakan mulai menempel di lekuk tubuhnya.“Hai, Kak Dani. Mandinya kok nggak ngajak-ngajak Rara sih?” suaranya mendayu-dayu, sengaja dibuat sedikit mendesah untuk menggoda Dani.“Astaga! Kamu ngapain di sini?” Dani buru-buru menutupi tubuhnya dengan kedua tangan. “Bukannya tadi kamu sama Rosa sudah pulang?”“Aku balik lagi. Aku nggak bisa tidur di rumah, Kak.” Rara mendekat selangkah.“Aku kepikiran Kak Dani terus,” suaranya setengah berbisik. Jemarinya mulai berani mengusap dada telanjang Dani yang sudah basah.“Keluar, Ra! Ini kamar mandi rumah sakit. Kamu nggak boleh ikutan masuk ke sini!” usir Dani seraya menepis tangan Rara yang bermain membentuk lingkaran di dadanya.Bukannya menurut, Rara justru malah menempelk
18“Tante Rina …?”Dani membeku di ambang pintu. Matanya langsung tertuju pada ranjang. Surya ternyata tidak lagi berbaring dengan tenang seperti beberapa menit sebelumnya. Tubuhnya sudah bergeser ke tepi ranjang, sementara Tante Rina berdiri di sampingnya dengan wajah panik.“Dani, tolong!" pekik wanita itu dengan panik.“Ayah!”Dani bergegas masuk dengan cemas. Baru beberapa langkah ia mendekat, tubuh Surya tiba-tiba kembali limbung. Tangannya yang masih terpasang infus bergerak lemah, seolah berusaha mencari pegangan.“Pegang tangan ayahmu, Dan!” seru Tante Rina."Ya ampun! Ayah kenapa?” Dani segera menghampiri sang ayah. Dia menangkap tubuh ayahnya sebelum benar-benar jatuh ke lantai. Tante Rina ikut menopang bahunya dari sisi lain.“Ayah! Ayah kenapa?”Surya tidak menjawab. Matanya hanya terbuka sedikit, napasnya terdengar berat. Dani semakin panik melihat wajah ayahnya yang pucat.“Tante, panggil perawat!”“Tidak perlu!” jawab Tante Rina cepat.Dani menoleh tajam. “Kenapa tidak
Bab 4“Rosa, hentikan!”Dani langsung menahan tangan adik tirinya itu sebelum handuk yang melilit tubuhnya benar-benar terlepas.Napasnya memburu, seirama dengan jantungnya yang berdetak kacau saat tubuh Rosa masih menempel erat di dadanya.“Kenapa sih, Kak? Kakak benci sama aku ya?” rengek Rosa ma
Bab 3Dani menelan ludah pelan sambil terus menatap ke arah lantai atas. Tangannya meletakkan gelas ke meja secara perlahan. Ia ragu jika tadi ia hanya salah dengar, tapi ternyata telinganya tetap menangkap suara aneh dari kamar Surya.Suara desahan itu masih terdengar samar di tengah sunyinya ruma
Bab 2Dani membelalak saat gadis di depannya benar-benar menarik tali lingerie itu perlahan. Kain tipis tersebut melorot sedikit demi sedikit dari bahunya, membuat Dani refleks memalingkan wajah.“Heh! Jangan aneh-aneh kalian ya!” bentak Dani gugup.Namun kedua gadis itu malah terkikik geli melihat
Bab 1“Kak, puasin aku dong!”Seorang gadis bertubuh tinggi semampai berdiri dengan pose sensual di hadapan Dani. Jemari lentiknya perlahan melepaskan tali lingerie yang ia kenakan.Pakaian tidur tipis itu terbuka perlahan. Kainnya yang licin pun terlepas dari bahu, lalu jatuh begitu saja di lantai












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan