LOGINRaia memarkir mobil listriknya di area parkir gedung office tower Nusabuy dengan mulus. Setelah memastikan riasan dan blazernya rapi lewat kaca spion, ia bersandar sejenak pada kemudi. Napasnya terembus panjang.Pikirannya mendadak melayang kembali ke area kitchen island apartemennya satu jam yang lalu. Rasa hangat dan lengket yang sempat tertinggal di tenggorokannya membuat Raia menggelengkan kepala pelan. “Ough! Gila. Gue bener-bener kayak orang gila seks belakangan ini,” batinnya merutuk diri sendiri.Sejak Aksenna masuk ke dalam hidupnya, ritme tubuhnya seolah diatur ulang oleh pria itu. Raia bahkan sampai harus rutin meminum pil KB setiap malam, karena ia tahu betul seberapa impulsif dan tidak terprediksinya gairah mereka berdua di luar jam kantor. Bukan cuma seksnya yang gila, tapi racauan pria itu pasca-orgasme tadi juga tidak kalah absurd. Raia mengingat jelas bagaimana Aksenna, dengan napas terengah-engah dan mata setengah terpejam bersandar di meja konter dapur, menaha
Raia menyelinap turun dari tempat tidur. Tubuhnya masih terasa setengah remuk, sisa dari hantaman brutal dan klimaks beruntun yang dipaksakan Aksenna semalam. Senyum tipis terbit di bibirnya; jika pertempuran semalam dinilai dengan skor, ia harus mengakui bahwa atasannya itu menang telak dalam hal stamina.Raia melangkah pelan ke sisi ranjang, menatap lekat-lekat sosok pria tampan yang masih terbujur polos dan hanya ditutupi selimut itu. Mata lelaki itu masih terpejam. Napasnya teratur, satu irama dengan gerak dadanya yang naik-turun. Ia membatin heran, entah olah tubuh apa saja yang rutin dilakukan pria ini, sampai ia bisa punya stamina sebaik itu Dan badannya itu …. “God, he has a freakin eight abs!”Rasanya Raia ingin menyelinap lagi ke dalam selimut, kembali ke sepasang lengan yang kokoh dan tubuh yang hangat dan menggiurkan itu—kalau saja ia tidak melirik ke jam dinding. Matanya melebar. Dia tidak punya banyak waktu untuk menggoda atasannya itu meski ia ingin. Raia bergega
Aksenna mendengus rendah, kembali merangsek menubruk tubuh naked Raia dengan seringai penuh nafsu. "Sabar, Sayang …”“Sini aku yang pasang …” Raia tidak sabar. Di tengah gelombang panas yang masih menderu di sekujur tubuhnya, tawaran menggoda itu meluncur begitu saja dari bibirnya yang bengkak dan basah. “Tapi aku jilat dulu ya, lidahku enak. you're sure to love it.”Aksenna menghentikan gerakannya sesaat. Napas pria itu memburu kasar, manik mata gelapnya melebar menatap Raia dengan kilat tak percaya—sekaligus tertantang hebat. Tawaran blak-blakan itu benar-benar melunturkan sisa-sisa kewarasan terakhir yang ia miliki. "Kamu bener-bener..." desis Aksenna tertahan, suara nyaris berantakan..Alih-alih menolak, Aksenna menyerahkan bungkusan kecil itu tepat ke tangan Raia. Pria tersebut merebahkan diri sejenak di sisi ranjang, membiarkan Raia mengambil alih kendali. Dengan gerakan lambat yang disengaja, Raia membuka bungkusan itu menggunakan giginya. Matanya menatap tajam penuh menggo
“Mmmhhh …”Sentuhan Akaenna berubah menjadi gelombang serangan bertubi-tubi yang menghantam pusat ketahanan Raia tanpa henti. Isi kepalanya berputar, kesadarannya mulai mengawang. “Ahhhh, ngghh, Sayaang, ouhh aku m—mau keluar…”Gelombang nikmat itu merambat naik dengan kecepatan penuh, mengancam meledakkan kesadaran Raia ke udara. Otot-otot perutnya mengetat, hingga pinggulnya menggelinjang bebas,“Yes, Baby. Squirt for me …”“Ahhh, Sa–yaaang!”Matanya Raia terpejam erat, napasnya tersengal dalam isakan tertahan saat puncak orgasme menghantam kesadarannya bertubi-tubi.Tepat di bawah sana, semburan cairan pekat yang hangat meluncur masif dari pusat inti Raia, membanjiri sela-sela jemari kokoh Aksenna hingga basah kuyup berlumuran. “Banjir banget, Sayang …”Pria itu memandangi cairan bening yang membasahi telapak tangan dan jemarinya sendiri dengan seulas seringai tipis yang teramat puas.“How, Baby? Udah puas, Hmm?" bisik Aksenna serak. Bibirnya kini beralih turun menyusuri leher R
“Yeah, louder, Honey. Panggil nama saya lebih kencang,” bisik Aksenna serak tepat di depan belahan bibir Raia.Di bawah temaram lampu dapur yang kuning hangat, ia menatap lekat-lekat gundukan kenyal polos itu naik-turun memburu dengan sepasang puncaknya yang menegang kaku kedinginan.“Ah, your boobs bagus banget, Honey. Love your boobies!” Suara bariton Aksenna menghantam sisa-sisa akal sehat Raia.Di bawah kendali pria itu, dunia seolah menyempit hanya pada gesekan lidah yang panas, isapan menuntut di dadanya, serta dinginnya batu marmer yang menopang punggung telanjangnya. "Ah ... God, Senna ..." erang Raia putus asa, napasnya tersengal parah. Ia sudah tidak peduli lagi pada apapun. "Jangan ... shh, jangan gigit...""Kalo gini?" Aksenna menarik kepalanya sejenak, membiarkan benang liur tipis terputus di antara bibirnya dan puncak dada Raia yang sudah basah lalu lanjut mengulum, mengisap dengan rakus."Nggg—ahh."Pria itu menyeringai, matanya menggelap menatap wajah Raia yang keme
‘Boleh menginap katanya? Sialan!’Pria ini bahkan bertanya di saat kedua tangan kokohnya masih meremas posesif dada Raia dari arah belakang. "Memangnya kalau aku bilang nggak boleh ... kamu bakalan langsung balik ke apartemen kamu, hah?" ketus Raia, suaranya terdengar bergetar parah karena menahan denyut gila di dadanya. Perempuan itu berbicara sambil sedikit mendongakkan kepalanya ke belakang, menatap lurus rahang tegas Aksenna yang sedang membungkuk mengurungnya dari arah belakang.Aksenna terkekeh rendah—bergetar di sepanjang permukaan kulit pundak Raia yang terbuka."Tentu aja enggak," bisik Aksenna tanpa rasa bersalah sedikit pun, bibirnya menyapu halus cuping telinga Raia. Sentuhan ganda di dadanya, ditambah kecupan hangat yang terus menghujani leher dan pundaknya, berhasil merontokkan sisa-sisa pertahanan terakhir yang ia miliki. "Ahh, Senna! Parah ya, kamu!" umpat Raia gemas, kepalanya terpaksa mendongak pasrah saat Aksenna memperdalam kecupan hangat di lehernya. “Ughhh …







