تسجيل الدخول"Ranjangnya sesuai yang kamu mau, kan?"
Syifa menganggukkan kepalanya "Sofa ini buat apa, sayang? Bukannya bisa kita taruh nanti waktu di rumah?""Nggak papa disini dulu aja, sayang. Kamu bisa duduk disini dan aku..." Syifa mengusap wajah Aryo sambil menggelengkan kepala "Nggak harus masuk, sayang. Aku bisa memuaskan kamu kayak biasanya." Aryo menarik pinggang Syifa mencium bibirnya singkat "Kamu tahu kalau aku ini gairahnya besar, apalagi dekat kamu gini...rasanya udah ng"Syifa tahu tentang ini?" "Syifa akan tahu setelah kamu menyetujuinya. Kamu pasti tahu jika saya belum percaya sepenuhnya sama kamu. Tantangan melamar itu ingin melihat keseriusan kamu pada Syifa, jangan dikira saya tidak tahu apa yang kamu lakukan bahkan mengubah Syifa." Rahmad mengatakan dengan nada datar "Saya diam karena saya lihat Syifa cinta sama kamu, sedangkan kamu? Memang terlihat kamu sayang sama Syifa, tapi sayang saja tidak cukup. Orang tua kamu orang baik-baik, saya tidak meragukan mereka yang menyayangi Syifa dan akan menganggap sebagai anak sendiri, saya malah meragukan kamu yang bisa setia dengan Syifa." Aryo sedikit terkejut dengan semua yang dikatakan pria dihadapannya, tidak lain adalah papanya Syifa "Om menyelidiki saya?" Rahmad menggeleng dan menganggukkan kepalanya bergantian "Kamu akan tahu kalau punya anak perempuan. Saya mengetahuinya secara tidak langsung. Kalian sudah bertindak terlalu jauh dan saya tidak mau
"Keuntungannya banyak juga ya? Kamu keren banget kalau trading." "Mau masuk?" Stella menggelengkan kepalanya "Nggak ada uang kalau segitu. Kenapa kamu kayak habis dapat berita buruk?" "Syifa kasih kabar kalau papanya mau bicara berdua. Bicara apaan ya? Menurut kamu?" Aryo menatap Stella yang terdiam "Aku jadi kepikiran." "Bicara apa yang akan kamu lakukan sama anaknya." Stella menjawab sambil lalu."Memang begitu? Mantan tunanganmu dulu juga ditanya hal begitu?" Aryo menatap ragu.Stella mengangkat bahunya "Aku nggak tahu karena nggak mengalami itu semua, kamu nggak lupa kan kalau orang tuaku sudah nggak ada. Jadi pertanyaan yang kamu berikan nggak bisa aku jawab, apa yang kamu takutkan? Pekerjaanmu berjalan sangat lancar, kamu tinggal tunjukkan itu semua." Jawaban yang diberikan Stella tidak membuat perasaan Aryo tenang, berbicara pertama kali dengan papanya Syifa sedikit membuat Aryo tahu bagaimana karakternya me
"Jangan terlalu banyak melamun. Ingat kamu nanti di proyek. Lengah dikit bisa terjadi kecelakaan." "Ya, mas." Syifa memutar bola matanya malas "Mas, nggak mau nyalain musik?" "Kenapa? Bosan? Disini kita akan tahu keadaan jalan yang akan dilalui. Papa kamu suka dengar radio ini, lagian juga ada musiknya." Radio yang di dengarnya dari masa sekolah sampai sekarang, Syifa sangat mengenal radio ini dengan baik karena papanya yang sering memutar bukan hanya di kendaraan tapi juga rumah dan kantor. Mereka menyiarkan banyak hal mulai dari keadaan jalan yang ada di kotanya sampai seluruh Jawa Timur, jadi mereka yang akan melakukan perjalanan jauh atau dirumah bisa tahu. Bukan hanya kondisi jalan tapi juga isu yang terjadi, kejadian yang baru saja terjadi dan pendengar bukan hanya rakyat sipil bahkan orang-orang pemerintahan dan aparat juga ikut mendengar jadinya penanganan cepat. Setidaknya sebelum teknologi secanggih saat ini, berkat radio ini warga Jawa Timur
"Papa mau kamu besok temani Miko ke Trawas lihat proyek yang kita kerjakan." "Berdua, pa?" Rahmat menganggukkan kepalanya "Papa nggak ikut?" Rahmat menggelengkan kepalanya "Papa ada rapat besok di Pemkot sama Candra dan nggak bisa diwakilkan. Sebenarnya berat nyuruh kamu ikut tapi kamu harus tahu apa yang terjadi di tempat proyek saat ada pembangunan, kamu tahu keadaan pekerja lapangan. Kamarnya ada dua, papa nggak akan buat kamu berduaan dengan yang bukan mahram." Syifa menghela napas panjang "Aku besok harus lihat contoh undangan, pa." "Aryo bisa lakuin, kan? Lagian papa lihat banyak kamu yang urus. Papa tahu kalau Aryo kerja, tapi nikah ini bukan hanya kamu aja dimana Aryo juga harus terlibat." "Aryo ngumpulin duit, pa. Bayar pernikahan ini nggak murah loh, pa. Belum lagi isi rumah dan juga bulan madu." "Papa dan mama lebih pengalaman dari kamu. Kamu siap-siap aja besok berangkat ke Trawas, bisa jadi lanjut Malang. Miko
"Sakit apa?" Aryo melangkah masuk kedalam mengikuti Stella dan memilih duduk di sofa, menatap Stella yang melanjutkan makannya. Mengalihkan pandangan pada layar televisi saat tidak mendapatkan jawaban dari Stella yang sedang fokus makan, mengambil ponsel dan membuka transaksi dari nasabahnya."Gimana tradingnya Pak Rusli?" Stella membuka suara tanpa menatap Aryo."Semalam rugi, tapi ini sudah aku kembalikan. Kamu sakit apa?" Aryo menatap sekilas pada Stella."Kehujanan. Kamu tahu kalau cuaca sekarang suka nggak jelas, jadinya ya sudah.""Bukannya kamu bawa mobil?" Aryo mengerutkan keningnya."Kemarin nggak bawa, service rutin. Kamu yang daftarin masuk ke bengkel, masa lupa?" Stella menatap Aryo sambil menggelengkan kepalanya "Sampai mana persiapan menikahmu? Calon istrimu suka sama furniturenya?""Suka, apalagi sofanya. Kita sudah coba barusan, nggak nyesal aku beli." Aryo tersenyum mengingat kegiatan mereka."
"Ranjangnya sesuai yang kamu mau, kan?" Syifa menganggukkan kepalanya "Sofa ini buat apa, sayang? Bukannya bisa kita taruh nanti waktu di rumah?" "Nggak papa disini dulu aja, sayang. Kamu bisa duduk disini dan aku..." Syifa mengusap wajah Aryo sambil menggelengkan kepala "Nggak harus masuk, sayang. Aku bisa memuaskan kamu kayak biasanya." Aryo menarik pinggang Syifa mencium bibirnya singkat "Kamu tahu kalau aku ini gairahnya besar, apalagi dekat kamu gini...rasanya udah nggak tahan aja."Syifa membelai dada Aryo perlahan "Sabar semua akan indah pada waktunya, sayang. Lagian kapan sih aku nolak kamu? Aku nolak kalau ini kamu masuk kedalam, tapi...ini kamu udah kenalan sama punyaku." "Ahh...sayang..." Aryo mengeluarkan desahannya saat jagoannya dibelai dari luar dengan tangan Syifa "Kamu nakal!" Aryo memegang tangan Syifa dan memberikan tatapan tajam "Kalau aku kelepasan jangan salahin." "Kamu kapan isi tempat ini, sayang?" Syifa melepa
"Akhirnya kesini ya, Syifa." Syifa memutar bola matanya mendengar nada menggoda pegawai kesayangan sang papa, Candra. Memilih tidak mendengarkan dengan mengikuti papanya menuju ruangan, langkahnya terhenti saat papanya berhenti dihadapannya."Ruangan kamu sama Miko, bukan papa.
"Mbak nggak bisa rayu papa?" "Kamu tahu kalau papa sudah bilang begitu artinya nggak bisa dibantah," jawab Sita tanpa menatap Syifa yang mengerucutkan bibirnya "Lagian enak kerja di tempat papa. Mas Candra dan Miko pasti bantuin kamu." "Aku mau cari pengalaman, mbak. Kenapa bu
"Kamu ke rumah?" "Ya, ibu kamu baik banget...""Ngapain? Kamu tanya tentang Tante Neni? Buat apa? Kamu mau cari informasi tentang aku di keluargaku? Kamu nggak percaya sama aku? Aku ini pengen mandiri tanpa bantuan orang tua dan kamu..."Aryo menghentikan kata-kata yan
"Teman yang baik bawa oleh-oleh dari setiap tempat pemberhentian." Maya memutar bola matanya saat melihat Syifa membongkar barang yang dibawanya dari penerbangan setiap kota, makanan ringan sampai berat, tidak lupa makanan yang sedang viral. Syifa sangat menyukai makan dan mencoba







