LOGINSelama tiga tahun pernikahan, hal yang paling mahir dilakukan oleh Dexter adalah menusukkan pisau ke hati Caitlyn. Meskipun mertua tidak menyukainya dan dosennya kecewa padanya, Caitlyn tetap ingin menggunakan ketulusan hatinya untuk menghangatkan suaminya. Sampai hari ini, barulah dia sadar ternyata cinta pertama suaminya adalah tunangan adik iparnya sendiri. Betapa ironis. Dia sempat ingin punya anak, berpikir setidaknya itu bisa membuatnya dan Dexter bersama sampai tua. Namun, dia malah diberi tahu bahwa dia tidak layak untuk menjadi seorang ibu. Lebih ironis lagi. Pada hari ulang tahun pernikahan mereka, Caitlyn memilih pergi untuk selamanya. Dia fokus meneliti, memenangkan penghargaan besar, dan membawa kebanggaan bagi negara. Dia mulai bersinar dan pria-pria luar biasa yang mengaguminya pun berbondong-bondong mengelilinginya. Tiga tahun kemudian, Caitlyn keluar dari rumah sakit bersalin sambil menggandeng anak kecil. Dexter yang seperti kehilangan akal sehat langsung mengadangnya. "Kamu hamil?" Caitlyn hanya tersenyum, menatapnya dari atas dengan dingin. "Aku melahirkan anak, apa hubungannya dengan mantan suamiku?"
View MoreDexter menundukkan kepala, bulu matanya yang tebal tampak sedikit bergetar. Caitlyn segera mengalihkan pandangan, tidak ingin lagi melihatnya.Dexter berbicara pelan. "Bukan begitu maksudnya. Maksudku, kita belum resmi bercerai. Kamu nggak mau pulang ke rumah lama, jadi aku datang ke sini. Itu wajar, 'kan?""Ada masalah apa?" tanya Caitlyn datar. "Kalau ada yang mau kamu bilang, cepat saja.""Kamu bahkan nggak izinkan aku masuk?""Sudah malam, nggak pantas," jawab Caitlyn tegas.Dexter menatapnya. "Kita berdiri di depan pintu begini ngomongin soal perceraian, menurut kamu pantas?"Caitlyn tidak punya pilihan selain mempersilakannya masuk.Namun begitu masuk, Dexter sama sekali tidak membicarakan soal surat cerai. Sebaliknya, dia langsung melangkah ke arah kamar mandi.Caitlyn buru-buru menahan. "Kamu mau apa?""Mandi," jawab Dexter tenang. "Malam ini aku tidur di sini. Aku capek. Besok pagi kita bicarakan semuanya.""Nggak bisa!" Caitlyn langsung menolak. "Aku nggak setuju!"Dexter ter
Caitlyn menundukkan kepala, tidak tahu harus bagaimana menceritakannya. Akan tetapi, hal seperti ini jelas tidak mungkin disembunyikan.Melihat kedua orang tua itu sudah hampir selesai makan, dia meletakkan sendoknya dan duduk tegak dengan sopan, lalu menatap mereka berdua sebelum berkata pelan, "Guru, Bu Mira, aku ... aku mau bercerai."Jaxon tertegun. Revina sampai terkejut. "A ... apa? Cerai?"Jaxon langsung menepuk meja. "Sembarangan! Menikah dan bercerai itu bukan main-main! Kenapa bisa seenaknya diucapkan begitu saja?"Caitlyn tahu, di generasi mereka, perceraian memang jarang terjadi. Jadi mendengar kabar seperti itu, wajar kalau mereka terkejut. Dia buru-buru menjelaskan, "Aku dan dia ... sudah nggak ada perasaan. Kalau terus dipaksakan, rasanya nggak ada artinya lagi.""Katanya nggak ada perasaan, tapi dulu kamu bersikeras mau menikah dengannya!" Jaxon hampir marah besar. "Ada apa sebenarnya?"Bagaimana dia tidak kesal? Murid yang paling dia banggakan, malah meninggalkan pendi
Caitlyn memiliki wajah yang berkelas. Saat tidak berbicara, auranya tampak dingin dan elegan. Sifat aslinya juga bukan tipe gadis lembut yang suka manja.Namun, Jaxon dan Revina adalah orang yang pernah menuntunnya di masa sulit dan mereka benar-benar tulus padanya. Dibandingkan dengan pasangan Mattias dan Lusia, Caitlyn justru merasa jauh lebih dekat dengan sang guru dan istrinya.Karena itu, dia memberanikan diri mengajukan permintaan itu. Tak disangka, Revina justru sangat senang. "Aduh, Ibu langsung ke pasar beli iga ya! Cay, cepat kemari!" katanya riang.Caitlyn pun tertawa. "Terima kasih, Bu." Dia segera bangkit, berganti pakaian, mengambil kunci mobil, dan bergegas keluar.Jaxon dan Revina begitu baik padanya, Caitlyn tidak tahu bagaimana membalas budi itu. Jadi, dia hanya bisa bertekad dalam hati untuk berbakti kepada mereka sebaik mungkin di masa depan.Dalam perjalanan, dia melewati toko buah impor, lalu membeli ceri dan jeruk besar sebelum menuju Universitas Hardison. Bahkan
"Menurutku sih biasa saja.""Kamu dulu nggak suka yang asam, kenapa seleramu berubah?""Mungkin ... karena faktor usia."Keduanya tertawa terbahak di atas sofa. Mereka mengobrol sampai lewat jam 11 malam baru tidur.Keesokan paginya, Yasmin terbangun karena suara telepon. Setelah menutup panggilan, dia melihat jam, lalu menuju dapur untuk menyiapkan sarapan.Kulkas Caitlyn sangat rapi dan bersih, bahkan hampir kosong. Akhirnya Yasmin hanya bisa memakai tepung dan telur untuk membuat panekuk telur sederhana.Meski Yasmin terlihat ceria dan terkesan cuek, serta berasal dari keluarga berada, kemampuan masaknya malah sangat mumpuni. Begitu selesai memasak, dia baru menyadari bahwa Caitlyn masih belum bangun. Padahal Caitlyn bukan tipe yang suka tidur sampai siang, dan Yasmin tahu itu.Yasmin memanggilnya dua kali, tetapi Caitlyn hanya bergumam pelan lalu membalikkan badan dan kembali tidur.'Kenapa sengantuk itu?' pikirnya.Yasmin masih ada urusan hari ini, jadi dia menulis pesan untuk Cai
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews