MasukHari ini jadwal terapi Nara ke rumah sakit. Dan kali ini untuk pertama kalinya Dirga menemaninya. Selama satu jam Nara menjalani terapi untuk kakinya. Selama itu juga Dirga menemani. Ikut mendengarkan intruksi dokter. Dia juga mencatat di ponselnya, apa saja yang perlu dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan oleh Nara. Setelah selesai terapi, Dirga berniat mengajak Nara untuk jalan-jalan ke pusat perbelanjaan untuk membeli baju dan alat-alat rumah tangga untuk dibawa ke apartemennya. Namun tiba-tiba Agus menelpon, memberitahu salah satu klien penting meminta meeting dimajukan dari jadwal yang sudah disepakati.Awalnya Dirga hendak membawa Nara ikut meeting tapi istrinya itu menolak. Meminta menunggu di kafe dekat restoran tempat Dirga meeting. "Kalau gak mau ikut meeting. Aku telpon Keyra saja ya? Minta dia temani kamu?""Iya." Nara setuju. Setelah meminta persetujuan Nara, Dirga menelpon Keyra. Meminta gadis itu untuk Nara selagi dirinya meeting. "Kalau ada apa-apa langsung
Di dalam kamarnya, Nara duduk bersandar di atas tempat tidur. Wajahnya terlihat segar setelah membersihkan diri dan berganti pakaian. Setelah seharian sibuk dengan acara akad nikahnya bersama Dirga. Wajahnya menunduk sambil sesekali tersenyum dengan mata fokus pada benda pintar ditangannya. Jemarinya lincah menari diatas lanyar ponsel, sibuk membalas komentar di group alumni sekolahnya. Meski tidak ada yang di undang tapi foto akad nikahnya sudah sampai di group alumni sekolahnya. Dan itubkarena Keyra memposting acara akad nikah Nara di media sosial miliknya. Dan entah bagaimana ceritanya foto itu dibagikan ulang di group alumni Sekolah. [Kapan resepsinya, Neng? Bertanya dengan nada selembut sutra.] [Jangan lupa undang aku ya, Eneng cantik.] [Masih dipikirkan,] balas Nara. [Pokoknya harus ada resepsi dan kita wajib diundang, titik.] [Kalau gak ngundang kita aku sumpahin punya banyak anak.] [Eh... Ngomongin anak, jadi keinget, kikuk...kikuk..] [Nanti malam Nara mau mala
Sudah dari setengah jam yang lalu Nara selesai di make up. Wajah cantik yang sudah dibalut make up itu nampak gugup. Matanya menatap dirinya sendiri dari pantulan cermin dengan jantung yang berdegup. kencang. "Tenang Nara," gumamnya sambil sesekali menghela nafas. "Duh.... gugupnya yang nanti malam pertama," goda Keyra dari atas ranjang. Gadis itu menaikturunkan alisnya, jail. "Ck." Nara berdecak sambil melirik kesal sepupunya itu. Sejak tadi gadis 24 tahun itu terus saja menggodanya. "Sudah jangan gugup, ini masih aku carikan video unboxing yang paling hot." Keyra mengedipkan matanya. "Keyra!" Mata Nara mendelik menahan kesal. "Ok, ok, aku diam." Jari Keyra bergerak seolah sedang mengunci bibirnya. Baru menghela nafas lega, tiba-tiba pinti terbuka. "Khem...." Ratih berdiri diambang pintu. Nara menoleh namun tak bersuara. Gadis itu memilih diam meski ada rasa penasaran dengan kedatangan Ratih. Sejak kemarin siang, bundanya Dorga itu tidak keluar kamar. Bahkan s
"Apa sekarang kamu sudah puas?" tanya Dimas menatap istrinya yang sejak tadi menundukkan kepalanya. "Aku cuma ngasih saran, Mas. Kalau Mbak Amelia gak setuju, ya gak perlu marah-marah." "Apa menurutmu saranmu itu pantas?" Ratih terdiam. "Kalau yang duduk di atas kursi roda itu putramu, apa kamu bisa menerimanya?" Rasanya Dimas sudah hampir kehabisan stok kesabarannya. "Sebelum berangkat aku sudah berkali-kali mengingatkan kamu. Jangan membuat masalah! Kalau tidak suka, lebih baik diam." "Mas, aku ini ibunya Dirga. Aku berhak mengatur dan memberi saran. Terlebih jika itu membuat kita malu," ujar Ratih menatap suaminya. "Astaghfirullah...." Dimas mengusap wajahnya kasar, lelah menghadapi istrinya yang belakangan inu jadi suka membantah. "Apa kamu ingin Dirga membencimu?" "Mana ada ibu yang ingin dibenci anaknya sendiri," jawab Ratih. "Kalau begitu jangan pedulikan omongan orang! Pikirkan perasaan dan kebahagiaan putramu," "Mas, apa yang aku lakukan ini demi menjaga har
Pagi ini portal berita diheboh kan dengan berita pengakuan seorang pengusaha muda bernama Arka Mahesa. Pria yang terkenal santun dan pintar itu mengaku sebagai pelaku tabrak lari Anzala Kinara, putri Rendy Wijaya. Kejadian tabrak lari itu sebelumnya sudah menyita perhatian publik karena membawa nama salah satu konglomerat negara ini, Tristan Elagra pewaris Anggada Group. Tentu saja itu sangat mengecewakan untuk Dirga dan orang tua Nara. Sebelumnya, Arka mengaku Tristan adalah dalanh dibalik kejadian tabrak lari itu. Namun kenyataannya pria itu menarik kesaksiannya. Sebelumnya berita itu turun, orang tua Arka sudah datang menjelaskan alasan Arka merubah pengakuannya dan juga meminta maaf. "Tristan mengancam akan melihat perusahaan jika Arka menyebut namanya. Tidak habya nasin keluarga kami yang jadi taruhan. Tapi juga perusahaan besanku." Penjelasan Kurniawan sehari sebelumnya.. pada Rendy dan Dirga. "Sebenarnya target yang Tristan inginkan bukan Nara melainkan kamu, Dirg
"Siapa Tristan?" tanya Nara yang langsung membuat wajah Dirga berubah dingin. Sorot mata tajam itu mendadak dipenuhi kilatan amarah. "Apa dia menghubungimu?" tanya Dirga menatap lekat mata Nara. Membuat gadis itu menelan ludah kasar, tiba-tiba merasa takut dengan bibir terkatup rapat. Dirga mendesah berat, berusaha menurunkan emosinya. Lembut, dipegangnya dagu Nara. "Tatap mataku," pintanya berbisik dan gadis itupun mengikuti permintaannya. "Kamu percaya kan sama aku?" Entah kenapa Nara langsung mengangguk. Ada sesuatu yang muncul di hatinya setiap kali tatapan keduanya bertemu. "Apa dia menghubungimu?" tanya Dirga lagi. "Iya," jawab Nara. "Apa yang dia katakan?" Nara terdiam beberapa saat, lalu menghela nafas pajang. Ditatapnya mata hitam pekat itu lagi. "Dia bilang, kamu ingin menikahiku demu menguasai perusahaan. Dia juga bilang, aku dan dia memiliki hingga istimewa." Dirga tersenyum tipis, sudah bisa menebak. Tristan pasti berusaha menghasut Nara. Namun dia







