LOGIN"Obsesi Tuan Muda Candra" adalah novel romansa psikologis yang mengisahkan tentang Lina, seorang staf administrasi biasa yang tiba-tiba diangkat menjadi asisten pribadi Candra—putra tunggal pengusaha properti terbesar di Jakarta. Di luar penampilan yang megah, tampan, dan sukses, Candra menyembunyikan sisi gelap: obsesi yang mendalam terhadap Lina yang sudah ada sejak lama, bahkan sebelum dia mengenalnya secara langsung. Awalnya, Lina merasa cemas dan kaget dengan perubahan tugasnya serta sikap dingin Candra. Tapi seiring waktu, dia mulai melihat sisi lembut yang jarang Candra tunjukkan kepada orang lain. Namun, kebahagiaan itu segera terganggu ketika obsesi Candra mulai menyebar—dia mulai mengendalikannya, memantau setiap langkahnya, dan tidak mau membiarkan Lina jauh dari dirinya.
View MoreBeberapa bulan setelah buku cerita nasional mereka terbit, Candra dan Lina berdiri di depan gedung baru yayasan yang terletak di persimpangan kota Sorong—bangunan yang tidak hanya menjadi pusat konseling, tetapi juga rumah bagi sekolah seni dan pusat pelatihan hukum yang penuh belas kasihan. Plakat di pintu depan berbunyi: "Rumah Harapan: Dari Obsesi Menuju Pemulihan"."Hampir sulit dipercaya bahwa semua ini dimulai dari cerita kita sendiri," ujar Lina sambil melihat anak-anak yang sedang melukis di halaman depan. Dia baru saja menyelesaikan buku panduan nasional tentang terapi kreatif untuk penyembuhan trauma, yang akan digunakan di ribuan sekolah dan klinik di seluruh Indonesia.Candra mengangguk, matanya tertuju pada foto-foto yang terpampang di dinding lobi—Hasan yang kini menjadi instruktur musik untuk anak-anak, Rudi yang sedang membacakan cerita di acara literasi nasional, Maria dari Raja Ampat yang sedang mengajar ibu-ibu menggambar, dan Joko dari Fakfak yang menunjukkan hasil
Beberapa minggu setelah menerima penghargaan, kabar datang bahwa yayasan diundang untuk membagikan pengalaman di Konferensi Kesehatan Mental Nasional di Jakarta. Candra berangkat dengan Siti dan Hasan, membawa buku cerita bergambar anak-anak dan lukisan mahasiswi Manokwari. Di panggung, dia menceritakan bagaimana obsesi yang pernah menjadi badai kini berubah menjadi hujan penyegarkan—cerita yang membuat banyak peserta menangis dan bertepuk tangan. Seorang perwakilan dari Kementerian Kesehatan menawarkan kerja sama untuk menyebarkan program terapi kreatif ke seluruh Pulau Papua. “Kita tidak akan berhenti di sini,” ujar Candra dengan suara tegas.Setelah kembali ke Sorong, tim yayasan segera merencanakan ekspansi ke Kabupaten Raja Ampat dan Fakfak. Rio mengelola keuangan, Bu Ratna mengatur pelatihan relawan, sedangkan Lina menulis materi pendidikan tentang penyembuhan trauma. Saat itu, Rudi dan teman-temannya telah menyelesaikan buku cerita kedua, tentang pahlawan yang mengajarkan maaf
Beberapa hari kemudian, hujan sore masih turun dengan konsistensi, genangan air di jalan yayasan kini menjadi tempat anak-anak bermain menyelam jari, bukan tempat yang menakutkan. Candra mengawasi mereka dari jendela ruang kelas baru, sambil meninjau laporan perkembangan program terapi kreatif. Dina mendekati, memegang buku catatan. “Pak Candra, Rudi sekarang tidak hanya menggambar bintang, tapi juga mengajari teman-temannya. Anak-anak yang dulu diam kini aktif bercerita tentang impian mereka.” Candra tersenyum—rantai harapan memang terus memanjang.Tiba-tiba, ponselnya berdering: panggilan dari Siti. Suaranya penuh kegembiraan. “Pak Candra, aku sudah melahirkan! Bayi perempuan, kami menyebutnya Candra, seperti yang dijanjikan.” Candra merasa dada terasa hangat, segera berangkat ke rumah Siti di Kabupaten Sorong Selatan. Ketika tiba, ibu Siti yang dulu terjebak obsesi balas dendam menyambutnya dengan senyum lebar. Dia menunjukkan bayi yang tidur damai, lalu berkata, “Kau yang membuat
Hujan masih terus mengguyur setiap sore, tapi kini genangan air di jalan-jalan tidak lagi terasa seperti penghalang—melainkan sebagai bukti bahwa alam juga memiliki cara untuk membersihkan dan menyegarkan segala sesuatu yang terlanjur kotor. Lima bulan setelah peluncuran program terapi kreatif, Candra berdiri di depan ruangan kelas yang baru direnovasi, melihat anak-anak sedang fokus menyusun cerita bergambar tentang masa depan yang mereka impikan. Setiap sisipan warna dan setiap kalimat yang mereka tulis adalah bukti nyata bahwa luka lama bisa tumbuh menjadi sesuatu yang indah.“Salah satu anak baru, Rudi, kemarin cerita kalau dia sudah bisa tidur tanpa mimpi buruk lagi,” ujar konselor muda Dina sambil mendekati Candra. “Dia bilang ketika merasa takut, dia akan menggambar bintang-bintang seperti yang Anda ajarkan di sesi pertama.”Candra tersenyum hangat. “Itu bukan hasil dari apa yang kulakukan, Dina. Itu karena kamu dan tim telah bekerja dengan penuh kasih untuk membimbing mereka.
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews