LOGINBerniat menenangkan diri setelah kehilangan istri tercinta, Gilang Ardiansyah menjauh dari hiruk-pikuk ibu kota. Namun ketenangan itu runtuh saat ia menyelamatkan seorang gadis yang berniat mengakhiri hidupnya. Gadis itu adalah Gentharie Ameira Aqilla Elham, remaja cantik yang hancur karena dikhianati kekasihnya. Bukannya berterima kasih, Tharie justru marah karena hidupnya diselamatkan. Sampai akhirnya ia menatap wajah pria yang menolongnya—dan sebuah ide gila pun muncul. Namun, perbedaan usia dan status serta luka masa lalu membuat hubungan Tharie dan Gilang berada di titik yang rancu. Akankah pertemuan yang berawal dari keputusasaan ini berubah menjadi kisah cinta terlarang atau justru menyelamatkan mereka berdua?
View More"Aaahhh ... iya, Sayang, seperti itu ... nghh ...."
"Apa seperti ini?" "Iyaa ... seperti ini ... hhh ...." "Apakah kamu menyukainya?" "Iya ... aku sangat menyukainya ...." "Kamu juga sangat nikmat, Baby." Rahang Tharie mengeras dengan kedua telapak tangan yang mengepal saat mendengar percakapan dari arah kamar kekasihnya. Ia sangat tidak menyangka, niatnya untuk memberi kejutan pada sang kekasih hati setelah sekian lama tidak bertemu akibat dirinya yang harus ikut dengan kedua orang tuanya untuk mengunjungi kakek dan neneknya malah berakhir menyakitkan. Dan kini ia malah disajikan dengan pemandangan apartemen kekasihnya yang berantakan. Dengan baju perempuan yang berceceran dan yang lebih menyakitkan adalah ketika ia sampai di depan pintu kamar kekasihnya ia malah disajikan dengan suara-suara aneh dari dalam sana. "Terus, Sayang ... lebih cepat nghh ...." Rahang Tharie mengeras saat kembali mendengar suara menjijikkan milik seorang perempuan di dalam sana. Tangannya pun mengepal kuat, hingga kuku-kuku jarinya memutih. Sungguh, hatinya sangat sakit, apalagi saat ia juga mendengar suara seperti tepukan yang ia yakini ulah dari sang kekasih. Ia tidak ingin membayangkan apa yang sedang terjadi di dalam sana. Namun, pikirannya terus tertuju pada sesuatu yang sedang dilakukan kekasihnya dengan perempuan lain. Tidak bisa menahan diri, Tharie membuka pintu kamar kekasih hatinya itu dengan keras hingga menimbulkan bunyi yang memekakkan telinga. BRAKK!! "RONI!" Kedua orang yang sedang memadu kasih di atas tempat tidur dengan dibanjiri peluh tersentak. Bahkan saking terkejutnya si pria refleks menghentikan kegiatannya itu. Mereka berdua seketika melihat ke arah pintu. Detik selanjutnya kedua orang itu melebarkan kedua bola mata mereka saat melihat siapa yang ada di sana. "Tharie?" gumam laki-laki yang dipanggil 'Roni' oleh Tharie. "BAJINGAN KAMU RONI" teriak Tharie sambil berbalik dan pergi dari sana. Dengan segera Roni melepaskan diri dari si perempuan dan mengambil celana miliknya yang tergeletak di lantai. Setelah itu, ia menyusul Tharie yang sudah keluar dari kamarnya. Sementara si perempuan langsung menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Roni sedikit berlari mengejar Tharie, hingga tidak lama ia bisa meraih tangan Tharie dan menggenggamnya. "Lepas!" sentak Tharie, sembari menghempaskan genggaman tangan Roni. "Dengerin penjelasan aku dulu, Thar!" "Nggak ada yang perlu dijelasin. Semuanya udah jelas!" "Please, Thar, ini nggak seperti yang kamu liat. Aku cuma—" PLAK!! "Cuma apa?! Cuma nyalurin hasrat be jad kamu itu sama perempuan sialan itu, HAH!" bentak Tharie dengan sorot mata penuh emosi, "gimana rasanya? Enak? Sumpah ya, aku nggak nyangka banget kamu bakal ngelakuin hal kayak gitu di belakang aku," lanjut Tharie dengan sorot mata tajam tetapi penuh dengan rasa kecewa. Roni menatap Tharie dengan tatapan menyesal. "Tharie, please ini nggak seperti yang kamu liat. Aku ... aku itu dijebak. Aku nggak bermaksud mengkhianati kamu," ucapnya mencoba menjelaskan. Tharie tertawa sinis mendengar apa yang diucapkan Roni. "Dijebak? Kalau iya kamu benar-benar dijebak? Kenapa kamu seperti sangat menikmati apa yang kamu lakukan tadi, huh?!" Roni menggelengkan kepalanya. "Aku tidak bohong, Thar, aku benar-benar dijebak. Sasa yang udah ngerayu aku duluan, sampai aku dan dia—" "Sampai melakukan hal yang tidak bermoral seperti tadi!" ucap Tharie memotong ucapan Roni. "Enggak, Thar, enggak. Nggak seperti itu, aku mohon dengerin dulu penjelasan aku," ucap Roni sambil meraih telapak tangan Tharie. Napas Tharie memburu. Matanya terbakar dengan amarah yang membara saat Roni mencoba meraih tangannya, memohon dan mencoba menjelaskan. Namun, Tharie cepat-cepat menarik tangannya, matanya melotot dengan ketidakpercayaan. "Cukup, Roni! Aku nggak mau dengar alasan kamu lagi! Dan jangan pernah sentuh aku dengan tangan kotor mu itu," ucap Tharie dengan suara yang bergetar karena emosi. Roni, dengan wajah pucat dan mata yang memohon, berusaha untuk bicara, "Tharie, aku mohon, dengarkan aku ...." "Sudahlah, Ron. Kamu nggak perlu ngemis-ngemis sama dia, lagi pula dia nggak bisa 'kan muasin kamu," ucap Sasa dengan sombongnya. Tatapan mata Tharie menatap Sasa yang baru saja keluar dari kamar Roni dengan kaos kebesaran milik Roni yang melekat di tubuh perempuan itu. Dengan wajah menyebalkannya dan tanpa rasa bersalahnya itu, Sasa berjalan mendekat ke arah Thari dan Roni. Ia langsung bergelayut manja di lengan Roni. "Diam kamu, Sasa! Jangan menambah keadaan semakin ruyam!" bentak Roni sambil menyentakkan tangan Sasa. "Loh, emang bener 'kan? Kamu sendiri yang pernah bilang satu minggu lalu waktu kita pertama kali kita melakukannya. Kamu bilang Tharie itu gadis naif yang nggak pernah mau kamu sentuh selama kalian pacaran? Kamu juga selalu bilang kalau kamu macarin dia karena tidak enak sama Papa Tharie yang berstatus sahabat Papa kamu." Mata Roni melotot mendengar ucapan Sasa. "Diam kamu, Sa! Ini bukan urusan kamu!" bentak Roni. "Jadi selama ini kamu pacarin aku cuma gara-gara papa aku itu sahabat papa kamu?" tanya Tharie. Ia lalu tertawa miris. "Perlu kamu tahu, Ron, kalaupun kamu memutuskan aku, aku akan dengan mudah mendapatkan laki-laki yang jauh lebih dari kamu!" Roni menatap Tharie dan menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Jangan percaya ucapan Sasa, Thar, dia itu cuma ngarang. Aku nggak seperti itu." "Sudahlah, Ron. Semuanya sudah jelas dan mulai sekarang hubungan kita selesai, jangan pernah ganggu aku," ucap Tharie. Roni kembali menggelengkan kepalanya namun kali ini lebih kuat. "Enggak, Thar. Aku nggak mau putus sama kamu, tolong kasih aku kesempatan," mohon Roni. Namun, Tharie sudah berbalik, memutuskan untuk tidak lagi mendengarkan kata-kata penuh tipu dari Roni. Langkah kakinya di lantai apartemen itu begitu cepat, seolah ingin segera menghapus jejak-jejak pengkhianatan yang terasa mengikuti di setiap sudut ruangan. Tangannya mencengkeram tasnya dengan erat, seakan menahan segala emosi yang hampir meledak. Melihat Tharie yang berjalan pergi, dengan segera Roni menyusul. Namun, langkahnya terhenti saat sebuah tangan mencengkeram lengannya. Roni menatap tangan Sasa dengan penuh emosi. "Lepasin, Sa!" "Biarin dia pergi, Ron. Lagian itu lebih baik, kita bisa lanjutin kegiatan kita yang tertunda," ucap Sasa dengan nada suara yang dibuat manis. Roni menatap Sasa dengan tatapan tidak habis pikir. Baru saja ia hendak membuka mulutnya untuk menegur Sasa tetapi terhenti saat ia mendengar suara pintu apartemen yang tertutup dengan kerasnya. Brak! Pintu apartemen ditutup dengan keras, suara benturan itu seperti menandai akhir dari segala harapan dan mimpi yang pernah mereka bangun bersama. Tharie meninggalkan apartemen Roni, meninggalkan semua kenangan dan luka yang kini terasa semakin perih di hatinya. Melihat pintu apartemen yang sudah tertutup, Roni segera menyentakkan tangan Sasa dan mengejar Tharie. Ia tidak ingin hubungannya dengan Tharie berakhir. *** Tharie yang rapuh, menapaki trotoar dengan langkah yang goyah. Hatinya penuh luka, pikirannya terbelenggu oleh pengkhianatan yang tidak pernah ia duga dari Roni sebelumnya. Matanya yang sembab memandang jauh ke depan, seolah mencari jawaban dari pertanyaan yang berkecamuk di benaknya, "Apa kurangnya aku, Ron? Kenapa kamu tega selingkuh." Langit malam itu seakan turut berduka, mendung menggantung rendah, tidak ada bulan, tidak ada binta yang bersinar, hanya ada kegelapan malam yang mencerminkan kesuraman hati Tharie. Sesampainya di tengah jembatan, langkahnya terhenti. Ia mendekat ke pinggir jembatan, menatap jauh ke arah air yang mengalir di bawah jembatan. Mata yang biasanya bersinar kini terlihat suram dan kosong. Air mata mulai menggenang, menandakan betapa hancurnya hati gadis itu. Tharie masih diam, berdiri di tempatnya tadi, merasakan angin sepoi-sepoi yang dingin, menusuk tulang. Namun, rasa itu tidak sebanding dengan dinginnya hati Tharie saat ini. Sebuah ide mengerikan tiba-tiba menyusup ke pikirannya, berbisik lirih bahwa mungkin, hanya dengan melompat, semua kesedihan dan pengkhianatan itu bisa berakhir. Pikirannya melayang pada kenangan bersama Roni, pada janji-janji yang kini terasa seperti pisau yang menghujam ulu hati. Bagaimana mungkin cinta yang ia berikan berakhir seperti ini? Bagaimana mungkin pengorbanan dan kesetiaannya dibalas dengan pengkhianatan? Dalam keputusasaan, Tharie mulai menundukkan badan, siap untuk melompat. Namun, tepat saat kakinya mulai terangkat, sebuah tangan dengan cepat menariknya kembali ke atas jembatan. "Jangan lakukan itu," ujar laki-laki itu. "Apapun masalahmu, ini bukan solusi yang tepat. Lagi pula, apa yang kamu lakukan tidak pantas dengan penampilan kamu ini," lanjutnya sambil menatap Tharie yang masih membelakanginya. Napas Tharie memburu, jantungnya juga berpacu dengan cepat saat ada orang yang menggagalkan rencananya untuk mengakhiri hidup. Tharie yang sangat emosi, kemudian berbalik, menatap laki-laki yang sudah menghentikannya dengan tatapan tajam. Untuk sesaat, Tharie terdiam saat melihat wajah laki-laki di hadapannya itu. Tampan, satu kata itu yang terlintas di dalam benak Tharie. Namun, dengan cepat Tharie menggelengkan kepalanya, menyadarkan diri dan kembali menatap laki-laki di hadapannya dengan tajam. "Anda siapa? Berani-beraninya ikut campur urusan saya! Ini itu bukan urusan Anda!" sentak Tharie pada laki-laki di hadapannya. Sementara laki-laki yang sudah menolong Tharie terdiam saat melihat wajah gadis yang sudah ia tolong, lebih tepatnya pada sorot mata gadis itu. Sorot mata gadis di hadapannya itu sangat mirip dengan sorot mata milik mendiang istrinya. "Queen?" gumam Gilang pelan. Tharie mengerutkan keningnya saat samar-samar mendengar gumaman laki-laki di hadapannya itu. Baru saja ia berniat untuk membuka mulutnya untuk menanggapi gumaman laki-laki itu, tetapi terhenti saat tanpa sengaja ia melihat Roni sedang berjalan mendekat ke arahnya. "Buat apa dia nyusulin aku, sih!" gumam Tharie di dalam hati. Merasa bingung dan tidak ingin berurusan lagi dengan Roni, tiba-tiba sebuah ide muncul di benak Tharie. Ia kemudian menarik krah kemeja laki-laki di hadapannya, membuat Gilang membungkuk dan detik selanjutnya ....Kata itu terasa lebih dingin dari kehampaan mana pun.“Optimalisasi dimulai.”Sunyi.Namun bukan sunyi yang kosong—melainkan sunyi yang disiapkan untuk sesuatu yang akan dihapus tanpa jejak.Cabang kecil itu bergerak lagi.Lebih cepat.Lebih pasti.Ia tidak berkembang seperti yang lain.Ia… menyaring.Menentukan.Menghapus.Dan setiap cabang yang disentuhnya—lenyap.Tanpa sisa.Tanpa memori.Tanpa pernah ada.Hanum terengah.Tubuhnya gemetar.“Ini… bukan kebebasan…”“…ini pembatasan.”Sunyi.Sosok ‘sebelum’ mengangguk.“Ini bukan pilihan…”“…ini seleksi.”Sunyi.Entitas itu menyipitkan mata.Tatapannya tajam.“Dan sesuatu yang melakukan seleksi…”“…memiliki tujuan.”Sunyi.Gilang menatap cabang itu.Dalam.Untuk pertama kalinya—ia tidak melihat kemungkinan.Namun… ancaman nyata.“Tujuannya apa?” tanyanya pelan.Dan jawaban itu—datang.Tanpa emosi.Tanpa keraguan.“Stabilitas.”Sunyi.Satu kata.Namun cukup untuk membuat semua mengerti.Jika terlalu banyak kemungkinan menciptakan ke
Sunyi.Namun kali ini—sunyi itu tidak memberi ruang.Ia menekan.Seolah seluruh realitas menahan napas, menunggu sesuatu yang tidak bisa lagi ditunda.Gilang merasakan sesuatu di dalam dirinya bergetar.Bukan batas.Bukan pilihan.Namun sesuatu yang lebih dalam dari keduanya—sebuah intuisi yang belum pernah ia sentuh sebelumnya.“Kembali…?” gumamnya pelan.Namun kata itu terasa salah.Karena “kembali” berarti ada yang diulang.Sedangkan yang ia rasakan sekarang—bukan pengulangan.Namun… pembukaan.Hanum menatap ke arah anak itu.Atau lebih tepatnya—ke arah sesuatu yang kini bukan lagi hanya seorang anak.Tatapannya berubah.Tidak lagi penuh kebingungan.Namun dipenuhi ketakutan yang perlahan menjadi kesadaran.“Kalau semuanya dimulai lagi…”“…apakah kita akan mengingat semua ini?”Sunyi.Pertanyaan itu—terlalu manusia.Namun justru karena itu—terasa paling nyata.Anak itu—atau entitas yang kini berbicara melalui dirinya—tidak langsung menjawab.Namun kehadirannya bergetar.Seolah
Kalimat itu tidak berhenti di udara.Ia menyebar.Seperti riak yang tak terlihat—merambat melalui batas, menembus kesadaran, dan menyentuh sesuatu yang bahkan belum sempat didefinisikan.“…aku bukan satu-satunya.”Sunyi.Namun bukan sunyi yang kosong.Ini sunyi yang penuh.Seolah dunia sedang menunggu sesuatu yang lain… untuk menjawab.Gilang menatap anak itu.Tatapannya tajam.Namun di dalamnya—ada kegelisahan yang tidak bisa ia sembunyikan.“Maksudmu apa?” suaranya pelan.Anak itu tidak langsung menjawab.Matanya bergerak.Namun bukan melihat mereka.Seolah ia sedang melihat… lebih jauh.Lebih dalam.Lebih banyak.“Aku melihat mereka…” bisiknya.Sunyi.Hanum merasakan sesuatu mencengkeram dadanya.“Siapa… mereka?”Anak itu mengangkat tangannya perlahan.Menunjuk ke arah yang tidak jelas.Karena arah itu—tidak berada dalam ruang.“Mereka yang seperti aku…”“…namun tidak di sini.”Sunyi.Sosok ‘sebelum’ langsung menegang.“Itu tidak mungkin…”Namun kata itu—terdengar lemah.Karena
Kalimat itu jatuh seperti sesuatu yang tidak seharusnya ada.“…yang menciptakanku.”Sunyi.Namun bukan sunyi yang tenang—melainkan sunyi yang menahan sesuatu yang terlalu besar untuk segera terjadi.Gilang tidak bergerak.Namun seluruh kesadarannya menegang.Karena jika anak itu adalah “alasan”, jika ia ada sebelum semuanya—lalu siapa yang bisa menciptakannya?“Tidak…” bisik Hanum.Matanya membelalak.“Itu tidak masuk akal…”Namun dunia ini—sudah lama meninggalkan logika.Kegelapan di kejauhan perlahan terbuka.Bukan seperti pintu.Namun seperti sesuatu yang sejak awal memang ada—hanya saja… tidak pernah diperhatikan.Dan dari dalamnya—sesuatu bergerak.Bukan cepat.Namun berat.Seolah setiap gerakan membawa sejarah yang terlalu panjang untuk dipahami.Anak itu mundur lagi.Tangannya gemetar.Untuk pertama kalinya—ia benar-benar terlihat seperti anak kecil.“Aku… tidak ingin dia datang…”Sunyi.Gilang langsung melangkah ke depannya.Refleks.Bukan sebagai batas.Namun sebagai… peli
Kegelapan menelan seluruh fasilitas Aegis.Lampu padam serentak. Monitor yang tadi menyala kini hanya menyisakan bayangan redup sebelum akhirnya ikut mati. Alarm yang sempat meraung kini terdiam, digantikan oleh kesunyian yang terasa jauh lebih menakutkan.Di dalam ruang kontrol, hanya lampu darura
Senyum itu tidak seharusnya ada di wajah Hanum.Itulah hal pertama yang terlintas di pikiran Gilang.Di layar monitor, pria tua yang selama ini ia kenal sebagai ayah angkatnya itu duduk tegak di kursi logam. Kabel-kabel medis masih menempel di tubuhnya, monitor detak jantung masih berbunyi pelan di
Udara di ruangan itu mendadak terasa jauh lebih berat.Tidak ada yang berbicara selama beberapa detik setelah kata-kata itu terucap.Gilang menatap layar monitor dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Di sana, di ruangan yang gelap dengan cahaya lampu putih yang dingin, sosok Hanum terlihat duduk de
Alarm keamanan langsung meraung di seluruh fasilitas.Lampu merah berkedip-kedip di sepanjang koridor kaca. Suara sirene menggema keras, memantul di dinding logam dan lantai putih yang dingin.Semua orang di ruangan itu menoleh ke arah monitor.Di layar kamera pengawas, sosok Aditya berdiri tenang






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings