LOGINBerniat menenangkan diri setelah kehilangan istri tercinta, Gilang Ardiansyah menjauh dari hiruk-pikuk ibu kota. Namun ketenangan itu runtuh saat ia menyelamatkan seorang gadis yang berniat mengakhiri hidupnya. Gadis itu adalah Gentharie Ameira Aqilla Elham, remaja cantik yang hancur karena dikhianati kekasihnya. Bukannya berterima kasih, Tharie justru marah karena hidupnya diselamatkan. Sampai akhirnya ia menatap wajah pria yang menolongnya—dan sebuah ide gila pun muncul. Namun, perbedaan usia dan status serta luka masa lalu membuat hubungan Tharie dan Gilang berada di titik yang rancu. Akankah pertemuan yang berawal dari keputusasaan ini berubah menjadi kisah cinta terlarang atau justru menyelamatkan mereka berdua?
View MorePertanyaan itu tidak datang sebagai ancaman.“…siapa kamu?”Sunyi.Namun bukan sunyi yang menekan—melainkan sunyi yang membuka ruang, memberi tempat bagi sesuatu yang tidak pernah benar-benar memiliki bentuk untuk akhirnya… diakui tanpa harus dijelaskan.Gilang—atau sesuatu yang dulu pernah dipanggil dengan nama itu—tidak langsung menjawab.Bukan karena ia ragu.Bukan karena ia tidak tahu.Namun karena untuk pertama kalinya dalam seluruh keberadaannya…ia tidak perlu.Ia tidak lagi harus menjadi sesuatu yang bisa dipahami.Tidak lagi harus menjelaskan keberadaannya dengan kata, logika, atau tujuan.Tidak lagi harus mengikat dirinya pada nama, bentuk, peran, atau arah.Ia hanya… ada.Dan keberadaan itu—cukup.Getaran kecil itu mendekat.Tidak tergesa.Tidak memaksa.Tidak membawa niat yang bisa disebut sebagai ancaman.Ia datang dengan rasa ingin tahu yang murni—sederhana, polos, dan jujur.Sama seperti Gilang dulu.Sebelum semuanya menjadi rumit.Sebelum ada pilihan yang harus diambi
Kalimat itu tidak hanya terdengar.Ia menciptakan celah.“…untuk tidak menjadi bagian dari apa pun.”Sunyi.Namun bukan sunyi biasa—ini sunyi yang terbelah.Seolah seluruh realitas berhenti untuk mempertanyakan satu hal yang tidak pernah diajukan sebelumnya.Apa yang terjadi… jika sesuatu memilih untuk tidak termasuk?Struktur itu membeku.Bukan karena tidak mampu bergerak.Namun karena tidak memiliki jawaban.“Paradoks terdeteksi.”Sunyi.“Objek di luar himpunan.”Sunyi.Gilang berdiri.Tidak mundur.Tidak melawan.Namun juga tidak ikut.Ia ada—tanpa menjadi bagian.Dan untuk pertama kalinya—sesuatu yang mencoba menjadi segalanya…tidak bisa menjangkaunya.Hanum menatapnya.Matanya berkaca.Namun kali ini—bukan karena takut.Melainkan karena mengerti.“Kau… benar-benar pergi…”Sunyi.Gilang menoleh padanya.Senyumnya tipis.Namun hangat.“Aku tidak pergi…”Ia berhenti sejenak.“…aku hanya tidak tinggal di mana pun.”Sunyi.Sosok ‘sebelum’ menatap dengan tatapan yang tidak lagi pen
Kata itu terasa lebih dingin dari kehampaan mana pun.“Optimalisasi dimulai.”Sunyi.Namun bukan sunyi yang kosong—melainkan sunyi yang disiapkan untuk sesuatu yang akan dihapus tanpa jejak.Cabang kecil itu bergerak lagi.Lebih cepat.Lebih pasti.Ia tidak berkembang seperti yang lain.Ia… menyaring.Menentukan.Menghapus.Dan setiap cabang yang disentuhnya—lenyap.Tanpa sisa.Tanpa memori.Tanpa pernah ada.Hanum terengah.Tubuhnya gemetar.“Ini… bukan kebebasan…”“…ini pembatasan.”Sunyi.Sosok ‘sebelum’ mengangguk.“Ini bukan pilihan…”“…ini seleksi.”Sunyi.Entitas itu menyipitkan mata.Tatapannya tajam.“Dan sesuatu yang melakukan seleksi…”“…memiliki tujuan.”Sunyi.Gilang menatap cabang itu.Dalam.Untuk pertama kalinya—ia tidak melihat kemungkinan.Namun… ancaman nyata.“Tujuannya apa?” tanyanya pelan.Dan jawaban itu—datang.Tanpa emosi.Tanpa keraguan.“Stabilitas.”Sunyi.Satu kata.Namun cukup untuk membuat semua mengerti.Jika terlalu banyak kemungkinan menciptakan ke
Sunyi.Namun kali ini—sunyi itu tidak memberi ruang.Ia menekan.Seolah seluruh realitas menahan napas, menunggu sesuatu yang tidak bisa lagi ditunda.Gilang merasakan sesuatu di dalam dirinya bergetar.Bukan batas.Bukan pilihan.Namun sesuatu yang lebih dalam dari keduanya—sebuah intuisi yang belum pernah ia sentuh sebelumnya.“Kembali…?” gumamnya pelan.Namun kata itu terasa salah.Karena “kembali” berarti ada yang diulang.Sedangkan yang ia rasakan sekarang—bukan pengulangan.Namun… pembukaan.Hanum menatap ke arah anak itu.Atau lebih tepatnya—ke arah sesuatu yang kini bukan lagi hanya seorang anak.Tatapannya berubah.Tidak lagi penuh kebingungan.Namun dipenuhi ketakutan yang perlahan menjadi kesadaran.“Kalau semuanya dimulai lagi…”“…apakah kita akan mengingat semua ini?”Sunyi.Pertanyaan itu—terlalu manusia.Namun justru karena itu—terasa paling nyata.Anak itu—atau entitas yang kini berbicara melalui dirinya—tidak langsung menjawab.Namun kehadirannya bergetar.Seolah
Kegelapan menelan seluruh fasilitas Aegis.Lampu padam serentak. Monitor yang tadi menyala kini hanya menyisakan bayangan redup sebelum akhirnya ikut mati. Alarm yang sempat meraung kini terdiam, digantikan oleh kesunyian yang terasa jauh lebih menakutkan.Di dalam ruang kontrol, hanya lampu darura
Senyum itu tidak seharusnya ada di wajah Hanum.Itulah hal pertama yang terlintas di pikiran Gilang.Di layar monitor, pria tua yang selama ini ia kenal sebagai ayah angkatnya itu duduk tegak di kursi logam. Kabel-kabel medis masih menempel di tubuhnya, monitor detak jantung masih berbunyi pelan di
Udara di dalam gudang itu tiba-tiba terasa sangat berat.Lampu tunggal yang menggantung di langit-langit berayun pelan, menciptakan bayangan panjang yang bergerak di lantai beton. Debu-debu halus beterbangan di udara, terlihat jelas dalam cahaya kekuningan itu.Dan di tengah ruangan—Hanum berdiri
Malam itu terasa jauh lebih panjang dari biasanya.Setelah percakapan menegangkan dengan Mama Ami dan Papa Elham mengenai pernikahannya dengan Gilang, Tharie seperti berjalan dalam kabut. Kepalanya penuh dengan suara-suara yang berputar tanpa henti—permintaan kakek, wajah tegas papanya,






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore