LOGINBerniat menenangkan diri setelah kehilangan istri tercinta, Gilang Ardiansyah menjauh dari hiruk-pikuk ibu kota. Namun ketenangan itu runtuh saat ia menyelamatkan seorang gadis yang berniat mengakhiri hidupnya. Gadis itu adalah Gentharie Ameira Aqilla Elham, remaja cantik yang hancur karena dikhianati kekasihnya. Bukannya berterima kasih, Tharie justru marah karena hidupnya diselamatkan. Sampai akhirnya ia menatap wajah pria yang menolongnya—dan sebuah ide gila pun muncul. Namun, perbedaan usia dan status serta luka masa lalu membuat hubungan Tharie dan Gilang berada di titik yang rancu. Akankah pertemuan yang berawal dari keputusasaan ini berubah menjadi kisah cinta terlarang atau justru menyelamatkan mereka berdua?
View MoreLorong kantor polisi yang tadinya hanya terasa dingin, kini berubah menjadi tempat yang menyesakkan.Semua orang terdiam.Kata-kata petugas tadi seolah masih menggantung di udara.Subjek utama eksperimen itu adalah… Jordan Mahesa.Gilang berdiri kaku di tempatnya. Tangannya yang menggenggam map terasa semakin berat. Dadanya seperti ditekan sesuatu yang tidak terlihat.Aditya di sampingnya mengerutkan kening dalam.“Apa maksudnya eksperimen manusia?” gumamnya.Petugas itu tampak ragu sebelum menjawab.“Kami belum tahu pasti. Tapi berkas-berkasnya… bukan penelitian medis biasa.”Komisaris Bima mengembuskan napas pelan, lalu menatap ke arah ruang interogasi tempat Jordan berada.“Berapa banyak dokumen yang ditemukan?”“Puluhan map, Pak. Sebagian besar berisi laporan perkembangan fisik, psikologis, dan… catatan pengujian.”“Pengujian apa?”Petugas itu menelan ludah.“Ketahanan tubuh, reaksi terhadap obat tertentu, dan… latihan kemampuan taktis.”Bima terdiam.Ia sudah lama bekerja di duni
Ruang interogasi di kantor polisi itu terasa dingin dan terlalu sunyi.Lampu neon putih menggantung tepat di atas meja logam, memantulkan cahaya pucat yang membuat bayangan tampak lebih tajam dari biasanya. Bau kopi basi dan kertas lama bercampur dengan udara malam yang masih terbawa masuk dari pintu yang sesekali terbuka.Jordan duduk santai di kursi besi.Kedua tangannya disilangkan di dada, kaki kanan bertumpu di kaki kiri dengan posisi yang jauh dari kata gugup. Ia terlihat seperti seseorang yang sedang menunggu bus, bukan seorang siswa SMA yang baru saja menembakkan pistol di sebuah pabrik kosong.Di depannya duduk seorang penyidik berusia sekitar empat puluh tahun.Namanya Komisaris Bima.Tatapan matanya tajam dan penuh pengalaman.Ia sudah menangani banyak kasus—penculikan, perdagangan manusia, bahkan pembunuhan. Namun jarang sekali ia menemukan seseorang dengan ekspresi setenang anak laki-laki yang kini duduk di hadapannya.“Nama lengkap,” ucap Bima.“Jordan Mahesa.”“Umur.”“
Angin malam berembus kencang di kawasan pabrik tua itu. Debu beterbangan, menciptakan kabut tipis yang membuat suasana semakin mencekam. Lampu-lampu jalan yang jarang berdiri di sekitar area industri hanya memberikan cahaya pucat, cukup untuk memperlihatkan siluet-siluet bergerak di kejauhan.Gilang masih berdiri di ambang pintu bangunan pabrik dengan napas yang belum stabil. Tangannya menggenggam erat pergelangan Tharie yang kini berdiri di sampingnya, masih gemetar setelah dibebaskan dari ikatan.Namun bukan itu yang membuat darah Gilang terasa membeku.Tatapannya terpaku pada sosok yang berdiri beberapa meter dari mereka.Orang itu memegang pistol.Asap tipis masih keluar dari moncongnya.Dan wajahnya… wajah itu begitu dikenal.“Jordan…?” suara Tharie pecah lebih dulu, lirih namun penuh ketidakpercayaan.Gilang merasakan jantungnya berdetak keras.Jordan.Siswa yang selama ini sering mendekati Tharie.Siswa yang beberapa kali membuatnya merasa tidak nyaman karena kedekatannya denga
Dunia Gilang seperti runtuh dalam satu tarikan napas.Video itu terus berputar di kepalanya—ruangan gelap, lampu redup yang menggantung seperti saksi bisu, dan Tharie yang duduk dengan tangan terikat. Kepalanya sedikit menunduk, rambutnya menutupi sebagian wajah. Ia tidak bergerak.Tidak ada suara.Justru itu yang paling menakutkan.Sunyi.“Gilang…” suara Hanum terdengar jauh, seperti berasal dari lorong panjang yang menggema. “Apa isi videonya?”Gilang tak langsung menjawab. Tangannya masih mencengkeram ponsel begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih.“Dia… mereka menculiknya.”Kata itu terasa asing di lidahnya.Menculik.Seolah ini bukan hidupnya.Seolah semua ini hanya adegan film buruk yang terlalu dramatis untuk jadi kenyataan.Aditya meraih ponsel dari tangannya, menatap layar dengan rahang mengeras. Intan menutup mulutnya, matanya berkaca-kaca.“Kita lapor polisi,” tegas Aditya.“Tidak.” Gilang langsung memotong.Semua menoleh padanya.“Kalau kita lapor sekarang, mereka bis






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings