Share

Cinta Tak Dapat, Persahabatan Pun Retak
Cinta Tak Dapat, Persahabatan Pun Retak
Author: Zoe

Bab 1

Author: Zoe
Sudut pandang: Mia

Di seberang telepon, suara ayah terdengar penuh semangat, "Bagus! Tiga tahun lalu aku sudah ingin kamu pulang, tapi kamu bersikeras tinggal di New York. Aku akan segera pesan tempat pernikahan. Paling cepat mungkin bisa ...."

Tanpa menunggunya selesai bicara, aku langsung memotong, "Seminggu lagi saja!"

Ayah terdiam sejenak, lalu bertanya dengan ragu-ragu, "Cepat sekali? Kamu nggak ingin menjalin hubungan sama calon pasanganmu dulu?"

Aku menjawab dengan nada datar, "Nggak perlu. Ini cuma pernikahan politik. Aku akan pulang sehari sebelumnya."

Baru saja ayahku hendak bicara lagi, tiba-tiba pintu kamarku didorong terbuka. Aku spontan menutup telepon.

Ella masuk sambil memeluk setangkai besar mawar. Dengan nada ringan, dia bertanya, "Mia, kamu mau pergi jauh? Tapi minggu depan kita harus menghadiri pesta dansa, 'kan?"

Aku menatap mawar di pelukannya, lalu berkata dengan tenang, "Maaf, aku agak alergi dengan serbuk bunga. Bisa kamu keluarkan dulu bunganya?"

Usai bicara, aku beranjak membuka jendela. Namun di belakangku, aku mendengar suara tangisan. Ella menjatuhkan vas tanpa sengaja dan pecahannya berhamburan ke mana-mana.

Mawar-mawar berserakan di lantai. Dengan suara serak, dia berkata, "Mia, aku nggak tahu kalau kamu alergi serbuk bunga. Aku lihat Leo dan Max sering membelikanmu bunga, kukira kamu menyukainya. Aku benaran nggak sengaja, pecahan ini akan aku bersihkan. Tolong jangan marah padaku, ya ...."

Belum sempat dia mengakhiri kalimat, Leo dan Max yang melihat adegan itu dari luar langsung bergegas masuk.

Leo menggenggam tangan Ella dengan panik. Sementara itu, Max langsung menendang pecahan kaca ke arahku. Dalam kepanikan, salah satu serpihan kecil itu menggores kakiku. Aku refleks berlutut menahan sakit.

Namun, tak seorang pun dari mereka menoleh padaku. Di mata mereka hanya ada Ella yang tampak rapuh dan tak berdaya.

Leo yang emosinya selalu meledak-ledak, langsung menatapku penuh amarah begitu melihat setitik darah di tangan Ella. "Kenapa kamu tega memperlakukannya begitu? Dia bukan pembantumu! Setiap kali kamu sibuk, dia yang selalu membantumu merapikan rumah. Hal kecil begini saja kamu mau perhitungan?"

Max menyesuaikan letak kacamata di batang hidungnya. Sorot matanya tampak menyiratkan sedikit kekhawatiran. "Sudahlah Leo, jangan ribut dulu. Kita bawa dia ke rumah sakit sekarang."

Leo melotot padaku dengan kejam. Dia lalu menggenggam tangan Ella, berniat membawanya pergi.

Namun di ambang pintu, Ella malah berkata dengan hati-hati, "Memang agak sakit ... tapi aku nggak ingin Mia sedih. Kalian pergi lihat dia saja, tanganku ini cukup dioles obat, nggak apa-apa."

Max segera menggeleng. "Kalau sampai terinfeksi bisa repot. Lebih baik tetap dibawa ke rumah sakit."

Bahkan Leo yang biasanya keras kepala, kali ini mengangguk mengiakan.

Ella kembali menoleh padaku dengan ekspresi penuh dilema. "Tapi ... Mia sepertinya juga sedang nggak enak badan, 'kan?"

Leo tertawa sinis. "Dia takut kami menyalahkannya, makanya sengaja berpura-pura. Jangan pedulikan dia."

Max merapikan helaian rambut di pelipis Ella. Dia bahkan tidak menoleh sedikit pun padaku saat berkata, "Bagaimanapun, nggak semua orang sebaik dirimu."

Aku hanya bisa memandang punggung mereka yang perlahan menjauh. Saat itulah aku benar-benar mengerti, sudah saatnya aku pergi.
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Cinta Tak Dapat, Persahabatan Pun Retak   Bab 10

    Mata Ella dipenuhi kepanikan, wajahnya seketika pucat pasi. Dia berkata dengan terbata-bata, "Bukankah sudah jujur berarti bisa mendapat pengampunan? Kenapa ... kalian tetap ... nggak mau melepaskanku?""Karena pengkhianat harus turun ke neraka untuk menebus dosanya."Max mengangkat tangannya yang berlumuran darah, lalu memberi isyarat agar orang-orang membawanya pergi. Sepanjang jalan, jeritan Ella terdengar memilukan."Tidak! Kenapa? Bukankah kalian selalu menuruti semua keinginanku? Ini nggak adil!"Max sama sekali tidak peduli pada permohonannya. Setelah membalut lukanya dengan seadanya, dia bersama Leo segera naik ke helikopter menuju Italia.Hari itu adalah hari pernikahan Mia dan Benedict. Mereka berniat merusak pesta pernikahan, dengan membawa bukti sekaligus memohon ampun di hadapannya.Begitu helikopter mendarat di lokasi, Mia tengah merapikan kerah jas mempelai prianya. Kerumunan tamu mendadak gempar ketika seutas tali diturunkan dari atas, lalu Max dan Leo meluncur turun da

  • Cinta Tak Dapat, Persahabatan Pun Retak   Bab 9

    Begitu Mia selesai berbicara, lebih banyak pengawal bermunculan dan segera menyeret kedua pria itu keluar. Sebelum pergi, Benedict masih sempat memberi perintah, "Paksa mereka naik pesawat. Kalau mereka menolak pulang, hubungi ayah mereka di New York dan suruh jaga anak-anaknya baik-baik.""Aku nggak bisa menjamin kalau lain kali mereka datang ke Italia, mereka masih bisa pulang dengan utuh."Leo tidak percaya, dia masih berteriak, "Mia, apa ini juga pendapatmu? Aku nggak percaya kamu bisa melupakan kami begitu saja. Apa sepuluh tahun kebersamaan ini bisa hilang begitu saja?""Ya, yang dia katakan itu sama dengan yang kupikirkan."Begitu kata-kata Mia dilontarkan, kepala Leo langsung tertunduk. Sebaliknya, Max malah tertawa gila. "Aku nggak akan menyerah begitu saja. Mia, seumur hidup kamu hanya bisa menjadi milikku."Mendengar kalimat itu, Benedict langsung mengernyit. Dia melambaikan tangan dan memerintahkan orang-orangnya untuk membungkam mulut keduanya, lalu menyeret mereka pergi.

  • Cinta Tak Dapat, Persahabatan Pun Retak   Bab 8

    Tepat ketika keduanya hendak menandatangani dokumen, tiba-tiba terdengar dua suara sekaligus yang lantang memanggil namanya. "Mia! Jangan ...."Mia sempat tertegun sejenak, tetapi dia tidak menoleh. Sebaliknya, dia buru-buru menuliskan namanya. Selesai menandatangani, dia menoleh ke arah Benedict.Kebetulan, pria itu juga baru saja selesai membubuhkan tanda tangan. Mereka saling berpandangan selama sepuluh detik, sebelum akhirnya Mia yang lebih dulu memalingkan wajah.Saat itu, Leo yang memang selalu impulsif, langsung meledak marah. Dia melayangkan pukulan ke salah satu pengawal di pintu sambil berteriak, "Aku sudah bilang minggir! Nggak dengar aku ngomong?!"Melihat kegaduhan itu, aku hanya melambaikan tangan dan mengizinkan mereka masuk. Namun, aku tetap memerintahkan orang-orangku untuk menahan mereka agar tidak bisa mendekat lebih dari sepuluh langkah.Leo masih berusaha menerobos, tetapi Max segera menariknya. Tatapannya terarah padaku saat berkata, "Mia, ikut kami kembali ke New

  • Cinta Tak Dapat, Persahabatan Pun Retak   Bab 7

    Sementara itu, dua orang yang pulang ke rumah untuk tidur, malah tidak bisa terlelap sama sekali. Max yang biasanya tenang dan penuh kendali, tiba-tiba bangkit duduk dari ranjang, lalu kembali menelepon sepupu Mia."Kumohon, pastikan untukku, apakah Mia benar-benar sudah pulang ke negaranya?"Orang di seberang tampak kesulitan menjawab. Setelah menutup telepon, dia menoleh ke arah Mia yang baru saja mencoba sepuluh gaun pengantin. Dia terlihat ingin berbicara, tetapi menahan diri.Akhirnya, dia hanya mengirimkan pesan untuk Max.[ Mia sementara belum pulang ke negaranya, kalian nggak perlu mencarinya lagi. Sekarang dia sangat aman. ]Begitu membaca pesan itu, hati Max langsung mencelos. Jemarinya tak sadar mencengkeram erat tepi meja. Detik berikutnya, dia melompat turun dari ranjang dan buru-buru mengemasi koper, lalu menelepon Leo."Sepuluh menit. Kita ketemu di depan. Kalau nggak, aku akan pergi sendirian mencari Mia."Ketika dia turun, terlihat Leo yang wajahnya sudah sangat letih,

  • Cinta Tak Dapat, Persahabatan Pun Retak   Bab 6

    Pagi hari, mereka kembali terburu-buru menuju rumah Mia.Namun tak disangka, mereka malah melihat orang-orang yang keluar masuk rumah sambil mengangkut barang. Tadi malam mereka terlalu panik, sehingga tidak menyadari bahwa semua barang di rumah sudah ditempeli label oleh Mia.Label biru bertuliskan nama Leo, sementara label merah muda bertuliskan nama Max.Saat melihat seseorang mengangkat vas bunga, Leo sontak meledak. "Kalian sedang apa di sini?"Orang itu kebingungan menatap Leo, lalu menjawab, "Pemilik rumah ini menyuruh kami untuk mengemas semua barang sesuai label biru dan merah muda, lalu masing-masing dikirimkan kepada Pak Leo dan Pak Max."Setelah melirik daftar pesanan di tangannya, orang itu baru menyelesaikan ucapannya. Leo langsung merebut kertas tersebut dan berteriak marah, "Siapa yang suruh kalian sentuh ini? Semua ini kubelikan untuk Mia!""Nggak boleh kalian bawa! Mengerti nggak?!"Max segera menahan Leo yang nyaris hilang kendali, lalu menoleh pada para pekerja itu

  • Cinta Tak Dapat, Persahabatan Pun Retak   Bab 5

    Malam itu, ketiganya bertemu di depan gedung konser. Begitu melihat Ella, Leo dan Max langsung bertanya, "Mia ke mana? Dia nggak bersamamu?"Ella menundukkan mata, wajahnya tampak penuh rasa tertekan. "Mia mungkin nggak ingin datang. Kalau begitu, sebaiknya kita batalkan saja konser ini."Namun, Leo langsung berdiri menolak. "Biarkan saja dia manja. Kita bertiga masuk saja, nanti selesai konser kita belikan sesuatu untuk menenangkannya.""Tapi aku merasa ada yang nggak beres. Bukankah ini konser dari grup musik favoritnya?"Max mengernyit, berkata dengan nada serius."Dia cuma ngambek, jangan pedulikan," ujar Leo sambil menarik Ella masuk ke dalam gedung konser.Max melihat sekilas pada orang yang berlalu-lalang, tetapi akhirnya tetap mengikuti mereka masuk.Selama konser itu berlangsung, hanya Ella yang benar-benar menikmati seluruh pertunjukan. Leo dan Max sibuk dengan pikiran masing-masing sepanjang acara.Begitu konser berakhir dan mereka keluar, Max langsung mengambil ponselnya da

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status