Short
Kepergian bayiku, Kematian Pernikahanku

Kepergian bayiku, Kematian Pernikahanku

Oleh:  EternityTamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
11Bab
21.4KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Saat menyadari aku tidak mengajukan satu pun permintaan kebutuhan rumah tangga selama tiga hari ini, ini pertama kalinya dalam beberapa bulan ini Adrian sendiri yang meneleponku. Adrian berkata dengan nada halus dan sabar, "Sarah, kliniknya sudah dibereskan dan berkasmu kembali diprioritaskan. Lihatlah. Ketika kamu nggak mempersulit keadaan dan belajar bagaimana caranya keluarga ini bekerja, aku akan pastikan kamu terurus." Nada bicara Adrian selalu terdengar paling lembut saat mengingatkanku siapa yang sebenarnya memegang kendali. Namun, yang tidak diketahuinya adalah surat perceraian sudah disiapkan saat namanya muncul di layarku. Dari luar, aku memang terlihat seperti memiliki segala yang diinginkan seorang wanita. Dari vila yang dilengkapi penjagaan, sopir yang siap dipanggil, pakaian desainer, dan marga dari salah satu pria yang paling ditakuti di kota. Namun, hampir semuanya bukan benar-benar milikku. Kartu-kartuku diawasi dan pemakaian uang tunai pun harus disetujui. Staf juga harus menerima perintah dari Vivian terlebih dulu, baru mau mendengarkan permintaanku. Bahkan anggaran pakaian, jadwalku, dan akses ke kantor keluarga pun semuanya berada di bawah kendali Vivian. Adrian bilang ini demi kemudahan. Tiga hari yang lalu, aku dilarikan ke klinik pribadi dengan kondisi darah merembes melalui gaunku. Sementara itu, seorang dokter bilang masih ada kesempatan untuk menyelamatkan bayi di kandunganku jika segera membayar dana darurat pada klinik. Aku menelepon Adrian sampai tanganku gemetar. Namun, Vivian menunda transfer uangnya. Awalnya, alasannya adalah tidak ada otorisasi langsung dan jumlah nominalnya pun terlalu besar. Selain itu, Adrian sedang rapat dan tidak bisa diganggu untuk sesuatu yang mungkin tidak serius. Saat transfer uangnya akhirnya masuk, semuanya sudah terlambat. Bayiku sudah tiada. Aku bisa bertahan hidup bersama Adrian karena dua alasan, yaitu aku mencintainya dan aku percaya dia akan memilihku saat menghadapi masalah yang benar-benar penting. Namun, aku salah dalam kedua hal itu. Anakku dengan Adrian mati terlebih dulu, lalu pernikahanku ikut mati bersamanya.

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1

Saat menyadari aku tidak mengajukan satu pun permintaan kebutuhan rumah tangga selama tiga hari ini, ini pertama kalinya dalam beberapa bulan ini Adrian sendiri yang meneleponku.

Adrian berkata dengan nada halus dan sabar, "Sarah, kliniknya sudah dibereskan dan berkasmu kembali diprioritaskan. Lihatlah. Ketika kamu nggak mempersulit keadaan dan belajar bagaimana caranya keluarga ini bekerja, aku akan pastikan kamu terurus."

Nada bicara Adrian selalu terdengar paling lembut saat mengingatkanku siapa yang sebenarnya memegang kendali. Namun, yang tidak diketahuinya adalah surat perceraian sudah disiapkan saat namanya muncul di layarku.

Dari luar, aku memang terlihat seperti memiliki segala yang diinginkan seorang wanita. Dari vila yang dilengkapi penjagaan, sopir yang siap dipanggil, pakaian desainer, dan marga dari salah satu pria yang paling ditakuti di kota. Namun, hampir semuanya bukan benar-benar milikku.

Kartu-kartuku diawasi dan pemakaian uang tunai pun harus disetujui. Staf juga harus menerima perintah dari Vivian terlebih dulu, baru mau mendengarkan permintaanku. Bahkan anggaran pakaian, jadwalku, dan akses ke kantor keluarga pun semuanya berada di bawah kendali Vivian. Adrian bilang ini demi kemudahan.

Tiga hari yang lalu, aku dilarikan ke klinik pribadi dengan kondisi darah merembes melalui gaunku. Sementara itu, seorang dokter bilang masih ada kesempatan untuk menyelamatkan bayi di kandunganku jika segera membayar dana darurat pada klinik. Aku menelepon Adrian sampai tanganku gemetar.

Namun, Vivian menunda transfer uangnya. Awalnya, alasannya adalah tidak ada otorisasi langsung dan jumlah nominalnya pun terlalu besar. Selain itu, Adrian sedang rapat dan tidak bisa diganggu untuk sesuatu yang mungkin tidak serius.

Saat transfer uangnya akhirnya masuk, semuanya sudah terlambat. Bayiku sudah tiada.

Aku bisa bertahan hidup bersama Adrian karena dua alasan, yaitu aku mencintainya dan aku percaya dia akan memilihku saat menghadapi masalah yang benar-benar penting. Namun, aku salah dalam kedua hal itu.

Anakku dengan Adrian mati terlebih dulu, lalu pernikahanku ikut mati bersamanya.

....

Saat aku keluar dari Pusat Perawatan Maria, kata-kata dari dokter tetap masih terngiang di telingaku.

"Kami sudah kehilangan kesempatan terakhir untuk mempertahankan kehamilan ini, nggak ada gunanya kembali lagi untuk memeriksa kehamilan ini."

Saat aku tiba di kantor pusat Grup Martono, Adrian berada di ruang kerja pribadinya dan menandatangani dokumen yang baru saja diletakkan Vivian di hadapannya. Saat aku berkata ingin bercerai, dia bahkan tidak mengangkat kepalanya dan hanya tertawa singkat.

"Apa lagi sekarang? Kamu marah karena aku nggak pulang makan malam tadi malam? Sarah, jangan bicara seperti itu, terlalu kekanak-kanakan," kata Adrian dengan nada yang agak menegur.

"Aku nggak bercanda, aku mau cerai," kataku.

Kata-kata itu akhirnya berhasil membuat Adrian mengangkat kepala. Dia berdiri dan berjalan ke arahku dengan tenang sekaligus hampir seperti memanjakan, seolah-olah aku hanya ingin membuatnya kesulitan lagi.

Saat Adrian hendak meraih tanganku, aku melangkah mundur sebelum dia sempat menyentuhku. Tangannya sempat berhenti di udara sejenak, lalu mengernyitkan alis dan mereda kembali. Dia berkata, "Aku tahu kamu kesal soal klinik. Tapi, aku menghentikan itu karena aku nggak mau kamu langsung setuju dengan setiap prosedur mahal yang mereka sarankan. Panik bukan rencana."

Setelah itu, Adrian melirik Vivian yang berdiri tenang di dekat mejanya. Vivian terlihat rapi dan terkendali, gambaran sempurna dari efisiensi dan setia. "Dia hanya mengikuti instruksiku. Kenapa kamu malah berdebat dengannya di bagian pembayaran di depan para staf? Kemarin aku sudah mengembalikan aksesmu. Jadi, kalau ini soal uang, itu sudah selesai."

Sebelum aku sempat menjawab, Adrian melihat jam tangannya. "Ada orang yang menungguku. Aku menjalankan seluruh organisasi, Sarah. Aku nggak bisa terus membuang waktu untuk drama seperti ini. Aku akan mampir malam ini dan bawa makanan penutup dari Belladonna. Baik-baiklah dan tunggu aku."

Adrian begitu yakin aku akan tetap tinggal, yakin sedikit kelembutan darinya akan membuatku memaafkan semuanya.

Selama tiga tahun ini, Adrian berpikir apa pun yang dilakukannya selalu benar. Bahkan saat dia meninggalkanku berdiri di tengah hujan karena Vivian membutuhkannya di tempat lain. Dia hanya perlu berkata Vivian bekerja untuknya dan jangan membuat situasinya menjadi buruk, aku akan menelan rasa sakit itu dan berpura-pura mengerti.

Kini, makanan penutup sudah tidak berarti apa-apa, apakah Adrian sudah membuka kembali transfer itu juga tidak berarti apa-apa. Jika tiga hari yang lalu Adrian mendengarkan ucapanku, aku mungkin masih akan bertahan dengan bodoh.

Hari itu, aku menelepon Adrian dari lorong rumah sakit dan memohon agar dia tidak menutup telepon sebelum aku selesai berbicara.

Namun, terdengar suara Vivian yang sudah berbicara dengan Adrian terlebih dulu. "Bos, aku rasa Nyonya Sarah sudah salah paham. Aku hanya bilang ke klinik jumlahnya terlalu besar untuk dicairkan tanpa detail. Kalau dia benar-benar membutuhkannya segera, aku bisa memaksakan prosesnya. Meskipun itu melanggar prosedur."

"Aku hanya khawatir nanti bagian keuangan akan mulai bertanya. Aku bersikap lebih ketat karena aku pikir dia harus belajar bagaimana caranya keluarga ini menangani semuanya."

Kata-kata itu sudah cukup bagi Adrian. Dia pun berkata dengan nada kesal, "Sarah, kamu dengar sendiri betapa perhatiannya dia? Kenapa kamu nggak bisa belajar darinya dan malahan panik setiap kali ada sesuatu yang berjalan salah? Lakukan saja apa yang dikatakan Vivian. Setelah dokumennya selesai, kita baru bicara."

Semuanya selalu seperti itu. Setiap kali aku membutuhkan sesuatu, aku harus bicara dengan Vivian. Setelah itu, aku mengikuti pengaturannya dan melakukan apa pun yang dikatakannya.

Aku adalah istrinya Adrian, tetapi wewenangku lebih sedikit di dunia itu dibandingkan wanita yang mengatur jadwalnya. Bahkan untuk makan malam formal, penggalangan dana politik, dan acara keluarga pribadi di mana aku seharusnya berdiri di sisinya, aku tetap harus minta gaun dan perhiasanku melalui Vivian.

Namun, setiap kali Vivian selalu berhasil menemukan alasan untuk membuatku pulang dengan tangan kosong. Warnanya bukan selera Adrian, kalungnya terlalu mencolok, permintaan datang terlalu terlambat, dan barang yang lebih baik sudah dialokasikan. Oleh karena itu, aku selalu berakhir berdiri di samping Adrian dengan sesuatu yang ketinggalan zaman atau tidak pas.

Sementara itu, Adrian membungkuk dan berbisik dengan lembut, "Sarah, kamu mewakiliku. Jangan mempermalukan keluarga."

Kata-kata Adrian itu seolah-olah kegagalan itu milikku. Kenyataannya sebenarnya jauh lebih sederhana, aku bahkan tidak bisa menangani hal-hal kecil karena Adrian telah menempatkan segalanya di tangan Vivian. Setelah itu, dia bertindak seolah-olah aku tidak kompeten karena terlalu bergantung padanya.

Padahal Adrian tahu kehamilanku sejak awal memang tidak stabil. Dia tahu para dokter sudah memperingatkan kehamilanku bisa dalam bahaya jika ada sesuatu yang ditunda. Dia tahu aku sudah bolak-balik menjalani pemeriksaan selama berminggu-minggu ini. Namun, saat aku paling membutuhkannya, dia tetap memberiku jawaban yang sama seperti biasanya yaitu melewati Vivian.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Ulasan-ulasan

fatysa
fatysa
good, suka sama ending tanpa harus menghadirkan pria baru
2026-06-17 07:43:17
0
0
Jeti Bai Kalwani
Jeti Bai Kalwani
bagus ceritanya saying he's bayar
2026-06-10 09:52:14
1
0
emet2025
emet2025
bagus ceritanya walau tidak happy ending dalam percintaan
2026-06-08 08:30:41
0
0
herawati sudrajat
herawati sudrajat
cerita yg bagus
2026-06-07 19:03:43
0
0
gaxere7382
gaxere7382
Bagus bgt ceritanya, pemilihan kata, plot, alur yang tidak berlebihan... Sumpah keren bgt
2026-06-05 10:49:14
1
0
11 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status