Share

Bab 3

Penulis: Zoe
Sudut pandang: Mia

Aku tahu, ini semua hanyalah jebakan yang sudah diatur Ella dengan hati-hati. Dulu, aku sering marah karena hal seperti ini. Bahkan sempat menyalahkan Leo dan Max karena hanya melihat Ella dan seakan sudah melupakanku sepenuhnya.

Namun, sekarang aku sudah tidak peduli lagi. Lagi pula, beberapa hari lagi aku akan menikah dengan orang lain.

Aku menatap mereka bertiga dengan tenang dan berkata, "Selamat ya, sudah lulus ujian SIM."

Leo dan Max yang mendengar ucapan itu, langsung meletakkan barang di tangan mereka dan tidak berkata apa pun. Suasana seketika menjadi canggung dan dingin. Aku tidak menoleh lagi pada mereka, hanya berbalik lalu naik ke lantai dua.

Mulai hari ini, aku dan Leo serta Max ... hanyalah teman.

Malam itu juga, aku mulai mengemasi barang-barang penting di rumah karena berniat mengirimkannya lebih awal. Sementara barang-barang yang dibelikan Leo dan Max, semuanya kutinggalkan apa adanya. Aku sudah berencana setelah pergi nanti, aku akan menyuruh orang untuk mengemasnya dan mengirimkannya kembali pada mereka.

Namun, keesokan harinya saat orang yang kupanggil datang untuk memindahkan barang-barang itu, aku malah berpapasan dengan Leo dan Max yang baru saja masuk rumah.

Melihat tumpukan barang, ekspresi Leo seketika berubah, lalu bertanya, "Mia, bukankah itu barang-barang yang biasa kamu pakai? Kamu mau pindah ke mana?" Dia menunjuk ke arah truk ekspedisi yang terparkir di luar.

Aku tetap diam, hingga akhirnya Max yang membuka suara, "Mia, kamu mau pindah?"

Lantaran tidak ingin mereka mengetahuinya, aku hanya menjawab dengan samar, "Barangku terlalu banyak, jadi aku kirim sebagian pulang ke Italia."

Leo yang cenderung tidak terlalu peka pun tidak banyak bertanya. Namun, Max langsung menyadari ada yang aneh dan berkata, "Kenapa harus dikirim pulang? Kamu nggak betah tinggal di rumah ini?"

"Bukan nggak betah, cuma rasanya terlalu sempit. Lagian, sepupuku ...."

Belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, tiba-tiba ponsel Leo berdering. Begitu tersambung, suara Ella terdengar jelas, "Leo, hari ini aku sengaja buat kue kesukaanmu, tapi aku nggak melihatmu di lapangan latihan. Mobilku sekarang malah mogok di tengah jalan."

Begitu dia menjawab telepon itu, aku bisa mendengar suara Ella begitu manja dan jelas.

Max melirik ke langit yang sudah dipenuhi awan hitam, lalu berkata lembut ke telepon, "Kamu tunggu saja di sana, kami segera datang."

Begitu menutup telepon, keduanya langsung bergegas pergi.

Aku menatap langit yang sebentar lagi akan turun hujan deras, lalu menyunggingkan senyum dingin.

Pernah suatu kali saat hujan badai, mobilku juga mogok di tengah jalan. Aku menelpon Leo dan Max, tetapi tidak ada yang datang. Aku hanya bisa menggigil kedinginan di tengah hujan, sampai akhirnya mobil derek yang menyelamatkanku.

Namun ketika aku pulang, yang kulihat adalah mereka bertiga duduk bersama sambil menikmati makan malam romantis. Sementara itu, aku mengalami demam tinggi selama tiga hari karena kehujanan.

Mengingat semua itu, aku pun langsung menelpon maskapai dan memesan tiket pesawat.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cinta Tak Dapat, Persahabatan Pun Retak   Bab 10

    Mata Ella dipenuhi kepanikan, wajahnya seketika pucat pasi. Dia berkata dengan terbata-bata, "Bukankah sudah jujur berarti bisa mendapat pengampunan? Kenapa ... kalian tetap ... nggak mau melepaskanku?""Karena pengkhianat harus turun ke neraka untuk menebus dosanya."Max mengangkat tangannya yang berlumuran darah, lalu memberi isyarat agar orang-orang membawanya pergi. Sepanjang jalan, jeritan Ella terdengar memilukan."Tidak! Kenapa? Bukankah kalian selalu menuruti semua keinginanku? Ini nggak adil!"Max sama sekali tidak peduli pada permohonannya. Setelah membalut lukanya dengan seadanya, dia bersama Leo segera naik ke helikopter menuju Italia.Hari itu adalah hari pernikahan Mia dan Benedict. Mereka berniat merusak pesta pernikahan, dengan membawa bukti sekaligus memohon ampun di hadapannya.Begitu helikopter mendarat di lokasi, Mia tengah merapikan kerah jas mempelai prianya. Kerumunan tamu mendadak gempar ketika seutas tali diturunkan dari atas, lalu Max dan Leo meluncur turun da

  • Cinta Tak Dapat, Persahabatan Pun Retak   Bab 9

    Begitu Mia selesai berbicara, lebih banyak pengawal bermunculan dan segera menyeret kedua pria itu keluar. Sebelum pergi, Benedict masih sempat memberi perintah, "Paksa mereka naik pesawat. Kalau mereka menolak pulang, hubungi ayah mereka di New York dan suruh jaga anak-anaknya baik-baik.""Aku nggak bisa menjamin kalau lain kali mereka datang ke Italia, mereka masih bisa pulang dengan utuh."Leo tidak percaya, dia masih berteriak, "Mia, apa ini juga pendapatmu? Aku nggak percaya kamu bisa melupakan kami begitu saja. Apa sepuluh tahun kebersamaan ini bisa hilang begitu saja?""Ya, yang dia katakan itu sama dengan yang kupikirkan."Begitu kata-kata Mia dilontarkan, kepala Leo langsung tertunduk. Sebaliknya, Max malah tertawa gila. "Aku nggak akan menyerah begitu saja. Mia, seumur hidup kamu hanya bisa menjadi milikku."Mendengar kalimat itu, Benedict langsung mengernyit. Dia melambaikan tangan dan memerintahkan orang-orangnya untuk membungkam mulut keduanya, lalu menyeret mereka pergi.

  • Cinta Tak Dapat, Persahabatan Pun Retak   Bab 8

    Tepat ketika keduanya hendak menandatangani dokumen, tiba-tiba terdengar dua suara sekaligus yang lantang memanggil namanya. "Mia! Jangan ...."Mia sempat tertegun sejenak, tetapi dia tidak menoleh. Sebaliknya, dia buru-buru menuliskan namanya. Selesai menandatangani, dia menoleh ke arah Benedict.Kebetulan, pria itu juga baru saja selesai membubuhkan tanda tangan. Mereka saling berpandangan selama sepuluh detik, sebelum akhirnya Mia yang lebih dulu memalingkan wajah.Saat itu, Leo yang memang selalu impulsif, langsung meledak marah. Dia melayangkan pukulan ke salah satu pengawal di pintu sambil berteriak, "Aku sudah bilang minggir! Nggak dengar aku ngomong?!"Melihat kegaduhan itu, aku hanya melambaikan tangan dan mengizinkan mereka masuk. Namun, aku tetap memerintahkan orang-orangku untuk menahan mereka agar tidak bisa mendekat lebih dari sepuluh langkah.Leo masih berusaha menerobos, tetapi Max segera menariknya. Tatapannya terarah padaku saat berkata, "Mia, ikut kami kembali ke New

  • Cinta Tak Dapat, Persahabatan Pun Retak   Bab 7

    Sementara itu, dua orang yang pulang ke rumah untuk tidur, malah tidak bisa terlelap sama sekali. Max yang biasanya tenang dan penuh kendali, tiba-tiba bangkit duduk dari ranjang, lalu kembali menelepon sepupu Mia."Kumohon, pastikan untukku, apakah Mia benar-benar sudah pulang ke negaranya?"Orang di seberang tampak kesulitan menjawab. Setelah menutup telepon, dia menoleh ke arah Mia yang baru saja mencoba sepuluh gaun pengantin. Dia terlihat ingin berbicara, tetapi menahan diri.Akhirnya, dia hanya mengirimkan pesan untuk Max.[ Mia sementara belum pulang ke negaranya, kalian nggak perlu mencarinya lagi. Sekarang dia sangat aman. ]Begitu membaca pesan itu, hati Max langsung mencelos. Jemarinya tak sadar mencengkeram erat tepi meja. Detik berikutnya, dia melompat turun dari ranjang dan buru-buru mengemasi koper, lalu menelepon Leo."Sepuluh menit. Kita ketemu di depan. Kalau nggak, aku akan pergi sendirian mencari Mia."Ketika dia turun, terlihat Leo yang wajahnya sudah sangat letih,

  • Cinta Tak Dapat, Persahabatan Pun Retak   Bab 6

    Pagi hari, mereka kembali terburu-buru menuju rumah Mia.Namun tak disangka, mereka malah melihat orang-orang yang keluar masuk rumah sambil mengangkut barang. Tadi malam mereka terlalu panik, sehingga tidak menyadari bahwa semua barang di rumah sudah ditempeli label oleh Mia.Label biru bertuliskan nama Leo, sementara label merah muda bertuliskan nama Max.Saat melihat seseorang mengangkat vas bunga, Leo sontak meledak. "Kalian sedang apa di sini?"Orang itu kebingungan menatap Leo, lalu menjawab, "Pemilik rumah ini menyuruh kami untuk mengemas semua barang sesuai label biru dan merah muda, lalu masing-masing dikirimkan kepada Pak Leo dan Pak Max."Setelah melirik daftar pesanan di tangannya, orang itu baru menyelesaikan ucapannya. Leo langsung merebut kertas tersebut dan berteriak marah, "Siapa yang suruh kalian sentuh ini? Semua ini kubelikan untuk Mia!""Nggak boleh kalian bawa! Mengerti nggak?!"Max segera menahan Leo yang nyaris hilang kendali, lalu menoleh pada para pekerja itu

  • Cinta Tak Dapat, Persahabatan Pun Retak   Bab 5

    Malam itu, ketiganya bertemu di depan gedung konser. Begitu melihat Ella, Leo dan Max langsung bertanya, "Mia ke mana? Dia nggak bersamamu?"Ella menundukkan mata, wajahnya tampak penuh rasa tertekan. "Mia mungkin nggak ingin datang. Kalau begitu, sebaiknya kita batalkan saja konser ini."Namun, Leo langsung berdiri menolak. "Biarkan saja dia manja. Kita bertiga masuk saja, nanti selesai konser kita belikan sesuatu untuk menenangkannya.""Tapi aku merasa ada yang nggak beres. Bukankah ini konser dari grup musik favoritnya?"Max mengernyit, berkata dengan nada serius."Dia cuma ngambek, jangan pedulikan," ujar Leo sambil menarik Ella masuk ke dalam gedung konser.Max melihat sekilas pada orang yang berlalu-lalang, tetapi akhirnya tetap mengikuti mereka masuk.Selama konser itu berlangsung, hanya Ella yang benar-benar menikmati seluruh pertunjukan. Leo dan Max sibuk dengan pikiran masing-masing sepanjang acara.Begitu konser berakhir dan mereka keluar, Max langsung mengambil ponselnya da

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status