MasukPanas terik sisa kemarau panjang masih menyengat Jakarta sore itu saat aki tiba di rumah.“Mau makan malam apa untuk hari ini, Nona Grace?” tanya asisten rumah tangga saat aku hendak mengambil air dingin dari kulkas.“Aku pengen ayam goreng mentega, Bik.”“Baik, Nona. Saya siapkan dulu.Aku hanya mengangguk singkat dan berlalu.Udara terasa begitu kering dan lengket, meninggalkan rasa gerah yang mengimpit dada bahkan di dalam ruangan berpendingin sekalipun. Ayunan kakiku membawaku ke ruang tamu. Cahaya matahari senja yang berwarna oranye menerobos masuk melalui celah-celah gorden yang setengah terbuka, menciptakan garis-garis bayangan panjang yang menyerupai jeruji besi di atas lantai. Sengaja tak kunyalakan lampu.Aku duduk meringkuk di atas sofa beludru kelabu, memeluk kedua lututku erat-erat. Di balik kain blus tipis yang kupakai, ada detak kehidupan ganda yang bergerak halus. Bayi-bayi kembar yang bertumbuh, kuat dan sehat.“Aku sayang kalian,” bisikku pelan, tanganku membelai
"Nit, aku sedang lelah. Bisakah kita bicara lain kali saja? Aku harus segera pulang.""Grace, aku sahabatmu. Kenapa kamu harus menghindar seperti ini?"Aku berdiri gelisah di depan Anita. Jujur, dia adalah satu-satunya sahabat yang masih terus mencariku sejak aku menghilang dari peredaran dunia karena aib yang sedang aku tanggung."Kenapa kamu menghilang begitu saja, Grace? Kamu tidak tahu bagaimana aku seperti orang gilamencarimu ke sana ke mari?""Aku bukan menghindar, Anita. Tapi keadaan yang memaksaku seperti ini. Sekarang, biarkan aku pulang.""Pulang ke mana, Grace? Ke rumah mewah di kawasan elit yang kudengar dari desas-desus teman-teman yang lain? Atau pulang ke pelukan pria yang sudah membuatmu seperti ini?" Anita menjatuhkan pandangannya tepat ke arah perutku yang kini terlihat jelas tanpa penghalang."Teman-teman yang mana yang kamu maksud?" tanyaku dengan nada tajam. Perasaan selama ini, aku tidak pernah berhubungan dengan siapa pun. Semua aku tutupi sendiri. Bahkan aku b
Mataku membelalak melihat siapa yang gerangan wanita itu. Langkah kakinya yang tadinya bersemangat mendadak membeku di ambang pintu. Senyuman hangat yang sempat terbit di bibirnya berangsur pias saat matanya menangkap siluet tubuhku yang duduk di samping Mama, dengan sisa-sisa air mata yang masih membasahi pipi."Grace? Kamu benaran Grace, kan?"Suara itu memecah keheningan yang mencekam. Bukan Natalia. Suara ini milik Anita, sahabat karibku sejak masa kuliah yang berbulan-bulan ini pesannya hanya kubaca lewat baris notifikasi gawai tanpa pernah sekalipun kubalas."Anita?" tanyaku tak percaya. Masih hangat di pikiranku saat bertemu Anita di lobby rumah sakit. Aku janji padanya untuk mengirim pesan atau bertemu hanya sekedar untuk makan siang, tapi tidak pernah aku lakukan karena aku terlalu malu dengan kondisiku saat ini.Aku sengaja memutus kontak, menghilang bak ditelan bumi demi menenggelamkan diri dalam pusaran kontrak rahim yang tabu ini. Namun, takdir rupanya memiliki selera hum
Aku mendongak perlahan, dan pemandangan di depanku seketika meremukkan hatiku. Mama tidak marah. Beliau justru terduduk lemas di lantai, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan yang kurus, menangis sejadi-jadinya hingga bahunya terguncang hebat. Suara tangisan Mama terdengar begitu sarat akan penyesalan, penderitaan, dan rasa bersalah yang teramat dalam."Ya Tuhan ... Maafkan kami, Grace ... Maafkan Mama dan Papa," ratap Mama di sela-sela isak tangisnya yang memilukan. Beliau memukul dadanya sendiri berulang kali, seolah mencoba meredakan rasa sesak yang menghantamnya. "Kami orang tua yang tidak berguna, sudah buat anak perempuan kami satu-satunya harus mengorbankan tubuh dan masa depannya seperti ini.""Mama, tidak, please, jangan bilang seperti itu, Ma," sahutku panik, ikut menjatuhkan diri di atas lantai dingin."Bagaimana bisa Mama tidak meratap, Nak?!" seru Mama, menatapku dengan mata yang sembab dan penuh dengan air mata penyesalan. "Ma, aku rela lakuin apa saja untuk Ma
"Grace? Mama tunggu penjelasanmu."Jantungku serasa berhenti berdetak saat itu juga. Dingin yang teramat sangat menjalar dari ujung jari kaki hingga ke ubun-ubun, membekukan seluruh pasokan udara di dalam dadaku. Tatapan mata Mama yang begitu tajam sekaligus rapuh, menghujam tepat pada perutku yang membusung. Kamar rawat yang tadinya hening kini menjelma menjadi ruang sidang yang teramat menyiksa."Grace ... katakan pada Mama, Nak." Suara Mama kini bergetar lebih hebat, setitik air mata mulai menggenang di pelupis matanya yang berkerut."Apa yang terjadi? Kenapa perutmu seperti itu? Kamu sakit? Atau berbadan dua?"Kata-kata terakhir Mama membuatku menelan ludah dengan susah payah, mencoba menguasai gemuruh kepanikan yang nyaris membuatku limbung.Kebohongan demi kebohongan yang telah kususun rapi di dalam kepala mendadak menguap tanpa sisa. Namun, melihat tubuh Mama yang ringkih dan Papa yang masih tak berdaya di atas ranjang pesakitan, ego duniaku mencoba bangkit untuk terakhir kalin
"Gabriel? Kamu masih di sana, kan?" suara Natalia kembali memecah keheningan yang tercipta di antara kami.Gabriel membuang napas perlahan, mengalah pada isyarat yang kuberikan. "Ah, ya, Nat. Maaf. Baiklah, nanti siang aku akan menjemputmu di kantor. Tunggu aku.""Benarkah? Terima kasih, Sayang! Sampai jumpa nanti siang!" Suara klik pelan menandakan panggilan itu telah terputus.Begitu gawai itu berpindah ke saku kemejanya, Gabriel langsung menatapku tajam, dipenuhi rasa tidak puas yang tertahan. "Kenapa kamu melakukan itu, Grace? Aku sudah meluangkan waktu hari ini khusus untuk menemanimu ke rumah sakit. Mengapa kamu justru menyuruhku pergi dengannya?"Aku tersenyum tipis, meski di dalam dada, ada rasa perih yang perlahan merambat dan menyayat hati. "Dia istrimu, Gabriel. Dua hari yang lalu aku sendiri yang memintamu untuk memperbaiki hubungan kalian, bukan? Ini adalah awal yang baik. Kamu harus menjaganya.""Tapi fokusku hari ini adalah kamu dan anak-anak kita, Grace! Bagaimana bisa
Pintu rumah terbuka bahkan sebelum Gabriel sempat memasukkan kunci.Natalia berdiri di ambang pintu dengan wajah kesal dan terlihat sudah menahan emosi selama beberapa waktu. Rambutnya sedikit berantakan, cardigan tipis melingkari tubuhnya, dan matanya langsung mencari sesuatu di wajah Gabriel.“Ka
Udara malam terasa dingin saat aku dituntun keluar dari bangunan itu. Tanganku masih berada dalam genggaman Gabriel. Hangat, kuat, seolah tak ingin melepasku sedetik pun.“Kita ke rumah sakit dulu,” katanya cepat.“Aku tidak apa-apa. Gabriel.”“Kita tetap ke rumah sakit.”Nada suaranya tidak memberi
Suara langkah kaki berderap menggema di lorong sempit itu. Denting logam beradu, disusul instruksi tegas yang dilontarkan dengan nada terburu-buru."Kita harus menemukan posisi Grace sebelum terlambat."Suara Gabriel bergetar menahan emosi yang bergejolak dalam dada. Kesabarannya sudah menipis."He
Aku menahan napas saat layar yang tadinya terkunci, kini terbuka. Dengan tergesa-gesa aku mengetik nomor ponsel Gabriel dan menunggu agar pria itu segera menjawab panggilanku.“Please, angkat panggilanku, Gabriel,” ucapku penuh harap sambil menggigit bibir bawahku dengan kuat. Namun, sampai nada sa







