Gadis Klepto : Mencuri Hati Suami

Gadis Klepto : Mencuri Hati Suami

last updateLast Updated : 2026-07-03
By:  kamiya sanUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
1 rating. 1 review
11Chapters
68views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Dias adalah gadis kleptomania alias gadis pencuri yang cantik. Tiba-tiba akan dinikahi Idris, ahli waris penginapan di tempatnya bekerja. Wasiat wajib dari ayahnya Idris demi mendapatkan hak nama harta waris. Sebab menguntungkan, Dias setuju dan mereka pun menikah. Idris tetap menjalin kasih dengan wanita istri orang meski keduanya sudah menikah. Sebagai istri sah, Dias berusaha keras mencuri hati suaminya. Idris tidak menolak Dias mentah-mentah. Satu syarat agar Dias bisa jadi istri Idris seutuhnya, yakni melenyapkan sifat klepto! Bisakah ...?

View More

Chapter 1

Bab 1 : Hasrat Ngembat!

Hasratku datang lagi. Terasa kuat dan liar bak geliat cacing kepanasan di dada. Pelan-pelan kakiku melangkah ke taman kecil di tengah penginapan, seperti sedang ditarik oleh medan magnet paling kuat di muka bumi.

Ada yang baru di taman. Beberapa pot anggrek tebu kiriman dari luar kota sudah berbaris anggun di bawah lampu taman. Kelopaknya loreng harimau, cantiknya nggak kira-kira, dan itu masalahnya ... aku tergoda!

Semakin cantik barangnya, semakin susah tanganku diajak berkompromi. “Astaga, Shaqilah … sadar, sadar…,” bisikku sambil menepuk pipi sendiri.

Aku bukan miskin. Gajiku cukup. Tabungan aman. Ayahku koki di kapal pesiar yang memegang jabatan penting. Beli sepuluh pot anggrek kayak gitu pun masih bisa. Tapi penyakitku bukan soal mampu atau enggak, hanya hasrat memiliki!

Kata dokter, aku penderita kleptomania. Penyakit aneh yang bikin otakku ngotot pengen ambil barang orang tanpa alasan jelas dan pasti.

“Auw!”

Aku menjerit kecil karena dadaku nyeruduk sesuatu yang keras. Kaki spontan mundur dua langkah, rasanya panik.

“Eh, Pak Idris…,” suaraku mengecil. Nyaliku menciut seketika.

Putra pemilik penginapan itu berdiri menjulang di depanku. Tinggi, rapi, dan rahangnya tegas kayak model iklan parfum pria paling mahal. Sayangnya, tatapan itu sedingin kulkas dua pintu di asramaku.

Dia menatapku lama dan dalam. Senyum termanis di bibirku yang biasa ampuh ke tamu hotel … gugur sebelum mekar dan bermadu.

“Apa yang sedang ingin kaucuri di sini, Dias?” tanyanya datar dan tanpa emosi.

Dadaku sesak, terkejut. Dias?!

Aku sampai lupa cara berkedip. Tidak ada yang tahu nama itu di sini. Semua mengenaliku sebagai Shaqilah. Name tag-ku juga tertulis Shaqilah. Cuma Ayah yang memanggilku dengan Dias!

“Anda … nuduh saya?” Aku ketawa kecil. Demi menutup degub jantung yang riuh di dadaku.

“Saya cuma ingin lewat, Pak,” ucapku lagi, meski kemungkinan palsu sekali kedengarannya.

“Jalan pulangmu bukan lewat taman.” Pak Idris berkata tajam dan tegas.

Jantung kian laju. “Saya … lagi nyari ketenangan batin di taman, Pak.”

“Ketenangan batin sambil meluk pot bunga?”

Aku refleks menunduk. Sial! Tanganku memang lagi meluk satu pot anggrek kecil. Sejak kapan?

Seperti memegang setrika panas, Buru-buru kutaruh lagi di tempatnya. “Tadi mau jatuh, Pak. Refleks kutangkap,” jawabku lirih. Namanya juga usaha, kan….

“Refleks mau maling?" Suara Idris terdengar dingin.

Hatiku semakin kaget.

“Refleks … sikap pecinta tanaman anggrek, Pak,” dalihku. Meski tuduhannya yang tajam itu benar belaka, rasa hati sungguh nelangsa.

Wajah Idris tidak berubah. Lelaki itu seperti lahir tanpa otot buat ketawa, ekspresi datar melulu. Pasti diam-diam hidupnya pun tidak bahagia! Sepertiku ….

“Kau memang sengaja datang ke sini untuk mencuri bunga di penginapanku.” Ia masih kukuh dengan vonis dinginnya.

Aku mendecih. “Jangan nuduh tanpa bukti, Pak Idris.”

“Buktinya ada di tanganmu tadi.” Tatapannya berkilat, seperti menahan marah.

Aku membungkam. Sejak ayahnya kecelakaan bulan lalu, Idris memang sering datang. Tapi kami tidak pernah mengobrol. Dia putra bos besar. Aku cuma resepsionis yang hobinya pura-pura sibuk kalau dia lewat. Biasa, kacung cari selamat.

“Permisi, Pak!” kataku mendadak dengan cepat. Harga diriku sedang di ujung tanduk. Takut diperpanjang olehnya.

Aku kabur dari taman dengan muka terasa panas sebab cemas. Parah sekali, pertama berbincang sama bos, justru hampir ketangkap basah mau nyolong. Meski ini sudah terbiasa, tapi selalu membuatku malu seperti tidak punya muka.

🪭

Sampai asrama, perutku langsung demo unjuk rasa. Bunyinya bak petasan. Pantofel yang kulepas asal, mengenai sandal orang dan langsung mental lebih jauh.

Lemparan salamku tidak ada yang menyahut. Sudah biasa ….

Saat masuk rumah, mataku seketika memandang nanar ke meja. Tiga kotak burger!

Tidak hanya mata, perut pun langsung menyala. “Burger Lezat Daging Saos Pedas,” bacaku, penuh penghayatan.

Nggak ada nama. Nggak ada orang. Nggak ada saksi. Ya Tuhan … ini ujian level dewa.

🪭

Besoknya, aku pulang kerja sambil membawa tiga kotak pizza besar.

“Buset, banyak amat Sha?” Dina menyambut dengan tatapan bingung.

“Ho oh. Ambil sini, Din,” kataku sambil senyum tipis, perasaan masih dihantui oleh dosa.

“Dapat tip dolar tebalkah?” tanya Dina, matanya berbinar.

“Iya,” jawabku asal.

Padahal yang buat beli, reel dari dompet pribadiku. Kemarin burger Dina raib misterius. Hari ini aku tebus pakai pizza ukuran keluarga. Dina bawa satu kotak ke kamarnya sambil senyum-senyum bahagia. Hatiku pun sungguh lega. Aman, kuanggap kasus burger sudah tutup seketika!

Masuk kamar, Nola menyambut dramatis.

“Sha! Ada maling celana dalam lagi!” serunya bersemangat.

Aku hampir keseleo di tengah pintu tanpa bisa berbicara. “Hah …?”

“Dua celana dalam punya Mbak Friska hilang. Rok mini Winda juga lenyap! Malingnya fetis banget!”

Aku sedikit tertawa, hambar. Demi merespon baik berita yang dibawa Nola. Sumpah, maling kali ini bukan aku. Barang bekas, sama sekali bukan seleraku.

Yang bikin hati ngeri, berarti ada pencuri lain di lingkungan rumah asrama ini selainku?! Jelas sekali jika itu pencuri sungguhan. Seram. Ini jelas jauh beda dengan style mencuriku!

“Bikin gerah banget penyamun itu, Nol!” Aku menanggapi ucapan Nola.

Kubuka lemari plastik - fasilitas dari asrama, niat hati ambil handuk. Sungguh tergesa-gesa demi mengejar waktu. Maghrib hampir berlalu.

“Beneran, Sha! Sah, dia fetish doang. Yang ilang tuh yang jelek dan dari semua ukuran!

Brak! Lemari yang kupegang oleng mendadak. Lemari tarik sorong ini macet tiba-tiba. Napasku berhenti. Tanganku dingin.

Benda itu ... aku bahkan tidak ingat lagi kapan mengambilnya.

Aku capek hidup begini. Bukan karena tak punya uang. Bukan karena pengen sebab tak mampu beli. Tapi berat menolak dorongan aneh itu. Makin dilarang makin menggebu ingin ngembat.

Kini, dadaku terasa sesak. Di sela tumpukan baju-baju, tersembul kain warna ungu. Adalah penutup dada punya Nola yang baru dibeli dan hilang sebulan lalu ….

Nola sedang makan pizza dan duduk di ranjang belakangku. Apakah kali ini dia tahu?!

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

Azzurra
Azzurra
Naskah baru Thor? Laris manis naskahnya ya
2026-07-04 06:56:06
0
0
11 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status