Accueil / Romansa / Cinta di Antara Sawah / 14 I Jalan Terpisah

Share

14 I Jalan Terpisah

Auteur: Sriyatoen
last update Dernière mise à jour: 2025-09-24 18:00:53

“Jalan di sawah bisa beda arah, tapi akarnya tetap satu tanah.” — Peribahasa Jawa, Sidomulyo

Pagi di Sidomulyo cerah, matahari muncul di balik sawah yang masih basah sisa hujan kemarin. Pasar desa ramai, suara pedagang ayam dan tukang sayur bersahutan dengan lagu “Pergi Pagi Pulang Pagi” dari kaset Arman Maulana yang diputar di warung kopi Pak Haji.

Aroma ketan kukus dan pisang goreng nyebar, bercampur bau bensin dari motor CB 100 yang parkir sembarangan di pinggir jalan tanah. Nuansa 80-an terasa kental, dari poster “Tjoet Nja’ Dhien” yang ditempel di tembok warung sampe sepatu kets Warrior yang dipake anak-anak desa main layangan di lapangan kecil.

Ardi Santoso jalan pelan di pinggir pasar, tangannya megang surat lusuh dari Bapaknya, pikirannya kacau sama rahasia keluarga yang diceritain Pak Haji soal konflik tanah. Beneran Bapak Rendra nyolong tanah Bapak? pikirnya, sambil nendang kerikil di jalan, matanya nengok ke sawah keluarganya yang hijau mengilap di kejauhan.

Rendra Wijaya m
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • Cinta di Antara Sawah   60 I Cinta yang Abadi

    "Cinta sejati itu seperti sawah, memberi kehidupan tanpa henti meski musim berganti." --- Peribahasa Jawa, SidomulyoSepuluh tahun kemudian, 1998.Sidomulyo berubah drastis. Jalan sudah beraspal semua, pasar punya bangunan permanen, beberapa warga punya TV berwarna. Tapi sawah tetap hijau, tetap jadi identitas desa.Ardi Santoso berdiri di sawahnya yang sekarang lebih luas. Usianya tiga puluh tiga, rambut mulai ada uban tipis di pelipis. Di sampingnya berdiri Wulan, sudah tiga belas tahun, tinggi seperti ibunya, cantik dengan mata berbinar."Ayah, kapan kita panen?" tanya Wulan, menatap padi yang menguning sempurna.Ardi tersenyum. "Minggu depan, sayang. Kamu mau bantuin?" tanyanya, usap kepala Wulan.Wulan mangut semangat. "Mau! Aku kan anak petani," katanya, bangga.Ardi memeluk anaknya sebentar. Ayah, cucu loe hebat. Dia gak malu jadi anak petani, pikirnya, hati penuh syukur.Di bioskop, Sari berdiri di depan proyektor digital baru, hadiah dari pemerintah kabupaten karena bioskopnya

  • Cinta di Antara Sawah   59 I Kenangan di Antara Sawah

    "Kenangan itu seperti padi yang dipanen, tersimpan dalam hati selamanya." --- Peribahasa Jawa, SidomulyoLima tahun kemudian, 1993.Sidomulyo berubah. Jalan tanah sudah diaspal sebagian, pasar lebih ramai, beberapa rumah pake genteng merah menggantikan atap jerami. Tapi sawah tetap hijau, tetap jadi jantung desa.Ardi Santoso berdiri di pematang sawahnya, menatap hamparan padi yang siap panen. Usianya dua puluh tiga sekarang, tubuhnya lebih berotot dari kerja keras, wajahnya dewasa. Di tangannya ada ijazah sarjana pertanian dari UGM Yogyakarta, baru diterima seminggu lalu.Ayah, gue berhasil kuliah sambil jaga sawah, pikirnya, senyum tipis di wajah. Bu Sumarti ada di belakang, rambut mulai beruban tapi senyum tetap hangat."Ardi, Sari tunggu di bioskop," kata Bu Sumarti, menepuk bahu anaknya.Ardi mengangguk, jalan ke bioskop yang sekarang lebih besar. Dinding bambu diganti bata, atap seng diganti genteng, kursi kayu bertambah jadi lima puluh. Papan nama besar di depan: "Bioskop Wuland

  • Cinta di Antara Sawah   58 I Bioskop Baru

    "Mimpi itu seperti benih padi, harus ditanam dengan kerja keras untuk berbuah." --- Peribahasa Jawa, SidomulyoDua bulan setelah panen Ardi, Sidomulyo mulai berubah. Di lokasi bekas bioskop yang terbakar, bangunan kecil mulai berdiri. Atap seng merah, dinding bambu anyaman, lantai semen sederhana. Bukan bioskop mewah, tapi penuh harapan.Sari berdiri di depan bangunan itu, tangan di pinggang, senyum lebar di wajah. "Ibu, lihat. Mimpi kita mulai jadi kenyataan," bisiknya pelan, matanya berkaca bahagia.Ardi datang bawa bambu panjang di bahu, keringat membasahi kaos lusuhnya. "Mbak Sari, bambu terakhir. Kita pasang sekarang?" tanyanya, menurunkan bambu.Sari mengangguk semangat. "Ayo, Ardi. Kita pasang bareng," katanya, bantuin Ardi angkat bambu ke rangka atap.Rendra ada di belakang, paku kayu dengan palu tua. Wajahnya serius, tapi ada ketenangan di matanya. Gue bantuin mereka, bukan karena Mbak Sari lagi, tapi karena ini buat Sidomulyo, pikirnya.Pak Lurah datang dengan beberapa warga,

  • Cinta di Antara Sawah   57 I Ardi dan Sawah

    "Sawah itu seperti kehidupan, butuh kesabaran dan kerja keras untuk panen." --- Peribahasa Jawa, SidomulyoFajar menyingsing di sawah keluarga Santoso. Ardi bangun sebelum ayam berkokok, langsung turun ke sawah dengan cangkul di bahu. Embun masih tebal, kakinya basah begitu injak pematang. Bau tanah basah dan padi menguning bikin hatinya tenang.Ini warisan Ayah. Gue harus jaga baik-baik, pikirnya, mulai cangkul tanah di pinggir sawah yang belum rata.Bu Sumarti keluar rumah, bawa nasi bungkus dan air putih. "Ardi, sarapan dulu. Nanti sakit," katanya, taruh makanan di pematang.Ardi berhenti sebentar, duduk di samping ibunya. "Bu, gue mau fokus ke sawah dulu. Bikin panen ini maksimal," katanya, buka bungkus nasi. "Biar kita punya uang buat bantu Mbak Sari."Bu Sumarti tersenyum hangat. "Ardi, kamu anak baik. Tapi jangan lupa mimpimu kuliah," katanya, tangannya usap kepala Ardi.Ardi mengangguk. "Gue gak lupa, Bu. Tapi sekarang prioritas Mbak Sari dulu," katanya, makan cepat lalu balik

  • Cinta di Antara Sawah   56 I Rendra Menatap Masa Depan

    "Masa depan itu seperti sawah yang belum ditanami, penuh kemungkinan tapi butuh kerja keras." --- Peribahasa Jawa, SidomulyoPagi di Sidomulyo terasa lebih segar setelah hujan semalam. Rendra Wijaya bangun lebih awal dari biasanya, duduk di teras rumah Pak Lurah dengan secangkir kopi pahit. Matanya menatap sawah yang hijau, embun masih menempel di daun padi.Gue harus mulai dari mana? pikirnya, tangannya megang cangkir erat. Seminggu udah lewat sejak Sari pilih Ardi. Hatinya masih sakit, tapi dia tau harus jalan terus.Pak Lurah keluar, duduk di sampingnya. "Rendra, loe udah mikir?" tanyanya, suaranya lembut tapi tegas.Rendra mengangguk pelan. "Pak, gue mau tetep di Sidomulyo. Tapi gue gak mau cuma jadi penumpang," katanya, menatap Pak Lurah. "Gue mau berguna."Pak Lurah tersenyum. "Rendra, mulai hari ini loe bantu gue di balai desa. Kita butuh orang yang bisa baca dokumen legal, urus surat-surat tanah yang dirampas Pak Darmo," katanya. "Loe kan kuliah hukum, pasti ngerti."Rendra mat

  • Cinta di Antara Sawah   55 I Surat dari Masa Lalu

    "Masa lalu itu seperti benih di sawah, menentukan apa yang akan tumbuh." --- Peribahasa Jawa, SidomulyoSiang di Sidomulyo panas terik. Sari Wulandari duduk di gudang bioskop yang hangus, beresin puing-puing kayu terbakar. Tangannya kotor abu, keringat membanjiri dahi. Dia ambil pecahan kaca proyektor, hati-hati biar gak terluka.Ibu, aku gak tau harus mulai dari mana, pikirnya, matanya menyapu gudang yang hancur. Bau kayu gosong masih menyengat, bikin kepala pusing.Tiba-tiba, tangannya menyentuh sesuatu keras di bawah tumpukan kayu. Kotak kayu kecil, ukiran bunga melati di tutupnya. Sari kenal kotak ini. Kotak kesayangan ibunya yang selalu disimpan di sudut gudang.Sari angkat kotak itu pelan, debu beterbangan. Tangannya gemetar saat buka kunci kecil yang masih nempel. Di dalamnya ada surat-surat tua, foto-foto hitam putih, dan buku catatan tebal bersampul kain batik.Ini punya Ibu, pikirnya, air mata mulai berkumpul. Dia ambil buku catatan itu, buka halaman pertama. Tulisan tangan i

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status