LOGINHari itu langit sore berwarna jingga pucat ketika Binar keluar dari kantornya. Udara Jakarta yang padat dan berisik terasa sedikit lebih ringan ketika ponselnya bergetar.
Fady: Udah pulang kerja? Aku lagi di sekitar kantor kamu, kalau mau aku anter pulang. Binar tersenyum kecil. Tawaran sederhana, tapi entah kenapa membuat hatinya hangat. Ia mengetik cepat. Binar: Boleh, kebetulan lagi ga bawa mobil, lagi males macet-macetan. Beberapa menit kemudian, sebuah mobil hitam berhenti di depan gedung. Fady melambai dari balik kemudi. Senyumnya, masih sama seperti dulu menenangkan sekaligus membuat jantung Binar sedikit berdebar. Di dalam mobil, suasana awalnya canggung. Hanya suara radio yang mengisi keheningan, lagu lama yang entah kenapa terasa pas dengan keadaan mereka. “Inget lagu ini ngga?” tanya Fady akhirnya, sambil melirik sekilas. Binar mengangguk. “Inget dong, aku sering sharing playlist aku sama kamu kan.” Mereka tertawa kecil bersama. Perlahan, canggung itu mencair. Obrolan pun bergulir dari hal-hal remeh kemacetan, cuaca, hingga sesuatu yang lebih personal. “Aku sempat kepikiran,” kata Fady setelah jeda panjang, “kalau kita dulu nggak putus waktu kuliah, mungkin hidup kita sekarang beda banget, ya?” Binar terdiam. Ada getir yang singgah di hatinya. “Mungkin. Tapi ya, ngga akan bisa diulang juga kan.” Fady menoleh sebentar, matanya lembut. “Tapi, masih bisa dilanjutin kan? Dengan cara yang berbeda.” Binar menunduk, menggenggam tas di pangkuannya. Kata-kata itu sederhana, tapi nadanya serius, bukan main-main. Dan entah kenapa, bagian dirinya yang paling rapuh justru ingin percaya. --- Beberapa hari berikutnya, kebersamaan mereka jadi lebih sering. Kadang hanya sekadar makan siang di warung dekat kantor Binar. Kadang duduk lama di kafe, saling bercerita tentang pekerjaan masing-masing. Binar yang biasanya menjaga jarak dengan banyak orang, merasa ada ruang aman ketika bersama Fady. Ia bisa tertawa lepas, bisa mengeluh tanpa takut dihakimi. Fady, dengan segala kesederhanaannya, selalu mendengar dengan sabar. “Bin,” ucap Fady suatu malam saat mereka duduk di bangku taman kota, “kamu sadar nggak? Aku nggak pernah bisa ngobrol sepanjang ini sama orang lain. Cuma sama kamu.” Binar menoleh. “Emang iya? Kenapa?” Fady mengangkat bahu, tersenyum kecil. “Mungkin karena kamu nggak pernah maksa aku jadi orang lain. Kamu cuma… nerima.” Binar tercekat sejenak. Lalu ia tersenyum samar. “Padahal aku sering merasa gagal jadi diri sendiri.” “Kalau kamu gagal,” balas Fady pelan, “terus apa kabar aku?” Mata mereka bertemu dalam hening yang anehnya tidak lagi canggung. Ada sesuatu yang mengalir, bukan hanya nostalgia, tapi kenyamanan baru yang mereka temukan bersama. --- Tak terasa, kini Fady menjadi notifikasi favorit bagi Binar. Pesannya menjadi sesuatu yang ia nantikan setiap harinya. Padahal percakapan mereka tidak pernah muluk. Kadang hanya sebatas, “Udah makan?” atau “Macet nggak pulang tadi?” Namun entah bagaimana, percakapan ringan itu memberi ruang hangat dalam keseharian Binar. Ia tak pernah mengaku, tapi diam-diam ia menunggu suara notifikasi itu datang, seakan hidupnya lebih lengkap jika ada kabar dari Fady. Hari Minggu sore, Fady tiba-tiba mengajaknya ke toko buku. “Masih suka baca novel nggak, Bin? Kayaknya ada buku baru yang cocok buat kamu,” tulis Fady. Binar nyengir melihat pesan itu. “Sok tahu banget sih kamu. Oke deh, jemput aku atau ketemu di sana aja?” "Aku jemput kamu pake motor mau? Mobil aku lagi dipake sama Umi." Fady menawarkan menjemput Binar dengan motor. "Bolehhh. Nanti kalo udah siap aku kabarin kamu ya." Jujur saja, Binar merasa senang ketika ditawari dijemput memakai motor, karena rasanya seperti mengulang masa-masa dimana dulu mereka masih pacaran saat kuliah, kemana-mana naik motor. Mereka akhirnya sampai di sebuah toko buku besar di pusat kota. Di dalam toko buku, Fady berjalan cepat ke rak fiksi lalu mengambil satu novel. “Nih, cocok banget sama kamu. Ceritanya tentang perempuan kuat yang bisa bangkit setelah hidupnya berantakan. Kayak kamu.” Binar mengerling, pura-pura tersinggung. “Jadi kamu bilang hidup aku berantakan gitu?” Fady tertawa. “Bukan gitu maksudnya. Kamu bisa bangkit, Bin. Itu yang bikin aku kagum.” Senyum tipis muncul di wajah Binar, meski ia cepat-cepat mengalihkan pandangannya. Ada debar yang ingin ia sembunyikan. Malam itu, mereka tidak langsung pulang. Fady mengajak makan malam di warung tenda sederhana. Hanya nasi goreng, mie goreng, dan teh hangat. Tidak ada lilin, tidak ada musik romantis, tapi entah kenapa, suasana terasa lebih jujur dibanding makan malam di restoran manapun. Saat menunggu pesanan, Binar tiba-tiba berkomentar, “Kita nggak makan nasi goreng depan Horizon aja nih?” Fady mengerutkan dahi. “Hah? Kenapa tiba-tiba Horizon?” Binar tertawa kecil. “Ya, aku kan pernah makan sama kamu di situ. Eh, lebih tepatnya beli nasi goreng di situ, terus makan berdua di rumah om kamu.” Fady masih tampak bingung. “Seriusan? Emang iya, Bin?” “Jiahhh, lupa kan kamu. Yaudah deh kalau lupa.” Binar terkekeh, pura-pura santai. Fady mengusap tengkuknya. “Ya ampun, udah lama banget itu.” "Iya, lama… tapi aku masih inget banget detail malam itu. Kita beli nasi goreng Horizon, makan satu bungkus berdua di rumah om kamu. Daaaan…” Binar menggantungkan ceritanya. “Apaan sih? Lanjutin dong.” Fady menatapnya penasaran. “Serius lupa, Dy?” Ada nada kecewa di suara Binar. “Aku inget, tapi takut salah ngomong.” “Hmmm… iya takutnya salah inget memori sama cewek lain kali yaaaa.” Binar pura-pura tertawa, padahal wajahnya memanas menahan malu. Ia pun buru-buru melanjutkan makan tanpa bersuara. “Bin, ngambek ya?” tanya Fady hati-hati. “Enggak kok, ngambek kenapa?” jawab Binar singkat. “Iya ngambek, kan bener,” Fady mencubit pipi Binar. “Ihh Fady…” protes Binar, setengah malu setengah manja. “Kamu lucu banget kalau ngambek. Gemesin.” Fady mencondongkan badan sedikit, menatapnya lebih serius. “Aku inget, kok. Malam itu kamu ngajak ketemu aku, tapi aku bilang nggak bisa jajan karena cuma punya dua puluh ribu dikasih Umi. Kamu jawab, ‘nggak apa-apa, yang penting ketemu’. Tapi aku nggak tega lihat kamu kelaperan, jadi kita beli nasi goreng satu bungkus, makannya berdua di rumah om aku. Dan abis itu aku sama kamu…” Sebelum Fady sempat melanjutkan, Binar buru-buru menutup mulutnya dengan tangan. “Udah ih, malu. Jangan dilanjutin.” Fady terkekeh. “Loh, tadi kamu yang bahas duluan. Giliran aku inget, malah nggak mau diceritain. Malu kenapa coba? Kan kita berdua yang ngalamin.” “Ih Fady, diem nggak!” wajah Binar makin merah. Fady semakin gemas, senyumnya tak bisa ditahan. “Yaudah, mau direka ulang nggak kejadian malam itu? Kan abis makan nasi goreng juga nih…” ucapnya sambil menggoda. Binar mendelik, menunduk cepat-cepat. Pipinya panas, dadanya berdebar keras. Ia tahu, ada sesuatu yang mulai tumbuh lagi di antara mereka.Penutupan acara perusahaan Binar dimulai pukul sembilan pagi. Saat itu, Fady masih berada di kamar hotel, berusaha tidur setelah Binar menyuruhnya istirahat. Tapi istirahatnya tidak benar-benar membuatnya pulih. Kepalanya berat. Kulitnya masih terasa panas, namun sekaligus menggigil. Bekas alergi dingin di leher dan tangannya memang mulai mereda, tapi tubuhnya belum kembali normal. Efek dari tidur semalaman di mobil dan sempat kehujanan kemarin. Fady mencoba bangun dan duduk di pinggir ranjang, bernapas pelan sambil memegangi pelipis. Ia melihat jam, sudah jam 12 siang. Binar pasti masih sibuk di ballroom, dan dia tidak mungkin mengganggu. Ia sempat ingin mengetik pesan: “Sayang, aku pulang dulu ya.” Tapi jempolnya berhenti, lalu ia menghapus semuanya. Fady tahu Binar sedang acara penting. Ia tidak ingin terlihat lemah, tidak ingin Binar repot lagi, dan tidak ingin membuat kesan buruk setelah mereka baru saja berdamai. “Pulang aja, Dy,” gumamnya pada diri sendiri. Ia mengambil
Pagi masuk perlahan lewat tirai tipis kamar hotel, membentuk semburat keemasan di dinding. Binar terbangun pertama, seperti biasa. Tubuhnya masih berada dalam pelukan Fady, lengannya melingkar di pinggangnya seakan takut kehilangan. Ia diam sejenak, menatap wajah Fady yang masih tertidur nyenyak. Mengingat apa yang terjadi semalam antara keduanya, wajahnya memanas karena campuran rasa bahagia sekaligus malu. Binar menghembuskan napas pelan, seolah tak ingin membangunkannya, lalu mencoba bangkit perlahan. Tapi lengan Fady otomatis menahan. “Lima menit lagi…” gumamnya setengah sadar, suaranya berat dan serak. “Kamu tidur lagi aja gapapa,” jawab Binar, berbisik. “Aku yang harus siap-siap. Ada acara penutupan jam sembilan.” Fady akhirnya membuka mata, pelan, menatap Binar dari jarak yang terlalu dekat. “Pagi, Sayang.” katanya sambil tersenyum tipis lalu mengecup kening Binar. Hati Binar menghangat, juga ada sesuatu yang terasa menggelitik di perutnya. “Pagi,” jawabnya, mencoba menj
Udara Bandung malam itu dingin seperti biasanya. Tetesan embun sisa-sisa hujan menempel di kaca hotel. Suasa kamar dengan lampu yang temaram seolah menjadi latar pendukung untuk dua manusia yang sedang dimabuk rindu. "Sayang.. ahh" Desahan demi desahan lolos dari mulut Binar tanpa bisa ditahan. Melihat wanitanya sudah setengah "mabuk", Fady secara tiba-tiba berhenti yang membuat Binar menatapnya dengan tatapan sayu seolah berkata, "Ayo lanjutkan, sayang. Kenapa berhenti?" "Kalau kamu mau berhenti, berhenti sekarang. Selanjutnya, kamu gak akan bisa nahan aku lagi. Kita harus menyelesaikan apa yang sudah dimulai." Ucap Fady sambil menelusuri tubuh polos Binar dari bibir turun ke bawah sampai perutnya. Binar sudah tak mampu berkata apapun. Kepalanya sudah tak mampu berpikir jernih, jangankan untuk menolak, bahkan kata "iya" pun sudah tak sanggup lagi dia katakan. Matanya memejam dan tubuhnya merinding hebat seolah terkena sengatan listrik yang disalurkan Fady lewat sentuhan, kec
"Sayang, serius kamu mau ngelakuin itu sekarang?" Tanya Fady memastikan kembali. "Hmm. Kamu bawa pengaman?" Tanya Binar dengan tatapan yang sulit diartikan. Fady mengernyitkan dahinya, ia pikir Binar sudah ingin berhenti tadi, tapi kemudian menggodanya lagi, sekarang? "Ahh kamu ngerjain aku ya?" Sambil merebahkan tubuhnya yang tadi setengah menindih Binar. Ia mengusap wajahnya kasar, mencoba meredam gairahnya yang sudah sepenuhnya terpancing. "Gak enak kan ditarik ulur?" Ucap Binar sambil melirik Fady, seolah puas sudah berhasil mengerjainya. "Bin.." Panggil Fady dengan nada sedikit merengek tak terima. Sementara Binar hanya tertawa kecil melihat tingkah manja kekasihnya. "Ya udah ah, aku mau berendam air dingin aja." Ujar Fady sambil bangkit dari kasur dan berjalan ke kamar mandi menuju ke bath up. --- Untuk meredam hawa panas di tubuhnya akibat pergulatan yang tak tuntas, Fady berendam dalam air dingin di bath up, tentunya tanpa mengenakan baju. Ketika dia menc
Langit Bandung sore itu kembali menangis. Rintik hujan turun deras, membasahi jalanan dan kaca mobil Fady yang berhenti di area parkir hotel. Di jok sebelahnya, sebuket lily putih terbungkus kertas cokelat muda. Di sampingnya, sekotak kecil cokelat premium dan secarik kertas yang ditulis terburu-buru namun penuh perasaan: "Tak ada kata-kata yang cukup untuk menggambarkan betapa beruntungnya aku bisa menjadi bagian dari hidup kamu. Terimakasih, Binar sayang." Fady menghela napas pelan. Ia tahu tubuhnya belum sepenuhnya pulih dari alergi, tapi entah kenapa, langkahnya terasa ringan. Setelah merasa agak baikan, tadi ia segera pergi dari hotel untuk mencari apa yang pantas dihadiahkan pada Binar. Ia tak ingin menunggu. Ia ingin segera melihat senyum Binar, senyum yang selalu membuat hari-harinya terasa hangat. Tanpa payung, ia keluar dari mobil, membiarkan hujan membasahi rambut dan bahunya. Napasnya tampak mengepul di udara dingin, namun langkahnya terus menapak cepat menuju lobi.
Setelah percakapan panjang di sofa itu, suasana kamar menjadi hening. Hanya suara detik jam dinding yang terdengar samar. Fady bersandar ke belakang, matanya menatap langit-langit. Rasanya berat bukan karena kelelahan fisik, tapi karena emosi yang baru saja tumpah. Binar menatapnya sekilas. Ada sisa teduh di wajahnya, meski bibirnya belum sepenuhnya tersenyum. “Hmm. Udah gak ada yang mau diomongin lagi kan?” tanyanya pelan, mencoba menjaga agar suasana tak kembali tegang. Fady menegakkan tubuh, tersenyum kecil. “Udah. Makasih ya kamu masih mau dengerin.” Ia menatap jam di dinding. Sudah hampir tengah malam. “Aku pamit, ya. Takutnya kamu mau istirahat.” Binar sempat menatap heran. “Loh, pamit kemana?" “Mau booking kamar.” jawab Fady ringan, berusaha terdengar wajar. “Ngga mungkin tidur sekamar kan? Lagian kamu pasti capek, aku gak mau ganggu waktu istirahat kamu.” Binar mengangguk pelan, tidak menahan, tapi ekspresi matanya sempat berubah sejenak seolah ada rasa iba yang tidak i







