Mag-log inNotif pesan masuk di ponselnya membuat Binar berhenti sejenak dari layar laptop. Nama yang muncul di layar membuatnya menghela napas, setengah kaget, setengah… entah apa.
Fady: Bin, kamu lagi sibuk ngga akhir pekan? Alis Binar terangkat. Ia sempat menatap lama pesan singkat itu, jari-jarinya menggantung di atas keyboard. Rasanya aneh membaca pesan dari seseorang yang dulu pernah begitu dekat, lalu hilang, lalu muncul kembali seakan waktu tak benar-benar memisahkan. Binar: Sibuk sih ngga… kenapa emang? Balasannya hanya butuh beberapa detik. Fady: Mau ngopi ngga? Ada Kafe baru di deket daerah Kampus, katanya Kopi Lattenya enak. Binar tersenyum kecil. Ajakan ngopi. Kalimat sederhana, tapi cukup untuk membuat hatinya berdebar. Ia mengetik pelan, mencoba terdengar santai. Binar: Hmm… boleh. Cuma ngopi kaaaan? Fady: Haha iyaa cuma ngopi. Tapi, kalo sambil sesi konsultasi asmara boleh kan? Binar : Haha kalo itu kamu salah alamat, Fady. Aku konsultan Periklanan, bukan Konsultan Asmara yaa. Binar tersenyum kecil, lalu menutup ponsel. Ada sesuatu yang bergetar halus dalam dirinya antara ragu, penasaran, dan rasa nyaman yang tiba-tiba kembali hadir. --- Keesokan harinya, kafe itu jadi titik temu mereka. Binar masih duduk di kursinya ketika Fady datang membawa 2 cup minuman, 1 cup Ice Coffee Latte untuk Binar dan 1 kopi hitam panas untuk dirinya sendiri. Aroma kopi hitam menyeruak, seakan membawa mereka ke masa kuliah dulu, masa ketika mereka kerap menghabiskan waktu di kantin sederhana sambil membicarakan mimpi. "Ice coffee latte“ ujar Fady menyodorkan kopi yang ia pesankan untuk Binar dan iapun duduk berhadapan dengan Binar. "Thankyou." ucap Binar, kemudian menyeruput kopinya. "Hmm, masih sama ya,” ujar Binar sambil melirik ke cup kopi yang Fady pegang, “Hitam, tanpa gula. Kayak dulu.” Fady hanya tersenyum menanggapinya. Binar terkekeh kecil. “Aku kadang heran, kamu bisa tahan minum kopi tanpa manis sama sekali.” “Udah kebiasaan. Pahitnya kopi sih masih mending. Ketimbang pahitnya hidup…” Fady berhenti, lalu tersenyum tipis. Kalimat itu membuat suasana hening sejenak. Binar menatapnya, merasa ada sesuatu yang lebih berat di balik senyum tipis itu. “Are you okay, Dy?” tanyanya pelan. Fady menatap ke arah luar jendela, melihat kendaraan lalu-lalang. “Hmm jujur ga begitu baik, Bin. Aku ngerasa gagal banget. Nggak cuma soal kerjaan, tapi juga soal… hubungan.” Binar tidak menyela. Ia tahu, Fady sedang berusaha membuka sesuatu yang lama ia pendam. “Mungkin kamu juga sempet denger kabarnya, dulu aku sempat hampir nikah sama seseorang. Namanya Syifa,” lanjutnya, suaranya nyaris seperti bisikan. “Tapi batal. Dua tahun lalu. Alasannya sederhana: aku nggak bisa kasih apa yang dia mau. Karierku lagi jatuh, uangku tipis, sementara dia pengen pesta mewah, mahar besar, hidup yang mapan. Aku nggak bisa penuhi itu.” Tatapan Fady meredup. “Sejak itu aku mikir… mungkin aku emang nggak layak buat siapa pun. Ditinggalin nikah sama kamu dulu, terus ditinggal nikah sama Syifa. Rasanya kayak… aku selalu nggak cukup, kayak hidup tuh ngejek aku. ” Binar terdiam, hatinya tercekat. Ada bagian dari dirinya yang ingin menyela, ingin mengatakan bahwa ia dulu menikah bukan karena Fady tak cukup, melainkan karena keadaan yang memaksanya. Tapi kalimat itu tertahan di tenggorokannya. Ia tahu Fady tidak sedang melebih-lebihkan. Laki-laki itu pernah begitu percaya diri, penuh semangat meraih mimpi. Kini ia terdengar lebih rapuh. “Dy, jangan ngomong gitu,” Binar akhirnya berkata, suaranya hangat tapi tegas. “Kamu nggak kurang apa-apa. Aku yakin kamu masih laki-laki yang sama… yang selalu punya mimpi, yang selalu bikin orang di sekitarnya yakin kalau semua mungkin.” Fady menatapnya lama, seolah mencari kebenaran dalam sorot mata Binar. Binar meraih tangan Fady, menggenggamnya untuk memberi keyakinan, "Kalau kamu lagi ngerasa jatuh, it's okay, tapi harus bangkit ya, kamu berharga." Keheningan menyelimuti mereka beberapa saat. Di luar, hujan mulai turun, rintik-rintik mengetuk kaca jendela kafe. Udara memang terasa dingin, tapi tidak dengan hati Binar dan Fady yang sama-sama terasa hangat. Fady tersenyum tipis. “Ternyata ngobrol sama kamu masih bikin aku tenang. Sama kayak dulu... Rasanya kayak nemuin potongan puzzle yang hilang. Padahal aku sempat yakin, nggak akan pernah berani mulai apa pun lagi.” Binar tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana. “Hati-hati, nanti kamu baper lagi.” “Kalau itu… kayaknya udah telanjur deh,” jawab Fady cepat, membuat Binar menoleh terkejut. Tapi Fady hanya meneguk kopinya, pura-pura tenang. Binar menggigit bibir, menahan senyum. Hatinya berdebar, tapi ia memilih diam. Mungkin memang belum saatnya ia membuka semua perasaannya. Obrolan mereka berlanjut dengan jeda-jeda panjang. Kadang diselingi tawa kecil mengenang masa kuliah, kadang kembali tenggelam dalam diam saat topik menjadi terlalu pribadi. Namun satu hal jelas: ada ruang yang kembali terbuka di antara mereka. Ruang yang dulu pernah ada, sempat terkunci, kini mulai terisi lagi. --- Malam itu, setelah mereka berpisah, Fady berdiri lama di depan jendela kamarnya. Kota masih sibuk di luar sana, lampu-lampu kendaraan berkelip seperti bintang yang jatuh ke bumi. Tangannya menggenggam segelas air mineral yang sejak tadi tak ia minum. Tatapan Binar tadi sore, entah kenapa, berbeda. Ada luka di sana. Luka yang ia kenali, karena ia pun punya luka yang sama. Pesannya sudah terbaca meski tak dibalas: Hati-hati di jalan, Bin. Dan hanya itu saja sudah cukup membuatnya tersenyum samar. Setidaknya kali ini aku punya kesempatan. Mungkin… untuk menutup yang dulu belum sempat selesai. Atau setidaknya, untuk tahu apakah aku masih pantas mencoba. Malam makin larut, tapi hatinya justru semakin berisik. Fady tahu, apa pun yang akan terjadi setelah ini, hidupnya tak akan sama lagi karena Binar sudah kembali, membawa serta semua kenangan yang selama ini ia coba kubur.Penutupan acara perusahaan Binar dimulai pukul sembilan pagi. Saat itu, Fady masih berada di kamar hotel, berusaha tidur setelah Binar menyuruhnya istirahat. Tapi istirahatnya tidak benar-benar membuatnya pulih. Kepalanya berat. Kulitnya masih terasa panas, namun sekaligus menggigil. Bekas alergi dingin di leher dan tangannya memang mulai mereda, tapi tubuhnya belum kembali normal. Efek dari tidur semalaman di mobil dan sempat kehujanan kemarin. Fady mencoba bangun dan duduk di pinggir ranjang, bernapas pelan sambil memegangi pelipis. Ia melihat jam, sudah jam 12 siang. Binar pasti masih sibuk di ballroom, dan dia tidak mungkin mengganggu. Ia sempat ingin mengetik pesan: “Sayang, aku pulang dulu ya.” Tapi jempolnya berhenti, lalu ia menghapus semuanya. Fady tahu Binar sedang acara penting. Ia tidak ingin terlihat lemah, tidak ingin Binar repot lagi, dan tidak ingin membuat kesan buruk setelah mereka baru saja berdamai. “Pulang aja, Dy,” gumamnya pada diri sendiri. Ia mengambil
Pagi masuk perlahan lewat tirai tipis kamar hotel, membentuk semburat keemasan di dinding. Binar terbangun pertama, seperti biasa. Tubuhnya masih berada dalam pelukan Fady, lengannya melingkar di pinggangnya seakan takut kehilangan. Ia diam sejenak, menatap wajah Fady yang masih tertidur nyenyak. Mengingat apa yang terjadi semalam antara keduanya, wajahnya memanas karena campuran rasa bahagia sekaligus malu. Binar menghembuskan napas pelan, seolah tak ingin membangunkannya, lalu mencoba bangkit perlahan. Tapi lengan Fady otomatis menahan. “Lima menit lagi…” gumamnya setengah sadar, suaranya berat dan serak. “Kamu tidur lagi aja gapapa,” jawab Binar, berbisik. “Aku yang harus siap-siap. Ada acara penutupan jam sembilan.” Fady akhirnya membuka mata, pelan, menatap Binar dari jarak yang terlalu dekat. “Pagi, Sayang.” katanya sambil tersenyum tipis lalu mengecup kening Binar. Hati Binar menghangat, juga ada sesuatu yang terasa menggelitik di perutnya. “Pagi,” jawabnya, mencoba menj
Udara Bandung malam itu dingin seperti biasanya. Tetesan embun sisa-sisa hujan menempel di kaca hotel. Suasa kamar dengan lampu yang temaram seolah menjadi latar pendukung untuk dua manusia yang sedang dimabuk rindu. "Sayang.. ahh" Desahan demi desahan lolos dari mulut Binar tanpa bisa ditahan. Melihat wanitanya sudah setengah "mabuk", Fady secara tiba-tiba berhenti yang membuat Binar menatapnya dengan tatapan sayu seolah berkata, "Ayo lanjutkan, sayang. Kenapa berhenti?" "Kalau kamu mau berhenti, berhenti sekarang. Selanjutnya, kamu gak akan bisa nahan aku lagi. Kita harus menyelesaikan apa yang sudah dimulai." Ucap Fady sambil menelusuri tubuh polos Binar dari bibir turun ke bawah sampai perutnya. Binar sudah tak mampu berkata apapun. Kepalanya sudah tak mampu berpikir jernih, jangankan untuk menolak, bahkan kata "iya" pun sudah tak sanggup lagi dia katakan. Matanya memejam dan tubuhnya merinding hebat seolah terkena sengatan listrik yang disalurkan Fady lewat sentuhan, kec
"Sayang, serius kamu mau ngelakuin itu sekarang?" Tanya Fady memastikan kembali. "Hmm. Kamu bawa pengaman?" Tanya Binar dengan tatapan yang sulit diartikan. Fady mengernyitkan dahinya, ia pikir Binar sudah ingin berhenti tadi, tapi kemudian menggodanya lagi, sekarang? "Ahh kamu ngerjain aku ya?" Sambil merebahkan tubuhnya yang tadi setengah menindih Binar. Ia mengusap wajahnya kasar, mencoba meredam gairahnya yang sudah sepenuhnya terpancing. "Gak enak kan ditarik ulur?" Ucap Binar sambil melirik Fady, seolah puas sudah berhasil mengerjainya. "Bin.." Panggil Fady dengan nada sedikit merengek tak terima. Sementara Binar hanya tertawa kecil melihat tingkah manja kekasihnya. "Ya udah ah, aku mau berendam air dingin aja." Ujar Fady sambil bangkit dari kasur dan berjalan ke kamar mandi menuju ke bath up. --- Untuk meredam hawa panas di tubuhnya akibat pergulatan yang tak tuntas, Fady berendam dalam air dingin di bath up, tentunya tanpa mengenakan baju. Ketika dia menc
Langit Bandung sore itu kembali menangis. Rintik hujan turun deras, membasahi jalanan dan kaca mobil Fady yang berhenti di area parkir hotel. Di jok sebelahnya, sebuket lily putih terbungkus kertas cokelat muda. Di sampingnya, sekotak kecil cokelat premium dan secarik kertas yang ditulis terburu-buru namun penuh perasaan: "Tak ada kata-kata yang cukup untuk menggambarkan betapa beruntungnya aku bisa menjadi bagian dari hidup kamu. Terimakasih, Binar sayang." Fady menghela napas pelan. Ia tahu tubuhnya belum sepenuhnya pulih dari alergi, tapi entah kenapa, langkahnya terasa ringan. Setelah merasa agak baikan, tadi ia segera pergi dari hotel untuk mencari apa yang pantas dihadiahkan pada Binar. Ia tak ingin menunggu. Ia ingin segera melihat senyum Binar, senyum yang selalu membuat hari-harinya terasa hangat. Tanpa payung, ia keluar dari mobil, membiarkan hujan membasahi rambut dan bahunya. Napasnya tampak mengepul di udara dingin, namun langkahnya terus menapak cepat menuju lobi.
Setelah percakapan panjang di sofa itu, suasana kamar menjadi hening. Hanya suara detik jam dinding yang terdengar samar. Fady bersandar ke belakang, matanya menatap langit-langit. Rasanya berat bukan karena kelelahan fisik, tapi karena emosi yang baru saja tumpah. Binar menatapnya sekilas. Ada sisa teduh di wajahnya, meski bibirnya belum sepenuhnya tersenyum. “Hmm. Udah gak ada yang mau diomongin lagi kan?” tanyanya pelan, mencoba menjaga agar suasana tak kembali tegang. Fady menegakkan tubuh, tersenyum kecil. “Udah. Makasih ya kamu masih mau dengerin.” Ia menatap jam di dinding. Sudah hampir tengah malam. “Aku pamit, ya. Takutnya kamu mau istirahat.” Binar sempat menatap heran. “Loh, pamit kemana?" “Mau booking kamar.” jawab Fady ringan, berusaha terdengar wajar. “Ngga mungkin tidur sekamar kan? Lagian kamu pasti capek, aku gak mau ganggu waktu istirahat kamu.” Binar mengangguk pelan, tidak menahan, tapi ekspresi matanya sempat berubah sejenak seolah ada rasa iba yang tidak i







