Share

Pagi Setelah Hujan

Author: Sigi Allegra
last update Last Updated: 2025-09-30 23:04:19

Setelah percakapan panjang, Binar bangkit dari sofa. Ia mengambil selimut dan bantal dari lemari kecil di kamar, lalu kembali ke ruang tamu.

“Nih, selimut sama bantal buat kamu. Sofanya lumayan empuk kok,” ucap Binar sambil meletakkannya di sofa.

Fady tersenyum, meski matanya masih menyimpan sisa kecanggungan. “Makasih, Bin. Serius, aku udah ngerepotin banget malam ini.

“Ga repot, Dy seriuuus. Kalo repot aku suruh kamu pulang sekarang juga."

Binar terkekeh sambil merapikan selimut. Fady memperhatikan gerakannya, lalu tiba-tiba menarik ujung selimut itu, membuat Binar menoleh.

“Apa lagi, Dy?” tanyanya setengah protes.

Fady menatapnya lembut. “Makasih ya, Bin."

Binar berdehem kecil. “Iyaa udah ah, istirahat. Besok kan mau cari sarapan bareng katanya.”

Fady mengangguk, tapi sebelum Binar melangkah ke kamar, ia bersuara lagi.

“Bin.”

Binar menoleh. “Hmm?”

“Good night.” Tatapan Fady lembut, senyumnya tipis tapi penuh arti.

Binar mengangguk pelan, lalu membalas dengan suara lirih. “Good night, Dy.”

Ia lalu masuk ke kamarnya, meninggalkan Fady yang kini berbaring di sofa dengan senyum yang tak bisa ia tahan. Di luar, hujan masih deras, tapi di dalam apartemen itu, ada kehangatan baru yang membuat keduanya sulit memejamkan mata terlalu cepat.

---

Pagi masih agak mendung sisa hujan semalam, tapi udara Sabtu terasa segar. Dari jendela, Binar melirik ke jalanan yang mulai ramai.

Fady terbangun di sofa, meregangkan tubuhnya dengan malas. Rambutnya masih acak-acakan, dan selimut yang diberikan Binar semalam sudah setengah terjatuh ke lantai. Ia sempat bengong beberapa detik, lalu tersenyum sendiri, menyadari bahwa semalam ia benar-benar tertidur di apartemen Binar.

“Eh, udah bangun?” Suara Binar dari dapur membuatnya menoleh.

Binar berdiri dengan rambut digelung seadanya, mengenakan kaus oversized abu-abu dan celana pendek. Wajahnya tanpa riasan, tapi justru terlihat segar dan natural. Ia sedang mengambil sesuatu di kulkas, botol kecil berisi cairan berwarna kuning.

Fady menghampiri Binar ke dapur, membayangkan bisa memeluk Binar dari belakang, seperti adegan-adegan yang sering terjadi di drama. Tapi, dia masih hati-hati dan canggung, takut Binar merasa belum nyaman.

"Minum apa, Bin?" Tanya Fady ketika melihat Binar meminum air yang berwarna kuning tadi.

"Oh ini, ini jamu. Kamu mau?"

"Jamu apa sih emang?" Tanya Fady penasaran.

"Ya campur-campur ini, jahe, kunyit, sereh. Semalem kan abis kehujanan, biar fit minum jamu. Enak loh seger." Binar menjelaskan.

"Ouhhh. Boleh deh. Bikin sendiri itu?" Tanya Fady.

"Iyaaa sengaja bikin, kan aku sering begadang gitu kalau lagi bikin bahan presentasi, minum kopilah ini itu. Detox nya minum jamu, sengaja nyetok bikin kalau weekend senggang." Binar kembali menjelaskan sambil membuka pintu kulkas, mengambil jamu untuk Fady.

Fady meminum jamu itu dan sedikit belum terbiasa dengan rasanya yang agak pahit, tapi lumayan terselamatkan karena dalam kondisi masih dingin.

"Mau aku bikin stok juga buat kamu? Biar sekalian." Tawar Binar kepada Fady.

"Perhatian banget nih sama aku, jadi geer." Fady terkekeh.

"Dih ampun deh, ga jadi nawarin ah." Ucap Binar pura-pura sinis.

"Haha iya, Bin. Boleh banget bikinin buat aku. Makasih yaa, cantik" Fady sedikit merayu.

"Sempet-sempetnya gombal pagi-pagi. Mandi gih, kan katanya mau ke CFD, keburu bubar lohh" Ujar Binar.

"Emang kamu udah mandi, Bin? Tanya Fady sambil mendekat ke arah Binar seolah mencoba mencium aroma tubuh Binar.

"Emang ga keliatan ya, Dy? Ga kecium udah wangi gini? Belum ganti baju aja ini." Jawab Binar dengan nada sinis.

"Hahaha sengaja sih aku nanya gitu, biar kamu cemberut, gemes liatnya." Goda Fady sambil mencubit hidung Binar. "Apalagi wangi tubuh kamu, ga pake parfum aja bikin aku candu"

Pujian Fady sekaligus godaan itu sukses membuat Binar salah tingkah.

"Sumpah ih iseng banget, mandi gihh" Binar mendorong tubuh Fady agar cepat mandi.

"Iya iyaaa ini aku mandi."

---

Setelah bersiap, Binar dan Fady berjalan menuju Car Free Day yang lokasinya tak jauh dari Apartemen Binar. Mereka mencari sarapan disana.

"Bin, mau sarapan apa?" Tanya Fady.

"Apa ya? Bingung banget banyak pilihan." Jawab Binar sambil menoleh kanan-kiri.

"Aku lagi pengen bubur deh, kamu mau juga atau mau yang lain?" Karena tahu kebiasaan Binar yang sering bingung pilih makanan, Fady inisiatif untuk menawarkan pilihan.

"Hmm. Yaudah deh boleh." Akhirnya Binar mengikuti pilihan Fady.

Mereka pun berjalan menuju gerobak tukang bubur, tapi sayangnya tempat duduknya penuh.

"Bin, mau dibungkus aja makan di Apart? Ga kebagian tempat duduk nih kayaknya kita." Ujar Fady.

"Yaudah bungkus aja, Dy." Jawab Binar. "Kamu mau beli apa lagi? Biar aku yang beli, kamu nunggu disini" Tawar Binar.

"Eh ga gitu, yang bener kamu disini tunggu, aku yang jalan beli yang lain kalau kamu masih ada yang mau dibeli." Fady menolak tawaran Binar.

"Aku pengen beli Dimsum mentai sama Es Kopi Gula Aren."

"Okay, Princess. Aku beliin yaa, tunggu sini jangan kemana-mana. Jangan lirik-lirik cowok ganteng yang lewat yaa." Ujar Fady dengan nada sedikit menggoda.

"Dihh, yang ada kamu lirik-lirik cewek cantik!" Protes Binar.

---

Akhirnya, mereka sampai di Apartemen Binar. Binar langsung menuju dapur untuk mengambil peralatan makan, diikuti Fady yang membawa tentengan makanan dan minuman. Setelah selesai dipindahkan, makanan pun dibawa ke meja makan dan mereka pun duduk berhadapan.

Mereka mulai makan sambil ngobrol ringan.

"Dy, itu buburnya kok ga diaduk?" Tanya Binar.

"Kalau diaduk mah jadi ga enak diliat, Bin. Gak estetik gitu loh" Jawab Fady.

"Ih mana enak bubur ga diaduk, Dy. Aku sih tim bubur diaduk jadi bumbunya kayak blend semua gitu" Jelas Binar.

"Haha beda selera kita, gapapa yang jelas seleraku cuma kamu sih, Bin"

"Tiba-tiba banget, ada aja bahan gombalnya."

Merekapun terkekeh sambil lanjut makan.

“Bin, aku lupa. Kamu masih suka baca buku sebelum tidur?” tanya Fady di sela kunyahan.

“Masih. Tapi sekarang lebih sering ketiduran duluan sebelum bukunya kebaca. Capek kerja, Dy.”

Fady mengangguk. “Kamu kerja keras banget ya. Aku salut, sumpah.”

Binar menatapnya, lalu tersenyum samar. “Aku ga punya pilihan lain, Dy. Harus jalan terus. Kalau engga, aku bisa kalah sama keadaan.”

Fady terdiam sejenak, lalu menatap Binar lebih serius. “Bin… kamu kuat banget. Aku nggak tau kalau aku ada di posisi kamu, bisa setegar itu atau nggak.”

Binar sempat terdiam, lalu mengalihkan pandangan ke piringnya. “Aku nggak sekuat itu, Dy. Kadang… aku juga rapuh. Tapi kalau aku berhenti, semua runtuh.”

Suasana hening sebentar, lalu Fady berusaha mencairkan dengan senyum. “Kalau gitu, mulai sekarang biarin aku nemenin kamu. Jadi kamu nggak harus terus pura-pura kuat sendirian.”

Binar mengangkat wajahnya, menatap Fady. Hatinya berdesir, tapi ia memilih tersenyum tipis. “Makan dulu, nanti keburu dingin.”

Mereka pun melanjutkan sarapan. Hangat dan sederhana, tapi jelas berbeda seakan-akan pagi itu bukan hanya sekadar sarapan, melainkan awal dari sesuatu yang baru.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cintaku, Berhenti di Kamu   Lelaaah

    Penutupan acara perusahaan Binar dimulai pukul sembilan pagi. Saat itu, Fady masih berada di kamar hotel, berusaha tidur setelah Binar menyuruhnya istirahat. Tapi istirahatnya tidak benar-benar membuatnya pulih. Kepalanya berat. Kulitnya masih terasa panas, namun sekaligus menggigil. Bekas alergi dingin di leher dan tangannya memang mulai mereda, tapi tubuhnya belum kembali normal. Efek dari tidur semalaman di mobil dan sempat kehujanan kemarin. Fady mencoba bangun dan duduk di pinggir ranjang, bernapas pelan sambil memegangi pelipis. Ia melihat jam, sudah jam 12 siang. Binar pasti masih sibuk di ballroom, dan dia tidak mungkin mengganggu. Ia sempat ingin mengetik pesan: “Sayang, aku pulang dulu ya.” Tapi jempolnya berhenti, lalu ia menghapus semuanya. Fady tahu Binar sedang acara penting. Ia tidak ingin terlihat lemah, tidak ingin Binar repot lagi, dan tidak ingin membuat kesan buruk setelah mereka baru saja berdamai. “Pulang aja, Dy,” gumamnya pada diri sendiri. Ia mengambil

  • Cintaku, Berhenti di Kamu   Sebelum Badai Datang

    Pagi masuk perlahan lewat tirai tipis kamar hotel, membentuk semburat keemasan di dinding. Binar terbangun pertama, seperti biasa. Tubuhnya masih berada dalam pelukan Fady, lengannya melingkar di pinggangnya seakan takut kehilangan. Ia diam sejenak, menatap wajah Fady yang masih tertidur nyenyak. Mengingat apa yang terjadi semalam antara keduanya, wajahnya memanas karena campuran rasa bahagia sekaligus malu. Binar menghembuskan napas pelan, seolah tak ingin membangunkannya, lalu mencoba bangkit perlahan. Tapi lengan Fady otomatis menahan. “Lima menit lagi…” gumamnya setengah sadar, suaranya berat dan serak. “Kamu tidur lagi aja gapapa,” jawab Binar, berbisik. “Aku yang harus siap-siap. Ada acara penutupan jam sembilan.” Fady akhirnya membuka mata, pelan, menatap Binar dari jarak yang terlalu dekat. “Pagi, Sayang.” katanya sambil tersenyum tipis lalu mengecup kening Binar. Hati Binar menghangat, juga ada sesuatu yang terasa menggelitik di perutnya. “Pagi,” jawabnya, mencoba menj

  • Cintaku, Berhenti di Kamu   Memilikimu Seutuhnya

    Udara Bandung malam itu dingin seperti biasanya. Tetesan embun sisa-sisa hujan menempel di kaca hotel. Suasa kamar dengan lampu yang temaram seolah menjadi latar pendukung untuk dua manusia yang sedang dimabuk rindu. "Sayang.. ahh" Desahan demi desahan lolos dari mulut Binar tanpa bisa ditahan. Melihat wanitanya sudah setengah "mabuk", Fady secara tiba-tiba berhenti yang membuat Binar menatapnya dengan tatapan sayu seolah berkata, "Ayo lanjutkan, sayang. Kenapa berhenti?" "Kalau kamu mau berhenti, berhenti sekarang. Selanjutnya, kamu gak akan bisa nahan aku lagi. Kita harus menyelesaikan apa yang sudah dimulai." Ucap Fady sambil menelusuri tubuh polos Binar dari bibir turun ke bawah sampai perutnya. Binar sudah tak mampu berkata apapun. Kepalanya sudah tak mampu berpikir jernih, jangankan untuk menolak, bahkan kata "iya" pun sudah tak sanggup lagi dia katakan. Matanya memejam dan tubuhnya merinding hebat seolah terkena sengatan listrik yang disalurkan Fady lewat sentuhan, kec

  • Cintaku, Berhenti di Kamu   Rindu yang Tak Terbendung

    "Sayang, serius kamu mau ngelakuin itu sekarang?" Tanya Fady memastikan kembali. "Hmm. Kamu bawa pengaman?" Tanya Binar dengan tatapan yang sulit diartikan. Fady mengernyitkan dahinya, ia pikir Binar sudah ingin berhenti tadi, tapi kemudian menggodanya lagi, sekarang? "Ahh kamu ngerjain aku ya?" Sambil merebahkan tubuhnya yang tadi setengah menindih Binar. Ia mengusap wajahnya kasar, mencoba meredam gairahnya yang sudah sepenuhnya terpancing. "Gak enak kan ditarik ulur?" Ucap Binar sambil melirik Fady, seolah puas sudah berhasil mengerjainya. "Bin.." Panggil Fady dengan nada sedikit merengek tak terima. Sementara Binar hanya tertawa kecil melihat tingkah manja kekasihnya. "Ya udah ah, aku mau berendam air dingin aja." Ujar Fady sambil bangkit dari kasur dan berjalan ke kamar mandi menuju ke bath up. --- Untuk meredam hawa panas di tubuhnya akibat pergulatan yang tak tuntas, Fady berendam dalam air dingin di bath up, tentunya tanpa mengenakan baju. Ketika dia menc

  • Cintaku, Berhenti di Kamu   Bunga Lily dan Cokelat

    Langit Bandung sore itu kembali menangis. Rintik hujan turun deras, membasahi jalanan dan kaca mobil Fady yang berhenti di area parkir hotel. Di jok sebelahnya, sebuket lily putih terbungkus kertas cokelat muda. Di sampingnya, sekotak kecil cokelat premium dan secarik kertas yang ditulis terburu-buru namun penuh perasaan: "Tak ada kata-kata yang cukup untuk menggambarkan betapa beruntungnya aku bisa menjadi bagian dari hidup kamu. Terimakasih, Binar sayang." Fady menghela napas pelan. Ia tahu tubuhnya belum sepenuhnya pulih dari alergi, tapi entah kenapa, langkahnya terasa ringan. Setelah merasa agak baikan, tadi ia segera pergi dari hotel untuk mencari apa yang pantas dihadiahkan pada Binar. Ia tak ingin menunggu. Ia ingin segera melihat senyum Binar, senyum yang selalu membuat hari-harinya terasa hangat. Tanpa payung, ia keluar dari mobil, membiarkan hujan membasahi rambut dan bahunya. Napasnya tampak mengepul di udara dingin, namun langkahnya terus menapak cepat menuju lobi.

  • Cintaku, Berhenti di Kamu   Kembali Hangat

    Setelah percakapan panjang di sofa itu, suasana kamar menjadi hening. Hanya suara detik jam dinding yang terdengar samar. Fady bersandar ke belakang, matanya menatap langit-langit. Rasanya berat bukan karena kelelahan fisik, tapi karena emosi yang baru saja tumpah. Binar menatapnya sekilas. Ada sisa teduh di wajahnya, meski bibirnya belum sepenuhnya tersenyum. “Hmm. Udah gak ada yang mau diomongin lagi kan?” tanyanya pelan, mencoba menjaga agar suasana tak kembali tegang. Fady menegakkan tubuh, tersenyum kecil. “Udah. Makasih ya kamu masih mau dengerin.” Ia menatap jam di dinding. Sudah hampir tengah malam. “Aku pamit, ya. Takutnya kamu mau istirahat.” Binar sempat menatap heran. “Loh, pamit kemana?" “Mau booking kamar.” jawab Fady ringan, berusaha terdengar wajar. “Ngga mungkin tidur sekamar kan? Lagian kamu pasti capek, aku gak mau ganggu waktu istirahat kamu.” Binar mengangguk pelan, tidak menahan, tapi ekspresi matanya sempat berubah sejenak seolah ada rasa iba yang tidak i

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status