LOGINMara Ashfield has been strong for everyone else her entire life. Raising her younger sister, juggling two jobs, keeping everything afloat on her own — she doesn’t have a moment for fate, and she certainly doesn’t believe in it. But fate doesn't consider your timetable. When her car breaks down on a dark rural road, and she inadvertently wanders into the wrong woods while looking for phone signal, she encounters Damien Voss — tall, cold, disturbingly intense, and not fully human. He’s the Alpha of the Coldridge Pack, a man who hasn’t let anyone close in three years. The last thing he needs is a mortal female walking into his domain reeking of rain and something that makes every buried instinct he owns wake up at once. What begins as a warning about something dangerous in the forest becomes something neither of them could have expected and can outrun. Because the danger isn't random — it had come after Mara in particular. And the why of that goes back twenty-three years to a father she never met, to a secret he died protecting, and to a wolf pack so powerful, and ruthless, that they would do anything to make certain that secret stayed buried for all eternity. Damien has been telling himself for three years that he doesn’t need anyone. Mara has spent her life telling herself the same thing. But then he looks at her across a room full of wolves and says she’s mine like it’s already written in blood. Claimed by a Cold Alpha is a slow burn werewolf romance about two stubborn, wounded people falling into something bigger than both of them – full with tension, danger, loyalty, and the kind of love that doesn’t ask permission.
View More“Tolong…”
Suara itu nyaris tenggelam oleh deru angin pegunungan yang kencang... lirih, patah, seperti sisa napas yang terlepas dari tubuh yang hampir menyerah. Namun, cukup untuk membuat seorang pemuda yang sedang berjalan santai di jalur setapak berhenti. Udara di perbatasan Sussex Mountain dingin dan bersih, menusuk paru-paru dengan kesegaran khas dataran tinggi. Di tengah ketenangan itu, suara rintihan dari arah jurang terasa begitu asing… sekaligus mendesak. Pemuda itu menoleh. Pakaiannya sederhana, bahkan terkesan lusuh. Rambutnya berantakan, tidak tersisir, jatuh menutupi sebagian dahinya. Tapi wajahnya tetap tegas dan tampan, dengan sorot mata yang tajam seperti seseorang yang telah melewati terlalu banyak masalah. Kevin Braxton. Ia baru saja turun dari wilayah kultivasi di Sussex Mountain... tempat yang selama lima tahun menjadi dunianya. Tujuannya sederhana namun berat… mencari lima kakak seperguruannya, para wanita tangguh yang pernah menjadi murid gurunya, demi meminta bantuan menghancurkan Racun Pemikat Asmara yang masih bersemayam di tubuhnya sejak lima tahun lalu. Belum sempat pikirannya melayang jauh, matanya menangkap sesuatu. Sebuah mobil mewah... Porsche Carrera hitam, tergantung setengah badan di tepi jurang. Ban depannya sudah melewati pagar pembatas yang patah. Sedikit saja bergeser, kendaraan itu akan jatuh ke dasar jurang yang berkabut. Dan dari dalamnya… terdengar lagi suara itu. Kevin berlari mendekat. Pintu mobil penyok. Kaca retak. Mesin masih mengeluarkan suara halus, seperti napas terakhir. Di kursi pengemudi, seorang wanita muda terjebak sabuk pengaman. Ia mengenakan kaus putih ketat dan celana pendek. Tubuhnya bergetar. Kulitnya memerah, rambutnya menempel di wajah karena keringat. Napasnya tidak teratur… panas, berat, seperti terbakar dari dalam. Sekilas, pesona tubuhnya begitu mencolok dengan dada ukuran 36D, memikat mata siapa pun yang melihat. Tapi Kevin tidak melihatnya dengan hasrat. Ia hanya melihat satu hal… kondisi kritis. Wanita itu kepanasan… bukan karena cuaca. Tubuhnya mengeluarkan uap panas samar, bertolak belakang dengan udara dingin di sekitar. Keringat dingin mengalir, tapi hawa dari tubuhnya justru terasa seperti api yang menyala. Kevin langsung mengenali tanda-tandanya. Serbuk es api. Mineral langka dari Sussex Mountain. Berbahaya, mematikan, dan seharusnya tidak pernah berada di dunia fana. “Bagaimana bisa benda seperti ini lolos keluar…” gumam Kevin dalam hati. Alisnya mengernyit. Ia tidak punya waktu untuk menganalisis. “Nona… apa kau baik-baik saja?” tanyanya pelan. Suaranya tenang dan menenangkan. Wanita itu hanya mampu mengangguk lemah. Bibirnya gemetar. Detik berikutnya, tubuhnya kembali melengkung kesakitan. “Arrrgh… panas…” Jeritannya memecah sunyi pegunungan. Kevin mendekat, tangannya sigap, namun hati-hati. “Nona… jangan berteriak terlalu keras. Kalau ada orang lewat, bisa salah paham,” ujarnya santai, mencoba menjaga situasi tetap terkendali, sambil membuka sabuk pengaman yang menjerat tubuh wanita itu. Klik. Sabuk terlepas. Tubuh wanita itu hampir roboh, dan Kevin menahannya sebelum kepalanya membentur dashboard. “Tolooong… tubuhku… panas sekali…” Suaranya pecah, hampir tak terdengar. Kevin bisa merasakan panas itu dari dekat, seperti berdiri di depan tungku menyala. Serbuk es api bekerja cepat. Begitu masuk ke tubuh manusia biasa, ia menciptakan konflik energi: dingin membekukan inti tubuh, sementara panas membakar dari luar. Rasa sakitnya luar biasa. Jika dibiarkan, organ dalam akan rusak… lalu mati. Satu jam. Paling lama satu jam sebelum wanita ini kehilangan nyawa. “Kejam sekali orang yang memberinya ini…” pikir Kevin. Rahangnya menegang. Ia segera menarik wanita itu keluar dari mobil, menggendongnya dengan satu tangan sambil menjaga keseimbangannya di tepi jurang. Dan tepat saat ia melangkah menjauh... KRAAAK! Porsche itu bergeser. Tanah runtuh. Roda belakang kehilangan pijakan. Dalam hitungan detik, mobil mewah itu terjun bebas, menghilang ke dalam kabut jurang, diikuti oleh suara dentuman keras yang menggema dari bawah. Wanita dalam pelukan Kevin merintih, nyaris tak sadar. Kevin tidak menoleh lagi. Di benaknya hanya ada satu tempat. Sebuah gubuk kecil di perbatasan Sussex Mountain dan Pegunungan Alpenia. Gubuk bambu sederhana yang pernah ia kunjungi beberapa kali saat ingin merasakan udara dunia fana... berbeda dari energi spiritual wilayah kultivasi. Tanpa ragu, Kevin bergerak. Langkahnya ringan, nyaris tak menyentuh tanah. Tubuhnya melesat di antara bebatuan dan pohon pinus, seperti bayangan yang berlari bersama angin. Angin gunung berdesir keras, namun tak mampu menghambat gerakannya. Wanita itu terkulai di pelukannya, napasnya semakin panas. Tubuhnya gemetar, jari-jarinya mencengkeram lemah pakaian Kevin, seolah mencari sesuatu untuk bertahan. Kevin mempercepat langkah. Ia bisa merasakan detak jantung wanita itu… cepat, tidak stabil. “Bertahanlah…” gumamnya pelan. Langit mulai redup. Kabut turun dari puncak gunung. Jalur setapak menjadi licin, namun Kevin tetap melaju… tubuhnya seakan melayang di atas tanah. Beberapa menit kemudian… Di balik deretan pohon pinus, gubuk bambu kecil itu akhirnya terlihat. Sederhana dan tua, namun kokoh berdiri di tepi lereng. Kevin langsung menuju pintu, menendangnya hingga terbuka. “Nona… aku harus segera menetralisir racun di dalam tubuhmu. Kalau tidak, kau tidak akan bertahan lebih dari satu jam.” Suara Kevin rendah, tegas, tanpa ragu. Ia baru saja membaringkan wanita muda itu di atas dipan bambu dengan kasur kapuk tipis yang berbau serat kering dan lembap. Di dalam gubuk, udara dingin merayap pelan, namun panas dari tubuh wanita itu terasa seperti nyala api yang menyusup ke setiap sudut ruangan. Wanita itu terengah. Dadanya naik turun cepat, napasnya berat, seperti ditarik paksa dari paru-paru yang terbakar. “Lakukan saja…” katanya dengan suara patah. Bibirnya kering. Tubuhnya menggigil aneh—kulitnya terasa dingin, tapi hawa yang keluar darinya justru menyengat panas. Kevin tidak membuang waktu. Tangannya bergerak cepat, merobek pakaian wanita itu agar racun tidak terperangkap oleh aliran energi yang tertahan. Kain terkoyak, suara sobekannya memecah kesunyian gubuk. Wanita itu tersentak. Wajahnya yang semula pucat berubah kaku oleh keterkejutan. “Apa yang mau kau lakukan?!” teriaknya, panik. “Dasar hidung belang!” Nada marahnya lemah, terputus-putus oleh rasa sakit yang terus membakar tubuhnya. Kevin tidak menanggapi. Fokusnya hanya satu… racun serbuk es api yang sudah menyebar di jalur energi wanita itu. Ia terus membuka sisa pakaian yang menghalangi, bergerak cepat dan efisien, seperti seorang tabib yang berpacu dengan waktu. “Aku bunuh kau, brengsek…” gumam wanita itu lagi, namun suaranya semakin tenggelam. Tubuhnya kehilangan tenaga, matanya mulai berat. “Nanti saja, Nona,” jawab Kevin santai, masih dengan nada tenang. “Kalau sudah sembuh, silakan cari aku.” Ia tahu risikonya. Ia juga tahu hanya ada satu cara. Serbuk es api berasal dari wilayah kultivasi—zat yang tidak bisa dinetralisir dengan metode dunia fana. Satu-satunya jalan adalah menghancurkannya dari dalam, menggunakan energi spiritual melalui penyatuan tubuh, teknik yang dikenal dalam dunia cultivator sebagai dual cultivation. Kevin menarik napas, menenangkan aliran energinya, lalu mulai menyalurkan kekuatan inti yang berputar di dalam dantiannya. Begitu energi itu mengalir, suhu di dalam gubuk berubah. Hawa panas bercampur dengan gelombang energi halus yang bergerak di antara tubuh mereka, menghancurkan racun sedikit demi sedikit. Wanita itu tak mampu melawan. Tubuhnya lemas, kesadarannya setengah tenggelam oleh efek racun. Namun, reaksi tubuhnya tetap hidup—aliran energi Kevin memaksa jalur-jalur meridian yang tersumbat terbuka, menekan panas yang berputar liar. Kevin tertegun sesaat. “Kamu… masih perawan?” gumamnya, terkejut.Damien’s POVThey were scouts.Three young wolves — hardly out of their first shift by the smell of them, out to mark the territory boundary and gauge the response time. Not a real threat. A message. Whoever was stirring in those eastern woods wanted us to know they were organized enough sending out advance units, and confident enough to cross the line anyway.I set them free.Not because of care. Because of calculation –a dead scout told you nothing. A scared one ran home and reported to whomever sent them, and the reply to that report will tell me more than I can learn from a border in the night.Rhen didn’t need to be told. He drew back the perimeter wolves, and we watched the three scouts melt into the eastern dark with their message delivered and their fear fresh.Then I turned back toward the house.And that thing that had been lurking beneath every tactical thought for the past twenty minutes… that thing I had been running around in circles trying to figure out in my head… well
Mara’s POVI made it three days.Three days of normal — work, Lily, groceries, cleaning the office on Tuesday, doing the budget on Wednesday, the budget that never quite balanced. Three days of my phone lying face-up on the counter like I wasn’t expecting it to ring or alert me to anything in particular. Three days looking at a grey-black wolf on a ridge in the dark in the rain and the thing I’d said out loud without permission.“You’re beautiful.”Like I said. Out loud. To a werewolf. I had a hell of a talk with myself about it on the drive home, and a half dozen since then, and the take-away from all of them was that I needed to get a whole lot more control of myself before I wound up in a place where I couldn’t pull myself out.Then Damien had texted Thursday morning.“I need you to meet my pack.”I had stared at that for a long time. “Why,” I sent back.“Because they know you exist, and they know you exist in my world. In our world, that means they must see you with me. It estab
Damien’s POV I told myself I was doing this because she needed to know.That was the only reason I sent out the text. The only reason I gave her the coordinates to the east ridge overlook, rather than just texting her what she needed to know and ending the conversation was.. Information could have been passed in a paragraph. For that you don’t need to be here. It didn’t require me to get to the Ridge twenty minutes early, to watch the last light go out over a sky I knew as well as any knew exactly which side her car wouldn’t be coming from.Information was an excuse. I knew that. I used it anyway.Rhen hadn’t said anything when I let him know. He had merely regarded me with those cautious dark eyes, and then looked purposefully away, which was in some way worse than anything he could have uttered.“The eastern threat is still unidentified,” I informed him.“She’s already been targeted once. Keeping her informed is a tactical choice.”“Absolutely,” Rhen said, to the window.“It is.”“
Mara’s POV I took Route 9.Of course I took Route 9. It was the only road that led straight from my apartment to the supermarket, the pharmacy, and the second job I had picked up on Tuesday mornings cleaning offices downtown. Avoiding it would have added 40 minutes to my schedule that already was tightly packed.That’s what I told myself. I was very good at telling myself things.I didn’t tell myself why I had looked at my phone four times before I left the apartment. Or why I’d stood in front of the bathroom mirror an extra two minutes for nothing, doing nothing to my appearance and then getting annoyed with myself for those two minutes.Lily had been watching me from the kitchen table over her cereal bowl, wearing that particular look she’d been rehearsing since she was fourteen… the one that translated “I see you but I’m not going to say anything just yet I’m filing this away.”“You look different,” she said.“I look exactly the same.”“Your jaw is doing that thing.”“My jaw doesn






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.