LOGINTwenty-one years old Amber Fernandez, only daughter of the over ambitious Alpha of the Moonlight Pack is spoiled, bratty and always gets whatever she wants. She’s to be mated to a powerful, over-ambitious Alpha in a few days' time when the unexpected happens and her father’s greedy plan backfires, and Amber finds herself paying for her father’s numerous crimes from being captured to be stripped of everything she once has. Amber is tortured, humiliated and turned into a sex slave by the Alpha of the Nightwalker Pack, Alpha Aiden. Twenty eight year old Alpha Aiden can’t seem to be satisfied with the tears of the daughter of the man that killed his sister, and so, he invents new ways to torture her and make her break and beg for mercy. He couldn’t help the attraction he feels towards her. She was sexy, fierce and mouthy; the exact traits he was attracted to, but his hatred for her was definitely stronger. He continuously plays her body like a string, and eventually, the hard hearted Alpha finds himself falling for Amber to his horror. But with an overly jealous girlfriend lurking in the shadows, and more secrets waiting to be unraveled, their love story doesn’t seem to be having a happy ending anytime soon.
View More“Bu, saya mau beli tomatnya sepuluh ribu, ya?”
“Iya, sebentar ya, Mbak.” Yessa lantas merogoh saku celananya untuk mengambil uang dari dompet, bersamaan dengan itu ponsel di dalam sakunya berdering panggilan masuk dari sang suami—Kaveer. Ia cepat-cepat meraih ponselnya dan menggeser ikon hijau dilayar, lalu menempelkan benda pipih itu ke samping telinga. Suara keras sang suami terdengar di seberang sana. “KEMEJA PUTIH AKU MANA GOBLOK?!” Yessa refleks menjauhkan ponselnya dari telinganya, lalu mengusap telinganya pelan sebelum kembali menempelkan ponselnya lagi ke telinga. “Mas, ada apa?” tanya Yessa dengan suara lembutnya yang berbisik pelan, sambil perlahan menjauh dari kedai tomat yang dia singgah tadi. “Ada apa? ADA APA KAMU BILANG?!” bentak Kaveer lagi membuat jantung Yessa berpacu cepat. “Kan kamu yang nyuruh aku kerja terus. Sekarang giliran aku mau cari kerja, kamu gak siapin kemeja putihnya. Emang istri kurang ajar ya kamu!” hardiknya dengan tajam. “Mas, aku udah siapin. Udah aku gantung di lemari, dan udah disetrika juga. Coba kamu cari dulu, jangan langsung marah-marah kayak gini,” suaranya terdengar getir meski dia mencoba tetap tenang. “Gak ada sialan, gak ada! Pulang kamu sekarang, cari kemejanya.” Yessa memejamkan matanya sejenak, mencoba tetap tenang dan tak terpancing. Ia memegangi dadanya yang terasa sesak, lalu menghela napas panjang. “Mas, coba kamu cari pelan-pelan di lemari ada udah aku simp—“ “AKU BILANG PULANG SEKARANG!” bentak Kaveer lagi, kali ini nadanya lebih tinggi dari sebelumnya membuat Yessa hampir menjatuhkan ponselnya. “Kalau kamu gak pulang sekarang, aku acak-acak seisi rumah.” “Mas, jangan!” seru Yessa. Nada bicaranya naik, menahan amarah. “Oke, aku pulang sekarang.” “Jangan lama-lama! Atau aku akan kasih tahu ke Mama kamu, kalau kamu gak becus jadi istri!” Panggilan diputus secara sepihak. Yessa segera berlari meninggalkan pasar. Padahal dia baru saja tiba, bahkan tomat yang sudah disiapkan penjual tadi dia biarkan karena ingin segera sampai ke rumahnya. Langkahnya begitu tergesa sampai dia memilih melewati jalan pintas—yakni melewati bangunan proyek dimana sudah banyak tukang yang mulai bekerja. Sampai ada salah satu tukang yang meneriakinya. “Hei, jangan lewat di sini, banyak orang kerja.” “Jangan lari, pelan-pelan nanti nabrak orang!” Namun Yessa seolah tuli, tak mendengarkan ucapan para tukang tersebut. Dia terus berlari agar lebih cepat sampai ke rumahnya ketimbang melewati jalan yang biasanya dia lewati. Sampai ... “Awas, ada paku!” “AKH!” Terlambat sudah, Yessa yang tak memperhatikan jalan di hadapannya tak sengaja menginjak paku yang sudah agak karatan. Ia menutup mulutnya menahan rasa sakit dan perih yang menjalar ke pembuluh nadinya. “Nah, kan, apa saya bilang ... jangan lari. Lihat sekarang, nginjek paku, kan!” ujar salah satu tukang yang segera menghampirinya untuk membantu. Namun Yessa seperti wonder woman, meski darah bercucuran mengalir dari telapak kakinya—dia tak menangis ataupun mengeluh sakit. Bukan karena malu, namun rasa sakit ini tak sebanding dengan perlakuan dingin suaminya. “Biar saya bantu, neng.” “Gak usah, Pak. Makasih,” sahut Yessa sambil mengangkat kakinya dan melepaskan paku yang menancap di telapak kakinya itu. Darah mengalir lebih banyak dari sebelumnya, para tukang yang melihat sampai meringis. Tapi Yessa? Dia terlihat biasa saja. Karena pekerjaannya sebagai perawat suatu hal yang biasa baginya melihat darah. “Mau saya antar pulang, neng?” tawar salah satu tukang. “Nggak, Pak. Makasih atas tawarannya. Tapi saya masih bisa jalan, kok,” tolak Yessa halus. “Aduh neng, jangan sok kuat. Biar saya antar ke rumah naik motor, mau?” Yessa menggeleng pelan, masih enggan menerima bantuan sampai para tukang menyerah. Ia kembali berjalan dengan langkah terseok-seok melewati pasir yang berserakan di sekitar bangunan proyek tersebut. Begitu tiba di rumahnya, dia segera mengambil kain dari jemuran di depan rumahnya untuk mengikat luka di kakinya agar darahnya tak semakin mengalir—meski sudah cukup telat. “Mas ....” Saat masuk ke dalam rumah, dia mendengar suara barang dilempar ke lantai dari arah kamarnya. Buru-buru Yessa membawa kakinya melangkah menuju kamar, dan mendapatkan suaminya sudah mengacak kamar. “Mas, ya ampun!” seru Yessa melihat kamarnya sudah seperti kapal pecah. “Jelas-jelas kemeja putihnya masih tergantung di sana. Kamu tuh sebenernya nyari apa sih, Mas?” Kaveer mengalihkan tatapannya pada sang istri, tajam dan menusuk. Ia kemudian melangkah mendekat dan langsung memojokkan tubuh Yessa ke dinding, sementara tangan besarnya mencengkram rahang kecil istrinya. Yessa menahan tangan sang suami agar tidak sampai mencekiknya, “Lepas, Mas!” “Aku heran sama kamu, ya? Selalu maksa aku kerja sampe ngadu ke Mama aku. Kenapa? Kamu takut aku numpang hidup sama kamu? Kamu takut aku habisin uang hasil kerja kamu, iya?” seru Kaveer dengan nada tajam. Yessa tak menjawab, sebaliknya cengkraman di rahangnya semakin kuat membuatnya sampai kesulitan membuka mulut. Sementara tangannya masih mencoba melepaskan tangan sang suami. “JAWAB YESSA!!!” bentak Kaveer, entah sudah yang keberapa kalinya. “Apa kamu lupa, awal kita menikah semua kebutuhan kamu aku yang tanggung. Setelah dapet pekerjaan, kamu sok jadi dewa begitu? Huh? Sekarang gantian, kamu yang biayain hidup aku.” “S-sakit, Mas!” lirih Yessa berusaha membuka suara. Tapi Kaveer tak peduli, ia terus mencengkram kuat sampai pada akhirnya dia melepaskannya tanpa alasan. “Aku gak mau kerja, gak akan pernah kerja. Cari uang? Itu tugas kamu. Gantian kamu yang harus biayain aku mulai sekarang. Aku bosan kerja, aku capek kerja.” Setelah mengatakan itu, Kaveer memilih pergi meninggalkan kamar. Meninggalkan Yessa seorang diri dengan luka di kaki, ditambah sakit cengkraman di rahangnya—dan lebih menyakitkan sakit luka di hatinya. Brak! Suara gebrakan terdengar dari luar, pintu rumah dibanting dengan sangat keras oleh Kaveer. Yessa tersentak, bersamaan dengan itu—air matanya luruh membasahi kedua buah pipinya. Tubuhnya melorot ke lantai dingin kamar yang sudah berantakan seperti kapal pecah. Menangis dalam diam, tak bersuara—namun rasa sakitnya tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Yessa ingin menyerah, ingin bercerai—tapi Kaveer sama sekali tidak mengindahkannya dan yang dia dapatkan hanyalah pukulan. KDRT kerap dia dapatkan, dan dia sudah pernah mengadu pada sang ibu. Tapi jawaban ibunya, “Suami gak akan marah kalau istrinya berguna, kerja yang becus, melayani dia dengan baik. Kalau Kaveer sampai marah segitunya sama kamu, ya wajar Yes—Mama tahu kelakukan kamu dari kecil, kan kamu emang pemales dan keras kepala.” Bahkan ibu kandungnya sendiri sama sekali tidak membelanya meski dia memperlihatkan luka di tubuhnya. Entah kepada siapa dia minta tolong. Bahkan Tuhan sekalipun tidak pernah mengabulkan doanya. Padahal dia selalu membuatkan makanan untuk suaminya, mencuci pakaian, membersihkan rumah. Itu dia lakukan sambil bekerja sebagai perawat di salah satu rumah sakit. Tapi tetap saja salah dimata Kaveer. “Apa salah dan dosaku, Tuhan?” suaranya tercekat di tenggorokan.THE GUARDS. That evening some of the guards left the cell to go and talk with Calisté and tell her everything that was going on. They needed to let her know the things that were going on immediately because if they didn't, she would end up not acting and Alpha Aiden would continue with his escapades. That evening two of the guards decided to take on the mission and go visit Caliste in jet chambers. The last time they had visited her, things didn't work out quite well but they were very determined to try again and see how things would turn out this time. They prepared themselves and talked about how they were going to speak to her so they could avoid doing or saying anything that would make her angry at them. They needed to be careful because she was like a time bomb that was waiting to explode and she had killed people people the past because of her anger. Besides, they were the ones who fed her with information on Aiden anytime he did anything that was suspecting. Os they weren't
The guards who were standing outside the cell were very shocked about the recent happening because they witnessed everything that had been happening ever since Alpha Aiden seemingly lost his mind. The worst they had witnessed was the Alpha having sex with the prisoner. It sent a shockwave among them all. They were very worried and had no idea what to do about it. They whispered amongst themselves as they heard them to each other that evening. "I keep wondering if you all can't see what has been going on here between the Alpha and ? The Alpha has clearly lost his mind and something needs to be done about it. He no longer regards us like he used to and he spends almost the whole time everyday with the slave girl!" The second guard nodded in approbation before he gave his own insights. "There is no doubt about it guys. She is already having a very dangerous influence on him and it keeps getting worse by the day." The third guard was the most terrified amongst them. He knew Amber could
AMBER. "I want to ask you a question." I began, unable to hold myself back any longer. I had tried to hold back the urge but it seemed impossible. The thought kept plaguing me and at last I finally asked him the question, unable to hide mask my feelings. We lay beside each other that evening, looking up at the ceiling. "Yeah, what is it you want to ask?" He asked me, his brows coming together as he asked me the question. "Alpha Aiden," I hesitated, my voice laced with a bit of anxiousness and a bit of curiosity. I stuttered for a while until he asked me to calm down and tell him what had been on my mind. I nodded and then began, hoping he wouldn't get mad at me for reminding me of the days when all he wanted was to see me dead. "Why did you try to turn me into a lycan that night? You remember right." He chuckled before asking me. "Is that all, is that all you wanna ask?" He questioned, flashing me a smile that made me uneasy deep down. I nodded and he replied. "Punishment or cou
AMBER. The next chain of events that followed was a very shocking one. And I couldn't hold myself back anymore. I couldn't control myself any longer, especially when I was around him and when I thought about him. But despite the whole caring i knew he was just doing everything to earn back my trust and break me again. I didn't fully trust him yet but there were times when I felt quite safe in his arms. I didn't understand what was going on but I was ready to play along until he did what he wanted. But I didn't give a damn who he was or whatever he wanted to do. My life was in his hands and he could do with it whatever he wanted, I knew that I would keep on trying everyday not to die. But despite that I was not worried by him any more. I just felt OK whenever he came to visit and ended up telling me stories to ease my mind off the boredom. I appreciated that but his mission was what I couldn't predict. He was full of cunning and he could do anything to get what he wanted. So this






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.