LOGINI was a saint in the light, but a sinner in the dark. To the world, I was a good girl marrying a billionaire twice my age. To Arthur Reynolds, I was his "angel", the virtuous bride who would bring life back into his silent mansion. But I wasn’t a saint. I was a secret. For six months, I was the girl on the pole at The Velvet Room. And Ethan Reynolds: Arthur’s cold, predatory, and brutally handsome son was my most frequent customer. He’d paid thousands to watch me, touch me, discipline me, and ruin me. He knew every curve of my body, every lie in my soul, and every scream I could produce. Now, I’m wearing his father’s ring. I’m living under his roof. And Ethan isn't just watching me anymore, he’s hunting me. He thinks I’m a gold-digger. He thinks I’ve played his father for a fool. And he’s determined to punish me for it. "You’re his wife in the daytime, Zola," he hissed, his hand tightening around my throat in the dark of the hallway. "But in this house, when the lights go out... you still belong to the man who bought you first." Arthur wants to own me. Ethan wants to break me. And I? I’m just trying to survive the man I’m legally forbidden to love.
View MoreRosemary Hotel pukul dua pagi.
"Tidak, Elsa ... kau akan membenciku esok pagi." Alex menggelengkan kepala seraya memalingkan mata dari tatapan wanita muda yang sedang duduk di tepi ranjang. Tidak mungkin! Mana mungkin dia mau menuruti keinginan Elsa meski dirinya ingin. Elsa mengunci tatapan Alex. Manik-manik hijau itu berangsur menggelap, menuntut sesuatu terlarang padanya. "Dad, tolong ... aku mohon." "Tidak, Elsa." Sekali lagi Alex menggeleng. Meski ia kesusahan mengendalikan debaran jantungnya yang terus memacu dahsyat, bersama derasnya dorongan hasrat yang memanas membakar jiwanya. Alex berusaha mati-matian menolak perasaan yang memang tak wajar itu. Saat ini Elsa sedang dalam frustasi yang berat. Mana mungkin ia mengambil keuntungan darinya. Bagaimanapun wanita muda berparas cantik di depannya kini, dia adalah Elsa Swan, menantunya. Melihatnya yang terus berpaling muka, mata Elsa berkaca-kaca. "Apakah aku memang wanita yang menjijikan, persis yang Landon katakan? Bahkan aku tak pantas untuk mendapatkan bahu seorang pria," lirih Elsa. Mendengar gadis itu terisak-isak, Alex melirik. Ia menarik nafas dalam-dalam, lantas mendaratkan bokongnya duduk di samping Elsa. Tangannya mengusap jejak air mata di kedua pipi gadis itu. "Tidak, Elsa. Jangan berkata begitu. Kau gadis yang sangat sempurna. Bodoh sekali jika Landon menelantarkan mu. Namun aku tidak mungkin." Alex menggantung ucapannya. Ia merasa sudah menemukan batasan dari perkataan itu. Tangannya segera dijauhkan dari Elsa. Tak pantas betul jika ia meneruskan kalimatnya. Saat Elsa menatapnya, Alex segera berpaling muka. "Namun apa? Bahkan kau pun tak sudi padaku?" lirih Elsa. Hatinya amat hancur. Alex segera menggeleng. "Tidak, bukan begitu." "Kalau bukan begitu, kenapa kau tak mau melihatku?" Alex menunduk. Ia tak bisa menjawab pertanyaan Elsa meski dia ingin. "Dad ..." Sentuhan hangat di bahu membuat Alex tertegun dari emosi yang sedang bergelora mendera jiwanya. Perlahan ia mengangkat sepasang matanya menatap ke manik-manik hijau Elsa. "Aku mohon," bisik Elsa. Diraihnya jemari Alex, lalu ia menggosok pipinya di sana. Mata basah itu menuntut satu hal yang sangat Elsa butuhkan saat ini. Hati Alex amat gusar. Namun ia tak bisa memungkirinya, jika hatinya sudah terpaut amat jauh akan kecantikan Elsa dan kepolosan gadis itu. Kewarasannya tak bisa bertahan lagi, ketika dengan penuh sukarela Elsa menariknya mendekat seiring tubuhnya yang direbahkan ke kasur. Alex mati-matian berusaha melawan perasaan itu, juga pertarungan emosional di hatinya. Namun saat jemari mungil Elsa mengusap-usap pipi hingga ke rahangnya yang dipenuhi bulu-bulu tipis yang menghitam, semuanya menjadi semakin kacau. Melihat Alex yang diam saja, Elsa tersenyum manis. Tanpa ragu ia melingkarkan kedua tangannya ke tengkuk leher Alex. Ia menggesekkan pipinya ke rahangnya, lalu menatapnya lagi. Nafas Alex kian memburu, terasa hangat menerpa wajah Elsa yang semakin mendekat. Aroma shampo buah dari rambutnya amat memabukkan, bercampur dengan kehangatan kulit. Ketika bibir mereka saling bertemu, bukan hanya hasrat yang meledak, tapi juga suara remasan kain linen dan gesekan kulit yang memanas. Di antara desahan, kegelapan malam di luar jendela seolah menutupi rahasia mereka, sementara jam di dinding terus berdetak, mengingatkan betapa terlarangnya sentuhan itu. ................................................ Tiga bulan sebelumnya di Hotel California pukul sembilan malam. "Pesta yang meriah, CEO! Anda pasti menghabiskan banyak uang untuk menjamu kami." Landon tersenyum miring mendengar seorang tamu bicara begitu. Baginya uang bukan masalah. Group Parker sedang di atas awan saat ini. Tak masalah mengeluarkan banyak uang untuk mengisi perut mereka. "Ngomong-ngomong, saya dengar Anda sudah menikah di luar negeri. Namun, kami tidak melihat Nyonya Muda Parker di sekitar sini." Senyum di wajah Landon memudar saat mendengar seseorang menyinggung tentang istrinya. Sial! Wanita buruk rupa itu? Mana mungkin dia membawa noda ke pesta perusahaan? "Ehem! Istriku? Dia sedang tidak berada di San Alexandria saat ini. Jadi, tidak bisa dibawa ke pesta," jawab Landon dengan tenang. Orang-orang cuma manggut-manggut mendengarnya. "Hm, boleh kami tahu, apa pendidikan terakhir Nyonya Muda Parker? Kenapa nggak pernah muncul di berita gosip?" "Iya. Bahkan kami belum melihat wanita yang sangat beruntung itu!" Melihat para tamu mulai banyak bertanya tentang istrinya, Landon agak risih. Namun ini pesta perusahaan, dia tak boleh kelihatan tidak kompeten. "Hm, istriku baru saja menyelesaikan studi bisnis di Jerman. Dan, saat ini dia sedang mengejar gelar doktor di Swedia! Kurasa dia memang gila sekolah, haha!" Landon masih berusaha tenang sebaik mungkin. Nama baiknya sebagai CEO perusahaan besar bisa tercemar jika istrinya muncul saat ini di pesta. Oleh karena itu dia tidak beritahu Elsa tentang pesta ini. Mendengar omong kosong Landon, para tamu tersenyum kagum. Mereka bisa bayangkan betapa sempurnanya wanita yang menjadi istri CEO Group Parker itu. Orang tua Landon yaitu Tuan Alex Parker terkenal sebagai pengusaha yang sudah malang melintang di dunia bisnis. Bahkan aset kekayaan mereka sulit dihitung. Mustahil jika mereka memilih gadis rendahan untuk putranya. "Wah, saya jadi penasaran nih sama istri Anda. Maaf! Pasti selain cerdas dan ambisius, Nyonya Muda Parker juga seorang wanita karir yang sangat cantik!" Seorang wanita berguman disertai senyuman kagum kepada Landon. "Itu pasti dong! Mana mungkin istri CEO Group Parker biasa-biasa saja!" "Itu benar!" Landon cuma tersenyum getir melihat antusias para tamu yang merasa penasaran dengan tampang istrinya. Setelah mengajak mereka bersulang, ia melirik ke arah pintu. Jangan sampai wanita busuk itu muncul! "Permisi!" "Hei, awas!" Prang! Di tengah dentingan gelas kristal dan gemerlap gaun sutra, mendadak semua mata tertuju pada seorang wanita yang tersungkur di lantai. Entah siapa wanita itu, dia datang dengan tergesa-gesa dan menabrak seorang pelayan. Gaun merah yang kusam dan ketinggalan model kini basah oleh tumpahan anggur, meninggalkan noda keunguan yang kontras dengan lantai marmer yang mengkilap. Kacamata tebalnya miring dan hampir lepas. Dari kerumunan bisik-bisik menusuk mulai terdengar. "Astaga, siapa dia? Penampilannya norak banget!" "Dia pasti gembel!" Semua orang melempar tatapan penuh kebencian ke arah wanita itu. Sambil membenarkan letak kacamatanya, ia berangsur bangkit. Matanya melirik ke sekitar. Oh, Tuhan! Dia sedang jadi pusat perhatian saat ini? Dengan pipi merah menahan malu, kepalanya segera menunduk Siapa sebenarnya wanita lusuh itu? Di tengah pertanyaan yang bersarang di benak para tamu, seorang pria segera berlari menuju pada orang nomor satu di pesta. "CEO, istri Anda ada di sini." Apa?! Mendengar bisikan sang asisten, Landon sangat terkejut. Mata elangnya segera berkelana ke semua sudut ruangan. Ia berhenti pada sosok wanita lusuh yang sedang jadi bahan tontonan para tamu. Sepertinya wanita busuk itu sudah bosan hidup! Dengan tangan yang mengepal kuat, Landon berjalan gagah menerobos kerumunan para tamu. Kemunculannya menyita semua perhatian orang. "Bau, ya? Seperti bau hujan bercampur debu." "Iya, bau banget!" Wanita itu masih menjadi pusat perhatian para tamu. Hidung Landon berkedut saat melihatnya. Wanita itu adalah sebuah noda, sebuah aib yang tak pantas berada di antara mereka. Tidak seharusnya Elsa berada di sini. "La--Landon?" Wanita itu tergugup saat melihat pria jangkung dalam balutan tuxedo mewah mendekat padanya. Suaranya nyaris tak terdengar, tapi ia tak diberi kesempatan lagi untuk bicara. "Security, singkirkan wanita lusuh ini dari pesta ku!" perintah Landon. Wanita itu sangat terkejut. Kepalanya menggeleng. Namun Landon segera buang muka, tak peduli. Elsa merengek-rengek saat para petugas hotel menyeret dia pergi. Tak lama kemudian Landon pun menghilang. Meski hal itu cukup menyita perhatian, namun pesta kembali dilanjutkan setelah asisten Landon bicara. Sementara CEO belum kelihatan di wilayah pesta. Brak! "Ah, aduh!" Gadis itu jatuh duduk di depan pintu lift saat Landon melemparnya dengan kasar. Ia memeriksa sikunya yang kena benturan. "Pergi dari sini dan jangan kembali lagi! Dasar wanita pembawa sial!" Setelah bicara kasar begitu, Landon bergegas pergi dengan bahu yang naik turun karena emosi. Dua orang petugas hotel segera membantu Elsa berdiri. Gadis itu menggeleng dengan wajah sedih saat para petugas bertanya padanya. Hingga pintu lift terbuka, ia segera masuk. Elsa berjalan melewati seorang pria yang berdiri di dalam lift. Gadis itu memilih sudut ruangan sempit itu untuk merajuk. Suara isak tangis dari arah belakang mengalihkan perhatian Alex--satu-satunya pria yang bersama Elsa di dalam lift. Ia melirik ke arah belakang acuh tak acuh. Dilihatnya seorang gadis yang sedang bersimpuh di sana. Elsa sedang meratapi nasibnya. Kedatangannya ke pesta bukan untuk membuat Landon mendapat malu, tapi karena ada hal penting yang harus Elsa beritahu kepada suaminya itu. Sialnya Landon sangat marah melihatnya muncul di pesta, hati Elsa sangat sedih atas perlakuan kasar Landon. Alex tadinya tidak begitu peduli, tapi Elsa menangis amat menyedihkan. Ia pun mulai merasa tidak nyaman dengan suara gadis itu. Maka Alex pun memutar tubuhnya menghadap ke arah Elsa. Mata basah Elsa terangkat ke wajah seorang pria yang sedang berdiri di depannya kini. Alex menatapnya seraya menyodorkan sehelai sapu tangan padanya. "Terima kasih, Tuan ...," lirih Elsa. Dengan sungkan-sungkan ia menerima sapu tangan itu. Sambil berdiri gagah Alex memasukkan kedua lengannya ke masing-masing saku celana. Dia berkata dengan acuh tak acuh. "Berhentilah menangis, karena itu tidak ada gunanya." Elsa tertegun di tempat. Matanya menatap ke manik-manik biru Alex. Pria ini kelihatan lebih muda dari usianya. Stelan jas yang ia kenakan tampak rapi dan mewah. Dari postur tubuhnya yang atletis, Elsa yakin jika Alex seorang vegetarian dan suka berolahraga. Diusianya yang mungkin sudah nyaris 55 tahun, ia terlihat tampan, dengan model rambut kekinian yang tertata rapi. Kumis dan janggut tipisnya juga terawat. Wangi segar parfum mahal yang tercium darinya berhasil memudarkan bau anggur di gaun Elsa. "Apa yang sedang kau lihat?" Suara bass itu mengejutkan Elsa. Ia buru-buru menggeleng. "Maafkan saya, Tuan! Terima kasih untuk sapu tangannya!" Dia berkata dengan cepat dan terbata. Alex cuma membalas dengan tatapan yang dingin. Tak lama pintu lift pun terbuka. Dua orang pria berpakaian formal segera menyambutnya. "Selamat datang, Tuan Parker!" Alex cuma mengangguk. Ia melirik ke arah Elsa. Gadis itu tampak sudah lebih baik. Elsa cuma membungkuk menanggapi. Alex pun segera pergi. Siapa orang baik itu? Sambil berdiri di depan pintu lift, Elsa memandangi kepergian Alex. Andai saja Landon pun baik seperti orang itu, pasti pernikahannya tidak menyedihkan begini. Dia sangat mencintai Landon, tapi dia sadar diri. Landon amat tampan, cerdas dan seorang CEO perusahaan besar. Sementara dirinya? Dia sangat jelek dan tidak punya gelar apapun! Haruskah dia bercerai dengan Landon?The steam from the tea rises between us, but it doesn't warm the air. Althea sits in the morning room, her silk robe draped perfectly over her frame, but her eyes are hollow.She stares at me, her gaze tracing the faint, fresh flush on my skin from the cellar. She isn't stupid. She knows the scent of him."He fucked you this morning, didn't he?" Althea’s voice is a flat, dry snap. "Against the cold stone? Somewhere pathetic and beneath him?"I look down at my cup, my fingers trembling. "Althea, we didn’t—""Don't lie to me. Your pussy is probably still throbbing from him," the words coming out jagged and raw. She leans across the table, her face twisting into something ugly and desperate."I stood in that bedroom last night. I got naked. I offered him a body that is younger, cleaner, and legally his. I practically begged him to break me. I told him to fuck me hard, to leave marks, to show me the monster he is."She lets out a sharp, bitter laugh that sounds like breaking glass."And
The morning sun is weak and grey through the basement windows. I slip away to the laundry room, needing to breathe. At breakfast, Ethan’s gaze was heavy and suffocating. It was obvious he was fighting himself, trying so hard not to claim me on that dining table while his wife and father sat right beside us.Suddenly, a hand shoots out from the shadows.It’s not a touch. It’s an ambush.Ethan’s fingers lock around my throat, not to choke me, but to control me. He slams me back against the cold, damp brick of the cellar wall. The stone is freezing against my thin dress, but the heat coming off his body is dangerous."You missed a payment, Sapphire."His voice is a low, jagged rasp. It’s not a question; it’s an accusation. His eyes are red-rimmed and wild, like a man who has spent the night pacing a cage."Ethan... please... someone will hear," I gasp, my hands clawing at his wrist."Let them hear," he snarls, his face so close his nose brushes mine. "I stood in that hallway until th
Althea stands by the massive, rose-petal-covered bed in Ethan’s bedroom. She has dropped her heavy lace gown, standing only in a sheer white robe that looks so expensive. She looks perfect. She looks like a bride.Ethan stands by the window, his back to her, staring out at the dark grounds of the estate. He hasn't even taken off his tuxedo jacket."It’s our wedding night, Ethan," Althea says, her voice soft, reaching for a warmth that isn't there.She walks toward him. Her bare feet make no sound on the polished marble. She reaches out, her small, manicured hands sliding over the dark wool of his shoulders. She presses her body against his back, rising on her tiptoes, her cheek resting between his shoulder blades."We won," she whispers, her hands beginning to roam over his chest. "The merger is going to be signed in the next meeting. Our families are finally one. We can stop fighting now."“I’m not fighting with you, Althea. I adore you,” Ethan replies, his voice flat, devoid of
The chapel is a sea of white roses and smiles. It smells like expensive perfume and old money. Outside, the world thinks this is the wedding of the century. Inside, it feels like an execution.I stand in the front row, my hands shaking as I clutch my bouquet. Arthur stands beside me, his hand heavy on my shoulder. He’s smiling, proud of the empire he’s built. The music starts. It’s slow and haunting.Althea appears at the end of the aisle. She looks like a doll made of ice. Her dress is worth more than the apartment I grew up in, but her face is a mask of pure, hidden rage.As she walks, her eyes don’t go to the priest. They don't even go to the guest list. They snap to me.I shiver.She looks at me as if she knows I own black silk panties, knows about the bite mark on my neck, knows that every time Ethan looks at her, he’s wishing he was touching me.She reaches the altar. Ethan is standing there, tall and terrifying in a black tuxedo. He looks like a god who has just declared w
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.