Short
Climbing for Love, Watching Her Stray

Climbing for Love, Watching Her Stray

Par:  Chirpy SevenComplété
Langue: English
goodnovel4goodnovel
10Chapitres
45Vues
Lire
Bibliothèque

Partager:  

Report
Overview
Catalog
Scanner le code pour lire sur l'application

Climbing a snow mountain is the engagement trip Amber Garcia and I planned together. The night before we set out, our guide, Mike Marlowe, found an extra set of thermal gear while taking inventory. "Captain Garcia, who's this for?" Everyone's eyes turned to me. After all, the whole team knew this climb is supposed to be a special trip for the two of us. Amber glanced at our junior teammate, Theo Yorkson, who was crouched in the corner, shivering from the cold. Her voice was gentle and casual. "Give it to him. It's his first time at high altitude. The gear will come in handy for him." Theo awkwardly took the gear with both hands. "Thank you so much, Amber." Mike paused, then said nothing more. When my friend, Charlie Jameson, called on the satellite phone, he sounded so furious that it was as if he could crush the phone in his hand. "Aren't you two supposed to propose to each other at the summit? Why is she bringing Theo along again?" I smiled and swallowed the bitterness in my throat. "Don't worry. The plan hasn't changed." I'll make it to the summit, and I'll wait for her to propose. If Amber doesn't want to give me that moment, then so be it.

Voir plus

Chapitre 1

Chapter 1

"Batas waktu kita berakhir lusa. Saya sudah menyiapkan dokumen perceraian,"

Agnira menatapnya sekali di tengah memotong daging saat pria itu meraih gelas air.

Tarikan napas berat terdengar, membuat suasana ruang makan yang sunyi terasa semakin menekan. 

"Taruh saja di atas meja kerja. Nanti saya baca," ucap pria itu, tenang.

Agnira mengangguk pelan. Ia kembali fokus pada makanannya, enggan memperpanjang percakapan.

Sambara melirik kecil ke arah wanita di depannya. Wanita yang tiga tahun ia nikahi, yang hanya memiliki gelar sebagai istri, tanpa benar-benar menjalankan perannya.

"Kau yakin ingin bercerai?" tanya Sambara hati-hati.

Agnira terdiam sejenak sebelum menjawab. "Yakin. Kita sudah sepakat sebelumnya."

"Kau benar-benar sudah membaca setiap syarat yang saya ajukan?" tanya Sambara lagi.

Agnira semakin diam. Alisnya menukik tajam, pertanyaan itu menimbulkan keraguan tipis yang mengusik. Ia mendongak, menatap pria berwajah tenang di seberangnya.

"Maksudmu apa?" tanya Agnira, memastikan.

"Tidak ada ... Saya selesai." Sambara mendorong pelan piring kotor di depannya. Ia kembali meraih gelas dan meneguk air hingga habis.

Kursi terdorong pelan saat pria itu berdiri. Posturnya tegap, menjulang angkuh di hadapan Agnira.

"Saya pamit dulu."

Agnira tetap diam. Tatapannya mengikuti punggung lebar suaminya yang semakin menjauh. Ucapan Sambara terasa mengganjal di benaknya. Ia yakin tidak melewatkan apa pun saat membaca persyaratan pernikahan dulu.

"Apa yang aku lewatkan?" gumam Agnira lirih.

Hening, tak ada jawaban atas pertanyaan yang dia lontarkan. Terserah dan percuma.

Ruang kerja bernuansa hitam itu terasa pekat, dipenuhi tekanan dari sorot tajam di balik meja. Salah satu pengacara duduk dengan wajah tegang, jemarinya saling meremas, sesekali melirik takut pada Sambara.

"Cetak ulang kontraknya. Tambahkan syarat baru, dan kirimkan hari ini." Perintah itu terdengar dingin dan tegas.

"Baik, Bos," jawab anak buah Sambara sambil menunduk hormat. Ia melirik sekilas pada rekannya sebelum keduanya keluar dari ruangan.

Sambara menatap ke luar jendela. Sorot tajam itu perlahan meredup, tergantikan senyum miring di sudut bibirnya. Tatapan Sambara kemudian jatuh pada sebuah foto kecil di sudut meja. Pandangan itu beralih pada map di atas meja, wajahnya kembali tak menunjukkan minat. "Kita belum selesai, Agnira," lanjutnya lirih.

Agnira menarik napas dalam saat melangkah masuk ke ruang kerja Sambara. Pria itu sudah duduk tenang di balik meja, dengan postur tegap dan wajah rupawan yang entah mengapa selalu mampu mengacaukan fokusnya.

Namun kali ini, ia tidak sendiri. Dua pria lain dengan pakaian formal turut berada di ruangan itu.

"Duduk," perintah Sambara singkat, menunjuk kursi dengan dagunya.

Agnira mengedarkan pandangan. Ruangan ini terasa pengap dengan dominasi warna hitam. Tirai yang tertutup rapat semakin memperkuat kesan misterius yang menekan.

"Saya sudah membaca isi surat cerai yang kamu ajukan," ujar Sambara, memecah kesunyian.

Agnira duduk tegap, menatap lurus ke depan, bersiap mendengar.

"Kau benar-benar tidak menuntut harta gono-gini?" tanya Sambara memastikan.

"Iya. Tidak ada alasan untuk menuntut itu," jawab Agnira tenang.

Ia hanya ingin bebas dari kekangan pria itu. Tidak lebih. Sambara mengangguk pelan. Jemarinya mengusap dagu, lalu melirik ke arah pengacaranya.

"Maaf, Nyonya. Namun, ada satu persyaratan yang mungkin Anda lewatkan," sela sang pengacara sambil mengeluarkan berkas dari tasnya.

Agnira mengernyit. "Syarat apa?"

"Silakan Anda baca kembali."

Dokumen itu didorong ke arahnya. Agnira meraihnya dan mulai membaca dengan teliti.

Awalnya tidak ada yang janggal. Semuanya tampak biasa. Hingga bagian terakhir. Alisnya menukik tajam. Ia mengangkat wajah, menatap Sambara dengan sorot penuh tuntutan. Sementara pria itu tetap tenang, seolah telah menunggu momen ini.

"Kita belum resmi berpisah," ucap Sambara santai. "Karena kau belum menunaikan tugas sebagai seorang istri."

Tatapannya mengunci Agnira, diiringi senyum samar yang sulit diartikan. "Kau harus menjadi istriku yang sesungguhnya selama tiga puluh hari. Setelah itu terpenuhi, maka kita resmi berpisah."

Tangan Agnira terkepal kuat. Amarah yang sejak tadi tertahan kini menggelegak, siap meledak saat syarat itu bukan hanya terucap, tetapi juga tertulis jelas di atas kertas.

"Aku menolak."

“Kalau begitu semua yang kamu miliki … akan menghilang.” Sambara berdiri, mendekat perlahan. “Kau memiliki satu hari untuk memutuskan.”

Agnira menatapnya lamat sementara tangannya terkepal.

Pria ini...

“Kita belum selesai, Agnira. Kamu harus menemaniku sebagai istri, di ranjang, sebelum kita resmi berpisah.”

Déplier
Chapitre suivant
Télécharger

Dernier chapitre

Plus de chapitres

Aux lecteurs

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

Pas de commentaire
10
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status