LOGINVictor murmured 'Happy Birthday Misha' as he fed me a small piece of cake. Wait! Why was he sounding so husky all of a sudden? Stop it! As usual, I was imagining things. I shook my head as I sliced a piece of cake with cherry and tried to feed him. But the icing was soft, and the cake began to slip away from my fingers. Victor grabbed my hand...(Oh my! I will remember this day forever!)... Closed his mouth around the cake and my fingers! And a hot rush which started somewhere in my core began to spread inside with lightning speed and I felt my cheeks burn. His mouth was so warm and his lips, they were everything I imagined them to be, and more. My lips parted as I watched him close his eyes and lick my fingers. There was something so sensual and possessive about it that I began to wonder the same thing all over again. Does Mr Popular and youngest pilot from his academy, Victor Matthews finally got a clue that I have been secretly in love with him all these years?
View More"William, Aku ingin bercerai. "
Emely menatap suaminya cukup dalam. Keringat dingin membasahi dahinya. Cintanya selama lima tahun lamanya untuk pria di hadapannya itu tidak pernah terbalaskan. Suka duka dalam rumah tangganya sudah ia rasakan. Kini ia menyerah. Wiliam sedang memainkan ponselnya- berhenti sejenak kemudian menoleh kepada wanita yang sudah bersama dengan dirinya selama lima tahun lamanya. Dia tidak menganggap ucapan itu serius.William kembali menatap ponselnya dan mengabaikan ucapan istrinya. Sesekali senyum terlihat di bibirnya. Emily yang tidak mendapatkan respon dari suaminya tersenyum getir.Dia jelas tahu dengan siapa suaminya bertukar pesan. Tangannya gemetar memegang ujung gaun-nya. Perlahan-lahan dia melangkah keluar. Dia tidak ingin membuat masalah tapi dia sudah mengambil keputusan. Langkahnya begitu pelan. Pikirannya berkecamuk. Dadanya seperti tersayat. Dia semakin yakin dengan keputusannya. "Apa aku sama sekali tidak pernah ada di pikiran mu?" Emely menahan buliran bening di pelupuk matanya. "Walau sebentar?" *** Dua hari yang lalu,William mengatakan jika dia pergi untuk melakukan perjalanan bisnis.Tapi Emily jelas tahu jika suaminya bukan hanya melakukan perjalanan bisnis tapi dia menemui wanitanya. *** Pernikahan yang Emily jalani selama lima tahun lamanya tidak membuat William mencintainya.Pria itu tetap saja bersikap dingin kepada dirinya dan hatinya tetap milik wanita lain.Setidaknya itulah yang Emily yakini sampai sekarang. "Nyonya." Emely menghentikan langkahnya. Raut wajahnya seketika berubah menjadi ceria ketika mendengar suara lembut kepala pelayan mansion. Wanita itu tidak ingin menunjukkan kesedihannya kepada siapa pun termasuk dengan Wiliam yang merupakan suaminya. "Ada apa bibi?" Emely tersenyum. "Nyonya Isabella dan tuan Carter akan datang nanti siang. Apa tuan William tidak memberi tahu anda?" Sorot mata wanita paruh baya itu begitu sendu." Nyonya, harus kuat. Percayalah tuan akan melihat nyonya suatu saat nanti." Wanita berusia 50 tahun itu mendekat. Wanita paruh baya itu memegang tangan Emely dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Dia menyadari kesedihan yang di rasakan oleh Emely meskipun wanita itu selalu berusaha menyembunyikannya tapi wanita itu menyadarinya. Dia juga melihat bagaimana perlakuan tuannya selama ini. "Terimah kasih bibi Elsa. Aku sudah berusaha menyembunyikannya tapi sepertinya bibi tetap saja mengetahuinya. Aku sudah menyerah bibi, aku sudah memutuskan untuk melepaskan William." Emely memaksakan diri tersenyum. Emely memeluk bibi Elsa selama beberapa menit dan melerai pelukannya kemudian berjalan keluar dari mansion. Bibi Elsa mengelus dada. "Nyonya dan tuan adalah pasangan yang begitu serasi tapi tetap saja masa lalu tuan adalah pemenangnya. Meski wanita itu tidak baik tapi tuan tidak bisa melihatnya." Gumam bibi Elsa menatap kepergian Emely. Di depan mansion, Emely menghentikan langkahnya yang hendak menuju ke taman. Wanita itu menatap mobil yang baru saja berhenti tepat di hadapannya. Emely tersenyum dan mendekat ke arah mobil tersebut meski dia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Begitu pintu mobil terbuka, raut wajah Emely berubah. "Kenapa ada wanita itu?" Batin Emely merasakan sedih di dalam hatinya. Matanya tampak berkaca-kaca memandang wajah wanita yang sedang duduk di samping mamah mertuanya. "Kamu tidak senang melihat mamah?" Isabella membuka pintu mobil cukup keras. Dia turun dari mobil dengan menunjukkan ekspresi kesalnya di hadapan menantu yang tidak pernah ia sukai. Emely terkejut dengan suara pintu yang cukup keras. "Bukan begitu mah. Emely jelas senang melihat mamah datang." Jawab Emely mulai tersenyum. Meski perasaanya mulai tidak tenang. Dia tetap berusaha bersikap tenang. "Cieh, dasar munafik."Gumam Isabella yang masih terdengar jelas di telinga Emely. Emely memegang tangannya yang sedari tadi gemetar dengan hati yang hancur. "Joana turunlah sayang." Isabella tersenyum. Nada bicara yang terdengar begitu lembut selalu terdengar jika itu Joana. Tapi jika dirinya, wanita paruh baya itu sama sekali tidak pernah bersikap lembut kepada dirinya. Dia sudah menjadi menantu di keluarga Carter selama lima tahun lamanya tapi tetap saja dia mendapatkan perlakuan yang buruk. Jika itu dulu, Emely akan berusaha untuk meluluhkan hati mertuanya tapi sekarang dia tidak ingin melakukan hal itu. Dia sudah menjadi wanita yang begitu penurut dan tidak pernah menunjukkan kemarahannya tapi tetap saja, suaminya tidak pernah melihatnya sebagai wanita. Kini Emely sudah bertekad untuk melepaskan laki-laki yang sudah menikah dengannya selama lima tahun lamanya. Meski dia harus mengubur perasaanya. "Hallo Emely, kita berjumpa lagi." Wanita yang bernama Joana itu tersenyum tipis memandang ke arah dirinya. Emely membalas senyuman Joana. Pandangannya tertujju kepada wanita yang sedang mengenakan dres selutut dengan body yang begitu di impikan oleh semua wanita. Jika di bandingkan dirinya yang sedikit kurus dan tidak terbentuk, sangat beda jauh. Emely hanya tersenyum kecil dan kembali menatap wajah wanita cantik di hadapannya. Terlihat jelas jika dia sering melakukan perawatan wajah. Sedangkan dirinya sibuk bekerja dan melakukan pekerjaan rumah tangga. Rasa minder semakin menggorogoti hatinya. "Bagaimana kabar mu nak? Kita sudah tidak bertemu selama tiga bulan, kamu terlihat tirus." Perhatian Emely teralihkan dengan kehadiran ayah mertuanya. Pria paruh baya itu mendekat dan memeluk menantu kesayangannya. Pria paruh baya itu adalah satu-satunya orang yang menyayangi Emely. Emely kembali merasa tenang ketika merasakan pelukan sosok ayah yang tidak pernah ia rasakan selama ini. Emely membalas pelukan ayah mertuanya. Dia tidak akan pernah lupa dengan kebaikan pria paruh baya di hadapannya itu yang memperlakukan dirinya seperti putrinya sendiri. "Terimah kasih ayah, Emely kira ayah akan datang nanti siang." Emely menatap ayah mertuanya. Meski dia sudah melepaskan Wiliam, dia tidak akan pernah lupa dengan kebaikan ayah mertuanya. "Mamah mu yang ingin segera datang. Katanya dia sudah sangat merindukan Wiliam." Jawab Carter tersenyum kecil. Bagi Emely tidak akan ada yang berubah meski dia sudah bercerai dengan William. Pikirannya saat ini bagaimana dia mengatakan hal itu kepada ayah mertuanya jika dia akan bercerai dengan putranya. Emely mempersilahkan ayah mertuanya masuk ke dalam sebagaimana dia melakukannya selama lima tahun pernikahannya dengan Wiliam. Dia selalu melayani mertuanya dengan sangat baik tapi kali ini dia memilih untuk duduk bersama dengan mereka. Isabella yang melihat hal itu terlihat tidak senang. Sorot matanya terlihat jelas jika dia sedang kesal kepada menantunya. "Emely apa yang kamu lakukan?" Nada bicara Isabella terdengar begitu kesal. Emely tersenyum meski dia menyadari kekesalan mamah mertuanya. "Tenang saja mah, pelayan sudah menyiapkan semuanya." Emely masih bersikap tenang di hadapan mertuanya dan di hadapan wanita yang di cintai suaminya. "Apa yang kamu katakan? Apa kamu sudah melupakan tugasmu? Sebaiknya segera ke dapur." Sorot mata Isabella semakin tajam. Emely tetap tersenyum meski dia menyadari kekesalan mertuanya. "Tidak mah tapi aku tidak akan melakukan hal itu lagi. Begitu banyak pelayan di sini." Isabella mengepalkan tangannya, dadanya naik turun karena kesal. Baru kali ini dia melihat Emely menolak apa yang di perintahkan olehnya. Selama ini dia begitu penurut tapi kali ini dia mulai melakukan penolakan. Isabella jelas tidak terima sikap Emely seperti itu. Joana sendiri tidak mengatakan apa- apa tapi dia terlihat menikmati apa yang sedang terjadi saat ini. Senyum terlihat di bibir Joana. "Emely, mamah bilang ke dapur. Apa kamu harus membantah mamah di hadapan Joana?" Isabella mulai meninggikan suaranya. Tangan Emely mulai gemetar. Dia tidak menyangka jika mamah mertuanya akan membentaknya di depan Joana. "Apa yang sedang terjadi?" Semua mata memandang ke arah sumber suara itu.The awkward silence didn't last long. And we both started talking at the same time. "You don't have to come." "I won't come if you don't want me to..." We both smiled and but Vic came forward and stood next to me. His gaze... it was the same way he looked when the lights got turned on. I cleared my throat nervously. "Please don't mind Anya. She is just... I mean she is bad at organising things. I will ask Dad to drop me at the movies. I know how much you hate this stuff and my friends." "Hate?? When did I ever say that I hate your friends Mo? How can I..." He fisted his hands and looked vaguely around as if he didn't know what to say or do. "You don't have to explain anything to me." I said. It is too late for all that now. Why doesn't he go away, so I can cry alone in my room, like I got accustomed to? As I tried my best to look calm, he ran both his hands through his hair, pushing it
My euphoria was over and Vic pulled away, as Anya coughed loudly behind him. I felt so embarrassed that I wanted a hole to open up right in front of me, so I can jump in and disappear! Why do I keep doing this to myself?? Why do I keep wanting something I would never get! I didn't have the time recover much as all my friends began to give me presents and wished me once again. Rahul and his girlfriend Pari were the last to wish me. "Thank you so much for coming." I shook Rahul's hand and smiled back and extended my other hand to Pari. "Pari, I am so glad you came. And I am sure you made Rahul come here, am I right?" I smiled with extra cheerfulness to cover up for my nerves. I still don't know why, but Rahul had a huge crush on me two years ago, which I completely ignored. After sometime, once he and Pari started going out together, he began to talk normally again, but I was never comfortable around him.
When did he come so close to me and why? And his eyes, which always had the mockery and mischievous look had something else! Or was I imagining that too! Aaargh! I cursed inwardly. "The cake is downstairs, let's go! But first, why don't you change into something... else?" he asked. "Why downstairs? It's just you and me who celebrate my birthday, every year, here in my room. Everything must be done is as per your wish isn't it, even if it is my birthday!! And I just follow your orders. You don't want even our parents to join us. So why this sudden change of location and formality? And I am not dressing up for you, of all the people!" I said in a rush but regretted it immediately. Why am I speaking like this? Even I didn't understand why I was so angry! Or perhaps I did, but didn't want to acknowledge it. The prospect of leaving him and not hear even his stupid sarcastic words had finally caught up with me. Nightmares a
11.45 pm, 30th July. The calendar alert on my iPad beeped as I lay on my bed, engrossed in my favourite Fanfiction on Harry Potter. Fifteen more minutes, and I will be Twenty One! What's the point? Just like every year, at 12 AM sharp, my childhood bestie cum neighbour Vic aka Victor will climb the ladder next to my bedroom and enter my room as if it was his own. He would then wish me and make me cut the same flavourless dairy free cake (I'm allergic to dairy) sprinkled with even more tasteless jokes, as he once again makes fun of everything about me. Vic "thinks" he got a great sense of humour. He just finished training as a Pilot, and as a twenty four year old, he was one of the youngest to graduate from the academy. So, his head and ego are always up in the air, which makes him think he is the best in everything he does. He thinks he is the best baker in the neighbourhood; so, he bakes my birthday cake and brings it






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews