LOGINMeet Essence and Kymoni two Big Beautiful Plus size women fresh out of highschool and straight into college life. They ate far away from their small town in South Carolina. But are they ready for everything this new world will throw and them. Let's find out. Join me on this new roller-coaster ride!
View More“Heh! Apa yang kamu lakukan di sini?! Kamu mengintipku, hah?!”
Adit, yang tengah mengepel lantai ruang ganti pelanggan, nyaris menjatuhkan pelnya saat mendengar suara bentakan itu.
Di hadapannya, seorang wanita cantik dengan tubuh menggoda dan hanya mengenakan pakaian dalam berenda, berdiri dengan napas memburu.
Itu Bu Celina, manajer tempatnya bekerja!
Tangan wanita itu menutupi dadanya yang montok, tapi pahanya yang mulus justru terabaikan.
Glek.
Adit menelan ludah. Otaknya berteriak untuk tidak melihat, tapi matanya berkhianat.
Takut? Jelas. Adit hanya trainee rendahan. Terpergok dalam situasi seperti ini bisa membuatnya dipecat seketika.
Namun, senang?
Bagaimana tidak? Bu Celina adalah fantasi hidup para terapis pria di panti pijat ini!
Dengan tubuh berlekuk sempurna, kulit sehalus sutra, dan tatapan tajam menggoda, siapa yang tidak pernah membayangkan wanita itu dalam pelukan mereka?
Dan sekarang… tubuh yang biasanya hanya ada dalam bayangan, terpampang jelas di depannya!
Tapi… ada yang aneh.
Kenapa Bu Celina masih di sini? Bukankah semua orang sudah pulang?
Dan yang lebih aneh lagi… kenapa tangannya basah?
“Apa yang kamu lihat, dasar mesum! Mau saya pecat?!”
Deg!
Adit buru-buru menggeleng. “A—ampun, Bu Celina! Saya enggak tahu kalau Ibu masih di sini…”
Sebagai trainee, posisi Adit di panti pijat ini sangat lemah. Dia adalah sasaran empuk senior-senior yang haus kuasa. Tidak heran sebelum dirinya, banyak trainee yang tidak bertahan lama, entah karena mundur atau dikeluarkan dengan alasan sepele.
Itulah alasannya malam ini dia bisa ada di sini. Karena salah satu seniornya melemparkan tanggung jawab kepadanya.
Namun, siapa yang menyangka hal tersebut membawanya ke situasi seperti ini…
Adit melihat Celina takut-takut. Ekspresi manajernya itu dingin, tapi tatapannya panik. Ditambah wajah cantiknya yang memerah, Adit merasa Bu Celina seperti takut ada rahasia besar yang terbongkar.
“Sudah! Aku enggak mau tahu. Pergi dari sini atau…”
Bu Celina mengomel selagi buru-buru mengenakan celananya.
Namun, karena terlalu panik, kakinya tersangkut di celana dan tubuhnya terhuyung ke depan!
Bruk!
Refleks, Adit segera menangkap tengkuk Bu Celina sebelum kepala wanita itu terbentur lantai.
Deg!
Dan saat itu juga, sesuatu terjadi.
Wajah Bu Celina merah padam hingga ke telinga. Napasnya memburu, matanya bergetar, dan…
"Ah…"
Desahan lirih itu lolos begitu saja.
Adit membeku.
Apa-apaan ini?!
Sadar dengan suara yang baru saja keluar dari mulutnya, Bu Celina langsung bangkit dengan wajah panik!
“Kau, kau apakan aku barusan!?”
Adit ikut berdiri, wajahnya bingung. "Sa-saya nggak ngapa-ngapain, Bu! Saya cuma menangkap Ibu biar nggak jatuh—"
“Tapi---”
Celina ingin mengatakan sesuatu.
Ada sensasi aneh yang menyelinap ke dalam tubuhnya.
Hangat.
Menyusup ke saraf-sarafnya.
Tiba-tiba area yang disentuh Adit tadi terasa lebih peka. Seakan… terbakar dari dalam.
Namun, dia menggeleng cepat, menepis perasaan aneh itu.
Mana mungkin dia mengaku sentuhan tangan Adit di lehernya … membuat sesuatu dalam tubuhnya berdenyut?!
“Ah, sudah! Lupakan saja!”
Bu Celina bergegas mengenakan pakaiannya, lalu sebelum keluar ruangan, dia menoleh tajam.
"Ingat ya, urusan kita belum selesai!"
Adit hanya bisa menatap kepergiannya sambil menelan ludah.
Habis sudah…
Sudah menyinggung bosnya, Adit pasti akan kehilangan pekerjaannya ini dalam waktu dekat.
“Haaah … ya sudahlah, itu urusan nanti …” pikirnya sebelum memutuskan membereskan alat-alat bersihnya dan keluar dari ruangan.
Tanpa dia sadari…
Cincin yang melingkar di jarinya berpendar…
Lalu menghilang…
Dan membentuk lingkaran hitam di jarinya.
**
Keesokan paginya.
“Anak baru nggak berguna! Baru berapa hari jadi trainee sudah berani datang terlambat?!"
Makian itu terlontar dari mulut Rudi, senior Adit yang paling berengsek. Pria yang sama dengan yang melemparkan pekerjaan bersih-bersih kepadanya tadi malam.
"Maaf, Pak Rudi! Saya tidak bermaksud untuk datang terlambat…"
Tadi pagi, Adit sebenarnya ingin berangkat kerja seperti biasa. Namun, di tengah Bersiap-siap, Adit menyadari bahwa cincin peninggalan kakeknya tiba-tiba hilang.
Sebagai satu-satunya kenangan yang Adit punya terhadap sang kakek yang baru meninggal beberapa waktu lalu, benda itu sangat berharga.
Dia pun mencarinya dengan panik, sampai akhirnya lupa waktu dan berakhir datang terlambat ke kantor.
Alhasil, di sinilah dia sekarang, menerima ocehan dan menjadi bahan pelampiasan kemarahan seniornya.
BUK!
Satu pukulan dengan gulungan kertas koran diterima di kepala oleh Adit.
“Nggak bermaksud terlambat? Kamu kira aku peduli kamu bermaksud atau nggak?! Di sini ada aturan, dan kamu sudah melanggarnya!”
BUK!
Pukulan kedua.
“Baru trainee aja udah belagu.”
BUK!
Pukulan ketiga.
“Kalau kamu merasa udah jago, kamu sebaiknya---”
BRAK!
Pintu pegawai terbuka keras!
“RUDI!”
Bu Celina muncul dengan wajah marah, membuat Rudi menoleh kaget. “B-Bu Celina?”
Adit langsung mengangkat kepala. Saat melihat sosok Celina, dia langsung menunduk lagi, jantungnya berdegup kencang.
Dia pikir… Bu Celina akan memecatnya.
Namun, yang terjadi selanjutnya sangat di luar dugaan.
“Kenapa pelanggan ruang 25 belum ada yang melayani?!”
Rudi membeku, panik. "A-anu, Bu… saya—"
Mata Bu Celina menatap ke arah Adit.
Dan saat mereka saling bertatapan…
Celina langsung mengenalinya.
"Kamu…"
Adit menahan napas, takut kejadian tadi malam akan diungkit.
Tapi Celina membuang wajah, berdeham, lalu berkata dengan suara tegas.
“Kamu! Siapa nama kamu!” tanya Celina.
“A—Adit bu…”
“Adit! Sekarang kamu pergi ke ruang 25. Pijat pelanggan yang ada di sana itu!”
Wajah Rudi seketika mengeras, “Ta—tapi Bu… Adit kan masih Trainee, seharusnya saya yang—"
"Kalau mau pelanggan, seharusnya kamu peka sejak tadi! Bukan sibuk menindas bawahan!" Kemudian, Celina menatap Adit. “Selain itu, mulai saat ini dia jadi pegawai tetap! Cepat ke sana!”
“Ba—baik bu!”
Adit yang melihat ini sebagai kesempatannya, segera saja berlari ke ruangan itu, diikuti tatapan kesal dari Rudi yang merasa dipermalukan.
Namun, berbeda dengan Bu Celina. Ia melihatnya dengan tatapan berbeda…
‘Adit … ya?’
Chapter 389 “OH MY GOD GET THIS BABY OUTTA ME, I SWEAR I'M NOT PUSHING NO MORE AFTER THIS. I'LL JUST BE A KANGAROO AND LET HER LIVE HALF WAY IN MY COOCH!” Essence said and then screamed. In the next moment they all heard a loud anger cry and cheered so loud other families came out of their rooms to see what was happening. The door burst open and Dr. Angelic pushed Essence and the new baby out of the room allowing only a moment for them to see the baby, before heading to the surgery room that was ready and waiting. “We have to go in and fix her ribs now that the baby is out.” Doctor Angelic said as she moved pass them.Once they got to the surgery doors, the nurse took the baby and handed it to Syncere who look horrified. “Oh God give me my baby before you pass out, you act like you have never held a newborn before.” Kymoni said taking the baby from Syncere. “I haven't, all the babies I have ever held were nearly walking. I have never seen a baby so tiny before.” Syncere said
Chapter 388 “Hey everyone, I know this isn't the best time to talk about what I found out, but I have no choice, we need to talk. Can everyone meet me in the waiting room.” Karla said, walking over to her niece pulling her without waiting for a response. The men looked at her and then at each other in confusion, but followed behind the Attorney General. “Sister this better be good, you know my grandbaby is about to be born and I don't want to miss the sound of her first breath as she cries.” Thomas said as he went and sat in one of the chairs in the waiting room. “Yea I wish this could wait but it can't, because it seems as though your daughter and her new friends are responsible for killing Wofung. He and his empire has been on the FBI's radar for more than a year. Would any of you care to explain why your ruined a year long investigation, and why the hell did you have to blow the place up? You think I didn't find out what branch of the government you're work
Chapter 38713 hours later: The Florida Airport: “FUCK I CAN'T BELIEVE IT TOOK US THIRTEEN FUCKING HOURS TO GET HERE! AND NOW, THERE IS NO MORE RENTALS AVAILABLE!” Syncere said, racing towards the exit. Shawn ran behind him, they didn't even pack a bag before they left. They left the arena and went straight to the airport. The only tickets available, were flights that had layovers and would take them hours, but they had no choice. Now with the flight behind them they had to deal with no rental cars available. He had talked to Essence, the entire way and knew that she was eight centimeters. The only luck he had was her contractions stalled for almost five hours, before picking back up again. “You need to calm down, you are going to give yourself a heart attack and that will make Kymoni kill me for not getting you to the hospital, alive.” Shawn said, racing behind Syncere. “WHERE ARE ALL THE CABS, AN UBER IS TWENTY MINUTES OUT! THIS IS FUCKING REDICULOUS!”
Chapter 386Somewhere in Tokyo: Continued YOU MAY COME IN NOW!” Wofung said giddy with excitement. The door to the basement opened and four tall big muscular men walked into the basement. They were dress in all black suits that hugged their arms exposing their muscles. Melli’s mouth fell open in shock. “No, it can't be.” She whispered. “Surprise, I bet you never thought I would catch up to you huh? You were a very slippery one to catch, but you got sloppy and I found you at last. Once I told my colleague what you did to my operations, I told him that he shouldn't wait to capture you.” “You did this, you told that bastard, about me? You're the reason I been strapped to this fucking chair for days. I swear when I get out of this, I'm going to kill you all.” Melli sneered. “I don't think you're in a position to threaten me, you’re currently strapped to a chair waiting for me to…” One of the men's phone began to rang he silenced it. “Are you serious you're ruining my
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ratings
reviewsMore