MasukChapter 77Tanpa Nama Genevece Ruangan itu dingin dan tenang, lampu putih menggantung di atas, cahayanya jatuh rata tanpa bayangan memperlihatkan setiap detail dengan jelas. Dindingnya bersih, lantainya mengilap, kursi-kursi tertata rapi seperti bagian dari ruang yang memang dirancang untuk sesuatu yang pasti, bukan sekadar kemungkinan. Di tengah ruangan itu, Audrey duduk dengan kedua tangan terborgol, tubuhnya tegak tapi jelas menahan sesuatu yang tidak lagi utuh.Kain hitam yang menutup matanya baru saja dilepas, dunia kembali dalam terang, tapi tidak membuatnya lega bahkan napasnya masih tertahan. Di depannya, beberapa langkah dari jarak yang tidak terlalu dekat tapi cukup untuk terasa, Luna berdiri.Tidak ada perubahan besar pada penampilannya yang tetap tenang, rapi, dan tetap seperti seseorang yang tidak perlu membuktikan apa pun untuk diakui. Namun, ada sesuatu yang berbeda dari caranya berdiri dan menatap. Bukan marah atau puas, tetapi lebih seperti seseorang yang akhirnya sa
Chapter 76 Pasrah dan Lelah Langit mulai meredup ketika Draco menghentikan mobil tuanya di depan rumah kecil itu. Mesin masih menyala dengan getaran kasar seolah ikut menahan sesuatu yang tidak pernah benar-benar stabil. Ia tidak langsung turun, tangannya tetap menggenggam setir beberapa saat, dan rahangnya mengeras seperti sedang menahan keputusan yang sudah tidak bisa ditarik kembali. Ia kemudian keluar dari mobil dan mengetuk pintu, tetapi tidak terdengar langkah siapa pun dari dalam. Ia mendorong pintu kayu sederhana rumah itu dan melangkah masuk. Di dapur, Pietro mendapati Audrey berhadap-hadapan bersama Abigail. Putrinya tidak langsung menoleh. Tetapi, Abigail langsung menyambutnya dengan senyum yang dipaksakan. "Dia sedang menyalakan aku karena memberitahu keberadaannya padamu," kata Abigail dengan santai. Audrey menoleh dan tatapannya menyisakan sisa emosi dari pertengkarannya dengan Abigail tadi. "Untuk apa kau ke sini?" tanyanya dingin. Draco melirik sekilas pada
Chapter 75Pengkhianat Di pinggiran kota yang jauh dari keramaian, rumah itu berdiri dalam kesederhanaan yang nyaris terasa asing bagi Audrey. Dindingnya kusam, lantainya dingin, dan udara di dalamnya tidak pernah benar-benar hangat. Sejak ia datang, tidak ada sambutan yang bisa disebut ramah, hanya ada toleransi tipis.Abigail memang membuka pintu untuknya, tapi tidak pernah benar-benar menerima kehadirannya. Dimulai dengan tatapan dingin, sindiran yang dibungkus dalam kalimat biasa, dan desahan panjang yang tidak pernah disembunyikan. Audrey tidak dimaki secara terang-terangan, tapi kata-kata Abigail selalu cukup tajam untuk menyentuh tepat di titik yang paling mengganggu karena ia "tiba-tiba muncul membawa masalah" membuat setiap detik di rumah itu terasa semakin sempit.Audrey berusaha menahan semuanya, bukan karena ia tidak mampu membalas, tapi karena tahu ia tidak punya pilihan lain. Ia hanya butuh tempat sementara beberapa hari, itu yang ia yakinkan pada dirinya sendiri meski
Chapter 74 Berakhir Pintu tertutup kembali dengan bunyi yang pelan, namun terasa mengunci seluruh ruang. Udara yang sejak tadi sudah dingin mendadak terasa lebih berat ketika Luna melangkah masuk sepenuhnya diikuti Luke yang berdiri sedikit di belakangnya, tenang seperti bayangan yang selalu mengawasi. Matt mengambil posisi di sisi pintu, memastikan tidak ada yang keluar, tidak ada yang masuk, dan memastikan tidak ada yang mengganggu apa pun yang akan terjadi di dalam ruangan itu. Beata tidak mampu berbicara, tubuhnya kaku, bahunya sedikit terangkat tanpa ia sadari, dan napasnya pendek-pendek seolah setiap tarikan udara membutuhkan usaha lebih. Matanya berpindah dari satu wajah ke wajah lain, tapi selalu kembali pada Luna seakan hanya perempuan itu yang benar-benar menentukan segalanya. Luna melangkah mendekat dengan ritme yang sama seperti malam sebelumnya. Tenang dan tanpa emosi yang terlihat, ia berhenti pada jarak yang sama seolah posisi itu sudah ditentukan sejak awal. Tatap
Chapter 73 Retak Sore itu terasa berat seolah udara di dalam rumah kecil itu ikut menekan dada siapa pun yang bernapas di dalamnya. Draco duduk di kursi kayu yang sudah mulai lapuk, tubuhnya sedikit membungkuk, kedua tangannya saling bertaut di depan. Di atas meja, beberapa lembar kertas berserakan-lamaran kerja yang sudah ia kirim, beberapa bahkan kembali tanpa balasan. Sudah berhari-hari dan berkali-kali ia melamar pekerjaan, tetapi tetap tidak ada panggilan. Bahkan saat ia mencoba melamar pekerjaan menjadi buruh kasar sekali pun, tidak seorang pun memberinya kesempatan. Di seberangnya, Pietro berdiri dengan wajah yang tidak bisa lagi menyembunyikan rasa muaknya. Tatapannya tajam, bukan sekadar marah, tapi juga lelah-lelah karena merasa semua yang terjadi adalah akibat dari kesalahan yang tidak bisa ia perbaiki. "Kau masih di situ?" suaranya akhirnya pecah, beratm dan penuh sindiran. "Menunggu keajaiban jatuh dari langit?" Draco tidak langsung menjawab, hanya menarik napas pel
Chapter 72Kehilangan Kendali Sepenuhnya Udara pagi masih menyisakan dingin tipis ketika langkah Diego San Lorenzo memasuki lapangan tembak privat itu. Tempatnya luas dan bersih, dengan barisan lintasan yang rapi dan target yang berdiri diam di kejauhan. Bau mesiu samar masih tertinggal di udara bercampur dengan kesunyian yang terjaga.Di ujung lintasan, Silvana Bonnardo berdiri dengan postur sempurna, satu angannya memegang pistol dengan jari telunjuk berada di pelatuk. Rambutnya terikat rapi dan menyisakan beberapa helai halus yang membingkai wajahnya. Penampilannya sederhana, tapi setiap detail terlihat mahal dan elegan tanpa harus dijelaskan.Tembakan dilepaskan, suara peluru menghantam target terdengar bersih, nyaris presisi. Silvana menurunkan senjatanya perlahan dan tidak langsung menoleh seolah ia sudah tahu siapa yang datang."Kau terlambat," ujarnya ringan, masih menghadap ke depan. Diego berhenti beberapa langkah di belakangnya. "Aku tepat waktu," ucap Diego acuh.Silvana
Chapter 56 Rumah yang Tidak Layak Hujan turun tipis dan malas, seperti ragu apakah layak membasahi kota yang sudah busuk sejak lama. Bangunan rumah susun itu berdiri miring, catnya mengelupas, jendelanya kusam, dan lampu lorong berkedip seolah setiap detik bisa padam. Audrey mengenakan mantel p
Chapter 55 Pemain Lama Dua bulan kemudian. Malam itu Palermo berkilau dengan cara yang dingin. Bukan kemewahan yang hangat, melainkan cahaya lampu kristal yang memantul di marmer putih dan gaun mahal, menciptakan kesan bersih yang terlalu sempurna untuk sebuah kota yang hidup dari darah dan rah
Chapter 54 Bukan Musuh yang Terang Beberapa hari kemudian, Diego datang sendirian ke markas besar Genevece, tidak ada konvoi panjang maupun sirine. Mobil hitam itu berhenti di halaman markas Genevece tepat saat matahari mulai turun, cahayanya pucat dan dingin, memantul di marmer putih seperti
Chapter 49 Retakan Pagi di mansion Genevece terasa lebih sunyi dari biasanya, cahaya matahari merambat pelan melalui jendela besar, menyentuh lantai marmer seperti sesuatu yang ragu untuk benar-benar hadir. Luna terjaga sejak malam berakhir, tetpi tidak pernah benar-benar tidur. Tubuhnya diam, m







