Home / Romansa / DALAM DEKAPAN MAFIA / 75. Pengkhianat

Share

75. Pengkhianat

last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-21 23:37:38

Chapter 75

Pengkhianat

Di pinggiran kota yang jauh dari keramaian, rumah itu berdiri dalam kesederhanaan yang nyaris terasa asing bagi Audrey. Dindingnya kusam, lantainya dingin, dan udara di dalamnya tidak pernah benar-benar hangat. Sejak ia datang, tidak ada sambutan yang bisa disebut ramah, hanya ada toleransi tipis.

Abigail memang membuka pintu untuknya, tapi tidak pernah benar-benar menerima kehadirannya. Dimulai dengan tatapan dingin, sindiran yang dibungkus dalam kalimat biasa, dan desa
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • DALAM DEKAPAN MAFIA   75. Pengkhianat

    Chapter 75Pengkhianat Di pinggiran kota yang jauh dari keramaian, rumah itu berdiri dalam kesederhanaan yang nyaris terasa asing bagi Audrey. Dindingnya kusam, lantainya dingin, dan udara di dalamnya tidak pernah benar-benar hangat. Sejak ia datang, tidak ada sambutan yang bisa disebut ramah, hanya ada toleransi tipis.Abigail memang membuka pintu untuknya, tapi tidak pernah benar-benar menerima kehadirannya. Dimulai dengan tatapan dingin, sindiran yang dibungkus dalam kalimat biasa, dan desahan panjang yang tidak pernah disembunyikan. Audrey tidak dimaki secara terang-terangan, tapi kata-kata Abigail selalu cukup tajam untuk menyentuh tepat di titik yang paling mengganggu karena ia "tiba-tiba muncul membawa masalah" membuat setiap detik di rumah itu terasa semakin sempit.Audrey berusaha menahan semuanya, bukan karena ia tidak mampu membalas, tapi karena tahu ia tidak punya pilihan lain. Ia hanya butuh tempat sementara beberapa hari, itu yang ia yakinkan pada dirinya sendiri meski

  • DALAM DEKAPAN MAFIA   74. Berakhir

    Chapter 74 Berakhir Pintu tertutup kembali dengan bunyi yang pelan, namun terasa mengunci seluruh ruang. Udara yang sejak tadi sudah dingin mendadak terasa lebih berat ketika Luna melangkah masuk sepenuhnya diikuti Luke yang berdiri sedikit di belakangnya, tenang seperti bayangan yang selalu mengawasi. Matt mengambil posisi di sisi pintu, memastikan tidak ada yang keluar, tidak ada yang masuk, dan memastikan tidak ada yang mengganggu apa pun yang akan terjadi di dalam ruangan itu. Beata tidak mampu berbicara, tubuhnya kaku, bahunya sedikit terangkat tanpa ia sadari, dan napasnya pendek-pendek seolah setiap tarikan udara membutuhkan usaha lebih. Matanya berpindah dari satu wajah ke wajah lain, tapi selalu kembali pada Luna seakan hanya perempuan itu yang benar-benar menentukan segalanya. Luna melangkah mendekat dengan ritme yang sama seperti malam sebelumnya. Tenang dan tanpa emosi yang terlihat, ia berhenti pada jarak yang sama seolah posisi itu sudah ditentukan sejak awal. Tatap

  • DALAM DEKAPAN MAFIA   73. Retak

    Chapter 73 Retak Sore itu terasa berat seolah udara di dalam rumah kecil itu ikut menekan dada siapa pun yang bernapas di dalamnya. Draco duduk di kursi kayu yang sudah mulai lapuk, tubuhnya sedikit membungkuk, kedua tangannya saling bertaut di depan. Di atas meja, beberapa lembar kertas berserakan-lamaran kerja yang sudah ia kirim, beberapa bahkan kembali tanpa balasan. Sudah berhari-hari dan berkali-kali ia melamar pekerjaan, tetapi tetap tidak ada panggilan. Bahkan saat ia mencoba melamar pekerjaan menjadi buruh kasar sekali pun, tidak seorang pun memberinya kesempatan. Di seberangnya, Pietro berdiri dengan wajah yang tidak bisa lagi menyembunyikan rasa muaknya. Tatapannya tajam, bukan sekadar marah, tapi juga lelah-lelah karena merasa semua yang terjadi adalah akibat dari kesalahan yang tidak bisa ia perbaiki. "Kau masih di situ?" suaranya akhirnya pecah, beratm dan penuh sindiran. "Menunggu keajaiban jatuh dari langit?" Draco tidak langsung menjawab, hanya menarik napas pel

  • DALAM DEKAPAN MAFIA   72. Kehilangan Kendali Sepenuhnya

    Chapter 72Kehilangan Kendali Sepenuhnya Udara pagi masih menyisakan dingin tipis ketika langkah Diego San Lorenzo memasuki lapangan tembak privat itu. Tempatnya luas dan bersih, dengan barisan lintasan yang rapi dan target yang berdiri diam di kejauhan. Bau mesiu samar masih tertinggal di udara bercampur dengan kesunyian yang terjaga.Di ujung lintasan, Silvana Bonnardo berdiri dengan postur sempurna, satu angannya memegang pistol dengan jari telunjuk berada di pelatuk. Rambutnya terikat rapi dan menyisakan beberapa helai halus yang membingkai wajahnya. Penampilannya sederhana, tapi setiap detail terlihat mahal dan elegan tanpa harus dijelaskan.Tembakan dilepaskan, suara peluru menghantam target terdengar bersih, nyaris presisi. Silvana menurunkan senjatanya perlahan dan tidak langsung menoleh seolah ia sudah tahu siapa yang datang."Kau terlambat," ujarnya ringan, masih menghadap ke depan. Diego berhenti beberapa langkah di belakangnya. "Aku tepat waktu," ucap Diego acuh.Silvana

  • DALAM DEKAPAN MAFIA   71. Pengakuan

    Chapter 71PengakuanPagi itu datang dengan tenang seolah beberapa hari terakhir tidak pernah dipenuhi ketegangan. Cahaya matahari menyusup tipis dari sela tirai, jatuh lembut di atas ranjang tempat Luna terbaring. Ia terbangun perlahan, bukan karena suara atau gangguan, melainkan karena tubuhnya yang terbiasa siaga bahkan dalam tidur.Di sisinya, Liam masih tertidur, napas kecilnya teratur dan wajahnya damai dengan satu tangan yang tanpa sadar mencengkeram kain pakaian Luna. Pemandangan itu menahan Luna beberapa detik lebih lama, tatapannya melembut sesaat sebelum kembali kosong seperti semula.Getaran halus dari ponsel di meja samping memecah keheningan itu, Luna meraihnya tanpa suara dan matanya langsung menangkap nama yang muncul di layar.Ia menjawab tanpa basa-basi. "Ya, Azzura."Suara di seberang terdengar cepat dan ditahan, tapi jelas. Ada sesuatu yang berbeda dari nada biasanya. Azzura tidak berputar-putar dan langsung menyampaikan inti kabar bahwa seseorang telah mengirim se

  • DALAM DEKAPAN MAFIA   70. Sesuatu yang Sempat Retak

    Chapter 70Sesuatu yang Sempat RetakPintu ruangan itu terbuka tanpa ketukan terlebih dulu dan menghantam dinding dengan suara keras yang memecah ketenangan malam. Audrey masuk dengan langkah cepat dan tegas seolah setiap detik yang terbuang adalah penghinaan, ia tidak memberi waktu siapa pun untuk bereaksi, bahkan tidak memberi kesempatan bagi dirinya sendiri untuk menahan emosi yang sejak sore tadi mulai merayap naik ke permukaan.Di dalam ruangan, Diego San Lorenzo berdiri di dekat meja panjang dengan beberapa berkas terbuka di depannya. Ia tampak tidak terkejut seolah kedatangan Audrey sudah berada dalam perkiraannya, hanya alisnya yang sedikit terangkat ketika melihat cara perempuan itu masuk dan melangkah denga cepat bahkan cenderung terlalu kasar untuk ukuran seseorang yang biasanya begitu terkontrol.Audrey berhenti tepat beberapa langkah di depannya. Tatapannya tajam dan dingin, tapi ada sesuatu yang bergetar halus di baliknya, sesuatu yang tidak biasa ia perlihatkan."Di man

  • DALAM DEKAPAN MAFIA   13. Tidur dengan Mama

    Chapter 13Tidur dengan Mama “Apa kau tahu salah satu hal yang paling kubenci?” tanya Luke dengan nada dingin. Luna meremas handuknya, bagaimana mungkin ia tahu hal-hal yang disukai dan tidak disukai Luke sementara dirinya tidak mengenal Luke—belum lebih tiga hari sejak dirinya kembali ke Sisilia

  • DALAM DEKAPAN MAFIA   12. Pertolongan Pertama dan Terakhir

    Chapter 12 Pertolongan Pertama dan Terakhir “Tuan Genevece, ini hanya salah paham. Ya, ya, ya... hanya pertengkaran ibu dan anak biasa,” kata Draco seraya membungkuk-bungkukkan badannya dan menatap Luke dengan ekspresi ketakutan. “Mereka berani menyentuhmu?” tanya Luke pada Luna seraya menat

  • DALAM DEKAPAN MAFIA   8. Transaksi Pertama

    Chapter 8 Transaksi Pertama Luke baru saja masuk kamar bermaksud untuk mengganti pakaiannya karena makanan Liam jatuh mengenai jasnya, tetapi pintu kamarnya diketuk. Ia pun berbalik dan membuka pintu dan mendapati Luna berdiri di depan pintu kamarnya. Luke menatap Luna beberapa saat dan ali

  • DALAM DEKAPAN MAFIA   7. Garis Kehidupan

    Chapter 7 Garis Kehidupan Luna menghela napasnya dengan berat, makan malam dengan Aami dan Liam di ruang makan yang mejanya sangat panjang hingga muat untuk perjamuan enam belas orang dan mereka hanya bertiga dilayani oleh tiga orang pelayan yang masing-masing melayani satu orang bahkan hanya un

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status