Hangatnya Jeratan Om Martin

Hangatnya Jeratan Om Martin

last updateLast Updated : 2026-06-11
By:  Akuma ReiUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
7Chapters
11views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Menjadi pelayan kafe dan mahasiswa dari keluarga broken home membuat Erika dituntut untuk terbiasa hidup mandiri. Sampai suatu waktu dia salah memasuki ruangan seorang pria matang bernama Martin, seorang pria berkuasa yang sayangnya adalah ayah dari sahabatnya sendiri. Erika mengaguminya. Martin menginginkannya. Di bawah bayang-bayang pengkhianatan terhadap sahabatnya, sebuah hubungan rahasia yang penuh hasrat pun dimulai. Saat cinta dan rasa bersalah bercampur menjadi satu, seberapa jauh mereka berani melangkah sebelum semuanya hancur berantakan?

View More

Chapter 1

Malam Yang Menyesatkan

“Erika, ini upah lemburmu minggu ini," ujar Pak Beni, pemilik kafe tempat Erika bekerja, sembari menyodorkan beberapa lembar uang ratusan ribu.

"Terima kasih banyak, Pak," jawab Erika dengan senyum tipis yang dipaksakan.

Uang itu langsung ia masukkan ke dalam dompetnya yang kempis. Pikirannya langsung melayang pada tagihan semesteran kuliah yang jatuh tempo minggu depan, belum lagi kiriman uang untuk ibunya di kampung yang tak pernah berhenti menuntut.

Di usia 22 tahun, saat gadis-gadis lain sibuk memikirkan skincare atau tempat nongkrong yang estetik, Erika harus memikirkan cara agar tidak ditendang dari kampus.

Langkah kakinya gontai saat keluar dari kafe. Tiba-Tiba sebuah mobil sport putih berhenti di depannya dengan suara tebasan rem yang nyaring membuatnya terkejut. Kaca mobil terbuka, menampilkan wajah cantik Sandra yang tengah tersenyum lebar.

"Erika! Astaga, untung kamu belum pulang!" seru Sandra heboh.

"Sandra? Ada apa? Malam-malam begini..."

"Kamu lupa ya? Ini malam ulang tahunku!" Sandra cemberut, berpura-pura kesal sebelum turun dari mobil dan menarik tangan Erika.

“Pokoknya tidak ada alasan. Kamu harus ikut aku ke Grand Luminary Hotel. Papa menyewa penthouse di sana untuk merayakan ulang tahunku!"

Erika melirik pakaiannya sendiri—kemeja flanel pudar dan celana jeans yang sudah longgar. "Ya ampun aku benar-benar lupa, San. Malam ini aku izin nggak ikut, ya. Lagian aku nggak cocok ke tempat seperti itu.”

Erika nyengir sambil menggaruk kepalanya.

"Aku tidak butuh alasan!" Sandra membuka pintu belakang mobilnya, mengambil sebuah paper bag mewah berlogo desainer ternama.

“Aku sudah siapkan ini untukmu. Kamu tahu kan, aku tidak punya teman dekat lagi selain kamu sejak pindah ke kota ini. Pliss, temani aku ya?"

Tatapan memohon Sandra meruntuhkan pertahanan Erika. Sandra adalah sahabat terbaiknya. Meskipun kaya raya, Sandra tidak pernah memandang rendah Erika.

Akhirnya, Erika mengangguk pasrah.

Sesampainya di hotel, Erika segera membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan gaun pilihan Sandra. Itu adalah gaun satin berwarna hijau zamrud dengan potongan dada rendah dan belahan tinggi di paha. Saat berkaca, Erika hampir tidak mengenali dirinya sendiri. Gaun itu melekat sempurna di tubuhnya, menonjolkan lekuk tubuhnya yang ramping namun berisi.

Rambut panjangnya yang biasa diikat asal kini digerai bebas.

"Wow... Erika, kamu cantik sekali! Kalau begini, para relasi bisnis Papaku bisa salah fokus," goda Sandra saat Erika keluar.

Pesta itu sangat mewah, dipenuhi oleh denting gelas kristal dan musik jazz yang lembut. Sandra langsung ditarik oleh beberapa sepupunya ke tengah ruangan. Erika yang merasa asing memilih memojokkan diri di dekat meja bar. Pikirannya yang penat dan perutnya yang kosong membuatnya nekat meneguk segelas koktail manis yang disodorkan pelayan.

Dia tidak tahu bahwa minuman itu memiliki kadar alkohol yang cukup kuat untuk kepalanya yang tidak pernah menyentuh minuman keras.

Hanya dalam waktu lima belas menit, pandangan Erika mulai berputar. Kepalanya terasa berat, dan dadanya terasa panas. Suara bising di aula pesta mendadak membuat dadanya sesak.

Dengan langkah limbung, Erika memutuskan untuk mencari toilet atau ruangan sepi untuk sekadar membasuh wajah. Dia berjalan menyusuri koridor lantai VIP yang dilapisi karpet tebal bernuansa emas. Lorong itu begitu sunyi, sangat kontras dengan aula pesta.

Pandangan Erika semakin mengabur, angka-angka di pintu kamar hotel tampak menari-nari di matanya.

"Dimana kamar Sandra tadi?" gumamnya lirih, memegangi kepalanya yang berdenyut.

Langkah kakinya terhenti di depan sebuah pintu kayu ek besar dengan nomor 808. Berpikir itu adalah ruangan pribadinya dan Sandra, Erika memutar knop pintu yang ternyata tidak terkunci.

Begitu pintu terbuka, aroma maskulin yang mewah—perpaduan antara kayu cendana, tembakau mahal, dan kehangatan kulit—langsung menyergap indra penciumannya. Ruangan itu remang-remang, hanya diterangi oleh lampu kota yang menembus jendela kaca besar dari lantai hingga langit-langit.

Erika melangkah masuk, namun kesadarannya yang kian menipis membuat keseimbangannya hilang. Kakinya tersangkut ujung karpet, dan tubuhnya terjerembab ke depan. Erika memejamkan mata, bersiap merasakan kerasnya lantai.

Namun, rasa sakit itu tidak pernah datang.

Sepasang lengan yang luar biasa kokoh dan kekar menangkap pinggangnya dengan sigap, menarik tubuh polosnya hingga menempel rapat pada dada bidang seseorang. Erika tersentak, refleks mencengkeram lengan pria itu untuk mencari pegangan.

Melalui sisa kesadarannya, Erika mendongak. Di bawah pendar cahaya lampu kota yang temaram, dia menatap wajah seorang pria. Rahang tegas yang dihiasi jambang tipis yang rapi, rambut gelap yang tertata sempurna, dan sepasang mata elang yang begitu tajam namun menghanyutkan.

Pria itu hanya mengenakan kemeja abu-abu tua dengan dua kancing teratas yang terbuka, menampilkan kesan bos yang berkuasa namun sangat karismatik.

Erika beberapa kali melihat foto pria asing yang tampak familiar baginya.

Napas Erika tercekat. Jarak wajah mereka hanya beberapa sentimeter. Dia bisa merasakan kehangatan napas pria itu yang beraroma mint dan alkohol mahal menerpa wajahnya. Jantung Erika bertalu sangat hebat, ada sengatan asing yang belum pernah ia rasakan sebelumnya menjalar ke seluruh tubuhnya.

Pria itu tidak melepaskan pelukannya pada pinggang ramping Erika. Matanya perlahan turun, menelusuri bibir Erika yang sedikit terbuka karena terkejut, lalu turun ke potongan rendah gaun hijau zamrud yang mengekspos kulit mulusnya. Tatapan tajam pria matang itu seketika menggelap, dipenuhi oleh kilatan hasrat yang berbahaya.

"Tersesat di kamarku, manis?" suaranya terdengar berat, dalam, dan serak, berbisik tepat di depan bibir Erika.

“Atau kamu memang sengaja mengantarkan dirimu padaku?"

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
7 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status