LOGINMenjadi pelayan kafe dan mahasiswa dari keluarga broken home membuat Erika dituntut untuk terbiasa hidup mandiri. Sampai suatu waktu dia salah memasuki ruangan seorang pria matang bernama Martin, seorang pria berkuasa yang sayangnya adalah ayah dari sahabatnya sendiri. Erika mengaguminya. Martin menginginkannya. Di bawah bayang-bayang pengkhianatan terhadap sahabatnya, sebuah hubungan rahasia yang penuh hasrat pun dimulai. Saat cinta dan rasa bersalah bercampur menjadi satu, seberapa jauh mereka berani melangkah sebelum semuanya hancur berantakan?
View More“Erika, ini upah lemburmu minggu ini," ujar Pak Beni, pemilik kafe tempat Erika bekerja, sembari menyodorkan beberapa lembar uang ratusan ribu.
"Terima kasih banyak, Pak," jawab Erika dengan senyum tipis yang dipaksakan. Uang itu langsung ia masukkan ke dalam dompetnya yang kempis. Pikirannya langsung melayang pada tagihan semesteran kuliah yang jatuh tempo minggu depan, belum lagi kiriman uang untuk ibunya di kampung yang tak pernah berhenti menuntut. Di usia 22 tahun, saat gadis-gadis lain sibuk memikirkan skincare atau tempat nongkrong yang estetik, Erika harus memikirkan cara agar tidak ditendang dari kampus. Langkah kakinya gontai saat keluar dari kafe. Tiba-Tiba sebuah mobil sport putih berhenti di depannya dengan suara tebasan rem yang nyaring membuatnya terkejut. Kaca mobil terbuka, menampilkan wajah cantik Sandra yang tengah tersenyum lebar. "Erika! Astaga, untung kamu belum pulang!" seru Sandra heboh. "Sandra? Ada apa? Malam-malam begini..." "Kamu lupa ya? Ini malam ulang tahunku!" Sandra cemberut, berpura-pura kesal sebelum turun dari mobil dan menarik tangan Erika. “Pokoknya tidak ada alasan. Kamu harus ikut aku ke Grand Luminary Hotel. Papa menyewa penthouse di sana untuk merayakan ulang tahunku!" Erika melirik pakaiannya sendiri—kemeja flanel pudar dan celana jeans yang sudah longgar. "Ya ampun aku benar-benar lupa, San. Malam ini aku izin nggak ikut, ya. Lagian aku nggak cocok ke tempat seperti itu.” Erika nyengir sambil menggaruk kepalanya. "Aku tidak butuh alasan!" Sandra membuka pintu belakang mobilnya, mengambil sebuah paper bag mewah berlogo desainer ternama. “Aku sudah siapkan ini untukmu. Kamu tahu kan, aku tidak punya teman dekat lagi selain kamu sejak pindah ke kota ini. Pliss, temani aku ya?" Tatapan memohon Sandra meruntuhkan pertahanan Erika. Sandra adalah sahabat terbaiknya. Meskipun kaya raya, Sandra tidak pernah memandang rendah Erika. Akhirnya, Erika mengangguk pasrah. Sesampainya di hotel, Erika segera membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan gaun pilihan Sandra. Itu adalah gaun satin berwarna hijau zamrud dengan potongan dada rendah dan belahan tinggi di paha. Saat berkaca, Erika hampir tidak mengenali dirinya sendiri. Gaun itu melekat sempurna di tubuhnya, menonjolkan lekuk tubuhnya yang ramping namun berisi. Rambut panjangnya yang biasa diikat asal kini digerai bebas. "Wow... Erika, kamu cantik sekali! Kalau begini, para relasi bisnis Papaku bisa salah fokus," goda Sandra saat Erika keluar. Pesta itu sangat mewah, dipenuhi oleh denting gelas kristal dan musik jazz yang lembut. Sandra langsung ditarik oleh beberapa sepupunya ke tengah ruangan. Erika yang merasa asing memilih memojokkan diri di dekat meja bar. Pikirannya yang penat dan perutnya yang kosong membuatnya nekat meneguk segelas koktail manis yang disodorkan pelayan. Dia tidak tahu bahwa minuman itu memiliki kadar alkohol yang cukup kuat untuk kepalanya yang tidak pernah menyentuh minuman keras. Hanya dalam waktu lima belas menit, pandangan Erika mulai berputar. Kepalanya terasa berat, dan dadanya terasa panas. Suara bising di aula pesta mendadak membuat dadanya sesak. Dengan langkah limbung, Erika memutuskan untuk mencari toilet atau ruangan sepi untuk sekadar membasuh wajah. Dia berjalan menyusuri koridor lantai VIP yang dilapisi karpet tebal bernuansa emas. Lorong itu begitu sunyi, sangat kontras dengan aula pesta. Pandangan Erika semakin mengabur, angka-angka di pintu kamar hotel tampak menari-nari di matanya. "Dimana kamar Sandra tadi?" gumamnya lirih, memegangi kepalanya yang berdenyut. Langkah kakinya terhenti di depan sebuah pintu kayu ek besar dengan nomor 808. Berpikir itu adalah ruangan pribadinya dan Sandra, Erika memutar knop pintu yang ternyata tidak terkunci. Begitu pintu terbuka, aroma maskulin yang mewah—perpaduan antara kayu cendana, tembakau mahal, dan kehangatan kulit—langsung menyergap indra penciumannya. Ruangan itu remang-remang, hanya diterangi oleh lampu kota yang menembus jendela kaca besar dari lantai hingga langit-langit. Erika melangkah masuk, namun kesadarannya yang kian menipis membuat keseimbangannya hilang. Kakinya tersangkut ujung karpet, dan tubuhnya terjerembab ke depan. Erika memejamkan mata, bersiap merasakan kerasnya lantai. Namun, rasa sakit itu tidak pernah datang. Sepasang lengan yang luar biasa kokoh dan kekar menangkap pinggangnya dengan sigap, menarik tubuh polosnya hingga menempel rapat pada dada bidang seseorang. Erika tersentak, refleks mencengkeram lengan pria itu untuk mencari pegangan. Melalui sisa kesadarannya, Erika mendongak. Di bawah pendar cahaya lampu kota yang temaram, dia menatap wajah seorang pria. Rahang tegas yang dihiasi jambang tipis yang rapi, rambut gelap yang tertata sempurna, dan sepasang mata elang yang begitu tajam namun menghanyutkan. Pria itu hanya mengenakan kemeja abu-abu tua dengan dua kancing teratas yang terbuka, menampilkan kesan bos yang berkuasa namun sangat karismatik. Erika beberapa kali melihat foto pria asing yang tampak familiar baginya. Napas Erika tercekat. Jarak wajah mereka hanya beberapa sentimeter. Dia bisa merasakan kehangatan napas pria itu yang beraroma mint dan alkohol mahal menerpa wajahnya. Jantung Erika bertalu sangat hebat, ada sengatan asing yang belum pernah ia rasakan sebelumnya menjalar ke seluruh tubuhnya. Pria itu tidak melepaskan pelukannya pada pinggang ramping Erika. Matanya perlahan turun, menelusuri bibir Erika yang sedikit terbuka karena terkejut, lalu turun ke potongan rendah gaun hijau zamrud yang mengekspos kulit mulusnya. Tatapan tajam pria matang itu seketika menggelap, dipenuhi oleh kilatan hasrat yang berbahaya. "Tersesat di kamarku, manis?" suaranya terdengar berat, dalam, dan serak, berbisik tepat di depan bibir Erika. “Atau kamu memang sengaja mengantarkan dirimu padaku?"“Ahhh….” Erika memejamkan mata, tubuhnya melengkung dengan kedua paha menyatu, menikmati sensasi yang membuatnya melayang sejenak. Sedang Martin, dia duduk di samping kursi penumpang, melepaskan gumpalan kenyal yang memenuhi mulutnya. “Om.. makasih..” bisik Erika, kedua matanya terbuka, menatap nanar ke arah Martin. Martin mencoba mengatur nafasnya. Perlahan ia menutupi kembali buah dada Erika yang beberapa detik lalu ia nikmati. Sesaat kemudian ia membantu Erika untuk duduk. “Sepertinya kamu sudah lebih tenang sekarang. Minum dulu..” Martin memberikan sebotol air mineral pada Erika. Erika meminum beberapa teguk lalu memeluk erat pria matang di hadapannya. Gadis itu terisak di bahu ayah sahabatnya itu. Martin membiarkan Erika meluapkan semua di bahunya. “Aku nggak tau— apa yang akan terjadi— kalau om nggak dateng…” isaknya. “Daren–pasti sudah–memperkosa—“ “Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi padamu Erika. Sekarang tenanglah. Kamu baik-baik saja.” Martin m
Erika mencoba memberontak, tapi tubuhnya lemas oleh panas yang membuatnya hampir tak berdaya. Daren tertawa kecil melihat hal itu. Tangannya yang bebas bergerak turun, menarik tali gaun tipis Erika hingga kain itu melorot turun, membiarkan udara malam menyentuh kulit bahu Erika yang terbakar oleh efek obat yang Daren berikan ke dalam minumannya tadi. Daren menatap Erika dengan mata yang membelalak puas, bersiap untuk merenggut segalanya di bawah kegelapan malam yang sunyi. Dunia Erika berputar hebat. Sentuhan Daren yang kasar di bahunya terasa seperti api yang membakar saraf-sarafnya. Tepat saat bibir Daren hampir menyentuh bibir Erika, sebuah dentuman keras terdengar. Pintu mobil dibuka paksa dengan satu hentakan brutal. Dalam hitungan detik, kerah kemeja Daren ditarik kasar dari belakang, membuat pria itu terlempar keluar dari mobil hingga jatuh tersungkur ke aspal. Martin berdiri di sana. Wajahnya bukan lagi topeng tenang yang ia pakai saat makan malam tadi. Kini, yang
“Erika, kamu harus ikut! Jangan menolak, ya?" Sandra merengek di ujung telepon dengan suara yang sangat bersemangat. "Akhir-akhir ini kita jarang keluar bareng. Jadi kali ini aku nggak mau menerima penolakan apapun.” Erika sempat ragu, namun desakan Sandra yang luar biasa membuatnya tidak punya pilihan. Lagi pula, dia merasa berhutang budi karena sudah sering berbohong pada sahabatnya itu. "Baiklah, San. Aku akan datang." Malam itu, Erika berdandan sederhana namun elegan. Ia menemui Sandra di sebuah restoran eksklusif. Restoran itu terasa sangat mewah, namun bagi Erika, suasananya terasa seperti ruang interogasi. Ia duduk di samping Sandra. Di seberang Sandra, duduk Daren, pria yang baru saja dikenal Erika kurang dari satu jam namun sudah menunjukkan ketertarikan yang terlalu agresif. "Erika, kamu harus coba wine ini," ujar Daren dengan senyum ceria. Matanya menatap Erika dengan binar yang membuat Erika makin tidak nyaman. Daren adalah tipikal pria yang tahu cara memikat wa
Erika mendekat, menempelkan bibirnya pada bibir Martin. “Aku tau om bisa nahan diri, tapi aku menginginkannya…” Martin terdiam. Tatapannya masih tampak menimbang sesuatu yang sangat berat. Perlahan Erika mendorong tubuh Martin, membuat posisi mereka berbalik. Erika duduk di atas Martin yang berbaring telentang di atas ranjang. Martin terkesiap. Ia sempat mengangkat wajah, tapi sebelum mengatakan sepatah kata pun, Erika kembali mendaratkan ciuman ke bibir tebal pria itu. Mata Martin membelalak, tapi Erika tak peduli. Erika hanya ingin Martin merasakan apa yang ia rasakan. Erika kembali duduk dan mulai menggerakkan pinggulnya perlahan. Handuk yang masih menutupi tubuh bagian bawah pria itu bergerak seirama dengan gerakan Erika. “Kamu keras karena aku, Om..” ucap Erika pelan. “Kalau begitu biarkan aku bantu kamu sampai puas,ya.” “Erika…” Martin mengerang. Matanya terpejam, sementara rahangnya menegang. Kedua tangannya mencengkeram pinggul Erika, tetapi tidak menahan ge
Erika meremas tali tasnya semakin erat seiring mobil mewah Martin melaju semakin jauh dari rute kafenya. Kecepatan mobil yang stabil namun pasti seolah menegaskan bahwa pria di sampingnya tidak terbiasa menerima penolakan. Jalanan kota yang padat perlahan berganti menjadi deretan pepohonan rindan
Sinar matahari pagi menembus celah-celah jendela kamar kos Erika, membawa serta realitas yang harus kembali ia hadapi. Dengan tubuh yang masih terasa letih dan kepala yang agak pening, Erika memaksakan diri untuk berangkat ke kampus. Namun, sepanjang kelas berlangsung, fokusnya benar-benar hancur.
Dinginnya AC di dalam kabin sedan mewah ini perlahan mengikis rasa menggigil di tubuh Erika, digantikan oleh ketegangan lain yang membuat seluruh tubuhnya kaku. Ini adalah pertama kalinya Erika duduk di dalam mobil semewah ini. Aroma kayu cendana dan tembakau mahal yang tadi ia hirup di kamar hote
Suara Sandra dari seberang telepon masih terdengar cemas, memecah keheningan kamar yang pengap oleh gairah yang tertahan. Setiap kata yang keluar dari mulut sahabatnya itu bagai hantaman gada yang telak ke dada Erika. Rasa bersalah kini sepenuhnya menggantikan sisa-sisa alkohol di kepalanya. Erik












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.